FF: Alter Love [Part 2 of 2]


Warning : Don’t Copas Without My Permission. Tuhan melihatnya.

Halo apa kabar? Baik-baik aja dong. Maaf kalo FF-nya mengecewakan. Aku cuma makhluk Tuhan yang jauh dari sempurna Hahaha. Happy reading!

Author (Owner) : gluu

Genre : Romance, Comedy, Hurt

Rating : PG 17

Length : Twoshot

Cast :

–       Kang Hyu Won

–       Cho Kyu Hyun of Super Junior

–       Lee Hyukjae of Super Junior

Shinchung Senior High School

Seoul, South Korea

02.00 PM

Kyu Hyun bersandar pada Harley kesayangannya, mata pria itu terus menatap pada gerbang sekolah. Bibirnya bahkan sejak tadi terus tersungging membayangkan reaksi Hyu Won bila melihatnya berada di depan sekolahnya.

“Oppa kau tampan sekali…” seorang siswi sengaja berujar ketika melewati Kyu Hyun, Kyu Hyun hanya melempar senyum khasnya. Ia sudah sering mendapat pujian, yang seperti ini sudah pasti tak terlalu istimewa baginya. Biasanya kaum wanita bahkan bersikap agresif dengan menempel pada tubuhnya hanya untuk mendapat perhatiannya.

Mata pria itu kembali menatap gerbang sekolah, ia sudah tak sabar ingin melihat wajah Hyu Won. Terakhir mereka bertemu adalah beberapa minggu yang lalu ketika tunangan gadis itu menjemputnya lalu memberikan ancaman-ancaman yang terdengar begitu konyol baginya. Ia harus menahan dirinya untuk tak menemui gadis itu, ia tak bisa membuat gadis itu kembali mendapatkan masalah karena kedekatan mereka. Lagipula Kyu Hyun tak ingin membuat gadis itu takut bila ia terus melakukan pendekatan berlebihan pada gadis itu.

Bibir pria itu menyeringai saat melihat siluet tubuh gadis itu, dengan gaya elegan ia melambaikan tangannya ke arah Hyu Won yang tidak sengaja menatap ke arahnya. Kyu Hyun tahu gadis itu tengah terkejut sekarang, sinar mata takjub gadis itu tak bisa membohongi wajahnya. Kyu Hyun menegakan tubuhnya saat Hyu Won berjalan ke arahnya, gadis itu bahkan setengah berlari sekarang. Terlihat sekali ia ingin segera menghampiri Kyu Hyun.

“Oppa!” Ucap Hyu Won sedikit berteriak ketika dirinya berdiri di depan Kyu Hyun. Kyu Hyun lalu melepas kacamata hitamnya dan tersenyum ke arah Hyu Won. Ia menahan dirinya untuk tak memeluk gadis itu dengan erat, ia tahu gadis itu pasti akan menertawakan dirinya bila tahu ia memendam kerinduan pada gadis itu. Gadis itu juga mungkin akan berlari ketakutan bila ia bersikap agresif dengan memeluknya.

Hyu Won berteriak di dalam hati, ia tak tahu dirinya bisa begitu senang hanya dengan melihat pria itu. Mereka tak bertemu lama. Ia tahu dirinya merindukan pria itu. Merindukan celotehan nakal pria itu, merindukan sikap pelindung pria itu, dan merindukan senyum pria itu.

“Hai,” sapa Kyu Hyun santai. Hyu Won tersenyum lalu menatap Harley di belakang Kyu Hyun.

“Kau punya motor? Harley!?” Tanya Hyu Won takjub. Kyu Hyun mengerutkan dahinya saat melihat ekspresi gadis itu. Ekspresi takjub dan senang berkumpul jadi satu di sana.

Bukankah itu ekspresi yang terlalu berlebihan? Memangnya apa hebatnya bila seorang pria mempunya motor? Bukankah ini wajar? Gumam Kyu Hyun dalam hati.

“Ne, wae? Adakah sesuatu yang aneh bila aku memakai motor?” Tanya Kyu Hyun masih dengan dahi berkerut.

“Daebbak! Apa kau membelinya sendiri? Apakah ini dari uang hasil pekerjaanmu?” tanya Hyu Won dengan ekspresi masih sama seperti tadi.

Kyu Hyun mendengus kecil, jadi gadis itu masih saja membanggakan kehebatan pria itu dalam hidup mandiri. “Tentu saja,” balas Kyu Hyun santai.

“Daebbak! Bolehkah aku menaikinya?” Tanya Hyu Won, kali ini mata gadis itu berbinar-binar menanti jawaban Kyu Hyun. Kyu Hyun terkikik di dalam hati, ia bisa menghitung berapa kali gadis itu mengatakan kata daebbak untuk dirinya.

Kyu Hyun tertawa kecil. Tentu saja, aku ke mari untuk mengajakmu pergi. Ucap Kyu Hyun dalam hati.

“Hmm?” Tanya Hyu Won lagi, matanya masih berbinar-binar saja. Kyu Hyun menganggukan kepalanya lalu melempar senyum terbaiknya.

“Jeongmal?? Aku boleh naik Harley-mu?”

“Tentu saja,” balas Kyu Hyun mulai sedikit kesal.

“Yeahh!!” Seru Hyu Won dengan kedua tangannya yang mengacung ke atas, ia lalu berjalan menuju motor pria itu. “Ommo! Kyeopta… Sejak kecil Eomma dan Appa melarangku naik motor, semua karena Ji Hoon oppa yang mengalami kecelakaan. Mereka terlalu berlebihan,”dengus Hyu Won dengan tangan yang sibuk menyentuh setiap inci permukaan Harley Kyu Hyun. Kyu Hyun mengangguk paham sekarang, ia paham mengapa tatapan gadis itu begitu berbinar-binar. Bibirnya tersenyum melihat raut bahagia Hyu Won.

“Ya, orang tuamu terlalu berlebihan. Tapi mereka melakukannya karena sayang padamu,” balas Kyu Hyun. Pria itu bersedekap memandang Hyu Won, ia membiarkan gadis itu “berkenalan” dengan Harley kesayangannya.

“Hmm! Bahkan Hyukjae oppa juga sama seperti Eomma dan Appa, ia tak pernah mengizinkanku untuk naik motor padahal dirinya sering pergi dengan motornya juga!” Seru Hyu Won. Senyum di bibir Kyu Hyun memudar sekatika saat gadis itu menyebut nama tunangannya “tercinta”-nya itu.

“Ia juga menyayangimu tampaknya,” balas Kyu Hyun acuh. Bahkan terdengar malas. Hyu Won mengerucutkan bibirnya saat mendengar tanggapan pria itu.

“Ah! Katakan bagaimana bisa oppa datang ke sekolahku? Kau tahu darimana sekolah ini?” Tanya Hyu Won saat kepalanya menoleh menatap Kyu Hyun.

“Itu mudah…” balas Kyu Hyun dengan mengangkat bahunya. Hyu Won tak bertanya lagi, mungkin mudah. Hanya mencari sekolah dengan seragam seperti yang ia kenakan sepertinya tidak terlalu sulit.

“Lalu ada oppa datang ke mari?” Tanya Hyu Won.

Kyu Hyun tersenyum lalu berjalan menuju Harley kesayangannya, Hyu Won mengikuti gerakan pria itu. Dahi gadis itu berkerut saat melihat Kyu Hyun justru menaiki Harley itu. “Palli! Kau bilang ingin mencoba Harley-ku,” ucap Kyu Hyun lalu tersenyum ringan. Senyum seperti model di dalam majalah.

Hyu Won menganggukan kepalanya cepat seolah pria itu akan meninggalkannya, ia lalu mengikuti pria itu, ia naik dan duduk pada jok belakang. Kyu Hyun menunggu gadis itu mencari posisi terbaiknya.

“Pakai ini,” ucap Kyu Hyun lalu memberikan sebuah helm pada Hyu Won setelah ia yakin gadis itu sudah duduk nyaman. Hyu Won meraihnya dengan pikiran yang terus berkecamuk.

“Kita akan ke mana? Oppa belum menjawab pertanyaanku…” ucap Hyu Won lalu memakai helm-nya.

“Kejutan. Kau akan tahu nanti,” ucap Kyu Hyun misterius.

Hyu Won tampak berpikir sebentar, ia tahu tak ada gunanya bertanya. Pria itu pasti tak akan menjawab pertanyaanya. “Oke, terserah oppa saja,” balas Hyu Won. Kyu Hyun tersenyum mendengar ucapan gadis itu, gadis itu sudah terlalu mempercayainya seratus persen.

“Let’s Go!!” teriak Kyu Hyun lalu menancap gas  meninggalkan halaman sekolah gadis itu. Ia merasa seperti bocah remaja sekarang.

“Yeahh!!” Pekik Hyu Won ikut tertular semangat Kyu Hyun.

****

Hyukjae memukul setir mobil dengan emosi, nafas pria itu memburu tak beraturan. Sejak tadi ia melihat Hyu Won dan Kyu Hyun bercengkrama akrab. Emosinya masih dalam taraf rendah lalu berubah menjadi tinggi saat melihat gadisnya menaiki Harley pria itu. Ia baru tiba di depan sekolah gadis itu. Ia akan mengajak gadis itu untuk makan siang namun kini semua rencananya batal begitu saja.

“Brengsek kau Cho Kyu Hyun!” Desisnya dengan geram. Hyukjae meraih ponselnya pada dashboard mobil, ia lalu menghubungi sekertaris pribadinya.

“Yeobboseo sajangnim,” sapa suara di seberang ponsel.

“Ah, Min Seo-ya bisakah kau mencaritahu identitas pria bernama Cho Kyu Hyun? Aku tak terlalu tahu spesifik biodatanya, tapi ia tinggal pada sebuah apartement elit di sekitar Gangnam. Alamatnya akan kukirim padamu nanti.”

“Nde, sajangnim.” Balas sekertaris Hyukjae.

Klik

Hyukjae mematikan ponselnya lalu menatap tajam ke arah depan, tak jelas apa yang ia tatap. Tapi mata pria itu berkilat emosi, ia tak pernah merasa semarah ini sebelumnya.

Kau bermain di belakangku, Hyu Won-ah?

“Siapa kau sebenarnya Cho Kyu Hyun? Mengapa kau menganggu gadisku?” Ucap Hyukjae setengah berdesis.

****

Rocking Cafe

Seoul, South Korea

05.00 PM

Hyu Won berdiri mematung menatap Kyu Hyun yang kini tengah menyetel gitar di atas panggung, pria itu menjadi vokalis sekaligus gitaris untuk Band yang sedang pentas di depan. Semua personil mulai berdiri di posisi masing-masing. Suara tepukan tangan penonton mengiringi Kyu Hyun yang mulai memetik gitar, lalu diikuti dengan suara stik drum yang dipukul bersamaan. Band di depan membawakan lagu Yellow dari Coldplay. Pria itu mulai berjalan mengitari panggung, ke sisi kanan-kiri lalu kembali berdiri di tengah panggung. Lirik mulai didengungkan, mata pria itu menatap lurus pada manik mata Hyu Won. Hyu Won langsung menundukan kepalanya tersipu malu saat mendengar lirik pertama lagu tersebut, seolah pria itu menyanyi untuk dirinya.

Look at the stars,

Look how they shine for you,

And everything you do,

Yeah, they were all yellow.

“Astaga Cho Kyu Hyun itu tampan sekali!” Decak kagum gadis-gadis di belakang Hyu Won membuat gadis itu sedikit mengernyit sebal. Pandangan gadis itu sedikit sinis pada gadis-gadis di belakangnya.

Jadi Kyu Hyun oppa sebegitu terkenalnya ya? Dia pasti punya banyak gadis-gadis di luar sana, dasar playboy! Sebal Hyu Won, gadis itu lalu bersedekap menikmati musik yang dimainkan pria itu. Lirik lagu itu benar-benar membuatnya terbang ke atas awan.

I came along,

I wrote a song for you,

And all the things you do,

And it was called “Yellow”

So then I took my turn,

Oh what the things have done,

And it was all yellow

Wajah pria itu terlalu tampan di bawah sinar lampu panggung, ia terfokus pada gitarnya tanpa sedikit pun melihat ke arah penonton walaupun sesekali pria itu menatap Hyu Won memastikan gadis itu menikmati permainan musiknya. Hyu Won merasa seolah pria itu terngah mengawasinya… dan itu membuatnya merasa dilindungi dan disayangi.

Hyu Won terus menatap Kyu Hyun yang tengah menunduk seolah-olah hanya mereka berdua yang berada di dalam ruangan itu. Hyu Won tidak lagi memperdulikan cicitan gadis-gadis di belakangnya. Hanya Kyu Hyun sekarang. Kyu Hyun tiba-tiba mengangkat kepalanya seolah menyadari dirinya tengah ditatap dengan begitu intens oleh Hyu Won. Hyu Won menjadi gugup karena itu, belum lagi pandangan keduanya yang terpaku satu sama lain.

Your skin,

Oh yeah your skin and bones,

Turn into

Something beautiful,

You know,

You know I love you so,

Apa itu? Mata Hyu Won membulat besar.

You know I love you so.

Bukankah itu seperti menyatakan perasaannya padaku? Gumam Hyu Won saat lirik terakhir lagu itu terdengar begitu dalam. Mata pria itu masih mengunci dirinya. Hyu Won tak ingin cepat besar kepala. Dengan cepat gadis itu mengacungkan kedua jempolnya lalu berujar kepada Kyu Hyun tanpa mengeluarkan suaranya.“Daebbak!”

Kyu Hyun tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya pada Hyu Won. Ia mengeluarkan pesonanya. Semua orang bertepuk tangan. Astaga main mata… Cho Kyu Hyun! Pipi Hyu Won merona merah seketika. Ia lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya, jantunganya berdebar kencang sekarang. Kyu Hyun hanya tersenyum dari jauh seolah tahu gadis itu tengah tersipu malu.

****

“Bagaimana penampilanku tadi?” Tanya Kyu Hyun ketika dirinya sudah duduk di hadapan Hyu Won. Keduanya memilih tempat di pojok kafe yang sedikit sepi sehingga tak ada yang bisa menganggu obrolan mereka.

“Kau sepertinya pandai membuat gadis-gadis menjerit ya,” ucap Hyu Won lalu mengedarkan pandangannya pada gadis-gadis di sekitarnya. Ia ingat bagaimana para gadis meneriaki nama Kyu Hyun tadi.

Kyu Hyun terkekeh pelan, “Memang…” ucapnya ringan lalu menyambar orange juice milik gadis itu. Pria itu lantas meneguknya hingga tandas setelah mengeluarkan sedotan dari dalam gelas. Ia terlalu haus untuk minum melalui sebuah sedotan.

“Cih, dasar flamboyan…” cibir Hyu Won.

“Kau juga berteriak-teriak, kan?” Goda Kyu Hyun. Matanya mengerling jahil.

“Tidak!” Jawab Hyu Won tegas, ia memang tak berteriak-teriak seperti gadis lainnya. Ia yakin pria itu juga pasti bisa melihatnya, bukan?

“Hmm, kau memang tak berteriak-teriak seperti mereka tapi kau menatapku seolah kau akan memakanku saat itu juga…” goda Kyu Hyun

“Astaga… Kau ini percaya diri sekali, oppa. Berhenti menggodaku.” Ucap Hyu Won sebal.

“Jadi bagaimana penampilanku tadi?” tanya Kyu Hyun lagi, ia seolah belum puas bila tak mendengar komentar gadis itu.

“Kau mau dapat pujian seperti apa lagi? Apakah kurang pujian dari gadis-gadis itu?” Tanya Hyu Won lalu kembali mengedarkan pandangannya pada gadis-gadis di sekitar mereka.

“Kurang,” balas Kyu Hyun santai. “Aku hanya mau mendengar bagaimana komentarmu,” ucap Kyu Hyun lagi. Suaranya dibuat seolah ia sedang menggoda gadis itu.

Hyu Won mengerucutkan bibirnya, perkataan pria itu sejujurnya membuatnya sedikit terbang. Pria itu hanya mau mendengar komentarnya saja!

“Hmm, bagaimana ya? Kurasa tadi itu sangat bagus, tapi akan lebih bagus kalau kau khusus bermain gitar untukku.” Balas Hyu Won lalu terkekeh pelan.

Itu khusus untukmu, ucap Kyu Hyun dalam hati. Apakah gadis itu tak bisa lihat matanya hanya menatap gadis itu tadi?

“Tidak untuk dinikmati olah gadis-gadis lain…” sambung Hyu Won kemudian.

Kyu Hyun mengerutkan dahinya, ucapan gadis itu terdengar manis sekali. Ada nada kepemilikan di sana walaupun tidak terlalu terlihat jelas. Pria itu tahu gadis itu tak sadar ia baru saja mengatakan kalimat apa.

“Hei, kau tak mau gadis lain menikmati penampilanku?” Tanya Kyu Hyun bersikap santai.

“Hmm…”

“Wae?” tanya Kyu Hyun lalu menyeringai kecil.

Hyu Won baru saja akan membuka mulutnya saat ia sadar dirinya tak punya alasan apa-apa untuk dikatakan, mata gadis itu berputar mencari alasan namun ia tak juga tahu harus berkata apa. Gadis itu terlihat gugup sekarang.

“Astaga kau manis sekali, nona kecil… Mungkin kau menyukaiku,” ucap Kyu Hyun lalu mengacak rambut gadis itu. Hyu Won hanya menganga mendengar ucapan pria itu. Dia benar-benar percaya diri, kan?

****

Kyu Hyun tertawa kecil lalu merangkul bahu Hyu Won saat keduanya keluar dari dalam kafe. Hyu Won melingkarkan tangannya pada lengan berotot pria itu. Keduanya sibuk melontarkan candaan satu sama lain. Sesekali Kyu Hyun mengacak rambut gadis itu.

Ini luar biasa, nona kecil dengan semua efek yang ia bawa padaku, gumam Kyu Hyun dalam hati. Ia merasa melenceng dari apa yang sering ia lakukan. Tak pernah merasa dirinya begitu bersemangat. Bibir pria itu menyeringai kecil membayangkan tunangan Hyu Won.

Mereka tak ada harapan lagi, bisik Kyu Hyun dalam hati.

BUGHH

Rangkulan Kyu Hyun terlapas dari bahu mungil Hyu Won, tubuhnya terjerembab ke tanah sekarang. Sebuah pukulan keras pada wajahnya sukses membuyarkan lamunannya. Kyu Hyun tak sempat melakukan perlawanan, semuanya terlalu cepat.

Kyu Hyun menopang dirinya dengan kedua sikunya. Rahangnya mulai terasa nyeri sekarang, kedutan-kedutan kecil mulai terasa mengganggu baginya. Pria itu mengangkat kepalanya lalu menatap siapa yang memukulnya tadi.

Lee Hyukjae?

“Berdiri kau brengsek!” Ucap Hyukjae dengan tajam.

Hyu Won hanya berdiri membeku menatap dua orang di depannya, keduanya melempar tatapan tajam satu sama lain. Hyu Won baru saja akan menghampiri Kyu Hyun saat Kyu Hyun berdiri dan menatap mata gadis itu dengan lembut. Seolah meminta gadis itu untuk tak perlu khawatir.

“Selamat malam Hyukjae-ssi,” sapa Kyu Hyun dengan tenang. Ia membersihkan debu yang menempel pada lengan bajunya.

Hyukjae mendengus lalu mulai melangkahkan kakiknya ke depan. Hyu Won membulatkan matanya, ia takut tunangannya itu akan melancarkan pukulan lagi.

“Kau.” Ucap Hyukjae dengan gigi bergemeretakan. “Sudah kuperingatkan kau untuk menjauhi Hyu Won, apa kau tak ingat?” Ucap Hyukjae dengan tajam.

Kyu Hyun tersenyum kecil, ibu jarinya bergerak mengusap sudut bibirnya. “Maaf, sayang sekali aku tak bisa,” ucap Kyu Hyun tenang. Kali ini mata pria itu menatap tajam ke arah Hyukjae.

“Tak bisa?” Ucap Hyukjae terkekeh kecil, dirinya lantas mencengkram kerah baju Kyu Hyun dengan emosi.

“Oppa!” Jeritan Hyu Won tak mendapat gubrisan sama sekali.

Dengan tenang Kyu Hyun mencengkram pergelangan tangan Hyukjae lalu menghempaskannya dengan kasar. “Jangan menyentuhku.”

“Dengar Cho Kyu Hyun, kau hanya komposer muda yang suka mempermainkan hati para gadis. Hidupmu tak jelas ke mana akan berakhir. Kau hanya tahu berfoya-foya dan membangkang kepada kedua orang tuamu, meninggalkan rumah lalu hidup dengan kebebasan yang kau inginkan, apakah kau pikir kau pantas untuk mendekati Hyu Won?”

“OPPA!” Hyu Won membentak Hyukjae saat pria itu selesai menguak semua latar belakang Kyu Hyun. Ia tak suka nada bicara pria itu. Rahang Kyu Hyun mengeras sekarang, tangannya mengepal mencoba menahan emosi. Hyukjae berbicara tanpa tahu alasan sebenarnya.

“Kau menyelidikiku?” Tanya Kyu Hyun santai. “Wah bergerak dengan sangat hati-hati…” sindir Kyu Hyun.

“Ya, kau keberatan?” Tanya Hyukjae tak kalah sinis.

“Tidak. Tapi kusarankan kau menyelidikiku dengan benar. Kau… ah orang-orangmu, kurasa kau harus menyewa orang dengan kinerja yang bagus.” Balas Kyu Hyun.

“Tak perlu mengoreksi cara kerja orang-orangku, koreksi saja kehidupan liarmu itu. Sebenarnya apa yang kau inginkan dari Hyu Won?” Tanya Hyukjae dengan mata menyipit. “Uangnya atau tubuhnya? Aku tahu, gadis seperti Hyu Won tidak masuk ke dalam tipemu. Sudah bosan dengan wanita dewasa? Sekarang kau berpindah pada gadis remaja? Dia hanya gadis polos, jauhi Hyu Won. Dia tak sebanding dengan wanita yang sering kau permainkan.” Ucap Hyukjae merendahkan Kyu Hyun. Mata pria itu bergerak menilai Kyu Hyun dari atas hingga bawah.

Tubuh Hyu Won menegang seketika. Mereka membicarakan dirinya dengan terang-terangan.

Kyu Hyun terkekeh pelan, ia tak terpengaruh sama sekali dengan ucapan pria itu. “Kau sendiri, urus saja kehidupan liarmu. Mencumbu gadis lain di depan tunanganmu sendiri. Sebenarnya kau mencintai tunanganmu atau tidak?” Bbalas Kyu Hyun ringan. Ia menyeringai sekarang.

“Kau tak perlu mendikteku tentang cinta, kau tak tahu apapun. Yang kau tahu hanya menikmati kaum wanita lalu setelah itu kau meninggalkan mereka. Dengar, setidaknya apa yang kulakukan tak akan merusak Hyu Won. Tapi kau? Melihat reputasimu dalam berhubungan, aku sangsi kau akan menjaga Hyu Won hingga akhir.” Ucap Hyukjae tajam.

“Hentikan!!” Teriak Hyu Won keras.

Kyu Hyun menoleh sekilas kepada Hyu Won lalu kembali menatap Hyukjae tajam, “Ya, reputasiku memang seperti itu tapi aku tak pernah bermain dengan gadis baik-baik, kalau aku harus merusak maka aku akan merusak apa yang memang sudah rusak. Tapi denganya,” Kyu Hyun menatap Hyu Won dengan lembut, secepat itu tatapannya berubah dari emosi menjadi lembut. “Aku tak pernah berniat sedikit pun untuk mempermiankannya.” Ucap Kyu Hyun serius, tak ada nada main-main di sana.

“Omong kosong, kau berbicara begini sekarang. Tapi nanti? Tak ada yang tahu Tuan Cho, aku tahu pria sepertimu. Kau hanya tahu bermain-main. Dan aku tak akan membiarkan Hyu Won masuk ke dalam kehidupan liarmu.”

“HENTIKAN!” Bentak Hyu Won kasar, ia mulai kesal sekarang. Sejak tadi kedua orang itu membicarakannya tapi mereka bahkan tak memperdulikan keberadaannya. Gadis itu mulai merasa tak nyaman sekarang, biar bagiamana pun, dirinyalah sumber ketegangan di antara kedua orang tersebut.

Hyukjae berbalik menatap Hyu Won, “Kau lihat sendiri. Dia bukan pria baik-baik, ia hanya tahu mengencani wanita lalu setelah itu ditinggalkan begitu saja, ia bahkan membangkang kepada kedua orang tuanya. Dia berbahaya, Kang Hyu Won!”

Hyu Won hanya diam seribu bahasa, ia tak ingin membantah ucapan Hyukjae karena semua akan memicu pertengkaran lagi. Meskipun semua yang Hyukjae ucapkan adalah kebenaran sekalipun, ia sama sekali tak peduli. Kyu Hyun memang sudah bermasalah sejak mereka berdua pertama kali bertemu. Lalu kenapa?

“Masuk ke dalam mobil.” Perintah Hyukjae dengan jari yang menunjuk ke arah mobilnya. Hyu Won menggelengkan kepalanya menolak menatah-mentah perintah hyukjae.

“MASUK!” Perintah Hyukjae lagi. Kali ini Hyu Won menganggukan kepalanya takut. Dia tak mungkin menolak perintah pria itu dan membuat pria itu semakin marah. Biar bagiamanapun ia sadar ia sudah melakukan kesalahan dengan pergi bersama Kyu Hyun hingga malam begini. Kyu Hyun mengerang kecil saat melihat Hyu Won hanya diam saja dan berbalik menuju mobil Hyukjae.

Kyu Hyun hanya berdiri menatap punggung kecil Hyu Won. Gadis itu menolehkan kepalanya sebelum masuk ke dalam mobil. Ia menatap Kyu Hyun sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil. Seketika itu juga perasaan Kyu Hyun terasa kosong. Ia mengutuk dirinya yang begitu rusak dan kacau. Mengapa Hyukjae harus muncul sekarang? Sekarang gadis itu tahu seperti apa dirinya. Ia tak pernah benar-benar berharap untuk suatu hal di bumi ini selain gadis itu sekarang.

“Jauhi dia.” Suara Hyukjae membuat Kyu Hyun tersentak dari lamunannya. Hyu Won sudah masuk ke dalam mobil. Kepala gadis itu terus menatap ke arah mereka.

“Tidak bisa.” Balas Kyu Hyun dingin.

“Kau gila? Dia tunanganku.” Seru Hyukjae mencoba menahan emosi.

“Memangnya mengapa kalau dia tunanganmu? Kau pikir aku peduli kalau dia sudah bertunangan?” Tanya Kyu Hyun datar. Hyukjae mengepalkan tangannya. Dengan satu langkah pendek, ia mencengkram kerah baju Kyu Hyun. Kyu Hyun hanya bersikap tenang. Hyukjae menatap Kyu Hyun seolah ia akan memakan pria itu sekarang.

“Jangan menjadi brengsek Cho Kyu Hyun. Siapa kau? Mengapa kau datang dan menganggu hubungan kami?”

“Aku sudah brengsek, bukankah kau tahu itu? Salahkan dirimu sendiri yang tidak bisa menjaga tunanganmu.” Balas Kyu Hyun tajam.

Hyukjae segera melepas cengkramannya pada kerah baju Kyu Hyun, ia merasa baru saja dipukul tepat di wajahnya. Pria itu mengingatkannya tentang kebodohan hidup yang ia lakukan di club tempo lalu.

“Tidak ada gunanya berbicara dengan pria tidak berguna sepertimu.” Ucap Hyukjae lalu berbalik meninggalkan Kyu Hyun dengan wajah memerah menahan emosi. Kyu Hyun menyeringai lalu berdiri dengan tegak.

“Aku mengingkan Hyu Won. Dan aku akan merebutnya darimu, Hyukjae-ssi.” Ucap Kyu Hyun seolah memperingati Hyukjae. Hyukjae meradang mendengar penuturan Kyu Hyun. Dengan cepat pria yang masih memakai pakaian kerjanya itu berbalik dan hendak memukul Kyu Hyun. Namun, Kyu Hyun menahan tangan pria itu secepat yang ia bisa, ia lalu menghempaskan tangan pria itu.

“Kau bajingan besar Cho Kyu Hyun. Jangan pernah berpikir sedetikpun ia akan menjadi milikmu.” Ucap Hyukjae memperingati Kyu Hyun.

“Sayangnya, tunanganmu mungkin memiliki keinginan yang sama sepertiku. Dia menginginkanku sebesar aku menginginkannya.” Balas Kyu Hyun tanpa seringai seperti tadi. Wajahnya datar dan penuh permusuhan.

Hyukjae mendengus dengan marah. Ia lantas membalikan tubuhnya dan meninggalkan Kyu Hyun yang masih berdiri di belakangnya. Pria itu tak ingin percaya dengan apa yang Kyu Hyun katakan tapi hati kecilnya seolah berdemo meminta ia untuk mempercayainya.

****

Kyu Hyun’s Apartement

Seoul, South Korea

07.00 AM

Ting Tong…

Ting Tong…

Kyu Hyun berjalan dengan mata setengah terpejam, tangannya bergerak mengacak rambutnya kasar. Sepanjang perjalanan menuju pintu, dirinya terus mengumpat mengutuk siapa orang yang dengan tidak tahu diri berkunjung ke apartementnya di pagi buta seperti ini. Semalam dirinya baru saja mengaransemen musik untuk sebuah pertunjukan dan baru pulang dini hari. Tapi bunyi bel yang terus berbunyi membuatnya tak bisa menikmati waktu istirahatnya lebih lama lagi.

“Ya sebentar, apartementku tak akan lari jadi jangan terus menekan belnya… berisik sekali.” Umpat Kyu Hyun saat bel tak juga berhenti berbunyi. Ia bersumpah akan menghajar siapa pun yang ada di balik pintu apartemennya ini.

Ceklek

“Eomma!” Jerit Kyu Hyun saat melihat Hanna berdiri dengan tatapan sedingin es.

“Appa?” Kali ini dirinya tak menjerit, ia bahkan nyaris berbisik saat melihat sosok pria paruh baya di belakang ibunya. Dia merasa baru saja melihat penampakan alien di depan pintu apartementnya.

“EH? Noona… kau juga di sini?” Tanya Kyu Hyun sedikit tercekat saat melihat kakaknya muncul dari belakang ayahnya.

“Kau tak membiarkan kami masuk?” Suara berat Cho Yeung Hwan –Ayah Kyu Hyun– bertanya berat.

Kyu Hyun mengerjapkan matanya lalu sedikit bergeser memberi ruang kepada keluarganya untuk masuk. Ia sedikit shock mendapat kunjungan tiba-tiba seperti ini. Tidak… tepatnya kunjungan tiba-tiba dari ayahnya.

Apakah ini hari natal? Mengapa Santa mengirimkan keluargaku ke mari? Gumam Kyu Hyun dalam hati.

“Jadi ini apartement yang kau beli dengan hasil jerih payahmu?” Suara Yeung Hwan terdengar meremehkan Kyu Hyun.

“Hmm… ya walaupun tak sebesar rumahmu Appa, tapi aku puas.” Balas Kyu Hyun datar. Ahra dan Hanna berjengkit di belakang. Mereka tak suka nada suara pria itu.

Yeung Hwan membalikan tubuhnya dan menatap Kyu Hyun dengan pandangan yang sulit diartikan. Kyu Hyun balas menatap tatapan ayahnya itu dengan tenang.

“Jadi ada apa kalian berkunjung ke apartementku? Kurasa ini kali pertama kalian semua datang ke mari…” Ucap Kyu Hyun masih dengan ketenangannya.

Yeung Hwan membalikan tubuhnya lalu duduk pada sofa krem milik Kyu Hyun. Pria itu menarik nafas lalu menghembuskannya lagi.

“Yeobbo, bukankah kau membawa sarapan pagi untuk kita?” Tanya Yeung Hwan dengan suara datar.

“Ah… aku akan menyiapkan sarapan pagi kita,” Hanna menganggukan kepalanya lalu berjalan menuju dapur diikuti Ahra. Wanita paruh baya itu tahu suaminya menginginkan privasi untuk berdua saja dengan putra mereka. Kyu Hyun menatap ibu dan kakak perempuannya yang berjelan tergesa-gesa menuju dapur miliknya.

“Duduk,” Perintah Yeung Hwan. Kyu Hyun menganggukan kepalanya lalu berjalan pelan menuju sofa krem miliknya, ia lantas duduk di sebalah ayahnya. Perasaan gugup melandanya saat ini. Sudah dua tahun berlalu terakhir kali dirinya melihat wajah tegas ayahnya itu.

“Bagaimana kabarmu, nak?” Tanya Yeung Hwan dengan datar namun sedikit melunak.

“Aku baik, Appa?” Tanya Kyu Hyun singkat.

“Ya,”

Kyu Hyun merasa canggung dengan obrolan keduanya. Ia merasa seperti sedang berbicara dengan presiden Korea. Faktanya ini bukan presiden tetapi ayahnya, orang yang mati-matian melarang dirinya untuk berkiprah di dunia musik.

“Kedatanganmu sangat tiba-tiba, ada apa sebenarnya Appa?” Tanya Kyu Hyun to the point. Ia rasa ia tak bisa membiarkan rasa penasarannya semakin tak tertolong lagi.

“Kudengar kau melakukan perkelahian minggu lalu, benarkah?” Tanya Yeung Hwan. Suara pria itu terdengar santai tidak seperti orang tua kebanyakan yang mengetahui anak mereka berkelahi.

Kyu Hyun baru saja akan menjawab saat dahinya mengernyit bingung. “Appa, menguntitku?” Tanya Kyu Hyun setengah menjerit.

“Ya,” balas pria paruh baya itu. “Karena seorang gadis?” Kekehan keluar dari bibir pria paruh baya itu.

Kyu Hyun menahan emosinya, “Ya,”

“Memalukan.”

Kyu Hyun membulatkan matanya dan menatap ayahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Apa masalahnya bila aku berkelahi karena seorang gadis?” Tanya Kyu Hyun acuh. “Kau seharusnya tidak peduli padaku,” sambungnya dengan nada menyindir.

“Usiamu sudah tak remaja lagi, apakah pantas bertindak seperti itu? Mau sampai kapan kau bermain-main dengan hidupmu Cho Kyu Hyun? Kembali ke rumah dan bantu aku mengurus perusahaanku,” ucap Yeung Hwan datar namun sarat akan perintah tak terbantahkan.

“Tidak, aku tak pernah bermain-main dengan hidupku. Musik adalah hidupku, aku bisa hidup dengan musikku. Kau lihat sendiri? Aku bisa membeli apartement, mobil, dan Harley kesayanganku sendiri. Semua karena musik, Appa.” Ucap Kyu Hyun penuh penekanan. Ia mulai kesal bila ayahnya mulai meremehkan apa yang ia inginkan.

“Sudah dua tahun, kurasa kau sudah cukup bermain-main dengan musikmu itu Cho Kyu Hyun, apa lagi yang kau cari? Kembali ke rumah dan bantu aku mengurusi perusahaanku, usiaku sudah tak muda lagi. Kalau bukan kau, siapa lagi?” Ucap Yeung Hwan mulai melemah seolah memberi kesan bahwa ia sudah rentan dan tak bisa berbuat apapun lagi.

Kyu Hyun memejamkan matanya lalu kembali membukanya, “Aku akan mengurusinya Appa tapi tidak sekarang,”

“Lalu mau kapan kau mengurusi perusahaan? Kau mau menunggu sampai aku mati?!” Suara pria itu terdengar meninggi.

“Yeobbo!” Hanna menyela tak suka dari arah pintu. Ahra bahkan mengigit bibir bawahnya dengan gugup. Ia menatap adik semata wayangnya dengan ngeri. Bagaimana bisa adiknya seberani itu menolak perintah ayah mereka?

“Astaga kalian kaum pria benar-benar keras kepala!” Hanna berujar dengan kesal.

“Umm… Eomma bukankah kita akan sarapan?” Sela Ahra gugup. Hanna menganggukan kepalanya lalu mengisyaratkan suami dan putranya untuk menyusul ke meja makan.

****

Suasana sedikit mencair, mereka tahu bahwa makanan tidak bisa dihadapi dengan emosi atau sebuah pertengkaran. Di saat makan kau harus melepas semua beban yang sedang mengganggu. Baik itu beban mental maupun beban fisik.

“Kau kurus sekali Kyunie…” ucap Hanna khawatir.

“Aku harus menjaga penampilanku agar aku tetap tampan Eomma…” balas Kyu Hyun lalu tersenyum menggoda ibunya. Wanita paruh baya itu memutar matanya mendengar ucapan anaknya itu.

“Dasar playboy tengik,” cibir Ahra.

Kyu Hyun mengalihkan pandangannya ke arah kakak perempuannya, “Noona, kau semakin cantik saja. Jadi, kapan kau akan menetap selamanya di Seoul? Kau sudah sepuluh tahun belajar di luar negeri, apa kau tak bosan? Cepat cari pria dan nikahi mereka, kau sangat cantik…” Kyu Hyun mengerlingkan matanya setelah mengatakan kalimat pujiannya.

“Tch~ Mengapa kau menasihatiku seperti ini? Urus saja perjalanan cintamu itu, playboy tengik…” balas Ahra ketus. Kyu Hyun tertawa pelan, sikap Ahra mengingatkannya pada Hyu Won. Keduanya manis dan begitu mirip. Hanya saja Ahra sedikit lebih dewasa dibanding Hyu Won.

“Kyu Hyun benar Ahra-ya,” timpal Hanna dengan puas. Ia ingin salah satu dari kedua anaknya bisa memberikan cucu… Oh tidak mungkin. Menikah saja belum bagaimana bisa memberikan seorang cucu?

“Eomma jangan ikut-ikutan!”

“Jadi gadis seperti apa yang membuatmu sampai berkelahi?” Suara berat Yeung Hwan membuat semua aktivitas di meja makan menjadi terhenti seketika.

“Umm… ya seperti apa? Tampaknya ia gadis manis,” ucap Hanna menimpali. Wanita itu mencoba mencairkan suasana kembali.

Kyu Hyun bedehem sebentar meloloskan tenggorokannya dari rasa tercekat berlebihan, “Ia gadis yang manis,” jawabnya dengan enggan. Sudah dua tahun tak bertemu ayahnya, lalu sekarang membicarakan seorang gadis. Adakah moment yang lebih aneh daripada saat ini?

“Dan tunangan orang,” suara Yeung Hwan terdengar menimpali. Kyu Hyun benar-benar terperangah sekali lagi. Sejauh itukah ia diawasi? Ayahnya memang penguntit nomor satu di dunia.

“Ommo Kyunie. Jinjja?” Ahra terkejut, gadis itu lantas menatap wajah adik semata wayangnya dengan tatapan prihatin. Pasti sangat menderita mencintai sesorang yang sudah memiliki kekasih.

“Ya,” balas Kyu Hyun singkat, berusaha tak peduli.

“Memalukan,” cibir Yeung Hwan.

“Yeobbo, kita sedang makan.” Hanna memperingati suaminya. Wanita paruh baya itu sudah tahu sejak seminggu yang lalu kalau putranya terlibat pertengkaran dengan seorang pria.

“Lebih baik kau urus cabang perusahaanku di Swiss lalu lupakan gadis itu, ada banyak gadis lajang yang bisa kau pacari. Jangan memalukan nama keluarga Cho Kyu Hyun. Dan kudengar ia putri seorang pebisnis Korea. Bukankah ia sudah bertunangan dengan putra Lee Jang Hyuk?” Suara Yeung Hwan terdengar penuh cibiran.

“Aku sudah bilang tidak,” balas Kyu Hyun tenang. Semua terdiam kecuali Kyu Hyun dan Yeung Hwan yang saling menatap satu sama lain dengan emosi. Ia tak peduli status orang tua Hyu Won ataupun dengan siapa gadis itu bertunangan.

Gadis ini menginginkanku sama seperti aku menginginkannya. Gumam Kyu Hyun dalam hati.

****

At Myeongdong

Seoul, South Korea

03.00 PM

Hyu Won melingkarkan tangannya pada lengan Hyukjae. Kepalanya bersandar pada dada pria itu. Sesekali Hyukjae menghirup aroma manis dari rambut Hyu Won. Hyu Won tersenyum saat ia melihat sebuah motor Harley hitam di seberang jalan. Memorinya kembali berputar pada malam di mana Kyu Hyun menyanyikan lagu di kafe. Namun, seketika memorinya berubah suram saat mengingat malam itu berakhir dengan buruk. Ia tahu ia bersalah, tak seharusnya ia pergi dengan pria lain sementara ia memiliki tunangan yang mencintai dirinya. Tapi, belakangan ia mulai merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya. Ia selalu merasa semua hal yang ia lakukan satu bulan belakangan ini bersama Hyukjae adalah sebuah formalitas karena mereka adalah tunangan. Tidak ada perasaan berdebar dan senang seperti dulu. Setiap ia memikirkan hubungannya dengan Hyukjae, pikirannya akan selalu kembali pada Kyu Hyun. Ia tahu pria itu memiliki pesona yang tak bisa ditolak. Tapi benarkah rasa cintanya pada Hyukjae yang sudah berlangsung lama bisa menghilang begitu saja?

“Kau tak mendengarkanku?” Suara Hyukjae terdengar setengah kesal.

“Apa? Oppa bilang apa?” Tanya Hyu Won linglung. Ia terlalu sibuk memikirkan Kyu Hyun. Selalu seperti ini.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Hyukjae.

“Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin cepat pulang, kakiku pegal.” Balas Hyu Won dengan pelan. Ia merasa sedikit bersalah pada Hyukjae.

“Kyu Hyun masih menemuimu?” Tiba-tiba Hyukjae bertanya tentang Kyu Hyun. Hyu Won menghentikan langkahnya lalu menatap Hyukaje dengan gugup.

“Tidak, aku dan Kyu Hyun oppa tak pernah bertemu lagi.” Balas Hyu Won dengan senyum bingung. Mengapa Hyukjae bertanya mengenai Kyu Hyun setelah satu bulan pertemuan terakhir mereka.

“Baguslah. Pria itu tidak baik. Ingat apa yang kuucapkan, jangan pernah sekali pun menemuinya lagi.” Ucap Hyukjae.

“Kami hanya berteman. Mengapa kau jadi suka mengaturku, oppa?” Tanya Hyu Won.

Hyukjae meraih tangan Hyu Won lalu keduanya kembali berjalan. “Patuhi saja, Hyu Won-ah. Kalau Appamu tahu tentang pria itu, ia tak akan suka.” Ucap Hyukjae dengan datar.

Hyu Won menyipitkan matanya, “Kau tidak melapor pada Appa, kan? Kau sedang mengancamku?” Tanya Hyu Won sedikit meninggi.

“Tidak, aku masih bisa mengatasi pria sepertinya. Aku tak suka kau menemuinya, dengarkan saja aku sebagai tunanganmu. Lagipula bukan diriku kalau harus mengaturmu dengan cara mengancam.” Ucap Hyukjae tak mau dibantah lagi.

“Kita belum menikah, kau tak bisa menyuruhku untuk patuh padamu. Memangnya kau Tuhan?!” Sentak Hyu Won lalu melepaskan tangannya dari Hyukjae.

Hyukjae menahan nafasnya, ia berusaha meredam emosinya. “Jangan bertinkah seperti bayi, Kang Hyu Won. Kalau kau tidak belajar mematuhiku sejak sekarang, bagiamana saat menikah nanti?” Sindir Hyukjae.

“Mwo? Kau berkata seolah aku akan selalu membangkangmu. Sepertinya sebelum kita menikah, kita harus melatih sikap setia di antara kita.” Ucap Hyu Won lalu menatap sinis pada Hyukjae.

“Ya… benar. Kita memang harus melatih sikap setia kita. Aku akan berlatih untuk tidak berlari pada perempuan di club malam dan kau berlatih untuk tidak menemui Kyu Hyun  lagi.” Suara Hyukjae terdengar penuh kemenangan. Ia sudah tak mau terus-menerus merasa bersalah karena kecerobohannya mencumbu wanita lain di club malam beberapa bulan lalu menghantuinya. Ia hanya ingin Hyu Won tetap di sisinya. Ia tak peduli bahwa gadis itu akan merasa sakit karena dirinya mengungkit kembali insiden di club malam. Hyu Won menatap shock ke arah Hyukjae. Hyukjae sudah terang-terangan mengakui kesalahannya. Sekarang Hyu Won merasa begitu terpojok karena dirinya sendiri tidak setia. Pikirannya benar-benar terbagi antara Kyu Hyun dan Hyukjae.

****

Kang’s Family Home

Seoul, South Korea

07.00 PM

Hyu Won berjalan dengan kaki disentakan menuju kamarnya. Ia memegang tas belanjaannya dengan kesal. Hyukjae baru saja pulang setelah mengobrol ringan dengan kedua orang tuanya. Pria itu tak henti-hentinya membuat gadis itu kesal.

Ceklek

Gadis itu membuka pintu kamar lalu melempar barang belanjaannya pada kasur besar miliknya. Ia lantas membaringkan tubuhnya dengan pandangan menatap langit-langit kamar. Ia menarik nafas dalam untuk menenangkan perasaannya. Diraihnya ponsel hitam miliknya, ia lantas men-scroll ke bawah mencari nama Kyu Hyun. Sedetik kemudian ia menggigit bibir bawahnya lalu meringis pelan. Mengapa ia ingin menelpon pria itu? Tidak setelah satu bulan ini.

Drrt Drrt Drrt

Mata Hyu Won terbelalak saat melihat nama Kyu Hyun di layar ponselnya, ia terlonjak seketika dan menatap kaget pada ponselnya. Ia baru saja ingin menghubungi pria itu tetapi ternyata pria itu sudah lebih dulu menghubunginya. Bibirnya tersungging senang.

“OPPA!” Teriak Hyu Won senang. Ia bisa mendengar kekehan lolos dari seberang telepon. Kyu Hyun menertawakannya.

“Hai, kau sudah tidur?” Suara berat Kyu Hyun terdengar begitu menggoda. Hyu Won membayangkan lelehan coklat yang melumer di mulutnya.

“Belum. Mengapa menelponku?” Hyu Won meringis dalam hati karena tidak bisa menahan rasa senangnya.

“Coba pergi ke balkon kamarmu lalu lihat di depan gerbang rumahmu, kau akan lihat sesuatu di sana,” suara Kyu Hyun terdengar ringan. Hyu Won segera berjalan menuju pintu keluar balkon. Ia masih memegang telpon di telinga kanannya.

“Ada apa di sana?” Suara Hyu Won terdengar penasaran.

“Cepatlah, Nona…” Kekeh Kyu Hyun.

Hyu Won sudah berada di balkon kamarnya, ia lantas melihat ke arah gerbang. Seketika itu juga mulutnya menganga lebar saat melihat Kyu Hyun berdiri melambaikan tangan ke arahnya.

“Ommo! Oppa? Kau di sini? Kau tahu rumahku??” Tanya Hyu Won terkejut. Ia balas melambaikan tangannya lalu tersenyum, walaupun ia ragu Kyu Hyun melihat senyumannya atau tidak.

“Tentu saja aku tahu, itu mudah. Bisakah kau turun ke bawah? Ada yang ingin kubicarakan,” ucap Kyu Hyun. Suara pria itu berubah muram dan serius.

“Ya, aku akan ke bawah.” Balas Hyu Won masih bersemangat. Tanpa ia sadari, Kyu Hyun tersungging di ujung telpon.

“Hati-hati, jangan berlari atau kau akan jatuh sebelum bertemu denganku,” Kyu Hyun mengeluarkan suaranya seolah ia mengejek gadis itu. Hyu Won mendengus kesal karena pria itu menggodanya.

“Berisik!”

KLIK

****

Hyu Won membuka gerbang rumahnya dengan susah payah, Kyu Hyun membantu mendorong gerbang hingga terbuka. Hyu Won melirik sekitar lalu mengerutkan dahi saat tak melihat Jung Sik –penjaga rumahnya, biasanya pria itu selalu diam di pos dekat gerbang. Mungkin dia di kamar mandi, bisik Hyu Won.

Hyu Won melangkah keluar lalu kembali menutup gerbang dibantu Kyu Hyun. Ia lantas membalikan tubuhnya dan menatap Kyu Hyun, pria itu menatap lama ke arahnya seolah mengagumi gadis itu.

“Wae?” tanya Hyu Won dengan dahi berkerut setelah menyadari arah pandang Kyu Hyun.

“Kau tampak berbeda tanpa baju seragammu, kau manis dan dewasa.” Ucap Kyu Hyun ringan tapi tidak menggoda seperti biasanya. Hyu Won bersemu merah mendengar ucapan pria itu.

“Tapi aku tetap cantik, kan?” Tanya Hyu Won berusaha tak terpengaruh dengan pujian pria itu.

“Selalu,” ucap Kyu Hyun singkat. Dan seksi, sambungnya dalam hati lalu terkekeh pelan.

Hyu Won tersenyum lalu menempuk pipinya tanpa sadar, Kyu Hyun juga tersenyum. Mereka menjadi begitu kikuk.

“Jadi, ada apa?” Tanya Hyu Won kemudian.

“Kau punya waktu? Aku mau mengajakmu ke taman sekitar sini, tadi aku lihat ada taman saat memasuki gerbang perumahan.” Ucap Kyu Hyun.

Hyu Won menganggukan kepalanya, “Ya, aku punya banyak waktu!” Seru Hyu Won. Kyu Hyun lagi-lagi tersenyum di dalam hati, ia sibuk menertawakan sikap gadis itu.

“Kajja!” Ucap Kyu Hyun lalu meraih tangan gadis itu. Seketika itu, Hyu Won merasa tubuhnya seolah baru saja dialiri listrik bertegangan tinggi. Tubuhnya terasa hangat tetapi bergetar gugup seolah udara dingin penyebabnya. Ia menatap sekilas ke arah Kyu Hyun, wajah pria itu tampak tenang dan ada senyum tipis di bibir tebalnya. Hyu Won menolehkan kepalanya ke samping lalu tersenyum juga. Ia merasa nyaman dan hangat saat Kyu Hyun menggegam tangannya.

“Dingin?” Tanya Kyu Hyun pada Hyu Won.

“Sedikit,” balas Hyu Won pelan. Kyu Hyun melepas tangan Hyu Won, Hyu Won mendesah kecewa di dalam hati lalu detik berikutnya hatinya melonjak gembira saat Kyu Hyun justru menarik gadis itu ke dalam jaket Army yang ia buka lebar seolah muat untuk berdua. Tangan pria itu melingkar posesif pada bahu gadis itu. Kepala Hyu Won menempel pada dada pria itu. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu, cepat dan sangat keras.

“Sekarang bagaimana?” Suara Kyu Hyun terdengar ringan seperti kapas. Ia menatap Hyu Won yang kini menempel pada dada bidanganya dengan kerlingan mata.

“Sangat hangat,” ucap Hyu Won lalu menggigit bibir bawahnya menahan kekehan. Kyu Hyun tersenyum menyeringai lalu kembali melangkahkan kakinya.

Keduanya berjalan menikmati malam, Hyu Won tak tahu Kyu Hyun membawanya ke mana, pria itu terus berjalan lurus. Ia tahu ini bukan arah taman yang Kyu Hyun bicarakan. Lagipula taman sangat jauh dari rumahnya. Hyu Won merenung di dalam hati, mengapa Kyu Hyun terasa begitu nyaman untuknya. Ia tahu jantung pria itu berdebar tapi ia tak berani mengambil kesimpulan bahwa debaran itu karena dirinya. Ia juga merasakan gelenyar aneh saat tubuhnya menempel pada Kyu Hyun. Ia seharusnya tidak membiarkan Kyu Hyun menggenggam tangannya tapi ia suka saat tangannya bertautan dengan Kyu Hyun.

“Itu mobilmu?” Tiba-tiba suara Hyu Won memecah keheningan saat ia melihat Range Rover hitam terparkir beberapa langkah di depan mereka. Pria itu memarkirkan Range Rover-nya jauh dari rumah Hyu Won.

“Ya, kita ke taman dengan mobilku.”

****

Kyu Hyun menghentikan mobilnya saat mereka tiba di taman. Selama perjalanan pria itu tak melepas tautan tangan mereka, ia selalu menggenggam tangan Hyu Won. Tak ada penolakan dari gadis itu membuatnya merasa apa yang ia lakukan tidaklah melenceng dari apapun. Gadis itu masih milik orang lain tapi Kyu Hyun bahkan tak peduli sama sekali. Ia bisa merasakan perasaan gadis itu padanya. Ia tahu mereka punya perasaan yang sama. Ia hanya harus menunggu sebentar lagi. Mesin mobil telah mati, suasana hening menyelimuti keduanya. Tak ada pergerakan tubuh seolah mereka sedang terperangkap dalam pikiran masing-masing.

Kyu Hyun menarik lembut tangan Hyu Won lalu ia mengecup buku-buku jari gadis itu, Hyu Won terbelalak tapi ia tak mengatakan apapun. Ia memilih bungkam karena ia tak tahu apa yang harus ia katakan, ia juga tak ingin menolak perlakukan lembut pria itu. Tidak bertemu satu bulan lamanya membuat pria itu justru semakin dekat dengannya. Mereka seperti kekasih yang tidak bertemu lama.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Kyu Hyun tanpa meninggalkan pandangannya dari mata gadis itu, Hyu Won menolehkan kepalanya lalu mengangguk. “Sepertinya tidak, tanganmu begitu dingin. Tadinya tidak sedingin ini,” sembur pria itu lagi, Hyu Won menyipitkan matanya saat ia mendengar nada menyindir dari suara pria itu.

“Kau sedang menggodaku?” Tanya Hyu Won sinis.

Kyu Hyun terkekeh, “Bagian dari kesenanganku saat bersamamu.”

“Kau sangat menyebalkan, oppa!” Ucap gadis itu kesal lalu mencoba menarik tangannya dari genggaman Kyu Hyun tapi tak terlepas sama sekali, seolah Kyu Hyun sudah mengantisipasi gerakan gadis itu. Ia justru membawa tangan gadis itu menempel pada bibirnya sekali lagi. Hyu Won berjengkit di kursi penumpang. Ia merasakan gelenyar aneh di sekujur tubuhnya akibat rasa hangat dari kecupan bibir pria itu pada punggung tangannya.

“Hyu Won-ah, aku tahu ini sangatlah cepat. Tapi aku tidak ingin membuatmu takut dan berlari dari diriku,” ucap Kyu Hyun kemudian, suara pria itu terdengar berat. Hyu Won mengerutkan dahinya, sisa-sisa senyuman masih menempel pada bibirnya.

“Apa maksudmu, oppa?” Tanya Hyu Won bingung.

“Mungkin kau tak akan percaya dengan apa yang aku ucapkan, tapi aku tidak pernah berbohong. Aku mengingkanmu sejak pertama kali kita bertemu. Aku sangat mengingkanmu.” Ucap Kyu Hyun akhirnya. Ia merasa beban yang selama ini ia tahan seolah pecah dan menyisakan kelegaan di dalam hatinya.

“Mw-mwo?” Hyu Won tergagap setelah mendengar ucapan pria itu. Jantungnya berdebar keras, belum pernah ia merasakan perasaan seperti ini. Dengan Hyukjae sekalipun. Ia menundukan kepalanya lalu mulai membuat garis lurus pada celana Jeans-nya.

“Ya, aku mengingkanmu. Sangat. Dan aku tahu kau juga sama.”

Hyu Won mengangkat kepalanya cepat, ia terkejut mendengar ucapan Kyu Hyun. Ia meringis pelan lalu memalingkan wajahnya menatap jendela mobil. Apa yang pria itu ucapkan tidak salah tapi ia tahu apa yang mereka lakukan adalah kesalahan. Ia sudah punya Hyukjae.

“Kau tahu aku memang pria brengsek. Tapi aku tidak akan seperti itu saat aku bersamamu.” Ucap Kyu Hyun penuh keyakinan. Hyu Won masih diam tak mengucapkan apapun meski ia mendengar ucapan pria itu. Ia tak peduli dengan masa lalu pria itu.

“Hyu Won?” Panggil Kyu Hyun lembut, ia tak memaksakan pikiran gadis itu. Tapi ia merasa gelisah dengan sikap diam gadis itu.

Hyu Won? Bicaralah.

“Hyu Won katakan sesuatu, katakan apa yang kuucapkan benar.” Ucap Kyu Hyun.

“Ya,” Desah Hyu Won akhirnya.

“Ya?” Tanya Kyu Hyun tak paham.

“Ya, oppa. Kau benar.” Balas Hyu Won. Kyu Hyun tersenyum lega saat mendengar jawaban gadis itu. “Oppa, aku tidak tahu ini benar atau tidak. Tapi apa yang kau ucapkan benar, aku senang saat bersama denganmu. Perasaanku selalu meluap-luap saat bersama denganmu. Kau benar… aku, aku juga mengingkanmu. Tapi-…”

“Tapi apa?”

“Aku sudah punya Hyukjae oppa, aku tak bisa menyakitinya walaupun ia menyakitiku, aku… aku tak tahu harus bagaimana. Hyukjae oppa… keluargaku, semuanya akan kecewa.” Ucap Hyu Won bimbang. Wajahnya berubah muram. Kyu Hyun mengeratkan genggaman tangannya seolah mencoba menguatkan gadis itu.

Kyu Hyun memangkas jarak di antara mereka. “Dengar,” ucap Kyu Hyun lalu merengkuh kedua pipi gadis itu dengan hangat. “Hei, lihat aku.” Ucap Kyu Hyun lagi. Hyu Won mengangkat kepalanya lalu menatap Kyu Hyun dengan sendu. Ia menatap tepat di dalam manik mata pria itu. Seketika itu juga dirinya merasa seolah ia baru saja diberi dorongan kekuatan oleh Kyu Hyun, ia merasa kuat untuk segala hal hanya karena menatap mata pria itu.

“Hyu Won-ah dengar, aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu memilih. Tapi cobalah untuk tidak terlalu khawatir untuk apapun. Kau tak perlu memikirkan diriku, Hyukjae, keluargamu atau keluarga Hyukjae. Kau hanya harus menjalani apa yang sesuai dengan kata hatimu. Ya… kau bukan aku yang bisa nekat dengan hidup. Kau punya hati untuk memikirkan kebahagiaan mereka, kau khawatir dengan kebahagiaan mereka. Kau punya otak, hati, dan mulutmu. Itu untuk menyuarakan apa yang tidak sesuai dengan hatimu. Ini hidupmu, kau hanya harus berjalan sesuai hatimu. Lakukan apa yang memang hatimu inginkan. Kau tidak akan menjalani hidup dua kali.” Ucap Kyu Hyun dengan tenang, ia tidak mencoba mempengaruhi hati gadis itu. Ia hanya memberikan pemahaman mengenai apa yang bisa gadis itu lakukan untuk hidupnya sendiri.

“Oppa… apa mereka akan membenciku bila aku mengutarakan keinginanku? Tentang hidup, tentang cita-citaku, tentang dirimu?” Tanya Hyu Won khawatir.

Kyu Hyun terdiam lama. Hyu Won mulai bergerak gelisah menunggu ucapan pria itu. “Mungkin ya… mungkin tidak. Kau punya kebebasan sebagai anak, sebagai gadis, sebagai seorang manusia. Aku pernah membaca buku seorang pengarang terkenal dari Brazil,” ucap Kyu Hyun lalu berhenti sebentar. “Dia awalnya mengikuti keinginan orang tuanya, tapi ia tahu hidupnya bukan milik kedua orang tuanya. Dia diharuskan menjadi pendeta, tapi ia memilih untuk berkelana. Dia punya tekad dan tujuan yang jelas untuk hidupnya. Dia berani mengambil resiko untuk kehidupannya. Dalam perjalanan ia mendapat banyak harta dan pengetahuan yang tidak ternilai. Mungkin kalau ia hanya duduk diam mengikuti keinginan orang tuanya, ia tak akan bisa melihat dunia dengan cara berbeda. Bukan berarti kau membangkang pada orang tuamu, kau tahu kepercayaan dan kempromi? Itu yang harus manusia pegang.” Ucap Kyu Hyun membantu meringankan kekhawatiran Hyu Won.

“Lalu, bagaimana hubungan dengan kedua orang tuanya?”

“Aku tidak terlalu ingat, aku membaca buku itu beberapa tahun lalu. Tapi aku ingat ada penggalan kalimat yang menunjukan hubungannya dengan orang tuanya. Orang tuanya bisa memahami apa alasan dari anak mereka. Tidak ada pertengkaran seperti hidupku,” ucap Kyu Hyun dengan senyum kecut. Ia mengingat kisah hidupannya sendiri. Ia menentang kedua orang tuanya untuk jalan hidupnya. “Hubungan mereka baik. Kau tidak perlu takut bahwa hidupmu akan hancur. Kau hanya harus mencoba, kurasa orang tuamu bisa memahami keinginanmu. Kau hanya harus memberi alasan dan keyakinan. Karena orang tuaku perlahan mulai memhami apa yang kuinginkan.” Sambung Kyu Hyun.

“Apakah orang tuaku akan tetap menyayangiku?” Tanya Hyu Won lagi.

“Ya, tentu saja. Tidak ada orang tua yang membenci anak mereka begitupun sebaliknya. Walaupun ayahku bersikap dingin padaku, aku tahu ia selalu menyayangiku. Hanya saja caranya memperlakukanku yang tak bisa kupahami. Kau akan baik-baik saja, Hyu Won-ah. Kau masih muda, kau punya jalan dan pemikiran untuk hidupmu sendiri.” Ucap Kyu Hyun lalu mengusap lembut kepala gadis itu.

Hyu Won medesah pelan. Ucapan Kyu Hyun seperti angin segar untuknya. Pria itu sudah mengungkapkan perasaannya. Dan Hyu Won sadar ia pun memiliki perasaan yang sama terhadap pria itu. Sekarang hanya dirinya yang bisa memutuskan siapa yang akan ia pilih. Benar, ia masih muda dan tidak harus terikat dengan apapun. Ayah dan ibunya mungkin bisa memahami keinginannya.

“Oppa apa kau selalu berjalan dengan caramu?” Tanya Hyu Won. “Aku kagum padamu” Ucap Hyu Won lalu terkekeh pelan. “Oppa, kau selalu punya pijakan yang benar. Kau hidup dengan caramu sendiri. Aku… aku ingin menjadi sepertimu, kau berani dan tepat.” Ucap Hyu Won penuh kekaguman. Kyu Hyun menyeringai tipis, apalagi yang bisa ia miliki kalau bukan hati dan keinginannya? Tidak ada yang bisa berjalan bersamaan dalam hidup, semua butuh pengorbanan dan pilihan. Dan inilah pilihan pria itu. Ia yakin gadis di sampingnya ini akan melakukan hal yang sama. Mereka kuat, mereka sama kuatnya untuk hidup mereka. Tak ada yang benar-benar tepat, ia hanya berusaha meyakini jalan yang ia ambil.

****

Hyu Won’s Room

Seoul, South Korea

10.00 PM

Hyu Won berguling dengan gelisah di atas ranjangnya, pikirannya terus berputar pada ucapan Kyu Hyun tadi. Pria itu tak memaksa untuk memilih dirinya, ia hanya mengungkapkan perasaannya. Itu manis. Ia hanya bimbang dengan keadaan kedua keluarga. Ia tak ingin menyakiti kedua keluarga. Terlebih Hyukjae. Tapi bila ia memilih Hyukjae, itu artinya ia menyakiti perasaan Kyu Hyun dan perasaannya sendiri. Ia juga secara tidak langsung akan menyakiti perasaan Lee Hyukjae.

Hyukjae sudah bersama dengannya hampir seumur hidupnya, pria itu sudah seperti kakak yang selalu melindunginya. Beberapa tahun lalu Hyukjae selalu ada di dalam hatinya. Ia bahkan ragu akan jatuh hati pada pria lain. Tapi Kyu Hyun yang hanya baru beberapa waktu bersama dengannya, sudah mampu membuat hatinya berdetak tak karuan. Ia tak pernah merasakan perasaan senang dan gugup saat bersama Hyukjae. Seolah ia sudah terlalu paham dengan pria itu. Tetapi dengan Kyu Hyun, semua berbeda. Pria itu tidak hanya seperti kakak yang melindunginya, pria itu seperti seseorang yang mampu memimpin dirinya. Pria itu seperti sosok yang selalu diimpikan banyak gadis. Pria itu seperti sosok prince charming yang ia idamkan sejak kecil. Hyu Won selalu senang bila bersama dengan Kyu Hyun walaupun dengan Hyukjae juga demikian, tapi ia tahu rasa senangnya ada pada konteks yang berbeda. Apakah ia mencintai kedua pria itu? Ya, tentu. Hanya saja Hyu Won tahu seperti apa rasa cintanya untuk kedua pria tersebut.

****

A Morning

Kang’s Family Home

Seoul, South Korea

06.00 AM

Kang Jung Hyun dan istrinya tengah duduk sambil sarapan di meja makan, obrolan ringan menjadi pelengkap pagi itu. Hyu Won turun dari tangga dan segera bergabung dengan kedua orang tuanya.

“Pagi, Appa…” ucapnya lalu mengecup lembut pipi ayahnya. “Pagi Eomma…” ucapnya lalu melakukan hal yang sama pada ibunya.

“Duduklah, Eomma membuatkan sandwich kesukaanmu,” ucap Sun Hee –Eomma Hyu Won. Hyu Won segera mengambil tempat lalu mulai memakan sandwich yang sudah disiapkan di piringnya.

Gigitan pertama membuat wajah Hyu Won tersenyum, “Ini enak sekali,” ucap Hyu Won dengan mulut terisi penuh. Sun Hee hanya tersenyum menanggapi pujian putrinya.

“Siang ini datanglah ke kantor, kita akan belajar sedikit tentang bisnis.” Ucap Jung Hyun dengan tangan yang sibuk menyendokan nasi ke mulut. Ia tahu ucapannya itu tak akan menjadi kabar yang baik untuk putrinya.

“Appa… aku tidak suka bisnis. Ayolah, jangan memaksaku terus-menerus.” Gerutu Hyu Won.

Jung Hyun tersenyum menanggapi gerutuan putri kecilnya, ia tahu sejak dulu gadis kecilnya itu tidak suka bisnis. Tapi semenjak kematian Ji Hoon, tak ada lagi penerus untuk perusahaannya. Dulu Ji Hoon begitu tertarik pada bisnis bahkan sebelum ia dikenalkan dengan dunia bisnis itu sendiri. Tapi tidak dengan Hyu Won. Gadis itu lebih suka menggambar dan memadukan warna. Gadis itu benar-benar tak memiliki darah bisnis. Tapi pria itu sadar, ia tak punya penerus lagi kalau bukan putri semata wayangnya itu.

“Ayolah, princess. Kalau bukan dirimu siapa lagi penerus perusahaanku?” Ucap Jung Hyun lagi.

“Appa, aku tidak mau mengurus perusahaan itu. Aku tidak mengerti bisnis dan aku sangat tidak tertarik. Aku tidak bisa membayangkan diriku ada di depan meja lalu mulai memelototi harga saham dan melakukan perebutan tender-tender gila. Itu bukan duniaku,” balas Hyu Won lagi. Kali ini Sun Hee yang tertawa kecil.

“Yeobbo, berhenti memaksa Hyu Won. Kau bisa mencari atau melakukan seleksi pada keponakan-keponakan kita. Lagipula ada Hyukjae.” Ucap Sun Hee membela Hyu Won. Hyu Won mengerucutkan bibirnya pada Jung Hyun.

“Hyukjae sudah terlalu sibuk dengan perusahaan keluarganya sendiri,” sambung Jung Hyun.

Mendengar nama Hyukjae membuat Hyu Won kembali teringat kegelisahannya semalam. Ia ingin menyampaikan beban yang mengganjil di hatinya. Ia berpikir kalau tidak sekarang, kapan lagi?

“Eomma… Appa,” ada yang ingin kusampaikan.” Ucap Hyu Won pelan. Ia berusaha memantapkan hatinya.

“Apa itu?” tanya Jung Hyun acuh.

Hyu Won meletakan sandwich di atas piringnya, mendadak nafsu makannya hilang begitu saja. Ia lantas menegakan tubuhnya, ia berusaha menghilangkan keraguan di dalam hatinya.

“Ini tentang pertunanganku dengan Hyukaje oppa.” Ucap Hyu Won.

“Ya, kenapa dengan pertunangan kalian?” Tanya Sun Hee ringan.

“Aku berpikir ingin membatalkannya,” ucap Hyu Won akhirnya. “Aku minta maaf,” sambungnya cepat.

Ya Tuhan…bunuh aku, bunuh aku!

“Apa yang kau ucapkan? Kau sedang tidak membuat lelucon di pagi hari kan sayang?” Tanya Sun Hee panik, wajahnya tak tersenyum seperti tadi. Jung Hyun bahkan menatap putri kecilnya itu dengan tajam.

Hyu Won menggeleng pelan, “Tidak, aku sedang tidak membuat lelucon Eomma. Aku berpikir selama ini aku mencintai Hyukjae oppa, tapi itu tidak. Aku mencintainya seperti adik mencintai seorang kakak. Kebersamaan kami selama ini membuatku tak bisa membedakan semuanya. Aku memang selalu bersama dengannya tapi aku tak pernah merasakan sesuatu yang berlebih di hatiku. Aku baru menyadari semua ini ketika aku bertemu dengan seorang pria.” Ucap Hyu Won dengan kepala menatap lurus pada minuman dingin di depannya.

“Simpan omong kosongmu, jangan mengacaukan apapun yang sudah ada Kang Hyu Won.” Ucap Jung Hyun lalu berdiri meninggalkan meja makan. Hyu Won tercekat melihat reaksi ayahnya. Ia tahu semua akan seperti ini.

“Appa aku mohon, aku tidak mengatakan omong kosong. Inilah yang kurasakan.” Rengek Hyu Won.

“Cepat berangkat,” ucap Sun Hee lalu menyusul suaminya yang sudah berjalan ke luar.

****

One Month Later…

Lee’s Family Home

Seoul, South Korea

06.30 PM

Hyu Won berdiri di depan pintu kamar Hyukjae, malam ini kedua keluarga mengadakan acara rutin yang sering dilakukan sebulan sekali. Biasanya akan dimulai dengan makan malam lalu diakhiri dengan berbincang-bincang ringan.

Tok… Tok…

“Nuguya?” Tanya suara dari dalam.

“Ini aku Hyu Won…” balas Hyu Won pelan.

Ceklek

“Ada apa?” Tanya Hyukjae sedikit terkejut.

“Bolehkah aku masuk?” Tanya Hyu Won pelan, Hyukjae menaikan satu alisnya bingung. Pria itu lalu menganggukan kepalanya meskipun ia masih bingung dengan kedatangan Hyu Won.

Hyu Won berjalan pelan memasuki kamar pria itu, aroma khas langsung menusuk hidungnya. Ini benar-benar khas aroma kamar pria dewasa. Hyu Won menyapukan pandangannya ke sekeliling kamar.

“Ada apa Hyu Won-ah?”

“Oppa…” ucap Hyu Won pelan, ia nampak ragu dengan apa yang akan ia lontarkan pada pria itu.

Hyukjae berdiri di dekat meja kerjanya, pria itu lantas bersandar dan menatap Hyu Won dengan penuh kekaguman. Ia sangat mencintai gadis itu. Ia berpikir apakah terlalu cepat bila ia mengajukan lamaran untuk menikahi gadis itu, gadis itu baru saja melewati kelulusannya minggu lalu.

“Kau ingin hadiah untuk kelulusanmu?” Tanya Hyukjae lalu terkekeh pelan.

Hyu Won menggelengkan kepalanya pelan, “Anni…” balas Hyu Won lemah. Mendadak ia menjadi sangat ragu. Apakah ia tega menghancurkan hati tunangannya ini?

Hyukjae berjalan mendekati Hyu Won, pria itu lantas merengkuh kedua pipi gadis itu dengan sayang.

“Kau tidak enak badan, hmm?” Tanya Hyukjae lembut. Hyu Won menggeleng frustrasi, mengapa pria itu begitu baik padanya?

Mata Hyu Won tiba-tiba berubah sedikit berkaca-kaca,”Oppa…”

“Hei, kau kenapa? Ada apa?” Tanya Hyukjae berubah khawatir, gadisnya tak pernah terlihat se-frustrasi ini.

“Oppa mianhae…”

“Apa?” Tanya Hyukjae sedikit tercekat. Mendadak pikirannya menjadi kalut.

“Aku ingin membatalkan pertunangan kita,”

“APA?”

“Mianhae oppa…” ucap Hyu Won.

“Kau gila? Kau tidak serius, kan? Ada Hyu Won-ah?” Tanya Hyukjae dengan geraman.

“Aku… aku mencintai Kyu Hyun oppa.”

Hyukjae menggeleng tidak percaya. “Tch~ pria sialan itu? Kau membatalkan pertunangan kita yang sudah bertahun-tahun lamanya hanya untuk pria itu?” Ucap Hyukjae dengan lemas setelah dirinya melepas rengkuhan tangannya pada kedua pipi gadis itu.

“Mianhae oppa,”

“Wae?”

“Mianhae…”

“WAE??” Bentak Hyukjae keras hingga membuat Hyu Won terhuyung ke belakang. Gadis itu kini terisak parah, bukan karena ketakutan atas bentakan pria itu tetapi ia sibuk memikirkan bagiamana hancurnya perasaan Lee Hyukjae.

“Mianhae oppa, aku menyukai Kyu Hyun oppa. Aku tak bisa melupakannya, semakin aku melupakannya maka dirinya terus muncul dalam ingatanku. Aku mencoba untuk tetap bersamamu tapi aku tak bisa. Berhenti bersikap baik padaku, aku gadis jahat.”

Hyukjae mengacak rambutnya dengan kasar, ia memejamkan matanya sekilas. “Kau tahu? Aku sangat mencintaimu Kang Hyu Won,” ucap Hyukjae terdengar frustrasi. Hyu Won hanya diam dalam kesedihannya. Ia tahu ia sudah menyakiti perasaan pria itu tapi akan lebih menyakitkan bila ia berpura-pura menjalani kehidupan cinta yang tak ia inginkan. Ia tahu ia sangat egois.

“Tidak… Tidak, aku tidak akan memberikanmu pembatalan pertunangan kita.” Ucap Hyukjae memberi vonis tak terbantahkan. Hyu Won menahan nafasnya sebentar, ia tahu pria itu tak akan membiarkan pertunangan batal begitu saja.

“Oppa…” ucap Hyu Won dengan memelas.

“Keluar,”

“Oppa?”

“Makan malam akan segera dimulai, cepat keluar. Aku harus mengganti pakaian,”

“Oppa… mianhae, aku mohon. Kita akan menyakiti satu sama lain bila diteruskan,”

“Keluar, aku bilang. Dan jangan coba-coba mengacaukan malam ini.”

“Oppa, aku mohon.”

“KELUAR!”

Hyu Won tersentak, dirinya sedikit memundurkan langkahnya karena bentakan Hyukjae. Dengan cepat ia membalikan tubuhnya dan lari terbirit-birit meraih pintu keluar. Ia benar-benar takut dengar raut wajah pria itu.

****

Hyu Won meletakan sendok makannya lalu menatap semua wajah anggota keluarga. Hyukjae sejak tadi tak banyak bicara. Pria itu hanya menanggapi perbincangan dengan begitu singkat. Hyu Won sadar pria itu pasti sangat marah padanya. Sejak tadi pikirannya tak tenang sama sekali.

Hyu Won menundukan kepalanya lalu mulai memejamkan matanya mencoba mencerna kembali semua tindakan yang sudah ia lakukan malam ini. Mengapa ia begitu yakin untuk membatalkan pertunangan ini? Mengapa dirinya yakin bahwa ini keputusan yang benar. Ia bahkan ragu apakah Kyu Hyun menyukai tindakannya ini. Ia melakukan semuanya atas kehendak sendiri. Ia ingin menjalani hidup seperti apa yang Kyu Hyun katakan. Ia benar-benar hilang kendali karena pria itu, ia tak peduli bagaimana reaksi pria itu nanti. Yang ia tahu adalah dirinya harus memperjuangkan perasaannya pada pria itu. Pria itu akan melakukan hal yang sama untuk dirinya.

“Semuanya, ada yang ingin kubicarakan…”

Hyukjae mengangkat kepalanya lalu menatap Hyu Won dengan pandangan yang sulit diartikan. Pria itu berdehem sebentar lalu menggengam tangan Hyu Won dengan lembut. Jempol tangan pria itu bergerak lembut mengusap jemari Hyu Won. Hyu Won memejamkan matanya dengan sedih, ia tahu pria itu sedang berusaha membujuknya untuk tak berbicara mengenai pembatalan pertunangan mereka.

“Ada apa sayang?” tanya Sun Hee –ibu Hyu Won.

Hyu Won menarik nafanya yang tiba-tiba menjadi sesak. “Ak-…” ucapannya terhenti saat Hyukjae dengan sengaja meremas tangannya dengan keras seolah memperingati Hyu Won untuk menghentikan tindakannya.

“Jangan… Kumohon,” desis Hyukjae pelan di depan Hyu Won. Semua orang memandang mereka dengan dahi berkerut. Hyu Won memberikan tatapan memelas seolah meminta maaf pada pria itu.

“Ada apa ini Hyukjae-ya? Ada apa sebenarnya?” Tanya Mi Ran –ibu Hyukjae- dengan penasaran.

“Maafkan aku semunya, aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Hyukjae oppa.” Ucap Hyu Won cepat tanpa keraguan.

“MWO?” Suara terkejut keluar dari semua keluarga.

Seketika itu juga Hyukjae menghempaskan tangan Hyu Won dengan kasar, rahang pria itu mengeras. Hyu Won menolehkan kepalanya dan menatap Hyukjae dengan air mata yang mulai berlinang, dengan cepat gadis itu mengusap air matanya.

“Apa yang kau bicarakan Kang Hyu Won?” suara Jung Hyun –ayah Hyu Won- terdengar setengah membentak. Ia merasa malu sekali, putrinya dengan tega mengatakan hal seperti itu di depan kerabat sekaligus calon besannya. Ia tahu tak seharusnya ia mengacuhkan permintaan gadis itu sebulan yang lalu. Ia pikir gadis itu tak akan bertindak lebih lanjut lagi.

“Aku benar-benar minta maaf Eomma, Appa, ahjumma, ahjussi… dan Hyukaje oppa.” Ucap Hyu Won lalu menatap Hyukjae dengan sedih. Hyu Won tahu ini bukan tindakan yang bertanggung jawab tapi ia harus melakukan semua ini untuk hidupnya. Untuk dirinya, untuk Hyukjae, dan untuk Kyu Hyun.

“Tutup mulutmu dan tarik kembali ucapanmu!” Bentak Jung Hyun. Sun Hee menatap putri semata wayangnya dengan sayang seolah meminta gadis itu untuk menuruti apa yang dikatakan suaminya.

“Mianhae Appa, aku tak bisa. Mianhae…” Hyu Won mengucapkan permintaan maafnya dengan suara bergetar. Ia menatap Mi Ran dengan penyesalan. Wanita paruh baya itu tampak begitu kecewa, sedih, dan bingung secara bersamaan. Untuk sepersekian detik Hyu Won memilih untuk kembali menarik ucapannya dan mengatakan bahwa dirinya sedang bercanda tapi ia sadar ia tak bisa bermain-main dengan keadaan.

“Sebenarnya ada apa ini? Hyu Won sayang, kau pasti sedang bertengkar dengan Hyukjae, kan? Hyukjae menyakitimu? Pikirkan lagi sayang, kalian sedang bertengkar?” Tanya Mi Ran lembut, Hyu Won semakin merasa bersalah. Hyukjae sedikit tercekat mendengar pertanyaan ibunya. Ia menelan ludahnya dan memikirkan tentang arti menyakiti yang dilontarkan ibunya tadi.

Mungkin aku menyakitinya saat itu… mungkin, gumam Hyukjae dalam hati.

Hyu Won menggelengkan kepalanya tak sanggup berbicara, ia berharap Kyu Hyun ada di sini dan membawanya pergi.

“KATAKAN KANG HYU WON!”

“Aku menyukai pria lain Appa, aku rasa Hyukjae oppa selama ini hanya berperan sebagai kakak yang baik, aku… aku tak bisa meneruskan semuanya semakin dalam lagi. Aku tidak mencintai Hyukjae oppa.”

“Pergi.”

“Appa…” Hyu Won menggelengkan kepalanya dan menatap ayahnya dengan tatapan tak percaya.

“Kau benar-benar mengecewakan! PERGI!”

“Jung Hyun-ah!” Kali ini Lee Jang Hyuk –Ayah Hyukjae- berujar tak percaya. Sun Hee dan Mi Ran menatap Hyu Won dengan sedih. Sun Hee bahkan terisak sekarang. Ia tahu suaminya itu pasti merasa malu sekarang tapi tindakan putrinya benar-benar tak bisa ditolerir lagi. Mereka sudah menjalin hubungan kekeluargaan bertahun-tahun lamanya jadi wajar bila sang suami merasa malu dan marah seperti itu. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu, seharusnya ia bisa mengetahui perasaan putrinya itu. Seharusnya ia bisa mencegah semua ini terjadi.

“Hyukjae-ya bawa Hyu Won mencari udara segar…” Mi Ran berujar dengan pelan mencoba mengembalikan keadaan yang sempat menegang. Mungkin dengan tidak adanya Hyu Won di meja makan, keadaan bisa dikendalikan. Hyukjae hanya diam begitu pun Hyu Won, sikap diam mereka membuat Mi Ran semakin gusar.

“Lee Hyukaje!” Mi Ran memperingati pria itu untuk membawa Hyu Won pergi.

“Tidak Eomma,” ucap Hyukjae pelan, nyaris berbisik. Hyu Won menolehkan kepalanya dengan ragu pada Hyukjae.

“Ini tidak hanya kesalahan Hyu Won, wajar bila ia meminta pembatalan pertunangan kita.” Ucap Hyukjae pelan. Tak ada ekspresi kekecewaan dan sedih di sana. Wajahnya benar-benar datar dan tenang.

“Oppa?“ Bingung Hyu Won. Ia tak paham ke mana arah pembicaraan pria itu.

“Seharusnya aku bisa membuat Hyu Won percaya dan mencintaiku. Aku mengingkan Hyu Won tapi untuk diriku sendiri. Akulah alasan mengapa Hyu Won bisa seperti ini. Beberapa bulan yang lalu dia mendapatiku sedang berselingkuh di sebuah club malam,” ucap Hyukjae dengan tenang seolah ia sudah siap dengan makian dari keluarganya. Hyu Won menggelengkan kepalanya tak percaya mendengar penuturan pria itu. Dengan bersikap seperti itu, ia merasa semakin bersalah pada Hyukjae.

“Apa yang kau katakan Lee Hyukjae?” Suara Lee Jang Hyuk terdengar membentak. Sekarang ia yang merasa malu setengah mati.

“Maafkan aku semuanya. Aku menyianyiakan Hyu Won. Dia tidak sepenuhnya bersalah untuk semua ini.” Ucap Hyukjae lagi. Kepalanya ia tolehkan ke arah Hyu Won. Ia lantas tersenyum pada gadis itu. Ia tahu pikiran gadis itu sekarang berkecamuk.

“Kau benar-benar membuat malu,” ucap Lee Jang Hyuk marah. Jung Hyun memijit kepalanya pelan. Ia benar-benar tak menyangka semua bisa sekacau ini. Semenit yang lalu ia begitu marah pada putrinya tapi semenit kemudian ia benar-benar kecewa dengan calon menantunya itu.

“Ini kesalahan kita, kalian terlalu muda untuk melangsungkan semua pertunangan ini. Benar, kalian mungkin terlalu sering bersama hingga tak bisa memilah mana perasaan cinta antara wanita dan pria atau adik dan kakak.” Ucap Sun Hee dengan prihatin.

“Sekarang bawa Hyu Won pergi Hyuk-ah, kami ingin membicarakan semua ini.” Ucap Mi Ran berusaha mencairkan suasana. Hyukjae mengangguk lalu meraih tangan Hyu Won.

“Ayo…” ajak Hyukjae dengan suara dinginnya. Hyu Won terisak pelan lalu berdiri meraih tangan pria itu. Hyu Won menolehkan kepalanya dan menatap ayahnya dengan air mata yang terus mengalir. Ia lalu menatap Hyukjae, rasa sedihnya semakin mendalam. Pria itu mengapa bisa mengucapkan semua ini? Apakah pria itu sengaja mengatakan semuanya agar membuatnya semakin merasa bersalah?

Mengapa ia selalu bersikap baik?

****

“Wae oppa? Kau membuat semuanya membencimu, wae? Oppa, kau tak seharusnya melakukan ini!” Isak Hyu Won saat keduanya keluar dari pintu rumah Hyukjae.

“Kau senang? Kau senang sudah membuat kekacauan? Kau bahkan tak meminta pembatalan ini beberapa hari sebelumnya. Kau mencekikku! Kau mengatakan di saat semua keluarga di sini. Kau ingin membuatku tak berkutik, kan? Kau hebat, kau hebat. Katakan kalau semua ini ide Cho Kyu Hyun!” Bentak Hyukjae dengan keras. Hyu Won menggigit bibir bawahnya, ia lantas menggeleng dengan kuat.

“Anniyo. Kyu Hyun oppa tidak tahu tentang semua ini. Ini bukan idenya. Ini murni dari pemikiranku. Oppa… mianhae,” ucap Hyu Won pelan. Hyukjae memejamkan matanya lalu membukanya dan menatap Hyu Won dengan frustrasi. Pria itu lantas melepas genggaman tangannya lalu berjalan menjauhi gadis itu.

Hyukjae bersandar pada pilar rumahnya, pria itu mengatur nafasnya yang terengah-engah karena berusaha menahan emosinya. Ia memandang gadis mungil di depannya. Ia ingat pertama kali dirinya melihat gadis itu datang ke rumahnya. Tak ada rasa cinta dan perasaan meletup-letup atau bergetar lainnya, ia seperti melihat seorang gadis kecil yang memang harus dijaga. Hingga bertahun-tahun kebersamaan mereka, dirinya tak tahu seperti apa perasaannya pada gadis itu sebenarnya. Apakah perasaan seorang kakak terhadap adik atau perasaan pria terhadap wanita. Yang ia tahu hanyalah harinya akan terasa kosong bila tak melihat wajah gadis itu, hatinya tak tenang bila tak melihat gadis itu.

“Berhentilah menangis,” ucap Hyukjae lembut. Hyu Won menghapus air matanya lalu menatap Hyukjae dengan nanar. Air matanya kembali mengalir saat melihat tatapan sayang Hyukjae. “Oppa, kau terlalu baik padaku. Mianhae.” Ucap Hyu Won disela isakannya.

“Kau mencintai Cho Kyu Hyun?” tanya Hyukjae.

“…” Hyu Won hanya diam.

“Mungkin seharusnya malam itu tak pernah ada, seharusnya kau tak datang ke club malam sialan itu. Kau tak akan bertemu dengannya dan malam ini tak akan pernah ada. Pria itu sepertinya pria baik walupun ia sedikit bajingan.” Ucap Hyukjae dengan penyesalan. Semua ini tak dipungkiri salahnya juga, ia yang membiarkan pria lain masuk dan mengisi hati gadis kecil di depannya itu. Ia tahu bahwa hati gadis itu bukan miliknya lagi sekarang, sepenuhnya telah berpindah pada pria lain. Setelah sekian lama, akhirnya hal seperti ini terjadi. Sejak persahabatannya dengan Ji Hoon, ia tak pernah menyangka gadis ini akhirnya menemukan orang lain selain dirinya.

“Oppa…”

“Pulanglah, aku akan mencoba bicara dengan para orang tua,”

“Tidak. Jangan memperlakukanku seolah aku masih kecil. Oppa… aku benar-benar mengacaukan semuanya, aku juga akan bicara.” Ucap Hyu Won pelan. “Oppa, mengapa melakukan semua itu? Mengapa kau mengungkit kejadian di club malam pada orang tau kita?”

“Karena kau tak bisa menjadi satu-satunya pihak yang disalahkan. Aku tidak bisa melihat mereka membencimu, ini kesalahanku juga. Kau adalah putri kesayangan mereka, kau adalah gadis kecil kesayangan orang tuaku. Aku tak bisa hanya diam melihat kau seperti tadi. Mereka harus melihat perubahan gadis kecil kesayangan mereka. Kau tidak bisa mendapat amukan dari Appamu begitu saja. Itu semua karena diriku juga.” Ucap Hyukjae, ia tak menyesal mengakui semuanya. Ia justru akan menyesal bila gadis itu yang memikul semua beban yang ada.

“Oppa, kau tak bisa membuat dirimu seperti ini. Berhentilah menjagaku, kau selalu seperti ini. Inilah mengapa aku selalu bergantung padamu hingga membuatku merasa seolah aku mencintaimu. Aku mencintaimu tapi seperti rasa cintaku pada Ji Hoon oppa.” Ucap Hyu Won berbisik. Ia terharu dengan tindakan pria itu. Hyukjae tersenyum miring. Hatinya sakit mendengar penuturan gadis itu.

Hanya seorang kakak? Gumam Hyukjae di dalam hati.

“Kemarilah, aku ingin memelukmu.” Ucap Hyukaje tiba-tiba. Hyu Won mengerutkan dahinya bingung tapi ia tetap berjalan mendekati pria itu, dengan lembut Hyukjae meraih tubuh mungil Hyu Won dan memeluknya dengan sayang.

“Kau sudah dewasa sekarang. Minggu lalu setelah kelulusanmu kupikir kita akan menikah tapi ternyata tidak,” ucap Hyukjae mencoba terkekeh pelan, sebenarnya dadanya terasa begitu nyeri. Ia merasa gadis ini baru saja terlepas dari genggamannya. Apakah ia siap mengucapkan perpisahan dengan gadis di pelakukannya ini?

“Oppa mianhae…” ucap Hyu Won pelan, air matanya kembali mengalir. Ia tak peduli jas mahal pria itu akan basah nantinya, yang ia tahu dirinya hanya harus membenamkan kepalanya agar isakannya tak semakin besar.

“Aku yang ada di sampingmu sejak kecil, aku yang selalu menjagamu dan mencintaimu bahkan tak bisa membuat dirimu menjadi milikku.” Kekeh Hyukjae. “Dengan atau tanpa adanya kejadian di club, kau akan tetap pergi dari diriku, kan? Aku merasa selama ini selalu aku yang berjuang dengan hubungan kita, Hyu Won-ah. Jadi, kalau akhirnya seperti ini pun aku tak bisa melakukan apapun. Cinta tak bisa berjalan bila hanya salah satu yang berjuang, bukan?” Ucap Hyukjae dengan ringan walaupun begitu Hyu Won tahu pria itu memedam kesedihan mendalam.

“Oppa, jeongmal mianhae” Isak Hyu Won semakin keras.

“Ssst~ Kau benar, sepertinya aku memang hanya seperti sosok kakak untukmu. Aku merasa seperti baru saja mengantarmu kepada pria yang kau cintai setelah kebersamaan kita selama ini. Ini seperti melepas adik satu-satunya yang kumiliki,” ucap Hyukjae dengan lembut. Pria itu berusaha menyembunyikan kepedihannya. Ia tak memungkiri bahwa dirinya sudah jatuh cinta dengan gadis kecil di pelakukannya ini. Ia mencintai gadis ini.

Ji Hoon-ah, aku mencintai adikmu. Dan dia mencintai pria lain. Bisik Hyukjae di dalam hati.

“Oppa, aku benar-benar minta maaf untuk semuanya,”

“Ssst~ Gweanchanna. Pulanglah,” ucap Hyukjae lalu melepas pelukannya. Pria itu lantas menangkup wajah Hyu Won lalu mengecup lembut pipi gadis itu.

“Kecupan terakhir Kang Hyu Won,” gumam Hyukjae.

Hyukjae melepas kecupannya lalu menatap wajah gadis itu dalam, Hyu Won balas menatap mata pria itu. Hyukjae tahu tak ada gunanya menahan gadis ini lebih lama lagi, tak akan ada gunanya bila hati gadis ini memang tak bersama dengannya. Ia bukan pria yang tak mau berusaha untuk cintanya, hanya saja semua sudah terlihat jelas di hadapannya. Gadis itu begitu bahagia saat bersama Kyu Hyun. Gadis itu memilih Kyu Hyun.

“Kita berakhir di sini, pertunangan ini kubatalkan juga. Kuharap kita menemukan kebahagiaan untuk diri kita masing-masing, Hyu Won-ah. Aku senang bila kau bahagia… adik kecilku,” ucap Hyukjae dengan senyum tulus. Ia merasa lega setelah mengatakan semuanya, seolah berhasil meloloskan seekor merpati dari perangkap pemburu walaupun tak dipungkiri hatinya masih menaruh harapan pada gadis itu.

“OPPA… saranghae, aku berdoa untuk kebahagiaanmu juga.” Ucap Hyu Won lalu menghambur ke pelukan Hyukjae. Air matanya kembali mengalir dengan deras. Pria itu melepaskannya, benar-benar melepaskannya.

****

Kyu Hyun’s Apartement

Seoul, South Korea

09.00 PM

Ting Tong…

Ting Tong…

Hyu Won berdiri dengan perasaan berkecamuk. Ia baru saja menghancurkan malam ini. Ia berharap Kyu Hyun bisa membuatnya tenang, ia sudah memilih pria itu. Jadi ia berharap pria itu bisa memberikan ketenangan untuk perasaannya.

Ting Tong…

Ting Tong…

Ceklek

“Hyu Won-ah?” Kyu Hyun tercekat saat melihat Hyu Won berdiri dengan wajah pucatnya. Navy dress gadis itu terlihat sedikit berantakan walaupun begitu tak mengurangi sedikit pun kecantikan alami gadis itu.

“Oppa…” ucap Hyu Won suara sedikit bergetar.

“Ayo masuk!” Pperintah Kyu Hyun lalu menggiring gadis itu memasuki apartementnya.

Hyu Won mengangguk lalu berjalan di samping Kyu Hyun, pria itu merangkul tangannya pada sekeliling bahu gadis itu. Hyu Won tersenyum simpul, pria itu memperlakukannya dengan manis. Selalu.

“Berapa lama kau di luar? Tubuhmu dingin sekali,” suara berat Kyu Hyun memecah keheningan di antara keduanya. Hyu Won hanya diam, ia tak tahu sudah berapa lama ia berada di luar rumah. Seingatnya Hyukjae menyuruh supir pribadinya untuk mengantarnya pulang tetapi ia justru meminta diturunkan di pinggir jalan. Dan di sinilah ia berada, apartement Kyu Hyun.

“Duduk,” perintah Kyu Hyun saat keduanya memasuki kitchen room milik pria itu. Kitcen room didesain seperti bar kecil, semua sesuai dengan keinginan Kyu Hyun.

“Oppa, bolehkan aku menginap di sini?” Tanya Hyu Won pelan.

Kyu Hyun sibuk membuka lemari makanan mencari sesuatu yang bisa diseduh, ia mengabaikan pertanyaan gadis itu.

“Oppa?”

Kyu Hyun menarik nafasnya lega saat ia melihat kotak susu bubuk di dalam lemari, tak sia-sia Ahra membelikan susu untuknya walaupun ia jarang meminumnya.

“Oppa!” Sentak Hyu Won mulai kesal.

“Asihhh… bocah kecil jangan berteriak. Ini sudah malam,” balas Kyu Hyun dengan kekehan. Ia sudah pernah bilang bukan, gadis itu sangat manis bila sedang merajuk.

“Aku boleh menginap di sini tidak?”

“Kita dengar apa alasanmu datang ke mari baru aku akan membuat keputusan kau boleh menginap atau tidak,” balas Kyu Hyun acuh. Ia masih sibuk berkutat membuat susu hangat untuk gadis itu.

Hyu Won meniup poninya dengan sebal, apakah pria itu harus selalu bertingkah menyebalkan seperti itu? Kyu Hyun membalikan tubuhnya lalu berjalan menuju gadis itu. Ia membawa segelas susu coklat di tangan kanannya, lalu segelas kaleng bir di tangan kirinya.

“Igo…” ucap Kyu Hyun lalu menyodorkan segelas susu coklat di tangannya kepada Hyu Won. Gadis itu meraihnya dengan pandangan berbinar-binar. Kyu Hyun tersenyum miring melihat reaksi gadis itu.

Hyu Won meneguknya dengan rakus seolah ia tak minum berhari-hari, Kyu Hyun lagi-lagi tersenyum miring melihat tingkah gadis itu.

“Ahhh~ hangat sekali, gomawo…” ucap Hyu Won setelah menjauhkan gelas dari bibirnya.

Kyu Hyun menggelengkan kepalanya kecil saat melihat sisa susu coklat di sekitar bibir gadis itu, “Dasar bocah…” ucapnya pelan lalu membersihkan sisa susu coklat di sekitar bibir gadis itu. Jantung Hyu Won berdetak semakin kencang.

“Kalau kau gadis dewasa, aku akan membersihkan sisa-sia susu di bibirmu dengan bibirku.” Ucap Kyu Hyun lalu berbalik mengambil sepiring roti di dalam kulkas. Hyu Won tercekat mendengar penuturan mesum pria itu.

“Aku sangat haus dan kedinginan,” balas Hyu Won acuh. Ia berusaha tak menanggapi ucapan pria itu.

Kyu Hyun menarik kursi, ia lantas duduk di sana. Sekarang keduanya duduk berhadap-hadapan. Pria itu mulai membuka penutup kaleng bir di tangannya dan meneguknya.

“Jadi apa alasanmu datang ke mari?” Tanya Kyu Hyun setelah meletakan kaleng birnya. Ia menopang dagunya lalu menatap Hyu Won dengan lembut, pria itu selalu memuja kecantikan alami gadis itu. Mata berbinar, senyum merekah, pipi merah merona, dan wajah polosnya adalah satu kombinasi sempurna ciptaan Tuhan.

Tuhan dalam mood yang baik saat menciptakan gadis ini, gumam Kyu Hyun dalam hati.

“Hmm, kenapa?” Tanya Kyu Hyun lagi, dahi pria itu berkerut saat melihat raut wajah gadis itu. Ada semacam keraguan untuk menjawab pertanyaan pria itu.

“Apakah itu bir? Kau punya soju? Aku belum pernah minum soju, bolehkan aku meminum soju?” Tanya Hyu Won. Kyu Hyun terkekeh lalu memegang kaleng bir yang tadi ia letakan.

“Ya, ini bir. Dan aku tak punya soju saat ini. Lagipula bila aku punya soju pun, aku tak akan membiarkanmu meminumnya,” balas Kyu Hyun acuh, ia kembali meminum bir di tangannya.

“Wae? Apa karena usiaku?” Tanya Hyu Won. Ada nada sebal di sana.

Kyu Hyun menggeleng kepalanya, “Bukan. Kau bahkan sudah boleh meminumnya,”

“Lalu kenapa aku tak boleh meminumnya?”

“Kukatakan padamu, saat kau hanya berdua dengan pria kau harus menghindari sesuatu yang bisa membuatmu kehilangan kendali diri. Jika mereka membuatmu mabuk maka kau harus berteriak dan segera pergi,” ucap Kyu Hyun.

“Wae? Mengapa aku harus berteriak dan pergi?”

“Karena mereka laki-laki yang buruk. Semua laki-laki itu sama… kita semua serigala,” ucap Kyu Hyun lalu terkekeh saat melihat ekspresi yang ditunjukan gadis itu. Gadis itu terkejut mendengar ucapan blak-balkan pria itu.

Hyu Won sedikit berjengkit, ia lantas menatap pria itu dengan pandangan menyipit, “Lalu kau? Kau sendiri minum bir, bukankah akan lebih berbahaya bila kaum lelaki yang kehilangan kendali? Kau tahu kan, kalian… kalian bisa saja melakukannya. Ya kau tahu sendiri apa yang kumaksud,” ucap Hyu Won dengan gugup.

Kyu Hyun terkekeh pelan lalu mencubit pipi gadis itu dengan gemas, “Gadis pintar, kau menyerap pelajaranku dengan baik,” ucap Kyu Hyun.

“Jawab pertanyaanku, kau sendiri minum bir.”

“Ini jenis yang tidak beralkohol, sekali pun kau minum bir sebanyak sepuluh gelas, kau tak akan mabuk. Perutmu hanya akan membuncit…”

“Hahahaha… pantas saja perutmu membuncit!” Tawa Hyu Won menyembur tak sopan. Kyu Hyun mengiggit bibir bawahnya gemas saat mendengar tawa gadis itu. Ia seolah baru saja terpesona pada gadis itu.

“Perutku tidak buncit, babo!” Ucap Kyu Hyun lalu menaikan sleeveless putih yang ia kenakan. Hyu Won mengaga seketika, perut pria itu terlihat begitu seksi. Otot-otot perutnya mengencang di mana-mana.

“OMMO!” Pekik Hyu Won tertahan, pipinya berubah merah merona.

“Eiihh… kau terpukau dengan bentuk perutku?” Sindir Kyu Hyun.

“Anniya…” Hyu Won mengerjapkan matanya lalu memalingkan wajahnya ke sebelah kiri. Pipi gadis itu merona merah sekarang. Rasanya panas di sini.

Kyu Hyun berdehem lalu menatap gadis itu dengan tajam, “Jadi, apa alasanmu datang ke mari?” Suara pria itu tak sejenaka tadi, ia benar-benar serius sekarang. Hyu Won meringis pelan.

“Haruskah kau tahu alasannya?” Tanya Hyu Won.

Kyu Hyun mengangkat sebelah alisnya menandakan ia tak ingin mengulang pertanyaannya lagi.

“Aku… Aku kabur dari rumah, aku membatalkan pertunanganku dengan Hyukjae oppa.”

“MWO?” Kyu Hyun tercekat mendengar jawaban gadis itu. Hyu Won menggigit bibir bawahnya menahan rasa takut. Ia takut sebentar lagi pria itu akan mengusir atau bahkan tak ingin melihatnya lagi.

“Oppa?” Panggil Hyu Won pelan saat Kyu Hyun tak menanggapi ucapannya. Pria itu memang sempat terkejut tapi sedetik kemudian wajahnya mengeras seperti batu.

“Ini sudah malam, ayo kita tidur.” Ucap Kyu Hyun datar. Hyu Won membulatkan matanya terkejut, pria itu bersikap dingin padanya. Semua kekhawatirannya terbukti. Pria itu tak suka dengan apa yang dilakukannya.

“Kau tak suka? Kau tak suka aku melakukannya?” Tanya Hyu Won parau. Suaranya berubah sedih. Kyu Hyun menarik nafas lalu kembali duduk. Ia menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Tidak, aku tak bilang aku tak menyukainya. Tapi kau bertindak terlalu cepat. Kau menyusahkan dirimu sendiri. Ini membuatku sangat tersiksa, aku bisa menangani semua ini tanpa harus kau yang terluka. Kau benar-benar nekat.” Ucap Kyu Hyun kemudian. Hyu Won memnggigit bibir bawahnya menahan rasa senang di dalam dirinya. Setidaknya Kyu Hyun tak akan membencinya.

“Sama sepertimu, sudah kubilang aku ingin sepertimu. Aku akan mengambil jalan sesuai hatiku.” Ucap Hyu Won polos. Kyu Hyun menganggukan kepalanya kecil seolah mengiyakan ucapan gadis itu. Gadis itu benar-benar kagum padanya, bukan? Gadis itu terlalu mudah percaya padanya.

****

Kyu Hyun berbaring di sebalah Hyu Won, gadis itu tampak begitu lelap dalam tidurnya. Pria itu menekuk lengan kirinya lalu menjadikannya sebagai tumpuan, tubuhnya ia miringkan sehingga ia bisa melihat wajah mungil nona kecil di sampingnya itu.

Kenapa bahkan dalam keadaan tertidur ia tetap sangat manis? Donghae benar, menatap wajah seorang gadis yang kau cintai saat tertidur adalah sebuah kegiatan yang begitu menyenangkan…, gumam Kyu Hyun dalam hati. Bibirnya tersungging saat mendengar deru nafas Hyu Won. Terlalu tenang dan begitu teratur, deru nafas gadis itu begitu menenangkan.

Tangan Kyu Hyun bergerak jahil menyentuh setiap lekukan dari wajah Hyu Won, mulai dari lekukan hidung hingga lekukan bibir mungil gadis itu. Gadis itu hanya mengerutkan dahinya namun ia tak terbangun.

“Kenapa kau bertindak begitu berani? Bagaimana bisa kau membuat harga diriku sebagai pria terlihat begitu tak berharga sama sekali?”

Kyu Hyun mengangkat kepala gadis itu lalu meletakannya di depan dada bidangnya, ia lantas melingkarkan lengan kirinya di sekitar punggung gadis itu.

“Nghhh…” Hyu Won melenguh saat merasa terusik dari tidurnya namun matanya masih terpejam rapat.

“Ssstt~…” Kyu Hyun menepuk lembut punggung gadis itu seolah meninabobokan gadis itu.

“Aku bisa mendapatkanmu dengan caraku sendiri tanpa harus kau bertindak… Hyu Won-ah,” ucap Kyu Hyun lalu mengecup lembut puncak kepala gadis itu. Ia tak suka gadis itu bertindak begitu nekat seperti malam ini, gadis itu terlihat seperti gadis yang membangkang pada keluarganya –memang seperti itu kenyataannya. Tapi ia tahu gadis itu harus membuat pilihan di dalam hidupnya. Kyu Hyun mengeratkan pelukannya lalu memejamkan matanya menyusul gadis itu yang sudah lebih dulu tenggelam dalam tidur lelapnya.

****

“Bangun… bangun tukang tidur!” Kyu Hyun berujar di samping Hyu Won. Gadis itu masih enggan membuka matanya. Ia masih terlalu mengantuk.

“Ya! Nona kecil tukang tidur, cepat bangun!” Teriak Kyu Hyun kali ini.

“Shirreooo…” rengek Hyu Won. Ia lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Kyu Hyun menggertakan giginya lalu menatap gadis itu dengan kesal.

“Bangun tukang tidur,” ucap Kyu Hyun lagi lalu menarik gadis itu setelah dirinya menarik turun selimut gadis itu. Gadis itu terlonjak dari tidurnya lalu membuka matanya kesal.

“Oppa! Kau menyebalkan sekali!” Hyu Won bangun lalu berdiri di sisi ranjang. Gadis itu menguap lebar tanpa malu sedikit pun. Kyu Hyun mengedipkan matanya merasa terpesona melihat gadis itu. Walaupun wajah gadis itu begitu bengkak, ia tak terlihat buruk sama sekali. Bahkan kotoran mata di sudut mata gadis itu tak mengganggu pemandangannya sedikit pun. Ia justru terlihat begitu manis dan seksi.

“Cepat mandi lalu kita sarapan,” ucap Kyu Hyun memerintah. Hyu Won mengusap matanya lalu menatap Kyu Hyun. Ia baru sadar kalau pria itu sudah berdandan begitu rapih.

Kemeja putih dengan celana jeans dan belt membuat penampilan pria itu terlihat begitu dewasa, belum lagi rambut pria itu yang sedikit basah membuat kesan segar di mata Hyu Won.

“Oppa, kau rapih sekali. Kau akan bekerja?”

“Tidak. Cepat mandi. Atau aku akan memandikanmu. Aku tidak keberatan bila harus memandikan gadis sebesar kau!” Perintah Kyu Hyun dengan kesal. Hyu Won lari terbirit-birit menuju kamar mandi di kamar pria itu.

“Dasar pria tua tukang perintah!” Teriak Hyu Won sebelum dirinya masuk ke dalam kamar mandi.

Ya… aku menjadi tua beberapa tahun karena harus mengurusi bocah ingusan sepertimu. Sebenarnya aku ini ayahmu atau pria muda yang sedang jatuh cinta? Ketus Kyu Hyun dalam hati.

****

Kang’s Family Home

Seoul, South Korea

09.00 PM

Mobil Kyu Hyun berhenti di depan sebuah pagar besi coklat. Hyu Won melipat tangannya dengan kesal. Ia tak ingin kembali dengan cepat. Ia baru saja menciptakan perang dunia ketiga tadi malam.

“Oppa! Kenapa kau membawaku ke mari? Appa bisa membunuh kita!” Ucap Hyu Won dengan panik saat Kyu Hyun menghentikan mobilnya di dalam halaman rumah gadis itu.

“Appamu justru akan membunuh kita kalau aku tak  membawamu pulang,” ucap Kyu Hyun lalu membuka seatbelt gadis itu.

“Oppa, Appa akan mengurungku atau mungkin menyewa orang untuk mengawasi kita, ia akan melarang kita untuk bertemu!” Ucap Hyu Won semakin panik saat melihat pria itu membuka seatbelt-nya.

“Aku harus berbicara dengan Appamu, aku yakin ia tak akan melakukan hal seperti itu.”

“Oppa, aku baru saja membatalkan pertunanganku dengan Hyukjae oppa. Lee ahjussi adalah sahabat Appa, jadi besar kemungkinan Appa akan sangat murka padaku. Jebal… kita pergi dari sini,” Hyu Won memelas kali ini.

“Percaya padaku, aku bisa mengatasi semua ini. Dan jangan lari dari masalah, aku tak suka itu.” Ucap Kyu Hyun serius. Hyu Won hanya merenggut mendengar ucapan pria itu. Ia selalu menjadi patuh saat bersama pria itu.

“Tapi aku sangat takut,” ucap Hyu Won panik. Sejujurnya Kyu Hyun juga merasa panik seperti gadis itu tapi ia sadar mereka tak melakukan kesalahan besar. Mereka hanya saling mencintai, apa yang salah dari saling mencintai?

“Kau percaya padaku? Aku bisa mengatasi semua ini.” Ulang Kyu Hyun lagi.

“Geurae… aku percaya padamu.” Balas Hyu Won lemas.

“Bagus,”

****

“Nona? Apakah anda baik-baik saja?” Jung Hye Min, pengasuh sekaligus kepala rumah tangga Hyu Won berujar setengah menjerit saat melihat nona muda mereka kini berdiri dengan seorang pria di pintu masuk rumah.

Hyu Won meringis sebentar, melihat dari tatapan terkejut Hye Min, ia tahu sesuatu telah terjadi semalam.

“Err… aku baik-baik saja. Ahjumma, Appa ada di dalam?” Tanya Hyu Won dengan ragu.

“Syukurlah nona, Tuan ada di dalam… menunggu anda sejak semalam. Anda dari mana saja? Semua orang kelimpungan mencari anda.” Ucap wanita itu, kali ini ekspresi wajahnya tak terlalu terkejut seperti tadi.

“Aku baik-baik saja, percayalah. Sekarang aku akan menemui Appa,” balas Hyu Won pelan. Ia lalu menatap ke arah Kyu Hyun sekilas, pria itu memberikan senyum tipisnya seolah menyetujui ucapan gadis itu.

“Baiklah nona, sek-…”

“Kang Hyu Won!”

Hyu Won menolehkan kepalanya cepat saat mendengar teriakan keras seseorang, ia hafal benar suara siapa itu. “Appa…”

Wajah Kyu Hyun menegang seketika tapi setelah itu ia menormalkan kembali ekspresinya.

Kang Jung Hyun berjalan dengan tegas ke arah putrinya, wajah pria itu mengeras seperti batu. Tatapan matanya berkilat emosi, Hyu Won berdiri dengan ekspresi takut. Gadis itu menatap sekilas ke arah Kyu Hyun. Dengusan sebal meluncur saat melihat ketenangan di wajah pria itu.

Aku berharap memiliki setengah saja ketenanganmu, oppa. Ringis Hyu Won dalam hati.

“Anak nakal, dari mana saja kau semalaman?” Jung Hyun bertanya setelah dirinya berdiri beberapa meter di depan Hyu Won.

“Appa. Mianhae. Ak-…”

“Selamat pagi Tuang Kang,” ucap Kyu Hyun dengan suara beratnya, tak ada nada gugup dan ketakutan sama sekali di sana. Jung Hyun mengalihkan tatapan marahnya dari Hyu Won. Pria itu lantas menatap Kyu Hyun dengan dahi berkerut.

“Siapa kau?”

Kyu Hyun tersenyum sekilas setelah mendengar nada suara pria paruh baya di depannya, tak ada nada mengintimidasi di sana walaupun terdengar begitu tegas.

“Sebelumnya maafkan saya, seharusnya semalam saya mengantrar Hyu Won pulang,” ekspresi Jung Hyun semakin mengeras, “Tapi sudah terlalu larut dan Hyu Won tampak begitu kelelehan jadi saya membiarkan Hyu Won menginap di apartement saya,” ucap Kyu Hyun masih dengan ketenangannya.

Jung Hyun berdehem sebentar, “siapa namamu anak muda?” tanya Jung Hyun lagi.

“Nama saya Kyu Hyun, Cho Kyu Hyun.” Jawab Kyu Hyun yakin.

Jung Hyun menganggukan kepalanya pelan, Hyu Won mengerutkan dahinya saat melihat ekspresi wajah ayahnya. Mengapa pria paruh baya itu tak marah dan semacamnya?

Jung Hyun melemparkan tatapannya ke arah Hyu Won, ekspresi wajah pria itu kembali mengeras seolah tersulut emosi. Hyu Won menggigit bibir bawahnya menahan rasa gugup, ia tahu sekarang ayahnya begitu marah padanya.

“Kau, anak nakal, pergi masuk ke kamarmu!”

“Nde?” Tanya Hyu Won.

“Masuk kamarmu, dan kau… anak muda, ikut aku ke ruang kerjaku.” Suara Jung Hyun terdengar seperti vonis mati bagi Hyu Won dan Kyu Hyun. Kyu Hyun sedikit terkejut.

“Appa, apa yang mau kau lakukan pada Kyu Hyun oppa? Appa, aku yang bersalah. Kyu Hyun oppa hanya mengantarku. Ia akan pulang sekarang. Appa kami tak melakukan apapun di apartementnya. Ap-…”

“Masuk kamar Kang Hyu Won!” Bentak Jung Hyun.

Hyu Won menundukan kepalanya takut, ia meremas tangan Kyu Hyun dengan keras. Pria itu balas mengusap lembut punggung tangan gadis itu.

“Masuklah,” bisik Kyu Hyun. Hyu Won menganggukan kepalanya lalu berjalan melewati ayahnya. Gadis itu menolehkan kepalanya dan menatap Kyu Hyun, ia khawatir dengan apa yang akan ayahnya lakukan pada pria itu.

“Kang Hyu Won, cepat masuk dan berhenti menatap ke arah sini!” Ujar Jung Hyun tanpa menoleh ke arah Hyu Won. Mata pria itu terus menatap tajam ke arah Kyu Hyun.

Hyu Won lari terbirit-birit sehingga langkah kakinya terdengar begitu nyaring saat menaiki anak tangga. Jung Hyun menolehkan kepalanya ke arah tangga lalu kembali menatap Kyu Hyun. Suasana menjadi dua kali lebih tegang, Kyu Hyun merasakan itu.

“Kau… ikut aku ke ruang kerjaku.”

“Ne,” balas Kyu Hyun.

****

Kyu Hyun’s Apartement

Seoul, South Korea

11.00 AM

Kyu Hyun duduk dengan segelas wine di tangannya, ia sibuk memutar-mutar gelas seolah memainkan es batu di dalam gelas tersebut. Perkataan Jung Hyun masih terngiang-ngiang di kepalanya. Pembicaraan empat mata keduanya tadi pagi membuat kepalanya pusing setengah mati.

“Apa pekerjaanmu?”

Kyu Hyun menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.

“Buktikan padaku, aku tidak bisa menyerahkan putriku pada sembarang orang. Apa pencapaian yang bisa kau buktikan padaku? Aku tak bisa membiarkan putriku bersama dengan orang yang tak punya cukup masa depan yang bagus.”

“SIAL.” Umpat Kyu Hyun cepat. Ia paham dengan ucapan pria itu. Ia hanya melindungi putri semata wayangnya. Pembicaraan panjang itu membuat ia sedikit linglung. Ia tahu pria paruh baya itu tidak menyetujui hubungan mereka dengan mudah. Pria itu ingin ia melakukan sesuatu yang bisa membuatnya yakin. Pria paruh baya itu ingin memisahkan mereka. Ia harus bisa membuat pria paruh baya itu percaya padanya.

Kyu Hyun mengacak rambutnya gusar, pria itu adalah orang yang sama dengan ayahnya. Mereka berambisi untuk hidup sempurna mereka. Kyu Hyun menundukan kepalanya lalu mulai menyesap kembali wine di tangannya. Ia sedang berpikir keras untuk mewujudkan pencapaiannya.

“Appa.” Gumam Kyu Hyun cepat. Ia punya kesempatan itu. Ia segera merogoh ponselnya, ia baru saja akan menghubungi ayahnya saat ponselnya lebih dulu berdering.

Hyu Won?

Kyu Hyun segera mengangkat panggilan itu, ia baru saja akan berbicara saat gadis itu lebih dulu menyemburkan teriakannya.

“OPPA! Ya Tuhan.” Ucap gadis itu seolah tengah bersyukur. Kyu Hyun terkekeh pelan.

“Apa anak nakal?” Tanya Kyu Hyun meniru panggilan ayah gadis itu padanya.

“Jangan memanggilku seperti itu,” dengus Hyu Won.

“Oke, ada apa?”

“Ada apa? Kau tanya padaku ada apa setelah kita berpisah di ruang tamu? Oppa, apa kau baik-baik saja? Appa tidak menghajarmu, kan?”

“Dia menghajarku.” Ucap Kyu Hyun singkat. Sebelum gadis itu mulai berteriak, Kyu Hyun dengan cepat menambahkan. “Ia menghajar hatiku,” sambung Kyu Hyun.

“Seriuslah sedikit, kau baik-baik saja? Ia melukaimu?”

“Tidak, anak nakal. Appamu tidak melakukan hal sekejam itu,” balas Kyu Hyun.

“Syukurlah…” desah Hyu Won. “Jadi, apa yang kalian bicarakan? Hye Min ahjumma bilang kau berada di ruangan Appa begitu lama.”

“Rahasia, anak nakal tidak boleh tahu.” Balas Kyu Hyun menggoda gadis itu.

“Aishhh oppa! Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Hyu Won menuntut.

“Tidak terlalu berat, hanya pmembicarakan tentang dirimu dan ulah yang kau buat semalam. Hanya seperti itu.”

“Aku mohon kalau ia menyakiti perasaanmu, jangan pernah memasukannya ke dalam hatimu. Ia hanya menyayangiku,” ucap Hyu Won pelan.

“Ya… aku sepenuhnya tahu itu, anak nakal.”

“OPPA! Berhenti memanggilku seperti itu!”

KLIK

Kyu Hyun terkekeh setelah mendengar sambungannya terputus. Dia menghitung di dalam hati, tidak sampai hitungan ketiga ponselnya kembali berdering dan nama Hyu Won muncul di depan layar. Kyu Hyun memilih untuk tidak mengangkatnya, menggoda gadis itu adalah kesenangan tersendiri untuknya.

****

Cho Corporation

Seoul, South Korea

01.00 PM

Kyu Hyun menatap lukisan abstrak di dekat pintu masuk ruangan ayahnya. Pria itu duduk sambil memainkan kunci mobil kesayangannya. Sesekali bibirnya menggerutu kesal karena terlalu lama menunggu. Sesibuk apa ayahnya hingga ia harus menunggu giliran untuk bertemu. Ia bahkan harus membuat janji dulu. Yang benar saja?

Ceklek

“Tuan muda, anda bisa masuk sekarang.” Suara seorang pria berumur sekitar tiga pulahan mengagetkan Kyu Hyun. Kyu Hyun segera berdiri lalu tersenyum pada pria itu. Pintu terbuka sedikit lebar dan beberap pria berjalan beriringan keluar. Kyu Hyun mengasumsikan itu adalah klien ayahnya.

“Gomawo.” Ucap Kyu Hyun pada pria yang baru saja mempersilahkan ia masuk. Pria itu hanya menganggukan kepalanya dengan sopan. Kyu Hyun berjalan dengan canggung memasuki ruangan besar setelah pintu tadi, ternyata masih ada pintu lagi.

“Apakah dia suka bermain petak umpet?” Ucap Kyu Hyun setengah mencibir.

“Nde?” Kyu Hyun tersentak saat suara pria di depan pintu tadi mengagetkannya, ia berbalik dan melihat pria itu berdiri di belakangnya.

“Ah… Tidak apa-apa, aku hanya berbicara sendiri.” Balas Kyu Hyun merasa bodoh.

Pria itu lagi-lagi hanya mengangguk, ia mendahului Kyu Hyun lalu membuka pintu besar di depan Kyu Hyun. “Silahkan masuk Tuan, Sajangnim sudah menunggu.”

“Ahh… gomawo ahjussi.” Balas Kyu Hyun lalu masuk ke dalam ruangan ayahnya.

Saat Kyu Hyun membalikan tubuhnya, aroma kopi yang tajam segera menusuk hidungnya. Ia tahu ayahnya tidak pernah lepas dari minuman berkafein itu. Pandangannya langsung tertuju pada foto keluarga yang tergantung di depannya. Ia memutar kembali ingatannya, itu foto saat ia berumur lima belas tahun.

“Ehmm.” Deheman Cho Yeung Hwan mengagetkan Kyu Hyun.

“Selamat siang Appa…” sapa Kyu Hyun sopan. Pria paruh baya itu sibuk membalikanan kertas di depannya.

“Duduklah,” ucap pria itu singkat sambil mengedikan dagu pada kursi putar di depan meja kerjanya. Kyu Hyun menganggukan kepalanya lalu berjalan menuju kursi tersebut. Dengan tenang ia menarik kursi itu lalu mulai duduk di atasnya.

“Kau mau minum apa?” Tanya pria paruh baya itu.

“Tidak, tidak perlu. Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal dengan cepat.” Kata Kyu Hyun tak sabaran. Yeung Hwan menghentikan aktivitasnya lalu meletakan beberapa berkas di atas meja, ia lantas membuka kacamata bacanya dan menatap putranya itu dengan penasaran.

“Apa itu?” tanya pria itu sepenuhnya terfokus pada Kyu Hyun. Ia tak menyentuh berkas-berkas di depannya lagi.

“Aku…” ada sedikit jeda seolah ia sedang menguatkan tujuannya datang ke perusahaan ayahnya itu. “Aku ingin menerima tawaranmu untuk mengurusi perusahaanmu di Swiss.” Suara Kyu Hyun terdengar tegas, tak ada keraguan di sana. Yeung Hwan menggelengkan kepalanya tak percaya, sedetik kemudian tawa kecil meluncur dari bibir pria paruh baya itu. Kerutan di sekitar bibirnya menunjukan usianya tak muda lagi. Kyu Hyun hanya diam menunggu tawa ayahnya reda. Ia sudah menyangka ayahnya akan bersikap seperti itu, ini terlalu tiba-tiba setelah dua tahun lamanya ia pergi dari rumah. Ia tak pernah tertarik sedikit pun pada perusahaan ayahnya. Ia pernah bersekolah bisnis tapi hanya sebagai formalitas. Setelah lulus ia justru mendaftar pada sekolah musik.

“Apa… apa yang membuatmu berubah pikiran Cho Kyu Hyun?” tanya Yeung Hwan setelah tawanya mereda.

“Sejujurnya ini bukan urusanmu Appa. Hanya biarkan aku mengurus perusahaanmu, bukankah ini yang kau inginkan?” Tanya Kyu Hyun sekratis. Yeung Hwan menganggukan kepalanya lalu menyesap kopi di depannya.

“Aku tak tahu kepalamu baru saja terbentur di mana, Kyu Hyun-ah. Tapi aku menyambut kabar baik ini. Jadi, mulai kapan kau bisa segera terbang ke Swiss?” Tanya Yeung Hwan dengan antusias. Kyu Hyun menarik nafas lega karena ayahnya tak mengulik lebih dalam alasannya untuk mengurus perusahaan keluarga ini.

“Secepatnya.”

“Secepatnya bukan jawaban Cho Kyu Hyun, kapan?” Tanya Yeung Hwan dengan wajah tegas.

“Aku harus mengurusi surat-surat kepindahanku, bulan depan kurasa.” Balas Kyu Hyun.

“Hmm, ya bulan depan. Lima tahun?” Tanya Yeung Hwan dengan senyum licik di bibirnya.

“Ne?” Tanya Kyu Hyun tak mengerti.

“Lima tahun untuk membangun perusahaan kita di Swiss. Itu baru di mulai awal tahun ini, jadi masih sangat baru Cho Kyu Hyun. Waktu lima tahun cukup bagimu untuk membangun perusahaan itu. Kau akan ditemani sekertaris Lee.” Suara Yeung Hwan terdengar penuh kemenangan. Kyu Hyun menatap ayahnya dengan tajam. Ia tak akan menolak apapun yang dikatakan pria itu.

“Ya, aku akan membangun perusahaan itu.” Ucap Kyu Hyun dengan datar seolah ia sudah siap untuk mewujudkan keinginan ayahnya itu.

“Jadi sepakat. Lima tahun lagi kau kembali ke mari dan buktikan padaku kau mampu membangun perusahaan di sana.”

“Ya.” Balas Kyu Hyun singkat. Ia lantas berdiri dan diikuti oleh Yeung Hwan. Kyu Hyun membungkukan kepalanya pada pria di hadapannya itu.

“Gomawo Appa.” Ucap Kyu Hyun datar.

Pria paruh baya itu tersenyum tipis. “Buat aku bangga, Kyu Hyun-ah.” Ucap pria itu penuh harapan.

Kyu Hyun menganggukan kepalanya lalu berjalan menuju pintu keluar. Ia segera membuka pintu lalu berjalan keluar. Di luar seorang pria berdiri dan menganggukann kepala memberi hormat kepada Kyu Hyun. Kyu Hyun balas tersenyum tipis.

Kyu Hyun berjalan cepat menuju lift, segera setelah ia masuk ke dalam lift pikirannya bercabang ke mana-mana. Semua yang telah terjadi dan akan terjadi berkumpul dan berkecamuk di dalam kepalanya. Ia tak menyangka dirinya bisa berada hingga sejauh ini.

“Kang Hyu Won.” Bisiknya pelan. Ia menatap pantulan dirinya pada lapisan pintu lift.

“Lima tahun sangat lama, sangat lama.” Gumamnya lagi. Pintu lift akhirnya tebuka, Kyu Hyun berdesakan dengan beberapa orang yang mencoba masuk. Ia berusaha keluar dari dalam lift. Ia berjalan menuju pintu keluar perusahaan. Tepat saat ia akan menuruni tangga, di depannya berdiri seorang pria yang sudah tak asing lagi baginya. Pria itu menatap dingin ke arah Kyu Hyun. Kyu Hyun balas memberikan tatapan tak bersahabat.

“Lee Hyukjae.”

“Cho Kyu Hyun.”

****

Hyukjae berdiri dengan tatapan tajam ke arah Kyu Hyun. Tangan pria itu berada di dalam saku celananya. Sikap khas yang sering ia tunjukan untuk mengintimidasi lawan bicaranya. Ia tak menduga bisa bertemu dengan Kyu Hyun di depan pintu gerbang perusahaan yang sedang menjalin hubungan kerja dengan perusahaannya.

“Ah… Cho corporation? Perusahaanmu?” Tanya Hyukjae setengah mencibir.

“Perusahaan orang tuaku.” Balas Kyu Hyun datar.

“Benar, rupanya kau putra pemilik perusahaan ini. Aku bekerjasama dengan perusahaan orang tuamu.” Ucap Hyukjae lagi.

Kyu Hyun memiringkan kepalanya lalu menatap Hyukjae dengan alis berkerut. “Kau pikir aku peduli? Katakan, mengapa mengajakku berbicara?” Tanya Kyu Hyun tidak sabaran. Pria itu akan segera kembali ke apartementnya kalau Hyukjae tidak mengajaknya untuk berbicara sebentar.

“Mengapa aku mengajakmu untuk bicara? Kau pasti sudah tahu kabar tentang pertunanganku. Melihat dari apa yang sudah terjadi tadi malam, kau pikir mengapa kita tidak perlu bicara? Kau tak punya otak?” Tanya Hyukjae dengan emosi.

“Aku sepenuhnya sadar aku memiliki otak Lee Hyukjae,” ucap Kyu Hyun dengan kekehan kecil. Hyukjae mengerutkan dahinya merasa terhina dengan tanggapan Kyu Hyun. Ia tahu Kyu Hyun sedang menertawakan nasib buruknya karena baru saja kehilangan tunangannya.

“Seharusnya aku tidak pernah meremehkanmu, kau sangat berbahaya.” Balas Hyukjae dengan dingin.

“Kau salah jika meremehkanku, aku tidak bisa diabaikan begitu saja. Bukankah kau sudah melihat ketertarikanku pada tunanganmu? Kau pikir aku hanya main-main dengannya? Tidak, tidak Lee Hyukjae.” Balas Kyu Hyun dengan tenang.

“Ya. Dia juga mencintaimu. Aku tak pernah lihat ia segelisah itu karena tak bertemu denganmu.” Balas Hyukjae dengan suara pelan. Kyu Hyun mengerutkan dahinya melihat ekspresi Hyukjae. Perubahan arah suasana?

“Untuk ukuran orang sepertimu yang sudah memiliki gadis itu seumur hidupmu, aku tak melihat kau begitu bersedih karena kehilangan dirinya. Sebenarnya kau mencintai dia atau tidak?” Sindir Kyu Hyun pada Hyukjae.

Hyukjae mengeluarkan tangannya dari dalam saku, ia lantas mulai bersandar pada pohon besar di sampingnya. Ia bersyukur karena memilih taman perusahaan untuk mengobrol dengan Kyu Hyun, ia sudah terlalu lama berada di dalam ruangan yang dipenuhi berkas-berkas perusahaan. “Lalu kau mau reaksi apa yang aku tunjukan? Emosi?” Tanya Hyukjae dengan kekehan.

Kyu Hyun tertawa kecil menanggapi pertanyaan Hyukjae. “Kau memang tidak pantas untuk Hyu Won.” Balas Kyu Hyun tenang.

Hyukjae tidak menanggapi ucapan Kyu Hyun. Pria itu justru menatap ke arah Kyu Hyun dengan tatapan serius seolah mereka tidak saling melontarkan sindiran sejak tadi. “Aku melepaskannya bukan karena aku tidak mencintainya Cho Kyu Hyun-ssi. Kau tidak akan tahu sebesar apa aku mencintai gadis itu. Dia adalah semua yang aku inginkan. Kami tumbuh bersama, selalu bersama. Aku tahu seperti apa dirinya, sangat tahu. Hingga akhirnya ia bertemu dengan dirimu. Aku tak bisa membaca atau mengerti dengan apa yang ia lakukan. Ia melanggar semua kebiasaan yang selalu ia lakukan. Tapi aku senang karena dia begitu ceria. Aku tak pernah melihat ia tersenyum dengan sangat lepas malam itu, malam di mana kita bertemu di kafe.” Ucap Hyukjae dengan suara sendu. Kyu Hyun masih diam dan mendengarkan ucapan Hyukjae. Ia tak peduli sesedih apa pria ini. Baginya yang harus ia lakukan sekarang adalah mempertahankan Hyu Won.

“Ya, dia tersenyum dan gembira di sampingku. Aku tak pernah melihat gadis sepertinya dalam hidupku. Dia baik, manis, polos, dan menggetarkanku.” Ucap Kyu Hyun dengan seringai tipis. Bayangan pertemuan pertama dengan Hyu Won berputar di dalam kepalanya.

“Dia mudah dicintai.” Tambah Hyukjae. Kyu Hyun menganggukan kepalanya mendengar ucapan Hyukjae. “Karena itu aku ingin memastikan bahwa ia memang jatuh kepada orang yang tepat.” Tambah Hyukjae membuat Kyu Hyun mengerutkan keningnya.

“Aku adalah pria yang tepat untuknya, Lee Hyukjae.” Balas Kyu Hyun dengan tegas.

Hyukjae terkekeh, ia lantas berdiri dan mensejajarkan tingginya dengan Kyu Hyun. “Kau pria yang sangat percaya diri, bukan? Kuharap apa yang kau ucapakan bisa kau pegang hingga akhir. Aku tahu seperti apa dirimu Cho Kyu Hyun. Kalau sampai kau menyakiti Hyu Won, aku tidak akan segan-segan untuk merebutnya kembali.” Ucap Hyukjae dengan penekanan.

“Itu bukan urusanmu. Sedetikpun tak pernah otakku berpikir untuk menyakitinya. Jadi jangan pernah bermimpi untuk merebut atau melindunginya. Kau tak perlu melakukan semua itu, kau bukan siapa-siapa lagi baginya. Aku yang akan melindunginya. Dia milikku.” Balas Kyu Hyun dengan tatapan tajam. Ia tak suka diceramahi tentang bagaimana caranya untuk menjaga Hyu Won. Saat pertama kali ia melihat gadis itu di depan pintu club malam, seluruh hidupnya adalah untuk bersama dan melindungi Hyu Won. Hyu Won memberinya harapan tentang hidupnya yang kacau tak terarah. Hanya gadis itu yang melihat dirinya dengan cara yang orang lain tak pernah bisa lakukan. Jadi suatu kesalahan bila ia membiarkan dirinya menyakiti gadis itu.

Hyukjae mendengus mendengar ucapan Kyu Hyun. Ia sepenuhnya sadar Kyu Hyun telah mengintimidasi dirinya. Dan ia tahu sekarang, Hyu Won memang jatuh pada orang yang tepat. Setidaknya ia bisa melepas tangan untuk menjaga Hyu Won-nya.

“Baguslah. Aku memegang kata-katamu, Cho Kyu Hyun-ssi. Dengar, aku memang bukan siapa-siapa lagi baginya tapi dia sudah seperti dongsaeng bagiku. Jadi aku memperingatimu sebagai seorang kakak dan sekaligus pria yang mencintai dirinya, jaga dia. Sekarang itu tugasmu.” Ucap Hyukjae lalu berjalan meninggalkan Kyu Hyun.

Kyu Hyun menatap punggung Hyukjae. Seringai tipis mencuat di bibirnya. “Lee Hyukjae!” Teriak Kyu Hyun keras hingga membuat Hyukjae berbalik. Dengan dua langkah kaki panjangnya, sebuah pukulan mendarat tepat pada pipi Hyukjae. Pria itu terjerembab ke tanah.

Bukk!

“APA-APAAN KAU INI!” Teriak Hyukjae penuh emosi. Kyu Hyun menyeringai lalu menarik Hyukjae yang terjerambab di tanah. Pria itu menerima uluran tangan Kyu Hyun.

“Itu untuk pukulan di depan kafe dan untuk membaut Hyu Won menangis di dalam club malam… Aku sudah ingin memukulmu sejak pertama kali kita bertemu di apartementku.” Balas Kyu Hyun lalu terkekeh pelan. Hyukjae baru saja akan membalas ucapan Kyu Hyun saat Kyu Hyun dengan cepat memotong Hyukjae.

“Dan aku tidak mau berterima kasih atau meminta maaf padamu atas lepasnya Hyu Won dari sisimu. Ia memang ditakdirkan bersamaku. Aku yang akan menjaganya mulai sekarang.” Ucap Kyu Hyun lalu berjalan meninggalkan Hyukjae yang kini meringis kesakitan.

“SIALAN kau!” Teriak Hyukjae ditengah ringisannya tapi ia tersenyum setelahnya. Ia mulai sedikit tenang. Semoga Hyu Won memang jatuh pada tangan yang tepat, gumamnya dalam hati.

****

A Morning

Kang’s Family Home

09.00 AM

Hyu Won membuka pintu kamarnya lalu berjalan dengan mata terpejam. Hari minggu tak lagi menyenangkan. Semenjak kelulusan, ia sedang menunggu waktu untuk ujian sehingga hari minggu tampak seperti hari lain. Hyu Won menguap lebar, matanya masih mengantuk tetapi kepalanya sakit karena terlalu lama tidur. Ia berjalan sempoyongan menuju tangga. Baru selangkah ia berjalan menuruni anak tangga, matanya sontak terbuka lebar saat melihat Kyu Hyun keluar dari pintu ruang kerja ayahnya. Dari atas tangga, ia melihat pria itu berjalan dengan wajah datar.

“Oppa!” Panggil Hyu Won setengah berbisik namun cukup untuk terdengar. Ia takut ayahnya mendengar ia memanggil pria itu. Pria itu langsung mendongakan kepalanya dan menatap Hyu Won dengan tersenyum. Dengan santai pria itu berjalan menaiki tangga, Hyu Won tercekat melihat tindakan pria itu. Bagiamana bisa pria itu berjalan dengan leluasa di rumahnya? Ada apa sebenarnya?

“Hai,” sapa Kyu Hyun saat ia berdiri tepat di depan Hyu Won.

Hyu Won mengerjapkan matanya bingung, ia lantas menyeret Kyu Hyun menjauhi tangga. Ia menarik pria itu menuju kamarnya. Kyu Hyun hanya tersenyum jenaka melihat tingkah Hyu Won. Ia tahu gadis itu pasti takut ayahnya tahu keberadaannya di rumah keluarga Kang. Tapi hanya Kyu Hyun yang tahu bahwa ayah gadis itu tak akan mengamuk.

Blammm

“Apa yang kau lakukan di rumahku? Kau dari ruangan Appa?” Tanya Hyu Won dengan penasaran. Ia bertanya seperti seorang detektif. Dengan santai Kyu Hyun melipat tangannya di depan dada. Pria itu lantas memiringkan kepalanya dan menatap Hyu Won dengan pandangan menilai. Hyu Won menjadi sedikit salah tingkah, mengapa pria itu menatapnya seperti itu?

“Apa?” Tanya Hyu Won bingung.

“Apakah kau selalu seperti ini saat baru bangun tidur?” Tanya Kyu Hyun santai, dirinya masih menilai penampilan gadis itu. Hyu Won mengerutkan dahinya lalu menilik penampilannya. Mata gadis itu bergerak dari bawah kakinya hingga kepala, sedetik kemudian pipinya merona merah saat ia menyadari pakaian yang ia pakai. Tanktop putih dan celana abu-abu yang sangat pendek!

“Ya Tuhan! Kau memang pria mesum.” Ucap Hyu Won lalu meraih jubah tidur yang tergantung dibalik pintu. Sementara ia sibuk menalikan jubah tersebut, Kyu Hyun justru tertawa menikmati sikap gusar Hyu Won.

“Hei, santailah. Aku di rumahmu, tak mungkin aku melakukan sesuatu yang buruk.” Ucap Kyu Hyun santai.

“Dan aku tidak ingin memberikan oppa pemandangan indah di pagi hari,” balas Hyu Won tak kalah santai, sebenarnya ia terkejut mendapati dirinya berbicara seperti itu. Ia terlalu berani.

“Whoo pemandangan indah.” Ulang Kyu Hyun mengejek Hyu Won.

“Jadi mengapa kau ada di rumahku?” Tanya Hyu Won lagi.

“Tapi serius kakimu memang indah, jenjang sekali. Dan wajahmu manis.” Ucap Kyu Hyun masih menggoda gadis itu.

Hyu Won memutar matanya kesal. “Seriuslah sedikit oppa, aku bertanya padamu.” Gumam Hyu Won kesal.

“Oke… oke. Aku ada bisnis kecil dengan Appamu.” Balas Kyu Hyun.

“Bisnis? Bisnis apa?”

“Urusan pria, anak nakal tidak boleh tahu.” Ucap Kyu Hyun santai.

“Kau sekarang sangat menyebalkan sekali asal kau tahu saja, oppa.”

“Jinjja? Aku menyebalkan? Tapi kau suka, kan?” Goda Kyu Hyun lagi. Hyu Won mendesis tak senang mendengar sikap percaya diri pria itu.

“Hyu Won-ah, aku ingin sekali memelukmu. Bolehkah?” Tanya Kyu Hyun tiba-tiba. Hyu Won terkejut dan bingung mendengar permintaan pria itu.

“Tentu saja, kau seperti akan pergi saja.” Ucap Hyu Won masih bingung. Kyu Hyun mengangkat bahunya tak peduli dengan ucapan gadis itu. Tanpa membuang waktu, pria itu menarik Hyu Won lalu memeluknya dengan erat. Ia menguburkan kepalanya pada rambut panjang gadis itu. Ia menghirup aroma manis tubuh Hyu Won. Hyu Won balas memeluk erat punggung lebar Kyu Hyun. Kyu Hyun merasa Hyu Won seperti energinya. Pembicaraan berat di ruangan ayah gadis itu membuat energinya seolah terhisap begitu saja.

CEKLEK

Pintu terbuka secara tiba-tiba. Kyu Hyun tidak sempat melepas pelukannya. Seketika itu aura di dalam kamar berubah menyeramkan.

“Cho Kyu Hyun-ssi, walaupun kita memiliki pembicaraan yang serius tapi kau tidak bisa seenaknya berperilaku di rumahku. Bisakah kau memegang norma kesopanan? Hyu Won masih kecil.” Ucap suara berat di ambang pintu. Hyu Won menatap ayahnya dengan gugup. Mereka telah melepas pelukan hangat tadi.

“Ya, Tuan Kang. Saya minta maaf atas kelancangan saya.” Ucap Kyu Hyun dengan serius tapi tak menunjukan sedikitpun kegugupannya. Hyu Won mengutuk sikap tenang pria itu, Kyu Hyun selalu pandai mengatur keadaan dirinya.

“Dam kau Kang Hyu Won. Aku yakin kau yang mengajaknya masuk ke kamarmu. Dasar anak nakal.” Ucap ayah Hyu Won lalu menatap putrinya dengan pandangan mencibir. “Aku tunggu di ruang makan,” ucap pria paruh baya itu lalu menutup pintu dengan keras.

“Mwo? Mwoya? Aku anak kanal? Kita bahkan tak melakukan apapun.” Gerutu Hyu Won dengan kesal. Kyu Hyun menundukan kepalanya lalu terkekeh pelan.

“Tapi kau memang anak nakal. Kau yang mengajakku masuk ke mari, kan?” Sindir Kyu Hyun.

Hyu Won berbalik lalu menatap Kyu Hyun dengan kesal. “Kau sama saja seperti Appa!”

Kyu Hyun mengangkat bahunya tak peduli dengan gerutuan kecil Hyu Won. Dengan cepat pria itu mengecup bibir Hyu Won. Hyu Won tak sempat mencerna tindakan pria itu.

“Aku tunggu di bawah Princess,” ucap Kyu Hyun dengan nada jenaka lalu ia mengedipkan sebelah matanya dan keluar dari kamar gadis itu. Ia berhasil menggoda gadis itu lagi.

“APPA!” Hyu Won berteriak kesal setelah Kyu Hyun menghilang dari kamarnya, hanya ayah dan ibunya yang memanggilnya dengan panggilan princess. Sejujurnya ia sangat muak mendengar panggilan seperti itu. Ia terlihat seperi anak kecil saja. Ia semakin penasaran apa yang Kyu Hyun dan ayahnya bicarakan hingga pria itu bisa memanggilnya Princess.

****

Kyu Hyun tengah mengobrol ringan dengan Kang Jung Hyun. Kyu Hyun memang memasang wajah santainya tapi ia bahkan tak bisa mengatur rasa gugup di hatinya. Pria paruh baya di hadapannya adalah ayah dari gadis yang ia cintai. Pria itu memang tak lagi terlalu melarang hubungannya dengan Hyu Won tetapi sedikit mempersulit. Biar bagaimapun pria paruh baya itu tahu Kyu Hyun-lah penyebab hancurnya pertunangan Hyu Won dan Hyukjae.

“Mengenai syarat yang kuajukan padamu, apakah kau benar-benar sanggup melaksanakannya?” Tanya pria paruh baya itu dengan suara sombong.

Kyu Hyun tersenyum menanggapi pertanyaannya itu. “Ya, saya sanggup.”

“Apakah tidak akan mengikiskan cintamu pada putriku? Lima tahun bukan waktu yang singkat.” Ucap pria itu lagi-lagi dengan raut wajah merendahkan.

“Putrimu adalah satu-satunya gadis yang aku cintai. Hanya ia yang mampu membuatku melakukan apapun diluar jalur amanku. Walaupun kami baru bertemu, saya akan memperjuangkan dirinya. Lima tahun tak akan sulit untuk saya lakukan jika akhirnya Hyu Won akan bersama dengan saya.” Ucap Kyu Hyun tanpa menunjukan raut sombong sedikitpun. Ia meyakini keputusan yang ia buat. Pagi tadi saat ia mengunjungi ruang kerja ayah gadis itu, mereka sudah membicarakan mengenai syarat yang harus ia lakukan bila ingin mendapatkan gadis itu. Ia melihat sedikit rasa bangga dari pria paruh baya itu tapi pria itu tak menunjukan dengan terus terang di hadapan Kyu Hyun.

“Kau tahu aku tak akan merestui hubunganmu walaupun kau pergi untuk melakukan pembuktianmu, yang aku inginkan adalah hasil dari apa yang kau lakukan selama lima tahun itu. Saat aku merestui hubunganmu, kau juga memikul beban berat untuk melanjutkan kerajaan bisnisku.” Ucap Jung Hyun lalu menyesap teh hijau di hadapannya.

“Ya, saya tahu. Saya akan berusaha keras. Saya yakin saya mampu membuktikan pada anda bahwa saya layak untuk putri anda.” Ucap Kyu Hyun dengan keyakinan penuh.

Jung Hyun menganggukan kepalanya, di dalam hati ia tersenyum puas setelah melihat keyakinan Kyu Hyun tapi ia belum sepenuhnya merestui pria itu. Ia ingin pria itu melakukan syarat yang ia ajukan. Ia tak ingin Hyu Won jatuh ke tangan pria yang tidak benar. Sejujurnya saat pertama kali Kyu Hyun datang ke rumahnya, ia tak ragu pada pria itu. Ia hanya ingin menguji keseriusan pria itu dalam mendapatkan putrinya. Lima tahun juga bisa dijadikan tolak ukur kedewasaan Hyu Won ataupun Kyu Hyun. Ia ingin tahu apakah setelah lima tahun, cinta mereka masih sama seperti sekarang. Ia juga mencari seorang pewaris untuk kerajaan bisnisnya.

“Kau pria yang sangat percaya diri, kan? Aku memegang kata-katamu. Buktikan kau memang pantas untuk putriku setelah apa yang kau lakukan hingga aku kehilangan calon pewaris tunggalku.” Ucap Jung Hyun dengan nada mencibir. “Aku tahu kepercayaan dirimu mewarisi sifat ayahmu, ia salah satu pebisnis hebat di negeri ini. Kuharap kau tak mengecewakanku,” sambung Jung Hyun kemudian.

Kyu Hyun menganggukan kepalanya, dalam hati ia ingin melawan ucapan pria paruh baya itu tentang kehilangan pewaris tunggal –Hyukjae- tetapi ia memilih menutup mulut rapat-rapat. Pria paruh baya di hadapannya itu tak mungkin ia debat.

“Anda bisa memegang ucapan saya. Tapi Tuan Kang, ada permintaan yang ingin saya ajukan.” Ucap Kyu Hyun tanpa mengurangi hormatnya pada pria itu sedikitpun.

“Apa itu?”

“Sebelum keberangkatanku, aku ingin menghabiskan waktu dengan Hyu Won.” Ucap Kyu Hyun.

“Ya tentu saja, hanya jangan katakan di mana kau akan pergi. Gadis itu nekat, ia akan melakukan apapun untuk menemuimu. Aku ingin melihat ia tumbuh dewasa dengan pilihannya terhadapmu, ini konsekuensi karena ia sudah membatalkan pertunangannya.” Ucap pria itu tanpa belas kasihan. Tampaknya ia benar-benar marah dengan keputusan putrinya untuk membatalkan pertunangan dengan Hyukjae.

“Ya. Saya tidak akan mengatakannya.” Balas Kyu Hyun.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Suara Hyu Won mengintrupsi pembicaraan Kyu Hyun dan Jung Hyun. Gadis itu tampak anggun dengan dress selutut berwarna hijau. Tubuhnya terlihat ramping dan tinggi. Ia bersedekap dan menatap ayahnya dengan pandangan menyipit. “Appa, kau membocorkan panggilan kecilku pada Kyu Hyun oppa?” Tanya Hyu Won lalu duduk di kursi makan.

“Maafkan aku,” ucap pria paruh baya itu sambil mengangkat bahunya. Hyu Won mencibir sikap pria itu, ia tak terlihat menyesal sama sekali.

“Itu memalukan. Aku bukan anak kecil lagi,”

“Lihat, tingkahnya justru terlihat seperti anak kecil.” Ucap Jung Hyun pada Kyu Hyun, Kyu Hyun hanya mengangguk menyetujui ucapan pria itu.

“Appa, sebenarnya apa yang kau bicarakan dengan Kyu Hyun oppa? Mengapa tampaknya tegang sekali?”

“Tidak ada yang penting. Hanya membicarakan hal-hal kecil. Dan siapa yang tegang?” Ucap Jung Hyun santai namun mencibir ke arah Kyu Hyun. Pria paruh baya itu tahu bahwa Kyu Hyun sepenuhnya gugup dan tegang dengan pembicaraan mereka. Kyu Hyun hanya tersenyum menanggapi cibiran ayah gadis itu.

“Aku tidak akan mempercayaimu. Di mana Eomma?” Ucap Hyu Won masih menyipitkan matanya, ia benar-benar tak percaya dengan ayahnya itu. Ia yakin sesuatu telah terjadi tapi ia salut dengan Kyu Hyun. Karena pria itu mampu melelehkan sikap tegas ayahnya. Ayahnya tak mengusir dan memukul Kyu Hyun seperti apa yanga da di dalam benaknya.

“Eomma-mu sudah pergi pagi-pagi sekali dengan teman-temannya, meninggalkan putrinya yang pemalas dan tukang tidur.” Ucap Jung Hyun. Hyu Won menggigit bibirnya menahan kekesalannya sementara Kyu Hyun menahan tawa mendengar ucapan ayah gadis itu. Hyu Won menyadari sikap Kyu Hyun, gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Kyu Hyun dengan menyipitkan matanya.

“Ayo kita makan, Ahjumma sudah memasakan makanan istimewa ini.” Ucap Jung Hyun dengan ringan.

“Ya,” balas Kyu Hyun dan Hyu Won bersamaan.

****

Hyu Won dan Kyu Hyun duduk pada balkon kamar gadis itu. Mereka tidak akan bisa duduk santai seperti ini kalau ayah gadis itu masih ada di rumah. Sebuah kebetulan menguntungkan ayah gadis itu pergi setelah sarapan pagi mereka. Ia masih melarang putrinya untuk keluar rumah tetapi mengizinkan Kyu Hyun untuk menemani Hyu Won di rumah.

“Aku sangat terkejut Appa bisa begitu mudah mengizinkanmu datang ke rumah. Sebenarnya apa yang kau lakukan hingga Appa mengizinkanmu? Aku yakin kalian punya sesuatu yang tidak aku ketahui.”

“Ya, silahkan pikirkan sesuatu itu Kang Hyu Won. Sampai kau botak pun, kau tidak akan mendapatkannya. Lagipula apa yang tidak bisa aku lakukan?” Ucap Kyu Hyun lalu mengusap pipi lembut gadis itu. Keduanya duduk pada kursi santai di balkon kamar gadis itu. Kyu Hyun menggenggam tangan Hyu Won lalu gadis itu menyenderkan kepalanya pada bahu Kyu Hyun.

“Sebenarnya apa hubungan kita ini? Kita tidak pernah berpacaran,” ucap Hyu Won sedikit bingung. Ya, untuk gadis seusianya sebuah status mungkin sangat penting.

“Kita memang tidak berpacaran… dan aku tidak bisa berpacaran denganmu.” Ucap Kyu Hyun santai. Tidak bisa hingga lima tahun kemudian, sambung Kyu Hyun di dalam hati.

“Mwo? Jadi apa kita ini? Apa maksud kau menyatakan perasaanmu kalau kita tak punya hubungan apapun?” Tanya Hyu Won. Ia tak bisa percaya bila pria itu hanya mempermainkan perasaannya. Kepalanya tak lagi menyender pada bahu pria itu.

Kyu Hyun terkekeh pelan lalu mulai mendekatkan bibirnya pada cuping telinga gadis itu. “Buat apa kita berpacaran kalau kita sudah tahu persaan masing-masing? Bukankah status tidak penting asalkan kita saling memiliki? Aku sepenuhnya milikmu Kang Hyu Won. Kalau kita berpacaran kita bisa putus sewaktu-waktu tetapi kalau kita tidak berpacara, pikirkan bagaimana caranya kau memutuskan hubungan ini. Aku sepenuhnya milikmu. Dan kau juga milikku. Jadi kau masih butuh status?” Suara Kyu Hyun terdengar penuh janji di telinga Hyu Won hingga membuat gadis itu bersemu merah.

“Tapi dengan tidak adanya status kau bisa saja menjadikannya senjata untuk mengakhiri hubungan.”

“Kau ingin mengakhiri hubungan ini?” Tanya Kyu Hyun membalikan perkataan gadis itu padanya.

“Tidak tentu saja!”

“Nah, aku juga.”

“Terserah apa pemikiran kita tentang status tapi aku suka gagasan saling memiliki itu. Pada akhirnya kau hanya kembali padaku dan aku juga hanya padamu. Oppa, kau bisa bersikap manis juga?” Sindir Hyu Won.

“Tentu saja. Untuk gadis yang kucintai.” Ucap Kyu Hyun dengan serius. Jantung Hyu Won berdetak cepat mendengar pengakuan pria itu.

Apakah cinta secepat ini? Aku tidak peduli. Aku juga mencintaimu. Bisik Hyu Won di dalam hati.

Hyu Won menyikut rusuk Kyu Hyun pelan tapi mendapat respon berlebihan dari Kyu Hyun. “Aww~ kau menyakitiku. Katakan kau mencintaiku,” ucap Kyu Hyun meminta Hyu Won mengatakan perasaannya.

“Kenapa? Kenapa kau ingin dengar?”

“Katakan saja,”

“Kau tahu seperti apa perasaanku,” ucap Hyu Won lalu memeberikan senyum ringan ke arah Kyu Hyun.

“Aku akan mendengar kau mengatakan kau mencintaiku suatu saat nanti.” Ucap Kyu Hyun tanpa mau memaksa gadis itu mengatakan perasaannya. Karena ia tahu seperti apa perasaan gadis itu padanya.

“Ya.” Balas Hyu Won lalu kembali menyenderkan kepalanya pada bahu pria itu.

“Aku harus pergi.” Ucap Kyu Hyun tiba-tiba.

“Wae?” Rengek Hyu Won.

“Ada beberapa hal yang harus kuurus. Dan kau tidak boleh keluar rumah bila ingin hukumanmu cepat selesai. Kalau kau berjanji tidak keluar rumah, aku akan mengusahakan kebebasanmu pada Appa-mu.” Ucap Kyu Hyun lalu berdiri meninggalkan Hyu Won yang menganga mendengar ucapan pria itu.

“Sejak kapan kau ada di pihak Appa? Kau terlihat seperti anak buahnya!”

“Sejak ia mengizinkanku untuk masuk ke rumahmu.” Ucap Kyu Hyun lalu memberikan ciuman seringan kapas pada dahi Hyu Won. “Sampai jumpa, tak usah mengantarku kalau kau tak ingin aku membawamu pulang.”

“Aku ingin kau membawaku pulang bersamamu.” Ucap Hyu Won menggoda pria itu.

“Jangan menggodaku atau kau benar-benar akan membuat hukumanmu semakin panjang.” Balas Kyu Hyun.

“Kau yang menggodaku lebih dulu.”

“Oke, sampai jumpa.” Ucap Kyu Hyun lalu bergegas menuju pintu kamar. Hyu Won berjalan mengikuti pria itu sampai pintu kamarnya.

“Sampai jumpa, oppa.” Ucap Hyu Won lalu melambaikan tangannya. Ia segera bergegas menuju balkon agar bisa melihat pria itu pergi meninggalkan rumahnya.

****

Cho’s Family Home

Seoul, South Korea

03.00 PM

Kyu Hyun menyampirkan tas kulitnya sekali lagi, senyum pria itu tak henti-hentinya mengembang sejak kepulangannya dari rumah Hyu Won. Setelah pulang dari rumah gadis itu, ia mengambil beberapa barang pentingnya di apartement seperti gadget dan uang serta surat-surat penting. Ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya setelah mendapat panggilan pulang dari sang ayah. Lagipula ia sudah merindukan suasana hangat seperti dulu saat ia belum keluar dari rumahnya. Pria itu berdiri dengan tegang di depan pintu rumah kediaman Cho. Ia yakin seluruh isi rumah akan terkejut tak terkecuali ayahnya. Ia dengan santai menekan bel beberapa kali, seolah mengulang tingkahnya sejak kecil yang suka menekan bel berulang kali.

Ceklek

“OMMO! Tuan muda?” Suara parau Min Hee –petugas rumah tangga sekaligus pengasuh Kyu Hyun dan Ahra sejak kecil- berteriak terkejut. Disekitar bawah mata wanita itu mulai muncul keriput-keriput tipis. Kyu Hyun berpikir berapa lama ia meninggalkan rumah ini hingga wanita di hadapannya ini terlihat begitu banyak berubah.

“Annyeong, ahjumma. Aku merindukanmu.” Ucap Kyu Hyun lalu memeluk lembut tubuh ringkih wanita itu. Wanita itu balas memeluk lalu tersenyum haru. Kyu Hyun melepas pelukannya lalu melihat mata wanita itu yang sedikit berkaca-kaca. Tak ingin terlalu tenggelam dalam suasana haru, Kyu Hyun tersenyum jahil lalu mulai melontarkan kalimat-kalimat pujian.

“Kau bertambah tua tapi tetap cantik, bagaimana keadaan Min Ji noona?” Ucap Kyu Hyun lalu menanyakan keadaan putri wanita itu.

“Aku semakin bertambah tua sejak kau meninggalkan rumah ini. Min Ji baik-baik saja, ia sudah bekerja di perusahaan Tuan Cho.” Ucap wanita itu dengan senyum terima kasih, tidak jelas kepada siapa ucapan terima kasihnya.

“Oh, syukurlah. Sekarang aku ingin masuk, Eomma dan Noona ada?” Tanya Kyu Hyun.

“Ya, Nyonya dan Nona sedang bersantai di halaman belakang.” Ucap wanita itu. Kyu Hyun menganggukan kepalanya lalu berpamitan pada wanita itu. Ia segera menuju halaman belakang rumahnya, ia yakin dua wanita kesayangannya itu sedang menikmati diri sebagai wanita.

Kyu Hyun berjalan cepat, ia sangat merindukan mereka walaupun mereka sering datang berkunjung ke apartementnya, ia tetap saja merindukan dua wanita itu. Kyu Hyun tiba di pintu halaman belakang rumahnya, ia berdiri pada balkon rumah lalu menatap Ahra dan ibunya yang sedang duduk di halaman taman bunga mereka.

“Hai wanita-wanita frustrasi!” Teriak Kyu Hyun keras. Seketika itu juga dua wanita itu menoleh dengan terkejut. Ahra yang lebih dulu berlari menuju Kyu Hyun. Gadis itu tampak berbinar di depan adiknya.

“OMMO! Kyunie!!!” Ucap Ahra lalu memeluk adik laki-lakinya itu dengan erat. Kyu Hyun bahkan mengangkat tubuh gadis itu lalu mereka berputar. Beruntung mereka tak jatuh ke lantai.

“Kau pulang?” Tanya Ahra setelah melepas pelukannya.

“Ya.” Balas Kyu Hyun singkat, senyuman masih menempel pada bibir tebalnya. Pria itu merasa sangat senang bisa melihat wajah kakaknya lagi.

“Kau pulang, Kyunie?” suara parau ibunya muncul dari balik punggung Ahra. Kyu Hyun lantas menghampiri ibunya itu lalu memeluk hangat serta mencium lembut pipinya.

“Ya, aku akan tinggal di sini.” Balas Kyu Hyun. Kedua wanita itu terperangah mendengar ucapan Kyu Hyun.

“MWO? Bagaimana bisa? Kau serius?” Tanya Ahra terkejut.

“Ya.”

“Bagaimana bisa?” Sekarang suara ibu mereka terdengar begitu penasaran.

“Akan kujelaskan,” ucap Kyu Hyun lalu mengedipkan matanya, sikapnya itu semakin membuat kedua wanita di depannya semakin penasaran. “Aku lapar eomma. Apakah kalian punya makanan?”

“BANYAK.” Seru kedua wanita itu bersamaan, mereka menjadi kesal karena sikap acuh Kyu Hyun tentang alasannya kembali ke rumah.

****

Suasana meja makan untuk pertama kali berjalan hangat di rumah keluarga Cho. Tak ada ketegangan seperti biasanya. Kyu Hyun bahkan berbicara akrab dengan sanga ayah. Hanna berulang kali menahan air matanya agar tidak jatuh menetes. Ahra dan Kyu Hyun saling melempar candaan satu sama lain. Tidak ada ucapan saling menyindir atau mencibir. Semua mengalir begitu saja.

Kyu Hyun berpikir di dalam hati, mengapa semua terasa nyaman dan hangat saat ia harus meninggalkan semua ini. Tapi ia sadar itulah hasil dari pilihan yang ia buat. Saat ia memutuskan untuk mengejar impiannya, ia telah melepas kebahagiaannya bersama keluarga. Dan saat ia memutuskan untuk menurut pada ayahnya, ia akan kehilangan kenyamanan yang baru saja terbentuk. Ia tidak berpikir ia menyerah pada cita-citanya melainkan ia sedang berjuang untuk cintanya… untuk hidupnya. Untuk Hyu Won dan Untuk dirinya sendiri.

“Aku sudah menyuruh sekertaris Lee untuk mengurusi semua surat-surat kepindahanmu. Kau tak perlu mengurus lagi. Dan tidak sampai satu bulan, mungkin minggu kedua bulan ini semua sudah selesai diurus.”

Kyu Hyun menghentikan aktivitas makannya, ia lantas menatap ayahnya dengan pandangan terkejut. Itu artinya kebersamaannya dengan Hyu Won hanya tinggal sebentar lagi. Ia mengutuk sikap ayahnya tapi dengan segera mencoba menerima semuanya. Sebagai ganti, ia hanya menganggukan kepanya tanpa berbicara lagi. Ia melirik cepat pada kakak dan ibunya, wajah kedua wanita itu tampak begitu bingung.

“Apa? Kepindahan apa?” Hannya meyerukan pertanyaan yang mengganjil di hatinya.

“Kyu Hyun belum bilang pada kalian?” Suara Yeung Hwan terdengar ringan seolah ini bukan berita sedih baginya. Ia mengesampingkan suara sedih istrinya itu.

****

“Bagaimana bisa!” Lengkingan suara Ahra membuat Kyu Hyun meringis. Kakaknya itu sedang berdiri dengan bertolak pinggang menatap dirinya dengan pandangan marah. Kyu Hyun hanya berbaring pada ranjangnya dengan menjadikan kedua tangan sebagai bantal, matanya terus menatap langit-langit kamar.

“Tentu saja bisa.”

“CHO KYU HYUN! Kau ingin pergi setelah dua tahun tidak pulang. Kau tidak sayang padaku? Pada Eomma? Swiss, lima tahun? Kau gila? Katakan, katakan apa alasannya? Appa mengancammu?” Tanya Ahra, kali ini suaranya sedikit melunak. Kyu Hyun bangkit dari tidurnya lalu menatap Ahra dengan permohonan maaf.

“Tidak tentu saja. Aku sangat sayang pada kalian. Tapi aku tidak pernah mengingkan sesuatu selain… selain hal ini.” Ucap Kyu Hyun berubah sendu.

“Apa itu?” Tanya Ahra penasaran.

“Gadis itu. Kang Hyu Won.” Suara Kyu Hyun berubah dari sendu menjadi penuh emosi.

“Apakah dia gadis yang sama yang kita bicarakan di apartementmu?”

“Ya.”

“Tapi dia sudah bertunangan.”

“Sudah tidak.”

“MWO? Kau berhasil merebut… maksudku mendapatkan hatinya.” Ahra mengoreksi kalimatnya.

“Ya. Aku menginginkannya, ia juga. Pertunangannya sudah dibatalkan.”

Ahra tercengang mendengar penuturan Kyu Hyun. “Whoaa! Daebbak, kau benar-benar hebat. Bagaimana bisa kau melakukan semua itu. Hah! Pesonamu, kan?” Suara Ahra terdengar mencibir. Kyu Hyun mendengar cibirkan kakaknya dengan kekehan pelan.

“Ya. Kita sama-sama hebat. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan pernah pulang ke sini. Ke rumah ini.” Suara Kyu Hyun  kali ini terdengar penuh emosi. “Betapa hebatnya dia, kan? Hanya gadis muda dan mampu membuatku mengubah arah hidupku.” Sambung Kyu Hyun.

“Kau benar-benar jatuh cinta padanya. Gadis seperti apa dia, aku penasaran ingin melihat gadis yang berhasil meluluhkan perasaanmu ini. Aku harus berterima kasih padanya.” Suara Ahra kali ini terdengar ringan, ia menyukai semua perubahan yang ada pada adiknya itu. Terus terang ia benci dengan adiknya yang suka bergonta-ganti pasangan, keluar malam, lalu membantah ayah mereka. Tapi ia  juga tak ingin adiknya ini melupakan cita-citanya sebagai pemusik.

“Ya, Noona akan melihatnya. Kalian harus bertemu.” Ucap Kyu Hyun.

****

On A Road

05.00 PM

“Bagaimana bisa Appa mengizinkanmu membawaku keluar rumah?” Tanya Hyu Won pada Kyu Hyun. Sejak tadi pria itu terus menggenggam tangan Hyu Won. Ia hanya akan melepas genggaman gadis itu saat akan mengganti perseneling. Kyu Hyun tersenyum menanggapi pertanyaan gadis itu. Dalam hati ia bertanya-tanya mengenai reaksi gadis itu bila mengetahui semua persyaratan yang ia buat dengan ayah gadis itu, Kyu Hyun tahu Hyu Won akan merasa dikhianati.

“Percayalah, aku bisa melakukan hal-hal seperti itu dengan mudah.” Ucap Kyu Hyun lalu mengangkat bahunya tak peduli.

“Aku curiga kau telah melakukan suatu perjanjian dengan Appa hingga bisa mendapat izin semudah ini,” ucap Hyu Won enteng seolah itu tak berarti apa-apa. Kyu Hyun hanya tersenyum miris mendengar ucapan Hyu Won. Gadis itu tampak kesal sekali karena Kyu Hyun seolah menyembunyikan sesuatu darinya.

“Kau sudah mendaftar mau kuliah di mana?” Tanya Kyu Hyun mengalihkan kekesalan gadis itu.

“Hmm,” angguk Hyu Won.

“Hei, kau kesal padaku?”

“Anni.”

“Jadi apa jurusan yang kau ambil. Bisnis?” Tanya Kyu Hyun, ia melepas tautan tangannya lalu mengganti perseneling setelah itu ia kembali menggenggam tangan Hyu Won.

“Bukan. Aku tidak suka bisnis.”

“Sudah kuduga. Lalu apa yang kau ambil?” Tanya Kyu Hyun penasaran. Ia mendengar banyak keluhan dari ayah gadis itu tentang kekesalannya karena putri semata wayangnya tidak menyukai bisnis.

“Aku tidak akan memberitahumu sebelum aku lulus ujian Universitas. Kau harus menunggu tiga minggu lagi.” Balas Hyu Won tegas. Mood gadis itu sudah kembali, ia suka membuat Kyu Hyun penasaran.

“Aku akan tahu dengan segera.” Balas Kyu Hyun. Sebenarnya ia sedikit tertegun, tiga minggu lagi? Ia sudah tidak ada di Korea kalau harus menunggu selama itu.

“Jangan berusaha mencari tahu atau kau akan menyesal.”

“Oh aku takut sekali,” ejek Kyu Hyun. “Tapi Hyu Won, aku suka keputusan yang kau ambil untuk ujian Universitas. Kau tak menyukai bisnis. Kau mengambil jurusan lain, itu keputusan yang bagus. Ini hidupmu.” Ucap Kyu Hyun memuji keputusan gadis itu.

Hyu Won memalingkan wajahnya dengan perlahan ke arah kaca mobil. Senyumnya tersungging seketika, ia bersorak bahagia di dalam hati.

Setidaknya Kyu Hyun oppa mendukungku, bisik Hyu Won dalam hati.

“Cha! Kita sampai.”

“Eoh? Di mana ini? Ini swalayan? Bukankah kita akan ke apartementmu?” Tanya Hyu Won sembari membuka seatbelt-nya.

“Ya, kita membeli beberapa bahan makanan dulu lalu kita ke apartementku.” Balas Kyu Hyun.

Hyu Won hanya menganggukan kepalanya lalu keluar dari dalam mobil. Kyu Hyun segera keluar setelah mematikan mesin mobil dan membuka seatbelt-nya.

“Kajja!” ucap Kyu Hyun lalu merangkul bahu gadis itu. Keduanya berjalan memasuki pintu masuk swalayan.

****

Kyu Hyun’s Apartement

Seoul, South Korea

07.00 PM

Hyu Won merebahkan tubuhnya pada sofa krem Kyu Hyun. Ia menghembuskan nafasnya secara berlebihan. Kyu Hyun sudah lebih dulu meluncur menuju dapurnya. Ia sedang menata makanan dan minuman yang baru ia beli.

“Hei Hyu Won, jangan hanya bersantai. Bantu aku!” Teriak Kyu Hyun dari dapur.

“Shirreo!” Balas Hyu Won. Bukannya segera berdiri dan mematuhi perintah Kyu Hyun, ia justru membaringkan tubuhnya dan meringkuk dengan nyaman pada sofa pria itu. Ia mendengar derap langkah kaki mendekatinya.

“Hei ayo bangun, mengapa kau berlebihan sekali? Kau hanya membawa satu kantung belanjaan, mengapa kau tampak kelelahan sekali.” Tanya Kyu Hyun saat melihat Hyu Won tidur membelakanginya.

“Jangan menggangguku, Oppa. Aku butuh istirahat.” Balas gadis itu dengan parau. Kyu Hyun mencibir tingkah gadis itu. Bibirnya tiba-tiba menyeringai jahat saat ide jahil terlintas di dalam kepalanya.

PLAK

“Yak!” Teriak Hyu Won keras lalu mengusap pantatnya dengan cepat. Ia lantas membalikan tubuhnya dan menatap Kyu Hyun dengan tatapan membunuh.

“Kau menampar bokongku?” Tanya Hyu Won masih terhenyak dengan apa yang dilakukan Kyu Hyun. Kyu Hyun hanya menyeringai seolah tak peduli dengan kekesalan gadis itu.

“Kau tidak penasaran dengan apa yang aku beli?” Tanya Kyu Hyun sepenuhnya mengacuhkan pertanyaan gadis itu. Hyu Won menendang pelan paha Kyu Hyun lalu bangun dari posisi tidurnya. Ia lantas melirik ke atas meja.

“Soju!?” Tanya Hyu Won setengah menjerit. Ia benar-benar tak pernah meminum minuman itu.

“Hmm.” Angguk Kyu Hyun. Hyu Won segera bergeser lalu memberi tempat untuk Kyu Hyun.

“Wae? Kita akan mabuk malam ini?” Tanya Hyu Won antusias.

“Kita? Kau saja, aku tidak akan mabuk. Salah satu di antara kita harus tetap tersadar.” Balas Kyu Hyun dengan senyum misterius. Hyu Won mendengus setelah melihat tatapan misterius Kyu Hyun. Ia paham dengan tatapan seperti itu.

“Dasar mesum,” cibir Hyu Won.

“Mau tidak?” Tanya Kyu Hyun menggoda gadis itu.

“Bukankah kau bilang aku harus berlari saat ada pria yang mencoba membuatku mabuk?” Cibir Hyu Won.

“Pengecualian untuk diriku. Kau percaya aku akan menyakitimu?” Tanya Kyu Hyun.

“Kau tidak akan menyakitiku.” Balas Hyu Won yakin. Kyu Hyun tersenyum lalu mulai membuka penutup botol.

“Bagus. Kau selalu percaya padaku, kan?” Cibir Kyu Hyun. Hyu Won hanya mendengus mendengar ejekan pria itu.

“Cha! Igo…” Ucap Kyu Hyun setelah menuangkan Soju pada gelas kecil. Ia lantas menyodorkan pada Hyu Won. Hyu Won menatap dengan pandangan berbinar.

“Sekarang?” Tanya Hyu Won setelah mendekati gelas pada bibirnya.

“Ya. Sekarang.” Ucap Kyu Hyun dengan antusias. Ia menganggukan kepalanya memperbolehkan gadis itu minum. Hyu Won dengan cepat meneguk Soju di dalam gelas. Kyu Hyun menunggu gadis itu menelan cairan hasil ferementasi itu dengan penasaran, ia ingin melihat seperti apa reaksi gadis itu.

“Aaaahh~” Ucap Hyu Won lalu menjulurkan lidahnya, wajahnya berubah menjadi merah padam. Seketika itu tawa besar meledak mengisi ruang apartement Kyu Hyun. Kyu Hyun tertawa bebas. Tawanya itu menular sehingga Hyu Won ikut tertawa juga.

“Gadis pintar.” Ucap Kyu Hyun lalu meraih gelas gadis itu. Hyu Won masih merasakan sensasi minuman itu pada mulut dan tenggorokannya. Kyu Hyun tersenyum lalu menatap gadis itu dengan sayang.

“Lagi?”

“Ya. Lagi!” Balas Hyu Won bersemangat.

“Dasar bocah.” Ucap Kyu Hyun lalu kembali menuangkan Soju dan memberikannya pada Hyu Won. Hyu Won kembali meneguk Soju, tapi kali ini gadis itu sudah bisa menangani reaksi yang muncul setelah meminumnya.

“Lagi.” Ucap Hyu Won menyerahkan gelas pada Kyu Hyun.

“Whoaa… Tidak, tidak. Kau tidak boleh cepat mabuk.” Ucap Kyu Hyun lalu menjauhkan botol soju dari Hyu Won. Hyu Won merenggut lalu melipat tangannya. Dalam hati ia tersenyum senang karena akhirnya ia bisa meminum minuman khas Korea itu. Ia menatap Kyu Hyun yang kini sibuk menyalakan TV. Pria itu tak sadar ia sedang ditatap dengan intens oleh Hyu Won.

Dia benar-benar melindungiku. Bisik Hyu Won di dalam hati, matanya masih menatap Kyu Hyun dengan intens.

“Oppa,”

“Hmm…”

“Aku tidak sengaja melihat botol wine di kamarmu dulu. Apakah aku boleh mencicipinya juga?” Tanya Hyu Won antusias.

“Nanti, tidak sekarang.” Balas Kyu Hyun lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Ia lantas menarik Hyu Won hingga menempel pada tubuhnya. Tangannya bergerak melingkar pada bahu Hyu Won, ia mengecup kepala gadis itu lalu mengendus aroma gadis itu.

“Oppa, kau ingin punya rumah seperti apa?” Tanya Hyu Won penasaran.

“Seperti apa saja aku suka, asal ada kau di dalamnya.” Balas Kyu Hyun. Hyu Won tersipu malu, ia segera menormalkan kembali ekspresinya.

“Itu bukan jawaban. Maksudku kau ingin cat berwarna apa, berapa kamar, ada taman atau tidak, ad-…”

“Aku tidak peduli seperti apa bentuknya, yang penting ada kau di dalam.”

“Baik! Kita akan bikin rumah yang berisi banyak patungku.” Balas Hyu Won kesal. Hyu Won muali merasakan ruangan bergoyang-goyang. Pandangan matanya mulai tak fokus.

“Mengapa harus membuat patung kalau ada bentuk nyatanya?” Goda Kyu Hyun. Hyu Won semakin kesal dan tersipu malu. Dengan cepat gadis itu menuangkan soju ke dalam gelas lalu meneguknya dalam sekali teguk.

“Aaahh~” Ucapnya setelah meletakan gelas di atas meja. Tiba-tiba Hyu Won merasa kepalanya sedikit pening tapi ia mengabaikannya, ia kembali bersandar pada dada Kyu Hyun. Kyu Hyun hanya terkekeh melihat tingkah gadis itu.

“Kau akan mabuk kalau begini caranya, Kang Hyu Won.”

“Bukankah kau memang ingin membuatku mabuk? Lagipula sepertinya aku mulai mabuk…” Ucap Hyu Won sengau. Suaranya mulai melantur. Kepalanya benar-benar mulai pening. Ini aneh, baru tiga gelas kecil saja ia sudah merasakan pening. Mungkin begini respon bagi pemula.

“Ya! Kau benar-benar mabuk, hah?” Tanya Kyu Hyun. Ia menundukan kepalanya dan menarik dagu Hyu Won hingga kepala gadis itu mendongak ke arahnya. Benar saja, wajah gadis itu merah padam. Kyu Hyun menggelengkan kepalanya lalu mulai melepas rangkulannya. Ia berdiri lalu mulai mengambil ancang-ancang untuk mengangkat tubuh gadis itu.

“Kita mau ke mana?” Tanya Hyu Won parau. “Oppa, kepalaku pusing.” Ucap gadis itu lagi.

“Oppa kau tampan sekali.”

“Iya, semua orang bilang begitu.” Balas Kyu Hyun acuh. Ia menyelipkan tangan kanannya di bawah lutut gadis itu sedangkan tangan kirinya mulai terselip di bawah bahu gadis itu.

“Kau menggendongku? Aigoo~ seperti Cinderella.”

“Kau lebih cantik daripada Cinderella. Jangan banyak bicara.” Ucap Kyu Hyun setelah dirinya berhasil membopong tubuh mungil gadis itu. Ringan sekali, ia tidak merasa kesulitan sama sekali.

Hyu Won dengan reflek melingkarkan tangannya pada leher pria itu, kepalanya menempel pada dada Kyu Hyun. Kyu Hyun tersenyum ringan lalu mulai berjalan menuju kamarnya. Ia tak menyangka gadis itu akan tumbang secepat ini. Ia ingin membuat Hyu Won merasakan soju karena gadis itu pernah mengatakan ia tak pernah minum soju. Kyu Hyun ingin mewujudkan keinginan gadis itu. Tapi sekarang ia menyesal karena gadis itu dengan cepat tidak sadarkan diri padahal ia ingin banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol.

Kyu Hyun menendang pintu kamarnya lalu mulai berjalan masuk, ia merebahkan tubuh Hyu Won pada ranjangnya dengan pelan-pelan. Ia tak mau membangunkan gadis itu meskipun gadis itu tidak sepenuhnya tidur. Sejak tadi ia mengoceh tak jelas di dalam pelukan Kyu Hyun. Kyu Hyun menarik selimut hingga leher gadis itu, ia lalu masuk ke dalam selimut menemani gadis itu. Ia bersandar pada dashboard ranjang dan mulai membelai lembut kepala gadis itu.

“Oppa… ayo nyanyikan aku lagu seperti di kafe waktu itu.” Ucap Hyu Won merengek, matanya masih terpejam.

“Tidurlah Hyu Won,” bujuk Kyu Hyun.

“Oppa, gomawo.” Ucap Hyu Won pelan. Kyu Hyun mengerutkan dahinya lalu menatap wajah sendu gadis itu. “Akhirnya aku minum soju, appa dan Hyukjae oppa tidak pernah mengizinkan aku meminumnya padahal aku sudah-…” Ucapan gadis itu terhenti seketika, Kyu Hyun menatap wajahnya dan gadis itu sudah masuk ke dalam alam mimpinya.

“Dasar bocah.” Cibir Kyu Hyun lalu mulai menyandarkan kembali kepalanya pada dashboard ranjang. Ia menepuk-nepuk lembut punggung Hyu Won, gadis itu meringkuk menghadap ke arahnya. Ia menatap lagi wajah gadis itu lalu menundukan kepalanya dan mengecup lembut bibir manis Hyu Won. Rasa soju yang menempel memberikan sensasi tersendiri bagi Kyu Hyun. Ia segera mematika lampu tidur lalu bergabung bersama Hyu Won di balik selimut.

****

Kyu Hyun’s Apartement

Seoul, South Korea

07.00 PM

Hyu Won terus menghambiskan waktu bersama Kyu Hyun, semenjak malam di mana ia merasakan soju untuk pertama kalinya, ia terus bersama dengan pria itu. Setiap hari ia terus menghabiskan waktu bersama Kyu Hyun bahkan di akhir pekan ia menginap di tempat pria itu. Seperti saat ini, ia sedang menonton acara TV kesukaannya saat Kyu Hyun tengah memasak di dapur.

“Oppa! Palli-wa, aku sangat lapar.” Rengek Hyu Won, ia mencomot potongan cake dengan garpu di tangannya.

“Kenapa kau tidak datang ke mari dan membantuku!” Teriak Kyu Hyun kesal dari dapur.

“Aku tidak pandai memasak, kau tahu itu. Kau mau aku menghancurkan dapur dan masakanmu?” Balas Hyu Won masih menatap layar TV. Ia terkekeh kecil, ia tahu Kyu Hyun sedang mencibir dari dapur. Ya, kenyataan ia tak bisa memasak membuatnya seperti tuan putri di apartement pria itu. Derap langkah kaki terdengar di belakang Hyu Won. Dengan cepat ia berbalik lalu berdiri pada sofa pria itu dengan menjadikan kedua lututnya sebagai tumpuan.

“Makanannya sudah jadi?” Tanya Hyu Won dengan mata membulat besar. Kyu Hyun mendengus saat melihat wajah gadis itu, ia tahu gadis itu benar-benar lapar sekarang.

“Kau benar-benar tuan putri, kan?” Sindir Kyu Hyun.

Hyu Won mengerucutkan bibirnya lalu kembali duduk saat Kyu Hyun tiba di sofa, pria itu membawa piring berisi makanan buatan pria itu sendiri. “Aku sangat lelah seharian ini belajar untuk ujian, apakah salah bila kau memasak untukku?” Tanya Hyu Won dengan wajah yang dibuat-buat seolah ia benar-benar kelelahan.

“Jangan bersikap manja padaku. Belajar ya belajar. Itu kewajibanmu. Kau memang tak pandai memasak, bagaimana bisa menjadi istri yang baik nanti?”

“Apa? Aku akan menjadi istri yang baik. Memasak hanya hal sepela. Eomma bila memasak itu sudah menjadi naluri seorang wanita, jadi kau tak perlu khawatir. Aku akan menguasinya dengan cepat. Apapun bisa kulakukan.” Balas Hyu Won dengan santai. Kyu Hyun menyerahkan piring pada Hyu Won.

“Whoaaa…” ucap Hyu Won saat melihat makanan di tangannya. Matanya membulat besar, bibirnya beberapa kali berdecak tak sabar ingin mencicipi.

“Hei, hei matamu. Mengapa matamu selebar itu. Kau ini lapar atau apa?”

“Oppa, ini wangi sekali. Aku tak tahu pria lajang sepertimu pandai memasak. Ya walaupun hanya steak.” Ucap Hyu Won lalu mencolek kentang pada saus di pinggir piring.

“Apa katamu? Kau meremehkan kemampuan memasakku seperti kau pandai saja. Aku yakin kau bahkan tak bisa memasak sup.” Balas Kyu Hyun.

“Aku akan menguasainya. Memasak itu mudah. Kau ingin aku memasak apa?” Balas gadis itu lagi. Kyu Hyun benar-benar mengutuk tingkah sombong gadis itu.

“Baik. Sebelum kau menikah denganku, aku akan meminta Eomma untuk mengetesmu menjadi menantu yang baik. Ha! Kau pasti tak akan lulus.”

“Kau meremehkanku! Aku pasti bisa oppa. Semua orang bisa memasak.”

“Ya… ya, makan saja. Bukankah kau lapar?” Tanya Kyu Hyun dengan kesal.

Keduanya menikmati makan malam dengan santai, suara dari TV menemani mereka. Sesekali mereka akan mencibir satu sama lain. Kyu Hyun menatap jarum jam lalu menatap wajah Hyu Won. Tangannya bergerak menyelipkan poni gadis itu ke belakang telinganya. Gadis itu terlalu fokus dengan makanannya. Kyu Hyun menatap layar TV lalu kembali menatap Hyu Won. Ia menelan potongan terakhir steak-nya, ia lantas meneguk air putih dengan pandangan mata yang masih menatap Hyu Won.

“Kau tahu kita bisa pergi ke mana saja saat kita sudah menikah nanti, jadi tak masalah kalau kau tak bisa memasak. Kita bisa membeli makanan.” Ucap Kyu Hyun.

“Kau mau jadi pengelana?” Tanya Hyu Won.

“Sudahlah lupakan, berbicara denganmu menghabiskan semua energiku.”

“Itu tandanya kau sudah tua, oppa. Apa kau masih punya steak? Aku masih lapar.” Tanya Hyu Won. Kyu Hyun menganga mendengar pertanyaan gadis itu, sejujurnya ia suka dengan nafsu makan gadis itu. Gadis itu tak seperti gadis lain yang sibuk memikirkan berat badan mereka. Ya, dia suka melihat gadis yang tidak memiliki masalah dengan makanan.

“Ya, ada satu. Sudah kuduga kau akan meminta lagi, perutmu memang seperti sapi.” Ucap Kyu Hyun. Hyu Won tak memperdulikan ucapan Kyu Hyun, ia lantas melompat dan berlari menuju dapur.

Kyu Hyun menatap gadis itu lalu beralih pada TV plasma-nya, tiba-tiba deringan ponsel mengagetkannya.

Kang Jung Hyun

“Yeobboseo Tuang Kang,” Ucap Kyu Hyun pelan.

“Hyu Won bersamamu?” Tanya pria paruh baya itu.

“Ya, Hyu Won bersamaku. Kami baru saja makan malam.” Balas Kyu Hyun.

“Kau tidak lupa keberangkatanmu besok, kan?” Suara pria itu terdengar seperti vonis mati bagi Kyu Hyun.

“Iya, besok pagi. Penerbangan pertama.” Balas Kyu Hyun dengan singkat-singkat. Tiba-tiba ia merasa tenggorakannya seolah bermasalah sehingga ia sulit mengatakan jawabannya dengan lantang.

“Dia sudah tahu?”

“Belum. Aku akan memberitahukannya malam ini.” Ucap Kyu Hyun lagi.

“Ingat perjanjian kita.” Ucap pria paruh baya itu lagi, ia merujuk pada perjanjian yang telah mereka sepakati.

“Ya, aku tak akan memberitahukannya.” Balas Kyu Hyun.

“Bagus, nikmati malammu. Semoga sukses Cho Kyu Hyun.” Ucap pria itu lalu mematikan ponselnya. Kyu Hyun menatap layar ponselnya lalu menatap jarum jam. Ia masih punya waktu untuk malam ini.

“Apa? Siapa yang akan pergi, oppa?” Tiba-tiba suara Hyu Won mengagetkan Kyu Hyun. Kyu Hyun tersentak dari lamunannya. Ia lantas membalikan tubuhnya dan tersenyum pada Hyu Won. Hyu Won menatap Kyu Hyun dengan dahi berkerut, ia tahu pria itu tersenyum tapi senyuman pria itu tak sampai pada matanya.

“Siapa, oppa? Aku mendengar kau bilang bandara…” tanya Hyu Won, ia masih berdiri kaku di belakang sofa.

“Appa-mu-…” Ucapannya terpotong oleh Hyu Won.

“Appa?” Tanya Hyu Won lalu berjalan menuju sofa dan segera duduk. “Appa akan pergi ke mana?”

“Makanlah.” Balas Kyu Hyun santai, ia menatap layar TV menghindari tatapan Hyu Won.

“Oppa, kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu, kan?” Tanya Hyu Won dengan menyipitkan matanya.

“Makanlah, habisi makananmu setelah itu kau yang cuci piring.”

“Mwo?”

“Kau bukan tuan putri di sini, aku mau mandi.” Ucap Kyu Hyun lalu berdiri meninggalkan Hyu Won. Hyu Won menatap bahu tegap pria itu.

Kau menyembunyikan sesuatu dariku. Ucap Hyu Won di dalam hati.

****

Hyu Won menatap layar TV dengan malas, ia sudah selesai mencuci piring. Pikirannya masih berputar pada apa yang disembunyikan Kyu Hyun darinya. Ia masih menunggu pria itu mandi. Mengapa lama sekali.

Kyu Hyun muncul dari balik pintu dan berdiri dengan santai di depan Hyu Won. Mulut Hyu Won menganga lebar saat melihat pria itu berdiri tanpa kaus, ia hanya memakai celana hitam pendek. Di tangannya ada handuk putih kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Hyu Won menelan ludahnya gugup saat matanya menatap otot-otot perut pria itu. Kyu Hyun menyeringai saat melihat wajah merah merona Hyu Won.

“Ya! Ya! Jaga pandanganmu, tutup mulutmu Kang Hyu Won.” Ejek Kyu Hyun, ia lantas duduk pada sofa. Hyu Won menggelengkan kepalanya lalu menormalkan kembali wajahnya, ia merasakan wajahnya berubah hangat. Ia menatap Kyu Hyun dengan pandangan mencibir. Pria itu memang sengaja menggodanya.

“Kau sudah mencuci piring?” Tanya Kyu Hyun. Hyu Won hanya balas menganggukan kepalanya, moodnya kembali turun saat mengingat apa yang mengusik perasaannya sejak tadi.

“Oppa, katakan padaku. Kau menyembunyikan sesuatu dariku.”

“Hmm?” Tanya Kyu Hyun acuh.

“Oppa, kau tak akan bersikap seperti tadi kalau tidak ada apa-apa.”

“Bersikap seperti apa?”

“Kau menghindari tatapanku, ada apa oppa?” Tanya Hyu Won, kali ini ia semakin menuntut. Kyu Hyun berhenti mengeringkan rambutnya, ia mengalungka handuknya pada lehernya. Ia menarik nafas seolah berusaha menghilangkan sesak di dadanya.

“Besok pagi keberangkatanku.” Ucap Kyu Hyun singkat.

“Nde?” Tanya Hyu Won tak mengerti.

“Besok pagi keberangkatanku, Hyu Won-ah.” Ucap Kyu Hyun lagi. Kali ini Hyu Won berdiri dan menatap Kyu Hyun dengan wajah yang sulit diartikan. Wajah gadis itu berubah merah padam, matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku tidak mengerti,” ucap Hyu Won parau. Walaupun Kyu Hyun tak mengatakan dengan jelas apa yang ia maksud dengan keberangkatannya, Hyu Won yakin sesuatu yang buruk sudah terjadi.

“Aku harus pergi untuk membuktikan pada semuanya bahwa aku pantas untukmu.”

“Apa yang kau katakan?” Tanya Hyu Won, kali ini air mata gadis itu mulai turun. Suaranya bahkan pecah seketika.

“Kau akan mengerti,”

“AKU TIDAK MENGERTI!” Bentak Hyu Won lalu berlari meninggalkan Kyu Hyun. Ia berlari menuju kamar pria itu.

Kyu Hyun menundukan kepalanya, ia mengacak rambutnya dengan kasar. Ia menatap lantai dengan pilu. Ia tak suka melihat ekspresi gadis itu.

****

Kyu Hyun membuka pelan pintu kamarnya, ia menatap Hyu Won yang kini tidur menelungkup. Dengan langkah pelan, ia mendekati ranjangnya. Ia meraih kaus hitam di samping ranjang lalu memakainya. Ia menaiki ranjang lalu menatap Hyu Won yang masih menelungkup.

“Hyu Won, jangan menangis.” Ucap Kyu Hyun pelan. Ia tahu gadis itu sedang menangis di balik sikap diamnya. Tubuh gadis itu semakin bergetar saat mendengar suara Kyu Hyun.

“…”

“Hyu Won-ah aku tahu ak-…”

“Aku tahu, aku tahu. Appa dibalik semua ini, kan? Aku tahu mengapa ia begitu mudah mengizinkanku untuk pergi bersamamu. Ini alasan dibalik semua ini? Aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu dariku. Wae oppa? Wae? Mengapa kau tak jujur saja padaku!”

Kyu Hyun menganggukan kepalanya meskipun Hyu Won tak melihatnya, “Aku tahu aku sudah tak jujur padamu.” Balas Kyu Hyun. Hyu Won mengangkat tangannya lalu mengusap air matanya.

“Apa yang ia lakukan? Apa yang ia lakukan padamu?” Tanya Hyu Won parau.

“Tidak ada yang buruk, hanya memintaku membuktikan diri padanya bahwa aku pantas untuk putrinya.

“Dengan apa?”

“Aku akan mengurus bisnis keluargaku.”

“Hkk…Hkkk….” Tangis Hyu Won semakin keras. “Dengan melepas impianmu? Kau  bilang musik adalah hidupmu. Tapi mengapa kau mau melakukan semua ini. Kau tidak berjuang untuk hidupmu. Kau menyerah pada Appa!” Bentak Hyu Won keras. Tangis gadis itu semakin keras. Ia tak peduli Kyu Hyun adalah pria seperti apa. Ia mencintai pria itu apa adanya. Ia mencintai pria itu dengan semua tujuan hidup yang ia miliki. Ia mencintai cita-cita pria itu. Mendengar pria itu akan melakukan hal yang bukan merupakan tujuan hidupnya, ia merasa begitu sedih. Ia merasa dirinyalah penyebab pria itu meninggalkan musiknya.

Kyu Hyun tersenyum, ia tahu Hyu Won adalah gadis yang benar-benar mencintai dirinya apa adanya. Ia tahu gadis seperti Hyu Won tak peduli dengan status apapun yang ia miliki.

“Ssst~ Jebal Hyu Won-ah, ulijjima…” Bujuk Kyu Hyun, ia lantas mengusap kepala gadis itu. Hatinya ikut perih melihat gadis itu menangis.

“Kau menyerah, kau bilang padaku untuk tidak menyerah tapi kau-…”

“Siapa yang menyerah?” Tanya Kyu Hyun. Bibirnya tersungging saat melihat gadis itu. “Bisakah kau menatapku saat aku bicara?” Tanya Kyu Hyun. Hyu Won menyeka air matanya sekali lagi lalu berbalik dan menatap Kyu Hyun. Wajahnya benar-benar berantakan, sisa-sisa air mata masih menempel di sana.

“Apa maksudmu?”

“Bagaimana kau bilang aku menyerah sedangkan aku baru saja akan berjuang untuk hidupku?” Ucap Kyu Hyun, ia tersenyum sekali lagi. “Aku baru saja akan berjuang untuk hidupku.” Ulangnya lagi.

“Tapi bisnis bukan kesukaanmu. Kau tidak suka bisnis sama sepertiku. Cita-citamu adalah musik.” Ucap Hyu Won, air matanya kembali mengalir. Ia tak suka pria di hadapannya itu melepas cita-citanya hanya untuk dirinya.

“Musik memang cita-citaku. Tapi kau, kau adalah hidupku. Kau adalah cita-citaku saat pertama kali kita bertemu di depan Club. Untuk pertama kalinya aku menyesali kehidupan liarku, kehidupan bebasku. Aku ingin berubah semenjak aku melihat mata indahmu. Kau adalah cita-citaku, hidupku, Hyu Won-ah. Kau adalah musikku.” Ucap Kyu Hyun. Hyu Won bergetar seketika, kepalanya tertunduk menahan isakannya. Bahunya bergertar menahan rasa sesak dari dadanya.

“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Kang Hyu Won.” Ucap Kyu Hyun dengan semua energi yang ia miliki. Ia menahan emosinya. Untuk sepersekian detik ia ingin membatalkan keberangkatannya besok tapi ia sadar ia akan menyerah terhadap hidupnya bila ia melakukan itu.

“Hkkk…Hkkk…” Hyu Won menghambur ke dalam pelukan Kyu Hyun. Gadis itu memeluk Kyu Hyun dengan erat. Kyu Hyun balas memeluk dengan erat. Hyu Won meraung di dalam pelukan Kyu Hyun. Kyu Hyun menepuk bahu gadis itu. Matanya berkaca-kaca tapi ia segera menahan air matanya.

“Ssst~ Kau percaya padaku?”

“Ya.” Balas Hyu Won singkat, ia tak sanggup berkata-kata.

“Kau bisa menungguku?” Tanya Kyu Hyun, perasaannya berdebar-debar menunggu jawaban gadis itu.

Hyu Won terdiam cukup lama hingga membuat Kyu Hyun menahan nafasnya. “Ya. Aku akan menunggu.” Balas Hyu Won dengan tubuh bergetar. Kyu Hyun menempuk lagi punggung Hyu Won. Hyu Won merasa semua benar-benar kejam sekarang.

Hyu Won melepas pelukannya lalu menatap Kyu Hyun dengan wajah sembabnya. Kyu  Hyun menggerakan tangannya lalu menghapus air mata gadis itu. Hyu Won memejamkan matanya merasakan tangan lembut Kyu Hyun. Kyu Hyun menarik kepala Hyu Won lalu mencium bibir gadis itu. Kyu Hyun melakukannya dengan emosi dan rasa sedih. Kecupannya turun pada leher gadis itu, naik ke cuping telinga, bergeser ke rahang gadis itu lalu kembali memagut bibir gadis itu. Ciumannya tercatat begitu frustrasi dan begitu menuntut. Gadis ini adalah gadis yang akan ia tinggalkan untuk waktu yang ia sendiri tak akan tahu kepastiannya. Lima tahun bila ia berhasil, lalu kalau tidak? Tidak. Hanya lima tahun. Kalau bisa kurang dari itu.

Kyu Hyun melepas ciumannya, “Mianhae Hyu Won-ah.” Ucap Kyu Hyun dengan penuh sesal. Ia menyesal karena tidak mengatakan semuanya sejak awal, ia tahu gadis itu marah dan merasa sedih dengan pengakuan yang baru ia katakan malam ini. Hyu Won menganggukan kepalanya mengerti dengan ucapan Kyu Hyun. Kyu Hyun lalu menciumnya lagi. Namun kali ini lembut dan tanpa paksaan. Tapi entah mengapa Hyu Won tetap merasakan aura frustrasi dari ciuman pria itu hingga mendorongnya merasakan hal yang sama.

Sisa malam mereka jalani dengan berpelukan dan saling mencibir satu sama lain, berusaha menutupi kenyataan bahwa besok mereka tak akan bertemu lagi.

****

A Morning

Kyu Hyun’s Apartement

09.00 AM

Hyu Won terlonjak dari tidurnya, ia mengerjapkan matanya dengan cepat. Sekilas ia merasa bingung di mana ia berada lalu detik berikutnya ia sadar ia ada di apartement Kyu Hyun. Ia membalikan tubuhnya dan menatap tempat kosong di sampingnya. Jantungnya berdetak lebih cepat, ketakutan menjalar di dalma hatinya. Bagaimana bila Kyu Hyun telah pergi.

“OPPA!” Teriak Hyu Won keras.

“OPPA!” Teriaknya lagi.

Hening. Suasana apartement begitu hening. Hyu Won beranjak dari ranjang lalu  berjalan ke luar kamar. “OPPA!” Ia berteriak lagi.

“OPPA!” Teriak Hyu Won semakin histeris. Tak ada balasan apapun.

“Oppa?” Ucapnya lirih. Ia merasakan kembali perasaan seperti saat ia terbangun di waktu kecil dan menyadari Eommanya tak ada di dalam kamar bersamanya. Rasanya begitu sendiri dan sepi.

“Kyu Hyun oppa?” Kali ini tubuhnya bergetar menahan isakannya. Apartement benar-benar kosong, pria itu telah pergi. Ia tahu keberangkatan pria itu adalah setengah delapan. Ia sudah bertekad semalam untuk bagun pagi namun Kyu Hyun melarangnya, ia bilang ia tak ingin melihat gadis itu menangisinya.

Hyu Won berjalan gontai menuju kamar pria itu. Ia tak tahu apa lagi yang bisa ia lakukan. Matanya bergerak menatap ranjangnya, baru semalam mereka tidur di sana lalu sekarang ia tak akan melihat pria itu lagi. Entah sampai kapan. Kyu Hyun menolak untuk memberitahu kapan ia akan kembali, ia juga menolak untuk memberitahu ke mana ia akan pergi. Hyu Won naik ke atas ranjang lalu mulai menangis tersedu-sedu, tangannya bergerak meraba tempat tidur Kyu Hyun. Ia lantas meraih bantal milik pria itu namun dahinya berkerut saat ia melihat sebuah amplop di bawah bantal pria itu. Dengan cepat ia membukanya setelah membaca namanya tertera di depan amplop.

Untuk: Hyu Won-ku

Pagi Hyu Won-ah. Kau benar-benar harus berlatih bangun pagi. Inilah akibatnya bila kau tak bisa bangun pagi. Kau tak bisa mengantarku ke bandara. Saat kau membaca surat ini, aku sudah berada di atas awan. Kau pasti sedang menangis, kan? Jangan menangis lagi. Pria tak suka melihat wajah wanita yang sedang menangis. Itu menyakitkan. Tapi jujur saja, aku suka menciummu saat kau menangis. Rasanya hangat di mana-mana. Kau pasti sedang mencibirku sekarang. Cepat mandi, sarapan lalu pulanglah, aku sudah membuatkanmu sandwich di dapur. Ada susu di dalam kulkas. Jangan lupa mencuci kembali. Kunci saja apartementku lalu bawa kuncinya. Kau harus lulus ujian Universitas. Ahhh… betapa aku sangat penasaran dengan jurusan yang kau ambil. Apa itu? Dokter? Pengacara? Guru? Atau pemusik? Apapun itu, aku senang karena kau mengambil sesuatu yang sesuai tujuanmu. Ingat pesanku, kau harus lulus. Jangan minum soju dengan pria lain. Aku senang karena pengalaman pertamamu saat meminum soju adalah denganku. Jangan mabuk dengan siapapun, arratchi? Ah… jangan sekalipun meminum wine di kamarku. Aku menyimpannya untuk kita nikmati nanti. Rasanya akan semakin lezat. Jadilah gadis yang kuat, kau kuat sama sepertiku. Ini tidak akan lama. Kau harus menungguku, mengerti? Sampai jumpa Hyu Won-ah.

Mencintaimu,

Cho Kyu Hyun.

Hyu Won memeluk surat itu dengan erat di dadanya. Air matanya kembali mengalir, ia menatap kembali surat itu lalu tersenyum perih. Air matanya mengalir semakin deras. Hatinya terasa begitu hampa. Ia menangis hingga dadanya terasa begitu sesak dan sakit. Ia menyesal karena semalam adalah malam terakhir ia melihat pria itu.

“Aku juga sangat mencintaimu, oppa.” Ucap Hyu Won lalu beranjak dari ranjang pria itu.

****

27th of June, 2019

Kyu Hyun’s Office

Zürich, Swiss

09.00 PM

Kyu Hyun menatap pigura foto di atas meja kerjanya, wajah Hyu Won yang sedang tertidur membuatnya tersenyum. Gadis itu selalu menjadi penyamangat untuknya. Ia ingat foto ini diambil enam tahun silam saat ia akan berangkat ke bandara. Gadis itu masih tertidur pulas saat dirinya mengambil foto gadis itu.

Tok…Tok…Tok…

“Masuk.” Ucap Kyu Hyun keras.

“Sajangnim ini sudah malam, anda tidak pulang dan beristirahat?” Tanya seorang pria yang selama ini selalu mendampinginya.

“Ya sebentar lagi Ahjussi, hanya tinggal mengurus beberapa berkas lagi.” Balas Kyu Hyun. Pria itu menganggukan kepalanya lalu kembali keluar.

Kyu Hyun menghembuskan nafas dengan berat, seharusnya satu tahun yang lalu ia sudah kembali ke Korea tetapi terjadi masalah besar yang menimpa perusahaannya. Ia tak bisa kembali kecuali ia mengurus tuntas masalah tersebut. Terjadi penurunan penjualan membuatnya harus bekerja keras untuk mengembalikan pemasukan sesuai target. Ia menatap lagi pigura foto tersebut dan tiba-tiba rasa rindu membuatnya sulit melanjutkan pekerjaannya. Ia benar-benar ingin melihat Hyu Won. Kyu Hyun menatap poni Hyu Won, ia membayangkan seperti apa rambut gadis itu sekarang. Wajahnya, apakah masih seperti anak kecil atau tumbuh menjadi wanita dewasa. Ia tak pernah tahu kabar Hyu Won sedikitpun begitupun sebaliknya. Keduanya seolah kehilangan kontak begitu saja. Ia tak bisa bertanya tentang Hyu Won karena hanya dengan mendengar kabar gadis itu, ia tak akan bisa menjamin dirinya akan tetap berada di Swiss. Tahun pertama ia lewati dengan berat tanpa gadis itu. Ia berpikir apakah gadis itu juga merasakan hal yang sama? Tentu saja. Gadis itu menangis sepanjang malam menjelang keberangkatannya meskipun ia sudah membujuk gadis itu untuk berhenti menangis.

Kyu Hyun menatap jarum jam, sudah terlalu larut. Ia memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya. Ia membereskan berkas-berkas di atas meja. Matanya menangkap gelas kopi di atas meja. Masih ada sedikit kopi tersisa. Dengan sambil berjalan, ia menyeruput kopi yang sudah tak panas lagi. Ia lantas berjalan menuju pintu keluar.

****

Gehry’s Arquitectura

South, Korea Selatan

10.00 AM

BRAKKK

“Ommo!” Hyu Won tersentak saat meja tempat kerjanya digebrak dengan keras.

“Sekali lagi kau masih terlambat, kau akan tahu akibatnya!” Seorang pria berujar dengan kesal.

“Kau akan memecatku?” Tanya Hyu Won dengan mengeluarkan jurus andalannya. Ia akan bersikap seolah ia telah melakukan kesalahan dan memohon untuk diampuni.

“Berhenti bersikap seperti itu. Aku sangat menyesal tidak bisa memecatmu karena kemampuanmu itu. Aku masih bisa menangani sikap terlambatmu itu.”

“Kau memang bos yang paling baik. Walaupun aku sudah sering terlambat, kau masih memberikan pekerjaan padaku.” Balas Hyu Won. Dalam hati ia mencibir tingkah bosnya itu. Jelas mereka tak akan melepaskannya karena ia lulusan terbaik di perusahaan itu.

“Kau sudah buat desain untuk klien kita?”

“Ya. Aku buat tiga desain sekaligus untuk masing-masing klien.” Balas Hyu Won bersemangat. Pria di hadapan Hyu Won itu tersenyum dengan puas lalu detik berikutnya ia menyipitkan matanya.

“Aku terkadang sangat marah dengan sikap terlambatmu tapi kau selalu memuaskan klien dengan semua desain fantastismu itu. Sayang sekali kemampuan terbaikmu itu harus bersamaan dengan masalah bangun pagimu.” Ucap pria itu lalu berlalu dari hadapan Hyu Won.

“Seseorang pernah berkata seperti itu padaku!” Balas Hyu Won keras. Ya, ia tetap tak bisa mengubah kebiasaannya untuk tidak bangun terlambat. Ia memang sulit sekali bangun pagi. Hyu Won menolehkan kepalanya ke arah kalender duduk di atas meja kerjanya. Bibirnya tersungging miris. Ini sudah enam tahun beralalu dan belum ada kabar sedikitpun dari Kyu Hyun. Ia ingat pria itu selalu mengomentari masalah bangun paginya.

“Oppa, aku rindu sekali.” Bisiknya pelan. Matanya mulai berkaca-kaca. Lagi. Selalu seperti ini. Ia tak pernah tahu ke mana pria itu pergi, semua orang tak pernah memberitahukannya ke mana Kyu Hyun pergi. Ia hanya tahu dari kakak perempuan pria itu bahwa Kyu Hyun pergi untuk mengurus bisnis keluarga. Ia tahu itu merupakan syarat yang diberikan ayahnya untuk Kyu Hyun. Hubungan Hyu Won dan Ahra semakin dekat, semua diawali saat ketidaksengajaan mereka bertemu di apartement Kyu Hyun. Dari sana keduanya semakin dekat, sering mengobrol, berbelanja bahkan menginap bersama.

Hyu Won meraih selobong hitam miliknya lalu menyampirkannya di bahu kirinya. Ia lantas menatap jarum jam. Diraihnya beberapa kertas untuk persentasi. Sekarang ia punya janji meeting dengan klien di daerah Myeondong.

****

Kyu Hyun’s Apartement

Seoul, South Korea

09.00 PM

Hyu Won membuka pintu apartement lalu berjalan gontai memasukinya. Ia benar-benar butuh istirahat. Seharian ini ia menemui dua klien yang permintaannya benar-benar kompleks. Klien pertama menyetujui salah satu dari desain yang ia kerjakan namun minta ditambah dibagian tertentu. Klien kedua tidak ada masalah sedikitpun dengan desain pertama yang ia tawarkan namun ia meminta tambahan juga. Hyu Won berjalan menuju dapur lalu mulai membukan kulkas, ia meraih satu botol kecil air mineral lalu mulai meneguknya.

Hyu Won berjalan menuju kamar Kyu Hyun. Sejak hari di mana Kyu Hyun pergi, ia memutuskan untuk tinggal di apartement Kyu Hyun. Di akhir pekan ia akan mengunjungi rumah keluarganya untuk makan malam keluarga. Lagi pula jarak kantornya sekarang juga lebih dekat dengan apartement Kyu Hyun meskipun jarak Universitasnya dulu tak sedekat jarak kantornya dengan apartement.

Hyu Won membuka lemari milik Kyu Hyun lalu menarik satu baju kaus milik pria itu, sudah menjadi kebiasannya bila tidur memakai baju pria itu. Ia bisa menciuma aroma pria itu dari kaus yang ia pakai. Ya. Walaupun sudah enam tahun ia tetap bisa menciuma aroma pria itu di mana-mana. Ia terkadang berpikir ini memang aroma Kyu Hyun atau dirinya yang terlalu banyak berimajinasi tentang pria itu. Ia menggelengkan kepalanya lalu mematikan lampu tidur, ia terlalu lelah untuk pergi mandi.

“Selamat malam, oppa.” Ucap Hyu Won lalu memejamkan matanya.

****

A Morning

Kyu Hyun’s Apartement

09.00 AM

Sinar matahari menyerbu masuk dan menerpa wajah Hyu Won. Gadis itu segera bangun karena merasa terganggu dengan sinar yang menerpa wajahnya. Ia mengerutkan dahinya saat melihat tirai jendela terbuka, angin bahkan berhembus masuk.

“Aku membuka jendela?” Ucapnya parau. Ia sering lupa menutup jendela terkadang. Ia lantas bangun dari tidurnya, bibirnya tersungging saat mengingat hari apa ini.

“Ohh Minggu memang selalu seperti ini. Bangun pagi, mandi, bersantai, ke rumah Eomma.” Ucap Hyu Won lalu berjalan menuju kamar mandi.

Ia menatap wajahnya di depan cermin, ia menyalakan air lalu mulai membasuh wajahnya. Air dingin yang mengalir di wajahnya membuat setiap pori-porinya terasa segar. Ia meraih sabun wajah lalu mulai mencuci wajahnya, ia tak sempat membersihkan make up-nya semalam. Setelah membilas wajahnya, ia meraih sikat gigi lalu mulai mnegolesi pasta gigi di atasnya. Ia lantas menggosok giginya dengan santai. Setelah selesai menggosok dan berkumur, ia segera keluar menuju dapur. Perutnya berdemo minta untuk diisi.

Hyu Won berjalan santai menuju dapur, bibirnya sesekali bersenandung. Langkahnya terhenti seketika saat melihat TV menyala di ruang tengah, matanya membulat besar. Seketika degup jantungnya tak berirama normal. Ada orang selain dirinya di apartement. Seingatnya, ia tak menyalakan TV semalam. Ia menajamkan pendengarannya, membuka semua indranya untuk mencaritahu.

“Ahra eonnie!” Teriak Hyu Won pelan, detik berikutnya ia mengutuk apa yang baru saja ia ucapkan. Seharusnya ia tetap diam, bisa saja itu penculik atau pencuri. Dan bisa saja ia menjadi korban pembunuhan. Mengambil langkah seribu, ia berlari menuju pintu kelar. Lalu detik berikutnya ia sadar kalau ia lupa meletakkan di mana kunci pintu. Otaknya berputar mencoba mengingat di mana kunci itu berada.

Ia menggelengkan kepalanya lalu berbalik menuju dapur. Ia ingat ia meletakan kunci semalam di meja bar saat ia membuka kulkas. Dengan langkah mengendap-endap, ia berjalan menuju dapur. Saat ia sampai di pintu dapur, ia melihat seorang pria berdiri membelakanginya. Jantungnya berdegup kencang, ia benar-benar ketakutan sekarang.

“Nuguseyo?” Tanya Hyu Won. Ia menatap kunci di meja bar, lalu kembali menatap punggung pria tersebut. Ia menyipitkan matanya seolah ia sudah sering melihat bentuk tubuh seperti itu.

Hyukjae oppa? Tidak. Dia tidak mungkin di sini.

“Kau sudah bangun?” Tanya pria itu lalu berbalik menatap Hyu Won. Seketika itu juga Hyu Won menutup mulutnya, nafasnya menjadi tersenggal-senggal. Jantung berdebar kencang, kakinya bahkan terasa seperi jeli.

“Ya Tuhan.” Ucap Hyu Won pelan. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Masih jadi tukang tidur?” Ucap suara pria itu lagit. Hyu Won menggigit bibir bawahnya menahan isakannya. Pria yang selama ini tak pernah ada kabar sama sekali kini berdiri dengan santai di dapur.

“Oppa?” Ucap Hyu Won pelan nyaris berbisik. Ia masih tak percaya siapa yang ia lihat sekarang.

“Kyu Hyun OPPA!” Jeritnya keras. Kyu Hyun tersenyum lalu membuka tangannya dengan lebar. Tanpa memperdulikan kakinya yang terasa begitu lemas, Hyu Won berlari penuh emosi ke dalam pelukan Kyu Hyun. Diraihnya tubuh tegap Kyu Hyun lalu memeluknya dengan erat. Sangat erat. Kyu Hyun merasa gadis itu melempar tubuhnya dengan keras. Air matanya Hyu Won mengalir seketika, ia terisak dengan keras. Kakinya bergerak melingkar pada pinggang pria itu. Kyu Hyun memegang erat pinggang Hyu Won lalu mengubur kepalanya pada lekukan leher gadis itu. Ia menghirup aroma yang menguar dari sana dengan kencang. Rasa rindu yang tak bisa ia bendung meledak begitu saja. Kedunya berpelukan seolah tak akan pernah ada hari esok.

“Aku merindukanmu.” Ucap Kyu Hyun.

“Aku sangat merindukanmu.” Balas Hyu Won.

“Ya. Aku lebih merindukanmu.” Mereka saling berbalas tak mau kalah, seolah ingin salah satu tahu sebesar apa rasa rindu mereka.

“OPPA! KYU HYUN OPPA. Benar ini kau?” Isak Hyu Won. Kyu Hyun menganggukan kepalanya, ia mengusap kepala Hyu Won lalu mengecup sayang kepala gadis itu.

Hyu Won memundurkan tubuhnya lalu menatap wajah Kyu Hyun. Air mata semakin mengalir keras. Kyu Hyun mendudukan Hyu Won pada meja bar, Hyu Won masih enggan melepas pelukannya. Tangannya bergerak melingkar pada leher Kyu Hyun. Ia menarik ingusnya seperti anak kecil. Kyu Hyun terkekeh.

“Aku sangat merindukanmu.” Ucap Hyu Won penuh penekanan. “Kau begitu tenang, oppa. Kau tak merindukanku juga?” Tanya Hyu Won sebal. Ia merasa malu dengan dirinya yang menangis dengan heboh sementara pria itu hanya bersikap tenang.

“Aku terlalu merindukanmu hingga tak tahu harus berbuat apa.” Ucap Kyu Hyun. Ia sudah ada di apartement ini sejak dua jam lalu. Ia membuka jendela kamarnya lalu menyalakan TV berharap gadis itu bangun tapi sepertinya kebiasaannya untuk bangun pagi memang tak bisa berubah.

“Aku masih tidak percaya. Benarkah ini kau, oppa? Wajahmu semakin tampan.” Ucap Hyu Won, pipinya merona merah seketika saat ia melontarkan pujian pada Kyu Hyun. Ia ingin menyimpan wajah ini, ia takut mereka kembali berpisah.

Kyu Hyun membelai wajah Hyu Won, wajah gadis itu sedikit tirus. “Terakhir kali aku melihatmu, kau menangis semalaman. Sekarang kau juga begitu. Berhentilah menangis. Kau juga sangat cantik Hyu Won-ah. Mana ponimu?” Ejek Kyu Hyun.

Hyu Won menatap rambut panjangnya. “Aku memanjangkannya. Poni panjang terlihat lebih dewasa dan seksi.” Ucap Hyu Won lalu terkekeh kecil. Ia sudah tak menangis lagi.

“Seksi? Ya, kau seksi sekali.” Ucap Kyu Hyun lalu menatap dandanan Hyu Won. Seketika itu juga Hyu Won menjerit terkejut saat menyadari ia tak memakai celana apapun selain Underwear dan kaus hitam milik pria itu. Kaus hitam itu panjangnya sampai ke lutut jadi ia tak ambil pusing untuk menutupi pahanya.

“Ommo! Lepaskan aku, aku mau ganti baju.” Teriak Hyu Won mencoba lepas dari pelukan Kyu Hyun. Kyu Hyun menahan gadis itu lalu membuatnya diam tak bisa bergerak.

“Ayolah, sekali-kali tidak apa-apa. Kau juga terlihat seksi dan dewasa.”

“Shirreo.”

Kyu Hyun tak memperdulikan rengekan gadis itu, ia justru mengunci pergerakan Hyu Won. “Tapi kau memang seksi dengan kaus Coldplay-ku. Ini harganya mahal sekali. Kau memakai tanpa izin.” Ucap Kyu Hyun lalu menjawil hidung Hyu Won. Gadis itu hanya merenggut tak senang.

“Karena ini baunya sepertimu.” Balas Hyu Won. Kyu Hyun lagi-lagi tersenyum menanggapi ucapan gadis itu. Tiba-tiba rasa sesak datang lagi, ia kembali ingat semua usaha yang ia lakukan untuk mengobati kerinduannya pada pria itu. Air mata kembali mendesak untuk keluar.

“Hei, aku sudah di sini.”

“Aku takut kau pergi lagi.” Ucap Hyu Won parau.

“Tidak akan. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu Hyu Won-ah. Sekarang tak ada lagi penghalang. Aku berhasil membuktikan pada Appamu aku bisa memenuhi syarat yang ia berikan padaku.” Ucap Kyu Hyun berubah serius. Hyu Won meletakan tangannya di bahu Kyu Hyun lalu menangkup pipi pria itu. Ia belum puas memandangi wajah pria itu.

“Aku juga sangat merindukanmu, oppa.” Balas Hyu Won.

“Maafkan aku…” Ucap Kyu Hyun, ia menundukan kepalanya lalu menatap Hyu Won kemudian.

“Waeyo?”

“Seharusnya aku kembali tahun lalu tapi terjadi sedikit masalah. Ak-…”

“Gweanchanna, rasa rinduku semakin bertamabah setiap tahunnya. Yang penting kau sudah kembali.” Ucap Hyu Won berubah parau.

“Ya. Aku menepati janjiku, kan? Aku kembali. Kau tidak meminum wine di kamarku, kan?” Tanya Kyu Hyun mencoba bercanda.

“Tidak. Aku tidak meminumnya, kau melarangku.” Ucap Hyu Won.

“Bagus. Kau memang selalu mengingat apa yang kukatakan. Jadi apakah kau lulus ujian Universitas?”

Hyu Won tersenyum bangga. Ia tersenyum kecut, seharusnya pria itu tahu sejak dulu. “YA. Aku lulus ujian. Aku sudah berjanji untuk mengatakan padamu apa jurusan yang kuambil.” Ucap Hyu Won antusias.

“Apa itu?” Tanya Kyu Hyun sama antusiasnya.

“Arsitektur.”

“Jadi itu impianmu?” Tanya Kyu Hyun.

“Ya. Dan kau. Kau impianku.” Ucap Hyu Won. Kyu Hyun tersenyum lalu memeluk Hyu Won sekali lagi. “Sebenarnya, aku tidak bisa meninggalkan Swiss. Aku ingin membawamu ke sana.” Ucap Kyu Hyun seketika. Hyu Won berubah menjadi diam. “Tapi kalau kau tak ingin. Kita akan menetap di Korea.” Ucap Kyu Hyun dengan cepat.

“…” Hyu Won hanya diam seribu bahasa.

“Bagaimana? Kau mau? Korea atau Swiss?” Tanya Kyu Hyun hati-hati. Ia tahu sulit bagi Hyu Won untuk meninggalkan Korea. Tapi ia benar-benar tidak bisa meninggalkan Swiss untuk saat ini. Ia tak bisa kembali tahun lalu karena bisnis mengalami masalah. Tahun ini ia bisa kembali ke Korea tapi tidak bisa meninggalkan kerajaan bisnis yang telah ia bangun. Ia akan kembali ke Korea bila perusahaan di Swiss sudah bisa berdiri sendiri. Tapi bila gadis itu mengingkan Korea, maka ia akan menyerahkan kekuasaan penuh kepada orang yang sudah ia tunjuk.

“Aku sangat membutuhkanmu dalam hidupku. Perusahaan di Swiss baru saja mengalami kenaikan, aku bisa meninggalkannya untuk dirimu. Tapi kupikir aku mencoba membawamu ke sana agar aku bisa bertanggung jawab sepenuhnya untuk apa yang sudah aku bangun. Kita akan kembali bila perusahaan itu sudah bisa berdiri sendiri. Tapi kalau tak ingin pergi ke Swiss, aku bisa menyerahkannya pada orang-orangku.” Ucap Kyu Hyun. “Jadi Swiss atau Korea?” Tanya Kyu Hyun lagi.

Hyu Won menelan ludahnya lalu menatap Kyu Hyun. “Ke mana saja. Ke mana saja asalkan bersama denganmu, Oppa.” Ucap Hyu Won lalu tersenyum tulus. Kyu Hyun tersenyum lega lalu memeluk Hyu Won dengan sayang. Ia tahu mereka tak ingin perpisahan lagi.

“Gomawo.” Ucap Kyu Hyun.

“Jangan meninggalkanku lagi. Terakhir kali aku bangun, kau tak ada di sampingku.” Ucap Hyu Won berubah menjadi sedih kembali.

“Tidak. Tidak akan terjadi. Pagi ini kau melihatku, kan?”

“Ya. Kau sangat tampan berdiri di dapur ini.”

Kyu Hyun terkekeh pelan. Hyu Won juga sudah berubah menjadi wanita dewasa yang cantik. “Kita akan menikah di Swiss.” Ucap Kyu Hyun seperti sebuah janji.

Hyu Won sangat senang mendengar ucapan pria itu. Jantungnya berdegup kencang sekali. Pria itu akan menikahinya. “Aku mencintaimu, oppa!” Jerit Hyu Won dalam pelukan Kyu Hyun. Ia selalu menyesal karena tak pernah mengucapkan perasaannya secara langsung pada Kyu Hyun.

“Aku tahu. Akhirnya aku mendengarnya.” Ucap Kyu Hyun penuh haru. Akhirnya ia mendengar ucapan cinta dari bibir Hyu Won.

THE END

Gimana? Gimana? Komennya. Silahkan mau protes, mau kecewa, mau kritik, mau muji juga boleh. Author masih banyak belajar jadi butuh masukannya hahaha. Maafin kalo mengecewakan. Aku suka FF ini tuh bagian Kyu sama Hyu Won udah bareng setelah Hyu Won mutusin batalin pertunangan. Nah pas bagian lagu Yellow juga. Itu perasaan Kyu ke Hyu Won. Pokoknya kalo nikah suami aku harus nyayiin lagu itu *Cucol* Kalo kalian suka bagian mana? 

Makasih buat yang udah main ke twitter, ke blog, baca FF di sini, follow blog, komen di FF, siders juga. Makasih buat yang udah nagih, bikin semangat tapi takut bikin kecewa hahaha. Pokoknya makasih lagi semuamuanya! I love you all ♥

Advertisements

170 thoughts on “FF: Alter Love [Part 2 of 2]

  1. ini lebih panjang dr yg part 1 kayanya. dan aku suka dengan sikap hyuwon yg manja tapi gak ngeselin, kesannya imut. terus kyuhyun yg dewasa banget.
    bagian paling suka mah semua momen kyuhyun-hyuwon.
    sweet bangetlh
    🙂

  2. Akkhhh Kalo di liat liat kyuhyun jahat juga sih ngerebut Hyu Won yg status nya Tunangan nya si Hyuk Jae tapi Aku juga sebel Sama Kelakuan hyuk jae yg sering main main sama cewe berasa gak inget klo udh punya tunangan…. dan pd intinya Mereka sama aja sih, -_- Tapi krna d sini kyuhyun manis banget hahaha 😀 tumben 😀 jadi nya gak jadi Kesel kan! jadi Labil Sendiri aku! 😀 Unnie Daebak!!! 🙂

  3. Wah part 2 nya keluar juga :))
    Kyu sama hyuk pedoofil nih suka sama anak sma hehehehe hyuwon disini pemberani banget berani ambil resiko buat kebahagiaan dia (y)
    Biarpun harus kepisah jauh + lama dulu tapi akhirnya mereka bisa nyatu lagi Diwaktu yg tepat pas hyuwonnya udah dewasa , nikah di swiss mau banget kali

  4. i’am comming,, 🙂 heheheheheheh
    wuahhh kirain bakal lama part 2 nya,, trnyata gak yah,,,
    aQ suka semua bagian kyuhyun oppa, cara oppa melindungi hyu won itu yg puaaallliiiing aku sukaaaaa,, aku berharap dpat nemuin wok yg perhatian,n melindungi seperti karakter kyuhyun oppa disini,, #ngareppppp

    di tunggu cerita selanjutnya,, 😀

  5. yyeeeyy akhrinya Alter Love 2 nya post juga..
    suka bngtt..dan pannjjjaaanggg sepanjang penantian Ff ini keluar..kkk
    makasih chingu dah lanjutin 🙂
    Happy ending pula,
    yg pling ngena tu wkt Hyuwon nya yg ditingglin Kyu pas bngun tidur dia dahh ga ada..feel nya dapet sekali..

    ditunggu karya lainnya^^

  6. Yeeeeayy akhir’a sesuai dengan tebakan ..

    Apa yg kyu rencanakan harus terlaksana kkk~

    Happy end~ hyukie gga ada yeoja’a?? Aq daftar donk wkwk~

  7. part ini suuuupeeeeeeeeeer panjang.. tapi aku suka… hhee

    btw awal2 aku kasian bgt ama hyukjae,,, tapi ya mau gmn kyu won kan ga suka hhee..

    trus lama2 makin senyum2 liat interaksinya kyu ama kyu won hheee.. 🙂

  8. Aku suka sekali sama endingnya, walaupun aku gak suka awalnya karna kyuhyun merebut tunangan orang tapi seiring mengalirnya cerita sangat menyentuh. Mian thor part 1nya aku gak komen aku jadiin satu aja ya… Semoga ff selanjutnya jd tambah bgs lagi.

  9. anyeong
    woah daebak, dari part 1 feelnya dapet , apa lagi part 2 ini, seneng deh kalo kyuhyun manggil hyu won, noona kecil, anak nakal, keke

    @_@ fighting

  10. Astagaaaaa~
    Sequeel eonniiiii
    Pengen liat Kyu sm Hyu won nikaaaah
    Klo NC gpp jga eonni, aku udh 18th 😀
    #plaak #yadong XD

  11. Anyeong Authornim 🙂 Aku new Reader Salam kenal yah.
    ahh keren banget ceritanya,alurnya,gaya bahasanya semuanya deabak 😀 dan feelnya dapet banget thor! kyakx bakalan btah deh keliling di wp ini hihi xD Keep writing thor!

  12. Gillaaaaaaakkk iniii manisss bangetttt ya ampunnnn aku berterimakasih thorr karna sudah susah payah membuat cerita yg membuatku jejeritannn karna sweet ny kyuhyunnn omooooooooo jjang!!!! Hahahahaaa asliii nyasarr tapiii menyenangkan ya ini dah nyasaar ke ff hahahahaha tugaspun terabaikan wkwkkw

    • Hahahah lucu banget baca komenannya, aku juga berterima kasih karna udah nyasara ke sini *lol* sama baca ff ini. Cuma berharap semoga tugasnya gak keteteran! Stop menjelajahi dunia maya, selesaikan tugas dulu wkwk….

  13. Fff ny sumpaaah keren banget!!! Usaha kyu buat pertahanin cinta ny ama hyu won sweet bgt!! Aaaah kyuhyuuun!!! 5 jempol buat author krn ff ny yg luar boasa daebak ini! Keep writing yah author

  14. Fff ny sumpaaah keren banget!!! Usaha kyu buat pertahanin cinta ny ama hyu won sweet bgt!! Aaaah kyuhyuuun!!! 5 jempol buat author krn ff ny yg luar biasa daebak ini! Keep writing yah author

  15. aaaaakk >< ❤ lanjut eon buat ff yg lebih banyak hehe kalo bisa cast utama nya kyuhyun ya hoho ^^ gomawo ne~

  16. Aigoo ffnya seru chingu ^^ dipart pertama juga seru, ceritanya gak menegangkan, gimana nasib kyuhyun dan hyuwon.
    Tapi akhirnya happy ending juga^^ terus berkarya ya chingu *fighting

  17. ending yg memuaskan. aku baca dipart awal tapi cuma komen di part akhir XD
    dan entah kenapa di scene kyu meluk hyu won rasanya tuhh—- errrr #apaansih /plaakkk XD

  18. sebenarnya kalau dibaca semua ff author bawaannya kepingin sequel terus
    apalagi yg ini sweety couple
    kepolosan hyu won bisa merubah kyuhyun yg pembangkang
    mereka nggx malu2 ngungkapin perasaan masing2
    tp masih ada sedikit typo dan kesalahan disini “Ya, Tuan Cho. Saya minta maaf atas kelancangan saya.” Ucap Kyu Hyun dengan serius tapi tak menunjukan sedikitpun kegugupannya. dikalimat itu padahal kyuhyun lg berhadapan dengan tuan kang bukan tuan cho . itu aja sich maaf kalau kritikannya kurang berkenan 😀

    • Kenapaahhh sequel? Gak puaskahhh? Wkwk. Semua bisa berubah karena cinta *bahasanyaaa* Semoga ungkapan cinta mereka yg blak-blakan gak terkesan maksain ya, semoga. Wahh makasih banget koreksiaannya nanti aku cek, makasih banget 🙂

  19. Woowwww the last time aku mampir di blog ini commentnya masih sedikit dan skrg udh membludak haha. Oh iya sebelumnya nama comment aku disini yg ada embel embel affiasca tapi aku lagi males banget sign in worpress jadi pake nama asal asalan aja yg ada di hp XD
    Well, at first aku agak lupa sama jalan cerita ini in fact dulu aku sangat menggebu gebu nunggu ff ini wqwq. Eh pas lihat tweet kakak muncul di timeline aku baru inget aku ada ff kakak yg belum selesai dan seketika itu juga aku langsung visit. Aku udh lama menjelajah dunia ffn dan aff jadi lupa alamat worpress yg sering aku visit sebelumnya hehehe.
    Oh iya yg ff ini, endingnya kurang gregeettt. Coba sampe nikah wkwkwk
    Kak, I found some typos here but its okay lah hehehe. Aaaa uyun disini suami idaman banget sih, duh grgr karakter uyun disini imajinasi aku makin tak terkendalikan. Rawwrrr
    Udahlah comment aku udh kayak ff drabble aja, nanti kakak bosen bacanya hahaha. Oh iya thank you banget yaaa udh nyelesain ff ini, jadi gak ngegantungin reader. lol

    • Iya inget affiasca, yg kemarin menyapa *duhbahasnya* di twitter kan ya. Aku juga yang kelamaan gak update jadi bukan salah reader juga kalo lupa wkwk. Wah ada yg baru yang lama ditinggalin, kasian wordpress hehe.

      Kalo nyampe nikah aku udah gak sanggup hahaha, panjang bgt pasti nih FF. Makasih koreksiannya, diusahain buat ff yg mendatang gak akan ada typo. Ke mana tuh imajinasinya? Haha. FF drabble lahhhh? Gk apa-apa kok suka baca yang panjang-panjangg. Makasih udah bacaaaa :’)

  20. Cerita mereka manis banget sih
    Huh jadi iri
    Cobaannya juga keren
    Suka sama konflik ff ini gag terlalu berat tapi kesannya manis dan so sweet huaa
    Keep writing ne author

  21. huaaaaaaa jinjaaaaaa!!!
    Suka bangeeetttt,, itu cewek aku umpamain aku sendiri cz aku juga 18 taun, dan punya cowok 25 taun? Keknya asik deh, wah!
    Kyuhyun keren! Daebak2!

  22. wah bgus critanya,,
    hahaha

    pling enak klo ada sequelnya,,
    tpi gpp klo nggak ada sequel endingnya memuaskan,,

    🙂

  23. Gila gila banget ini ff 😀
    Gw ngebaca ampe 2hari, sumpah panjaaaaaang banget. Puas deh pokoknyee 🙂
    Cast nya keren, alur keren yg trpnting authornya juga keren banget 🙂 🙂

  24. i’m falling in love with this part
    entah knapa part ini rasany sesuatu bgt deh,,,smw ny dkemas dg apik,,,ampe sy bner2 thanyut dg cerita ny,,,justru sy ngrasa sng bgt part ini jauh lebih pjg dbanding part sblomny
    DAEBBAK,,,,JJANG,,,,KEREN,,,,BAGUS,,,ah apalagi y pokony ini super duper oke bingits deh
    oia di antara sekian byk karakter kyuhyun yg btebaran d dumay sana,,,tp karakter ini yg paling memikat hatiku,,,berasa pengen dapet “kyuhyun” versi nyata
    dy bner2 ngemong n jd malaikat penjaga yg seutuhny menjaga hyu won,,ud gtu dy mbawa hye won jd dewasa n ngbawa hyu won jd lebih baik lg
    adakah kekasih dunia ahirat yg spt kyuhyun ini???hunting ny dmn y???
    luh,,mw bantu nyariin????

    • Ahhhh ini komen panjangggg banget, seneng liatnyaaa hahaha.

      Wahh makasih banget kalo udah jatuh cinta sama part ini. Ini baca komennya sambil senyum2 deh sumpah! Ah seneng kalo karakter Kyu di sini memikat, dia dewasa banget kan. Jagain Hyu Won bgt. Itu kata Daebbak, jjang, keren, bagus bikin senyum2. Kayaknya berapi2 bgt nih pas nulis komenan kekeke~

      Semoga kita dapet kekasih dunia akhirat yg lebih dari Kyu di ff ini *ehhcurcol* Aamiin. Pingin banget dapet yang bisa mimpin eaaaa!
      Bantu nyari boleh, tapi nemu buat diri sendiri dulu kali ya wkwk.

  25. Wuah…T_T
    saengi walau pun usiamu masih muda tapi karyamu kereeen
    panjangnya luar biasa (walau sangat panjang) karena semua di buat mengalir tanpa terburu-buru sehingga feelnya dibuat merayap semakin dalam dan boom klimaksnya dapet n cooling down juga pas. Gomawo
    ijin baca yg lain juga

    • Jinjja? Makasihh banget eon kalo keren, masih belajar ini juga. Karya aku belum sekeren yg lain *salting*
      Syukur banget kalo feel-nya gak buru2. Iya silahkan obrak-abrik ff di sini eon 😀

    • Hahaha yang bener dua pria tua wkwk, gak deng mereka emang dewasa. Kasian Hyu Won bergaul sama yang tua-tua haha. Kalo udah cinta, ngurus perusahaan juga Kyu rela asalkan dapetin Hyu Won

  26. Harus gitu ya 5 tahun ;-;
    Kasian Hyuwon ditinggal
    Pas masih tidur pula xD
    Gak kebayang selama apa mereka berdua pisah….

    Happy End niihh ;;D

  27. Akhirnyya hyu won menentukan pilihannya juga..
    Yah walaupun hubungan mereka gak direstuin g2 ajja..
    Tapi aku salut sama kyuhyun dy mampu membuktikan kalau dy pantas untuk hyuwon..
    Dy rela meninggalkan mimpinya demi gadis kecilnya..
    Beruntung sekali hyu won bisa dicintai sama kyuhyun..

  28. yaampun, udah ending aja,,berasa gak rela…suka banget sama tingkat kepede an kyuhyun buat ngerebut hyuwon dari hyuk,,kyuhyun juga sedikit mesum ya…ah, pokoknya top deh buat authornya..ff ngebuat aku semakin gila sama pesonanya si ajhussi ini..

  29. bgs bgt sumpahhhh ff yg plng bgs yg pernah aku bc konfliknya pas romance nya pas entah knp ff unnie slalu bgs aku suka ff unnie 4 jempol buat eonni makasih dah bs bc ffnya unni maaf gk ijin bcnya

  30. melting ma karakter kyuhyun yg dsni >.<
    meski jrang pke kta2 romantis, tapi dia mncintai hyuwon dg caranya sndri. melindungi hyuwon dr siapapun, tak trkcuali melindungi hyuwon dari dirinya sendiri. bahkan rela milih mnjadi pebisnis dr pda cita2nya.
    saluuuuuutttt

  31. Aigooo ak bacaa ni ff sambil ketawa2 iya,sedih iya,nangis iya,terharu iya,campur aduuk laah. kebawa suasana…. dapet bgt feel nya. Suka bgt sama karakter hyu won. Rasanya ga rela ni ff end..

  32. Boleeh laah jadiin sinetron,pasti rating 1. sinetron2 laen kalaaah deh ciyuus…. hahaaa
    Ayoook doongs bikin sequelnyaaaa *maksa* wkwkwk~

  33. aigooo,,, niatnya kuat banget,,, sampe rela ninggalin cita2 n hyu won,, jd akhirnya manis 🙂
    kirain hyu won nya bakal jadi pelukis,,, ternyata arsitek toh,, tetep aja jurusan bisnis hehe,,,
    sweet bgt tulisanmu galuh,, jd ikut berbunga2 🙂

  34. kasian juga sama hyukjae harus batal tunangan tapi kayanya bener hyu wom sayang dan cinta sama hyukjae seperti sama kakanya sendiri. sedih juga liat hyu won dan kyuhyun kepisah 5 tahun tapi mereka bisa menjaga perasaan masing masing dan akhirnya mereka sekarang bisa bersatu.

  35. Hellow…new reader imnida…
    baru comment di part 2 😀
    hehee

    Alurnya ringan, tapi tetep punya point cerita yg bagus…
    gak nyangka evil kyu bisa sabar dan nahan egonya buat ngedapetin cintanya
    hhaaahh..the power of love ❤

  36. setelah melewati byk gangguan akhirnya selesai jg bacanya.. hahaha endingnya sweet bgt thor.. romantiang bgt haha fighting thor ^^

  37. Endingnya sweet banget thor, tapi aku jafi gak tega gitu ya sama si hyukjae nya, tapi coba dia gak akan pernak ke club dan hye won gak bakal ketemu kyuhyun, tapi mungkin emang udah jodohnya kyuhyun kali mau gimana lagi.

  38. Waahh happy ending!!! *sebar confetti and clap hands* 😀

    Sweet banget mereka mah hehe
    Nah, Cho itu baru lelaki…berani ambil keputusan, gigih dalam berjuang dan setia memegang janji. Daebakkk!!! 😉

    Betapa leganya hati mereka (Hyu Won dan Kyuhyun) bisa ketemu lagi setelah 6 tahun berpisah tanpa komunikasi, tapi dengan cinta yang sama…wonderful! ♥

    Jadi, berapa umur mereka sekarang? *halah ga penting hahaha*

    Terima kasih udah diijinkan membaca karyamu, Galuh author 🙂

  39. woaah… what a sweet beautifull ending,like it so much. kyu badboy yg takluk sama gadis kecil yg lugu & ngegmesin,keren abis. suka bnget karakter kyu disini,dari cowok yg hidup cuma untuk dirinya sendiri berubah jadi pria dewasa yg bertanggung jaeab. kekuatan cinta emang luar biasa,daebak..! kyu g mengorbankan musik yg jadi cita2nya tapi dia memilih hal yg lebih besar,cinta. “musik adlh cintaq,tp kau adlh hidupq” ,gimana gak melting denger kata2 itu dari kyu.!!!
    bener2 puas sama ff ini,dari segi cerita,karakter,ending bahkan panjangnya.beyond my expecration & my imagination,semangat terus nulis y. karyanya selalu ditunggu,fighting!!!

  40. Hallow salam knl… Aku suka bgd ma cerita ceritanya… Khusus buat yg ini jd penasaran gmn mereka menikah dan setelah menikah… Andai ada sequelnya… Hahaha ngarep bgd 😝 lanjut terus karyanya y

  41. ak baru nemu blog kamu say…
    skrg ak lg ngikutin ff kmu yg never be the same.. ak jg udh baca trilogy in time..
    asli keren banget.. ak suka gy penulisan km yg gak terjerumus ke hal2 berbau mesum gtu…
    cinta gak hrs d ungkapkan dgn hal negatif kyk ciuman pns atau hub intim semata kyak kbnyakan ff kyuhyun yg lain…
    tp km bs ngungkapin rasa cinta d ff mu lwt pengorbanan atau kesetiaan yg d tunjukin pemain d ff mu..
    ak suka ff yg gy penuliasannya kyk kamu.. berasa ada angin segar berhembus tiap bc ff mu..
    semangat ya author.. ttp pertahankan tulisanmu yg menonjolkan kualitas bulan sensualitas nya…

  42. Kyuhyun manis bangett ih sumpah, bisa ngelaksanain syarat dari appa Hyu won tapi ngga ngelupain Hyu won juga. Endingnya memuaskan banget ka ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s