FF : For Her Brother [Chapter 3]


Warning : Don’t Copas Without My Permission. Tuhan melihatnya.

Assalamualaikum! Hallo semua. Aku balik lagi. Apa kabar? Semoga baik semua ya. Langsung aja deh, happy reading!

Author (Owner) : gluu

Genre : Family, Hurt/Comfort, Drama, Romance

Rating : PG 17

Length : Chapter

Cast :

–       Kang Hyu Won (OC)

–       Cho Kyu Hyun of Super Junior

–       Kang/Kim Ji Hoon

–       Lee Sungmin of Super Junior

–       Lee Hyukjae/Eun Hyuk of Super Junior

A Morning

Kyu Hyun’s Home

Seoul, South Korea

07.00 AM

Kyu Hyun tak henti-hentinya menatap Hyu Won yang masih terlelap di atas ranjangnya, pria itu memutuskan untuk membawa pulang Hyu Won ke rumahnya setelah mereka dari rumah sakit semalam. Awalnya ia akan mengantar gadis itu pulang ke apartement Sungmin setelah dari rumah sakit, tetapi hasil mencengangkan yang ia terima dari dokter di rumah sakit membuatnya mengurungkan niatnya untuk membawa gadis itu pulang ke apartement Sungmin. Ia justru semakin ingin menahan gadis itu di rumahnya.

Kyu Hyun memiringkan kepalanya. “Bagaimana bisa?” desisnya pelan. Sejak tadi ia terus berspekulasi. Rahangnya mengeras menahan emosi dan rasa penasaran, ia benar-benar ingin Hyu Won segera bangun dari tidurnya. Gadis itu harus menjawab beberapa pertanyaan yang sejak tadi terus berdesakan minta di keluarkan dari kepalanya.

Tubuh mungil Hyu Won bergerak pelan dari tidurnya, Kyu Hyun segera menegakan tubuhnya menunggu gadis itu bangun. “Nghh…” lenguh Hyu Won masih dengan mata terpejam, Kyu Hyun semakin mendekati ranjang. Ia bersedekap menunggu gadis itu membuka matanya. Ia benar-benar sudah tak sabar.

“Selamat pagi.” Ucap Kyu Hyun singkat tanpa ekspresi sedikitpun. Matanya masih menatap wajah Hyu Won.

Hyu Won mengerjapkan matanya pelan, gadis itu belum menyadari di mana ia berada. Kyu Hyun masih menatap wajah mengantuk Hyu Won. Hatinya sedikit tergelitik melihat tampang kusut gadis itu, rambutnya berantakan di mana-mana, tetapi wajahnya memancarkan kecantikan alami seorang gadis muda. Orang bilang jika kau ingin melihat kecantikan alami seorang gadis, maka lihatlah ia ketika ia baru bangun tidur. Dan Kyu Hyun sudah membuktikan semua itu. Hyu Won benar-benar cantik. Ia berdecak kagum di dalam hati.

OMMO!” Hyu Won tersentak dari tidurnya, gadis itu menatap sosok dingin yang kini berdiri di depannya. Jantungnya masih berdetak cepat karena keterkejutannya, tubuhnya terasa begitu lemah dan tak bertenaga.

“Selamat pagi, Hyu Won-ah.” Sapa Kyu Hyun lagi namun kali ini pria itu sedikit menambahkan nada humor dalam suaranya. Melihat Hyu Won terkejut seperti itu, sedikit banyak membuat Kyu Hyun terhibur.

Hyu Won menatap sekitar lalu menatap Kyu Hyun dengan bingung. Ia tak mengenali ruangan ini sama sekali. “Apa yang terjadi?” tanya Hyu Won sedikit meninggi, dua kali ia terbangun dengan Kyu Hyun bersamanya. Hal ini mengingatkannya pada kejadian di hotel beberapa bulan lalu.

“Bangunlah,” ucap Kyu Hyun. Hyu Won menegakan tubuhnya, kepalanya sedikit pusing tapi bukan seperti tadi malam. Ia hanya mengalami disorientasi dari tidurnya.

“Mengapa aku ada di sini?” tanya Hyu Won bingung. Kyu Hyun memiringkan kepalanya mencoba menilai kesadaran Hyu Won. Setelah yakin gadis itu cukup sadar untuk menjawab pertanyaannya, ia mulai duduk di tepi ranjang. Hyu Won mengernyit bingung sekaligus takut melihat tingkah Kyu Hyun.

“Sekarang jawab pertanyaanku.” Ucap Kyu Hyun yang duduk dengan jarak begitu dekat dengan Hyu Won, gadis itu bergerak risih. Ia tak suka tatapan intimidasi dari pria itu. Ia mencoba menghindari tatapan Kyu Hyun dengan menatap kancing baju pria itu.

“Jangan menghindari tatapanku, aku tidak suka berbicara dengan orang yang tak menatap ke arahku.” Ucap Kyu Hyun sedikit memarahi Hyu Won, Hyu Won menganga tak percaya. Ia merasa seperti gadis kecil yang baru saja melakukan kenakalan.

“K-kau tak perlu duduk sedekat ini denganku.” Ucap Hyu Won pelan. Gadis itu ingin menunjukan kesinisan namun yang keluar justru suara mencicit ketakutan. Kyu Hyun hanya tertawa di dalam hati melihat sikap gugup Hyu Won.

Wae?” tanya Kyu Hyun memojokan gadis itu.

Hyu Won hanya diam membisu, ia ingin berteriak bahwa ia ketakutan tetapi ia tak bisa. Ia hanya memicingkan matanya menatap Kyu Hyun. Mengapa pria itu bisa berubah seperti ini? Kyu Hyun yang dulu tak semenyebalkan dan menyeramkan ini. Atau memang inilah sifat asli seorang Cho Kyu Hyun?

“Sekarang jawab pertanyaanku.” Ucap Kyu Hyun tajam.

“Apa?” ucap Hyu Won sedikit kesal mendengar nada suara pria itu. Ia lantas kembali menundukan kepalanya saat mendapati tatapan menyeramkan dari Kyu Hyun. Jelas pria itu tak suka ditantang seperti itu.

“Kau hamil.” Ucap Kyu Hyun singkat.

Deg!

Itu bukan kalimat dalam bentuk pertanyaan. Hyu Won memalingkan wajahnya menghindari tatapan menuntut Kyu Hyun. Gadis itu tak ingin menatap Kyu Hyun, ia merasa begitu ketakutan sekarang. Bukankah dulu ia ingin memberitahukan pria itu tentang kehamilannya? Sekarang Kyu Hyun sudah tahu, lalu mengapa ia justru tak ingin pria itu tahu? Ingatan tentang pengusiran kasar yang dilakukan di depan perusahaan pria itu sedikit banyak mempengaruhi emosinya. Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah darimana pria itu tahu ia hamil?

Kyu Hyun menggelengkan kepalanya kecil melihat reaksi Hyu Won. Gadis itu jelas tak ingin menjawab pertanyaannya. “Lihat aku.” Perintah Kyu Hyun, Hyu Won masih tak ingin menatap Kyu Hyun. Karena kesal, Kyu Hyun mencengkram dagu Hyu Won. Dengan pelan ia memaksa Hyu Won menatap dirinya, ia mendongakan kepala gadis itu hingga menatap wajahnya. Hyu Won meringis di dalam hati. Mengapa ia bisa kembali terjebak bersama pria itu lagi?

“Kau hamil.” Ucap Kyu Hyun lagi. Kali ini benar-benar penuh penekanan seolah menuntut balas dari Hyu Won.

Ne.” Balas Hyu Won penuh penekanan dan kesinisan seolah menantang ucapan pria itu. Ia tak suka diperlakukan seperti ini. Kyu Hyun melepas cengkramannya pada dagu Hyu Won. Melihat Kyu Hyun yang mengatupkan rahangnya dengan keras membuat Hyu Won sedikit bergidik, apakah ia sudah memancing kemarahan pria itu?

Kyu Hyun masih tak mengeluarkan suaranya begitu pun Hyu Won, seolah keduanya tengah menyusun kalimat apa yang akan dikatakan selanjutnya.

“Anak siapa?” tanya Kyu Hyun akhirnya.

Seketika Hyu Won merasakan ledakan emosi di dalam hatinya, air matanya berdesakan ingin keluar. Bisa-bisanya pria itu bertanya seperti itu? Ini seperti pria itu menuduhnya gadis murahan. Ia hanya pernah tidur dengan satu orang pria selama hidupnya. Dan itu adalah pria yang kini tengah menanyakan pertanyaan bodoh pada dirinya.

“Aku ingin pulang.” Ucap Hyu Won dengan suara bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. Hyu Won hendak turun dari ranjang saat Kyu Hyun mencegahnya, pria itu mengernyit bingung melihat reaksi Hyu Won. Belum lagi raut kesedihan dan kehancuran di wajah gadis itu membuatnya sedikit terenyuh. Apakah…?

“Hyu Won-ah?” ucap Kyu Hyun penuh penekanan setelah menyadari apa yang baru muncul dalam benaknya. Sejak tadi malam ia selalu berpikir siapa ayah dari janin di dalam kandungan Hyu Won. Satu nama terus berputar di dalam otaknya, Lee Sungmin. Mungkinkah pria itu? Tetapi setelah melihat perubahan raut wajah Hyu Won, Kyu Hyun sadar ia kembali menyakiti gadis itu. Mengapa ia tak menjadikan dirinya tersangka utama dan justru menuduh gadis itu tidur dengan pria lain secara tidak langsung?

“Aku ingin pulang.” Bisik Hyu Won, ia tak ingin suaranya berubah menjadi isak tangis. Belum pernah dalam hidupnya ia diperlakukan seperti ini. Pria itu dengan entengnya bertanya siapa ayah dari anak di dalam kandungannya, sementara pria itu sendiri adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab atas kehamilannya.

Kyu Hyun tak mengindahkan ucapan Hyu Won. “A-apakah itu anakku?!” tanya Kyu Hyun sedikit meninggi. Seolah berteriak pada dirinya sendiri bahwa itu memang anaknya.

Hyu Won hanya menundukan kepalanya menahan isak tangisnya keluar, dadanya terasa sakit sekali. Ia bukan gadis yang akan tidur dengan sembarangan pria. Teganya pria itu. Tak bisa menahan lebih lama emosinya, tangis Hyu Won akhirnya keluar juga. Ia menangis tertahan. Rasanya ingin sekali berlari dan meninggalkan ruangan ini.

“Ya Tuhan!” pekik Kyu Hyun keras. Dengan cepat ia menarik Hyu Won ke dalam pelukannya. Direngkuhnya tubuh Hyu Won yang kini bergetar hebat dengan erat. Demi Tuhan gadis itu mengandung darah dagingnya. Tanpa harus mendengar jawaban gadis itu, ia tahu dengan jelas itu anak siapa. Seharusnya ia sudah tahu sejak semalam. Tak mungkin Hyu Won tidur dengan sembarang pria. Hyu Won bukan dirinya yang brengsek. Sekarang pria itu menyalahkan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia setega dan sekejam itu pada Hyu Won?

“Maaf… maafkan aku.” Ucap Kyu Hyun berkali-kali penuh penyesalan. Ia sungguh menyesal atas apa yang telah ia perbuat untuk gadis itu. Belum sempat meminta maaf karena kebenaran yang Ahra katakan padanya, kini ia mendapati fakta bahwa gadis itu kini tengah mengandung darah dagingnya. Ia benar-benar telah menghancurkan hidup Hyu Won. Seketika semua rencananya untuk meminta maaf atas kesalahpahaman yang disebabkan Ahra hilang begitu saja. Sekarang ia tak memperdulikan hal lainnya, yang ingin ia lakukan sekarang adalah menjaga Hyu Won dan bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan pada gadis itu.

Mendengar tangis Hyu Won di dalam pelukannya membuat hati Kyu Hyun semakin sakit. “Maafkan aku…” ucap Kyu Hyun lagi, Hyu Won hanya bisa terisak di dalam pelukan pria itu. Ia tak membalas namun tak menolak pelukan pria itu, ia hanya membiarkan kedua tangannya menggantung bebas di samping tubuhnya. Rasa sakitnya seolah sedikit memudar melihat perlakuan Kyu Hyun padanya. Jelas pria itu menyesal sekali.

“Maafkan aku Hyu Won-ah. Bicaralah, jebal…” ucap Kyu Hyun memohon. Hyu Won terisak semakin keras. Bukannya marah, ia justru merasa perasaannya menghangat seketika. Setidaknya pria itu tak menyangkal dan membuangnya seperti dulu. Pagi ini tak seperti pagi di hotel beberapa bulan lalu. Untuk pertama kali Hyu Won merasa ia tak harus menghadapi semua ini sendirian. Kyu Hyun ada di sini. Ia tak menolak kehadiran janin di dalam kandunganya. Apakah pria itu akhirnya menyadari semua kesalahan yang ia lakukan padanya?

“Kau tak mengusirku, oppa?” tanya Hyu Won akhirnya, Kyu Hyun tercengang mendengar ucapan gadis itu. Bukan itu yang ia harapkan, seharusnya gadis itu mencaci maki atau mungkin menampar dirinya.

Kyu Hyun mengabaikan pertanyaan gadis itu, jelas itu pertanyaan bodoh. Pria itu sadar, kelakukan buruknya benar-benar membuat Hyu Won takut padanya. Pria itu melepas pelukannya, ia menatap wajah sembab Hyu Won.

“Mengapa tak memberitahuku? Demi Tuhan, dia juga anakku.” Ucap Kyu Hyun sedikit marah karena Hyu Won tak memberitahukan kehamilannya.

Hyu Won menghapus air matanya, “bagaimana bisa aku memberitahukanmu, aku bahkan belum masuk ke dalam perusahaanmu tapi orang-orang itu bilang aku ada dalam daftar orang yang tak boleh masuk dan menemuimu.” Ucap Hyu Won berubah sinis. Ia masih ingat dengan jelas saat ia diusir dengan kasar dari perusahaan pria itu.

Kyu Hyun memejamkan matanya sekilas, ia seharusnya curiga dengan kedatangan Hyu Won ke perusahaannya beberapa waktu lalu itu. “Mianhae…” ucap Kyu Hyun lagi. Hyu Won memutar matanya, kalau maaf bisa mengembalikan keadaan seperti semula, mungkin ia bisa dengan mudah menerima permintaan maaf pria itu. Tetapi melihat bagaimana pria itu menunjukan penyesalannya, sedikit membuat Hyu Won terharu. Ia tahu dirinya adalah orang yang tak bisa berlama-lama marah tetapi ia juga tak bisa menerima dengan mudah kekacauan yang Kyu Hyun lakukan padanya.

Kyu Hyun baru saja akan menghapus air mata Hyu Won namun gadis itu dengan kasar mendorong Kyu Hyun hingga pria itu terjerembab ke lantai, Kyu Hyun terkejut setengah mati dengan sikap Hyu Won. Rasa kecewa seketika menghampirinya. Gadis itu jelas tak menerima permintaan maafnya. Tapi gadis itu tak perlu mendorongnya seperti ini, ia baru saja akan memprotes tindakan gadis itu saat Hyu Won bertanya dengan panik.

“Kamar mandi? Di mana kamar mandi?!” tanya Hyu Won panik, tangan gadis itu bergerak menutup mulutnya.

“Di sana, Hyu Won-ah.” Kyu Hyun menujuk dengan cepat pintu kamar mandi.

Hyu Won berlari dengan cepat menuju kamar mandi. Kyu Hyun bangun dari lantai, ia meringis pelan. Pria itu menatap Hyu Won yang menghilang di dalam kamar mandi. Ia lantas mengikuti Hyu Won menuju kamar mandi.

Tok… tok… tok…

Gweanchanna?” tanya Kyu Hyun dari balik pintu.

“Huek… huek…” terdengar Hyu Won seolah sedang memuntahkan isi perutnya. Tanpa membuang waktu, Kyu Hyun langsung membuka pintu kamar mandi dan menerobos masuk. Hyu Won protes dengan sikap Kyu Hyun yang masuk sembarang.

“Kau tidak boleh masuk.” Ucap Hyu Won kesal lalu menyiram kloset, ia duduk bersimpuh di samping kloset seolah menunggu muntahan yang akan keluar lagi. Ia selalu kesal dengan pagi hari, karena pagi hari adalah saat di mana ia harus mengalami masa-masa sulit ini. Ia berharap tak pernah ada pagi di saat kehamilannya ini.

Gweanchanna?” tanya Kyu Hyun khawatir. Ia pernah melihat Ahra seperti ini dulu, ia tak tahu bagaimana rasanya tapi ia tahu Hyu Won tampak sangat tersiksa. Seketika rasa bersalah kembali menghampirinya.

“Keluar! Huekk…” Hyu Won kembali memuntahkan isi perutnya, sebenarnya tak ada yang ia muntahkan. Hanya muntahan kering yang sangat menyakitkan.

“Keluar…” ucap Hyu Won –lemah- lagi bersiap akan muntah. Kyu Hyun dengan cepat mengangkat rambut gadis itu, mencegah muntahan mengenai rambutnya. Ia tak merasa jijik sama sekali. Pria itu justru menemani Hyu Won. Ia melakukan gerakan memijat pada daerah leher gadis itu.

“Pergilah, ini sangat menjijikan.” Ucap Hyu Won, tiba-tiba ia merasa malu sekali. Meskipun begitu ia merasa tersentuh melihat sikap Kyu Hyun.

Gweanchanna…” balas Kyu Hyun. Hyu Won memejamkan matanya mencoba mengatur pernafasannya. Ia mencoba memusatkan perhatian pada perutnya, mencegah agar tak kembali memuntahkan isi perut yang sama sekali tak ada. Ia benar-benar kehabisan tenaga.

“Sudah lebih baik?” tanya Kyu Hyun, kini ia mengusap punggung gadis itu dengan lembut.

“Hmm.” Hyu Won menganggukan kepalanya –masih dengan mata terpejam. Rasanya seperti ada gelenyar aneh disekujur tubuhnya.

“Kembali ke tempat tidur?” tanya Kyu Hyun dengan sabar. Hyu Won membuka matanya, ia ingin kembali merebahkan tubuhnya dan beristirahat. Rasanya lelah sekali. Namun, ia baru sadar dengan apa yang Kyu Hyun katakan. Artinya ia akan tinggal beberapa waktu bersama pria itu. Tidak, ia ingin pulang.

Setelah yakin ia tak akan muntah lagi, ia mencoba berdiri. Hyu Won baru saja akan berdiri saat Kyu Hyun dengan cepat melingkarkan tangannya di belakang lutut dan punggung gadis itu. Pria itu lantas membopong tubuh Hyu Won di depan dadanya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Hyu Won terkejut.

Kyu Hyun hanya diam dan tersenyum, Hyu Won menatap wajah tegas Kyu Hyun. Ia tersipu seketika, pria ini begitu tampan meskipun selalu menunjukan ekspresi wajah yang begitu dingin. Melihat Kyu Hyun yang bersikap lembut seperti ini membuat Hyu Won kembali bertanya-tanya. Sebenarnya orang seperti apa Cho Kyu Hyun ini. Sebentar dingin, sebentar mengintimidasi, lalu sebentar lagi lembut seperti sekarang ini. Ia tentu tidak lupa dengan perlakukan kasar pria itu saat terakhir kali pertemuan mereka.

Hyu Won terus bergerak-gerak meminta diturunkan tetapi Kyu Hyun justru semakin menguatkan tangannya dan membuat tubuh gadis itu terkunci. “Aku bisa saja menjatuhkanmu, kalau kau mau.” Ucap Kyu Hyun mengancam.

Oppa, tidak akan melakukannya.” Ucap Hyu Won. Kyu Hyun hanya kembali berjalan tak menanggapi ucapan gadis itu. Menyanangkan bisa kembali berbicara dengan Hyu Won, tak dipungkiri Hyu Won adalah lawan bicara yang menyenangkan bagi Kyu Hyun sejak awal pertemuan mereka.

“Istirahatlah…” ucap Kyu Hyun lalu merebahkan tubuh Hyu Won di atas ranjang. Pria itu merogoh ponsel di dalam saku celananya. Hyu Won bergerak gelisah karena Kyu Hyun masih berdiri di samping ranjang seolah menahannya untuk tak turun dari ranjang.

Yeobosseo? Ahjumma, tolong bawakan Cracker dan air putih ke kamarku.” Ucap Kyu Hyun lalu mematikan ponselnya tanpa mendengar balasan dari penelpon di seberang telepon. Hyu Won mendengus kecil dengan sikap pria itu, bagaimana bisa Kyu Hyun begitu tak sopan.

“Aku akan bekerja sebentar lagi. Kuharap kau beristirahat dan tak melakukan kegiatan yang berat-berat dulu. Dokter bilang kondisimu sangat rentan di kehamilanmu yang masih muda ini.” Ucap Kyu Hyun. Pria itu kembali menjadi pria yang suka memerintah dan sedikit menakutkan. Hyu Won kembali dibuat bingung dan kesal melihat sikap pria itu.

“Beristirahat? Aku ingin pulang. Sungmin oppa mungkin sedang khawatir sekarang,” ucap Hyu Won menolak perintah Kyu Hyun.

Rahang Kyu Hyun mengeras saat mendengar nama Sungmin, entah sejak kapan ia menjadi sensitif bila nama Sungmin disebut-sebut. Sudah cukup ia mendapati Hyu Won tinggal dengan pria itu, tak akan dibiarkan gadis itu membicarakan pria itu lagi. Baik di depan atau di belakangnya.

“Patuhi saja ucapanku, toh ini tak menyebabkan kerugian untukmu.” Ucap Kyu Hyun tak mengacuhkan ucapan Hyu Won.

“Kau tak bisa menganturku seperti ini. Aku ingin pulang!” ucap Hyu Won kesal.

“Tetap di sini sampai kau pulih.” Ucap Hyu Won.

“Ak-…”

Tok… Tok… Tok…

“Masuk!” perintah Kyu Hyun. Ia tak sadar suaranya terdengar setengah membentak.

Ceklek.

Pintu terbuka dan seorang wanita paruh bawa berdiri dengan nampan di tangannya.

“Ini Cracker dan air putih, Kyu Hyun-ah.” Ucap wanita paruh baya tersebut di ambang pintu. Hyu Won menegakan tubuhnya lalu tersenyum ramah ke arah wanita tersebut. Wanita itu balas tersenyum.

“Letakan di meja.” Ucap Kyu Hyun, ia tak melepaskan pandangannya sama sekali dari wajah Hyu Won.

“Saya permisi.” Pamit wanita paruh baya itu setelah meletakan Cracker dan air putih di meja yang Kyu Hyun tunjuk.

Blamm.

Cracker dan air putihmu sudah datang. Cracker bisa mengurangi rasa mualmu. Makanlah perlahan, dokter bilang perutmu harus tetap terisi.” Ucap Kyu Hyun dengan nada memerintah.

Hyu Won menatap Cracker dan air putih di atas meja lalu menatap Kyu Hyun dengan memicingkan matanya. Ia mendengus kecil. Mengapa pria itu harus bertingkah semenyabalkan ini? Ia belum setuju untuk tetap tinggal di kamar ini, ia ingin pulang dan bertemu Sungmin. Sungmin pasti sangat mengkhawatirkan dirinya.

“Akan berangkat sekarang.” Ucap Kyu Hyun memperingati. Pria itu tahu Hyu Won tak ingin tinggal di kamarnya, tapi ia tak ingin gadis itu pergi. Kalau tak ada pertemuan penting dengan investor dari Jepang pagi ini, ia akan tetap di rumah dan mengawasi Hyu Won. Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada gadis itu. Ia ingin membalas semua hari-hari buruk yang sudah ia ciptakan untuk gadis itu.

“Aku ingin pulang, mengerti tidak?” ucap Hyu Won kesal.

“Dengarkan apa yang kukatakan. Jangan berulah.” Ucap Kyu Hyun lalu berjalan menuju pintu keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Mwo?” ucap Hyu Won tak percaya. Ia terlalu terpaku dengan apa yang baru saja Kyu Hyun katakan. Pintu yang terbanting keras mengejutkan Hyu Won, ia mendengar seperti pintu baru saja dikunci. Dengan cepat ia berlari menuju pintu untuk membuka pintu. Tangannya bergerak membuka kenop pintu tetapi nihil. Pintu tak terbuka sama sekali. Kyu Hyun mengunci dirinya. Apa-apaan ini!

YAK! Buka pintunya, oppa!” teriak Hyu Won marah, perasaannya menjadi panik. Mengapa pria itu harus mengunci dirinya di dalam kamar? Apakah dia sudah gila? Apalagi ini?

YAK! OPPA! BUKA PINTUNYA!” teriak Hyu Won lagi, tangannya bergerak menarik kenop pintu tetapi pintu sama sekali tak terbuka, ia bahkan memukul daun pintu tersebut dengan marah. Kyu Hyun sudah sangat keterlaluan.

Wae?” desahnya kelelahan, tubuhnya merosot di balik pintu. Ia merasa Kyu Hyun akan mengurung dirinya selamanya di sini.

****

Tous Les Jours Café

Seoul, South Korea

07.00 AM

Sungmin berjalan mondar-mandir di dalam kafe, wajahnya benar-benar menunjukan raut kelelahan. Semalam saat datang untuk menjemput Hyu Won, pria itu tak mendapati Hyu Won di kafe. Ia justru mendengar kabar buruk dari atasan gadis itu.

“Bagaimana bisa kau membiarkan ia dibawa begitu saja?” teriak Sungmin marah. Sejak semalam hanya itu pertanyaan yang bisa ia keluarkan.

Mianhae, kupikir itu mungkin teman Hyu Won.” Ucap Eun Hyuk merasa bersalah, kalau tahu Hyu Won tak kembali hingga pagi, mungkin ia tak akan membiarkan gadis itu dibawa begitu saja.

“Kau bahkan tak tahu nama pria itu.” Sindir Sungmin, ia belum melaporkan kejadian ini pada pihak berwenang karena Hyu Won belum menghilang lebih dari dua kali dua puluh empat jam. Akan sangat sia-sia bila ia melapor sekarang, ia akan menunggu hingga siang nanti. Tak peduli dengan peraturan yang berlaku. Bila Hyu Won tak juga kembali, ia akan melapor.

“Mungkin kita hanya bisa berdoa dan menunggu ia kembali, Sungmin-ssi.” Ucap Eun Hyuk hati-hati, takut bila Sungmin kembali marah. Ia tahu ini adalah salahnya, seharusnya ia tak mengizinkan pria yang ia tak ketahui nama dan identitasnya itu membawa Hyu Won pergi.

“Mengapa kau tak memasang CCTV!?” teriak Sungmin lagi.

“Aku memasangnya tapi itu sedang rusak, berhentilah menanyakan pertanyaan yang sama terus-menerus.” Kesal Eun Hyuk. Sungmin hanya mendengus mendengar ucapan Eun Hyu. Ya, ia sudah bertanya berulang kali. Ia mengutuk Eun Hyuk dan kamera CCTV-nya.

Sungmin hanya diam dan menatap Eun Hyuk dengan emosi yang berusaha ia tahan. Ia tak suka dengan keadaan seperti ini. Tangannya bergerak memijat tengkuknya, ia ingat Eun Hyuk mengatakan bahwa Hyu Won dan pria yang membawanya itu sempat beradu mulut. Perasaannya semakin tak tenang.

“Mereka beradu mulut katamu.” Ucap Sungmin memastikan sekali lagi.

Ne, aku tak mendengar dengan jelas. Tapi Hyu Won berteriak, aku sudah mengatakannya semalam.” Ucap Eun Hyuk semakin kesal, Sungmin selalu bertanya berulang-ulang padanya.

Sungmin menatap jam dinding. Ia menunggu siang dan Hyu Won yang mungkin akan kembali. Lalu tiba-tiba sebuah pemikiran membuatnya membulatkan matanya yang sipit. “Mungkinkah ia pria yang bertanggu jawab atas kehamilan Hyu Won?” ucap Sungmin pada dirinya sendiri.

Ne?” tanya Eun Hyuk saat mendengar gumaman tak jelas dari Sungmin. Sungmin tak menghiraukan pertanyaan Eun Hyuk. “Kurasa kita mungkin butuh istirahat, Sungmin-ah. Wajahmu tampak kelelahan sekali.” Ucap Eun Hyuk memberi saran.

Sungmin menatap Eun Hyuk lalu menatap ke arah jam dinding. Mungkin apa yang dikatakan Eun Hyuk benar, ia butuh sedikit waktu untuk istirahat.

“Siang nanti aku akan kembali lagi, hubungi aku bila Hyu Won kembali.” Ucap Sungmin lalu berjalan keluar dari kafe Eun Hyuk. Eun Hyuk hanya menganggukan kepalanya lemah. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Hyu Won.

****

Cho Corporation

Seoul, South Korea

02.00 PM

Kyu Hyun sedang menunggu telepon tersambung, ia mengetuk meja dengan irama lambat. Nada sambung di telepon berubah menjadi suara serak seorang wanita, hal itu membuat Kyu Hyun lega.

“Apa Hyu Won masih berteriak-teriak dan tak mau makan?” tanya Kyu Hyun langsung tanpa menyapa dengan sopan.

“…”

“Bagus, katakan sesuatu yang bisa membahayakan kehamilannya jika ia tak mau menyentuh makanannya.” Ucap Kyu Hyun.

“…”

“Hmm. Terus pantau keadaannya, aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya.” Ucap Kyu Hyun memerintah lalu mematikan ponselnya.

Kyu Hyun meletakan ponselnya di atas meja. Tangannya bergerak mengusap bibir bawahnya, ia merasa adrenalinnya sedikit terpacu. Untuk pertama kali ia melakukan hal seperti ini pada seorang gadis. Ia tak pernah begitu khawatir dan ketakutan seperti ini. Keputusannya sudah bulat untuk menahan dan merawat Hyu Won di rumahnya, ia tahu ia penyebab semua kekacauan dalam hidup gadis itu. Belum lagi melihat keadaan gadis itu yang tak memiliki rumah semakin membuatnya ingin menjaga Hyu Won. Sungmin bukan jawaban yang tepat untuk Hyu Won. Setiap melihat Hyu Won dan Sungmin bersama, emosinya selalu tersulut. Ia tak suka dengan kedekatan mereka. Hyu Won kini tengah mengandung anaknya, fakta itulah yang selalu membuatnya yakin dengan apa yang ia lakukan. Menjaga Hyu Won dan janin di dalam kandungan gadis itu adalah prioritas utama baginya sekarang. Ia akan membayar semua perbuatan buruknya pada gadis itu.

Tok… Tok… Tok…

Kyu Hyun mengerutkan dahinya menebak siapa yang mengetuk pintu kantornya.

“Masuk!” perintah Kyu Hyun keras, Jang Hyuk masuk dengan wajah datarnya.

“Selamat siang, sajangnim.” Ucap Jang Hyuk memberi hormat. Kyu Hyun hanya menganggukan kepalanya. Ia lupa Jang Hyuk akan datang siang ini ke kantornya.

“Apa lagi yang kau temukan dari ponsel Sungmin?” tanya Kyu Hyun. Jang Hyuk yang ditugaskan menyelidiki Sungmin berhasil mencuri ponsel pria itu beberapa hari lalu.

“Tak ada data-data penting lagi, sajangnim. Geundae-…

Geundae wae?” tanya Kyu Hyun tiba-tiba berubah tak nyaman.

“Ji Hoon terus menghubungi ponsel ini.” Ucap Jang Hyuk. Seketika suasana berubah hening begitu pun raut wajah Kyu Hyun yang berubah tegang.

Mata Kyu Hyun membulat saat mendengar ucapan Jang Hyuk. Rahang pria itu mengeras tiba-tiba. Ada raut emosi dan panik dari wajah pria itu. Sial, ia tak mungkin melupakan kakak Hyu Won. Ji Hoon pasti sudah mendapat kiriman video dan foto tentang Hyu Won. Tangan Kyu Hyun mengepal, kekhawatirannya semakin memuncak. Inilah hal yang ia takuti. Ji Hoon mungkin akhirnya akan kembali ke Seoul dan mencari adiknya, lalu Hyu Won mengetahui semua rencana bodoh yang ia lakukan untuk kakaknya dengan memanfaatkan dirinya. Ketika gadis itu tahu nantinya, gadis itu mungkin akan pergi meninggalkannya. Memikirkan hal seperti itu membuat perasaan Kyu Hyun berubah menjadi tak tenang. Tanpa ia sadari, ia mulai merasakan kenyamanan saat bersama Hyu Won. Sejak awal pertemuan mereka, ia selalu menyukai sifat dan tingkah laku Hyu Won. Melihat kondisi Hyu Won sekarang, membuatnya semakin ingin bersama gadis itu. Sikap melindungi dan menjaga selalu muncul saat melihat raut wajah Hyu Won. Hyu Won mengingatkan Kyu Hyun pada Ahra. Apa yang pernah dialami Ahra kini terjadi pada Hyu Won dan Kyu Hyun-lah pria bajingan yang melakukan hal seperti itu pada Hyu Won. Apa bedanya ia dengan Jung Mo kalau sudah begini?

Tatapan Kyu Hyun menghunus tajam tiba-tiba, satu pemikiran melintas di kepalanya. Hyu Won tak boleh tahu semua rencana yang ia lakukan sejak awal pertemuan mereka. Apapun akan ia lakukan agar gadis itu tetap tinggal di rumahnya. Ia tak ingin gadis itu pergi meninggalkannya. Hanya itu.

Kyu Hyun menatap Jang Hyuk lalu mulai memerintah. “Ikuti Sungmin dan… Ji Hoon bila ia berada di Seoul.” Ucap Kyu Hyun, Jang Hyuk menganggukan kepalanya.

****

Kyu Hyun’s Home

Seoul, South Korea

07.00 PM

Bunyi kunci yang diputar pada lubang kunci membuat Hyu Won tak peduli lagi. Tenaganya sudah menguap entah ke mana. Sejak pagi semenjak pria itu meninggalkannya dalam kamar yang terkunci, ia terus-menerus berteriak meminta agar pintu dibuka. Tak cukup berteriak, gadis itu melempar barang-barang milik Kyu Hyun ke arah pintu. Alhasil pelayan harus masuk dan membereskan semua kekacauan yang ia buat, kekesalannya semakin meningkat saat melihat beberapa penjaga berpakaian hitam menunggu di depan pintu. Apakah Cho Kyu Hyun sudah gila memperlakukannya seperti tawanan? Itu pertanyaan yang terus berputar di dalam kepalanya.

“Hai, Hyu Won?” sapa Kyu Hyun hati-hati setelah membuka pintu, pria itu mengernyit saat melihat bantal dan selimut miliknya berceceran di lantai. Hyu Won tampak tidur dalam posisi menyamping. Kyu Hyun berjongkok lalu memunguti bantal dan selimut yang tercecer. Ia tahu gadis itu sangat marah padanya sekarang.

“Kau sudah tidur?” tanya Kyu Hyun lalu meletakan bantal di atas ranjang, tidak lupa ia menyelimuti Hyu Won. Hyu Won hanya diam dan tak menjawab pertanyaan Kyu Hyun. Kyu Hyun berjalan menuju seberang ranjang lalu mengamati Hyu Won, gadis itu tidak tidur.

“Aku akan mandi, setelah itu kita makan malam bersama.” Ucap Kyu Hyun santai, Hyu Won menghempaskan selimut dari atas tubuhnya dengan marah. Ia tak menyangka Kyu Hyun bisa setolol itu karena sengaja tidak peka dengan sikap diamnya. Ia tahu Kyu Hyun mengabaikan protesnya. Pria itu sengaja melakukan semua ini padanya. Hyu Won lantas menegakan tubuhnya dan menatap Kyu Hyun yang berjalan menuju kamar mandi. Dengan cepat Hyu Won melempar remot AC yang ia ambil dari nakas ke arah punggung pria itu.

Kyu Hyun menghentikan langkahnya saat remot AC mengenai punggungnya, pria itu berbalik dan menatap Hyu Won dengan tajam. Hyu Won sedikit bergidik mendapat tatapan seperti itu tapi ia berusaha mengabaikan ketakutannya.

“Kau gila?” sentak Kyu Hyun sedikit keras.

“Kau yang gila, OPPA!” teriak Hyu Won, gadis itu bangun dari ranjang lalu berdiri di sisi ranjang dengan wajah yang mengeras menahan semua emosinya. Kyu Hyun tahu ucapan Hyu Won merujuk pada perlakukannya yang mengunci gadis itu di kamarnya.

“Aku ingin pulang!”

Kyu Hyun tak menanggapi teriakan Hyu Won, ia tahu gadis itu sangat emosi. Ia tak akan berbaik hati untuk membiarkan Hyu Won pulang. Tekadanya sudah bulat untuk menjaga dan membuat gadis itu tinggal di rumahnya. Dengan begitu, ia akan lebih mudah memantau kesehatan gadis itu dan janin di dalam kandungannya. Kyu Hyun merasa dirinya harus bertanggung jawab pada gadis itu. Jadi suatu usaha yang sia-sia bila gadis itu mengajaknya bicara.

“Sudahlah, aku lelah. Lagipula kau akan pulang ke mana? Kau tak punya rumah.” Ucap Kyu Hyun datar. Ia mengukur ekspresi Hyu Won, raut wajah gadis itu berubah sendu seketika. Kyu Hyun menelan ludahnya hati-hati seolah apa yang baru saja ia katakan telah mengusik perasaan gadis itu.

“Ya, aku memang tak punya rumah.” Ucap Hyu Won membalas ucapan Kyu Hyun dengan sinis. Apartement Sungmin bukan rumahnya, ia hanya menumpang di sana. Ucapan Kyu Hyun membuat Hyu Won kembali teringat akan perlakukan In Hye padanya. Perasaannya kembali sedih. Ia hanya seorang diri di Seoul tanpa kakak dan kedua orang tuanya, lalu kini ia berada di rumah pria yang menghancurkan hidupnya. Siapa yang tak merasa takut mengalami hal seperti ini?

Kyu Hyun menatap Hyu Won yang masih diam seolah terperangkap dengan pikirannya sendiri. Pria itu memilih untuk mengabaikan raut sedih di wajah gadis itu. Ia tak tahu apa yang dipikirakan Hyu Won, ia ingin sekali menenangkan Hyu Won tapi ia tahu gadis itu pasti akan menolak dirinya.

Kyu Hyun lalu membuka jas, jam tangan, ikat pinggang dan sepatunya. Hyu Won seolah tersadar dari lamunannya. Ia menatap Kyu Hyun dengan bingung, apa yang akan dilakukan pria itu. Kyu Hyun kembali menatap Hyu Won, gadis itu masih menatap dirinya.

Wae? Kau mau mandi bersamaku?” tanya Kyu Hyun tanpa nada humor sama sekali, Hyu Won mengerjapkan matanya tersadar.

“Kenapa kau mandi di sini?” tanya Hyu Won reflek. Kyu Hyun menertawakan pertanyaan gadis itu.

Wae? Ini kamarku.” Jawab Kyu Hyun singkat.

Hyu Won membulatkan matanya lebar, ia terkejut tetapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Mengapa ia tak pernah sadar sejak pagi bahwa ia berada di kamar pria itu? Kyu Hyun benar-benar sudah gila. Sekarang apa yang bisa ia lakukan bila ini memang kamar Kyu Hyun? Kyu Hyun seolah menulikan telinganya, ia tak mau mendengar semua permintaan Hyu Won. Jadi sangat sia-sia bila ia kembali mendebat pria itu.

Kyu Hyun menikmati raut terkejut Hyu Won. Dengan santai pria itu membuka kemeja putihnya. Untuk sepersekian detik Hyu Won terpana. Namun, rasanya seperti ada hantaman keras di kepalanya tiba-tiba ketika ia melihat dada pria itu, Hyu Won membalikan tubuhnya dengan cepat saat ingatannya kembali pada malam di mana Kyu Hyun menidurinya dengan paksa di hotel. Ia ingat dengan jelas pria itu memaksanya. Pria itu memperkosa dirinya.

Dengan wajah ketakutan dan harga diri yang terasa seperti diinjak-injak, Hyu Won kembali ke atas ranjang seolah tak ingin peduli pada apa yang akan Kyu Hyun lakukan lagi. Ia merasa sangat rentan dan sensitif. Ia bersama dengan pria yang tega memperlakukannya dengan tak hormat. Terkadang ia begitu membenci dirinya karena bisa dengan mudah mempercayai Kyu Hyun dulu. Ia akan memandang rendah dirinya seolah ia tak berharga sama sekali. Sekarang perasaan seperti itu kembali muncul. Air mata meleleh diam-diam sehingga membentuk aliran kecil di wajahnya. Apakah sekarang Kyu Hyun juga memeperlakukannya seperti itu karena ia tak berharga sama sekali? Mengapa pria itu bisa mempermainkan dirinya sekejam ini?

Kyu Hyun mengerutkan dahinya saat melihat Hyu Won kembali ke atas ranjang, perasaannya berubah khawatir tapi ia berusaha mengabaikannya. Ia berpikir Hyu Won mungkin akhirnya lelah berdebat dengan dirinya. Dengan perasaan khawatir dan penasaran, Kyu Hyun akhirnya berjalan menuju kamar mandi. Ia benar-benar butuh mandi untuk menenangkan perasaannya.

Hyu Won terisak pelan saat mendengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi. Bagaimana bila Kyu Hyun akhirnya berubah kembali menjadi kejam dan jahat seperti pagi di mana pria itu meninggalkannya di hotel. Bagaimana bila Kyu Hyun memiliki niat buruk padanya. Pertanya-pertanyaan seperti itu terus berputar di kepala Hyu Won. Gadis itu meringkuk ketakutan. Ia mengingat semua kesialan dan penderitaan yang menimpanya; kemarahan ibu angkatnya, keputusan untuk mengambil cuti kuliah, rasa malu dan penolakan, dan pertemuan kembali dirinya dan Kyu Hyun yang menyebabkan ia akhirnya berakhir di sini, di kamar pria itu.

Ingatannya kembali pada kejadian tadi pagi. Bila mengingat bagaimana Kyu Hyun meminta maaf dan bersikap lembut padanya, rasanya tak mungkin pria itu akan berbuat jahat padanya. Tapi pria itu juga bersikap baik di awal pertemuan mereka lalu akhirnya berubah menjadi sosok yang tak dikenali, tak menutup kemungkinan pria itu mungkin akan menjadi pribadi yang tak ia kenali lagi.

Hyu Won menghapus air matanya. Tiba-tiba keinginan untuk pergi dari rumah Kyu Hyun semakin besar. Gadis itu menatap ke sekeliling kamar pria itu. Pandangannya terhenti saat ia melihat jas milik Kyu Hyun yang terletak di atas meja kecil di samping lemari. Tanpa membuang waktu, Hyu Won berjalan menuju meja tersebut. Ia menyambar jas milik Kyu Hyun berharap menemukan kunci kamar atau paling tidak alat komunikasi. Ia harus menghubungi seseorang. Ia mulai meraba setiap saku dari jas milik pria itu, tak lupa matanya menatap pintu kamar mandi –berjaga-jaga bila Kyu Hyun keluar dari kamar mandi. Gerakannya begitu tergesa-gesa. Mata Hyu Won membulat lebar saat tangannya meraba sebuah benda berbentuk persegi panjang. Tak diragukan lagi, itu adalah sebuah ponsel. Rasa bahagia menghinggapinya.

Hyu Won menarik ponsel milik Kyu Hyun lalu kembali menatap pintu kamar mandi, ia berjalan menuju pintu kamar, ia harus menjauhi pintu kamar mandi agar Kyu Hyun tak mendengar ucapannya di telepon nanti. Dengan wajah berbinar ia menatap ponsel di tangannya. Nama Sungmin muncul di kepalanya. Ketika akan menghubungi, ia ingat ia tak hafal dengan nomor ponsel pria itu. Hyu Won meringis panik, jantungnya berdetak tak teratur. Ia berpacu dengan waktu dan kesempatan. Ia memutar otak mencoba menghubungi siapapun. Lalu nama Eun Hyuk tiba-tiba muncul di kepalanya, sebenarnya ia tak ingat nomor ponsel pria itu tetapi ia ingat dengan nomor telepon milik kafe Eun Hyuk. Ia selalu membaca nomor telepon kafe Eun Hyuk yang terera di pintu masuk ketika ia datang bekerja. Wajahnya kembali berbinar, dengan cepat ia melakukan panggilan.

Hyu Won menempelkan ponsel di telinga kanannya, ia menunggu telepon tersambung dengan gelisah. Beberapa kali ia menatap kamar mandi lalu mulai menggigit bibir bawahnya meredam kegelisahan karena sambungan yang belum terjawab sejak tadi. Gadis itu menatap daun pintu lalu menempelkan kepalanya dan mulai berdoa di dalam hati, ia berharap mereka mengangakat teleponnya.

“AH! Yeobosseo, opp-…”

Srettt

OMMO!” Hyu Won menjerit terkejut saat ponsel di genggamannya terlepas begitu saja padahal seseorang di seberang telepon sudah menjawab panggilannya. Gadis itu membalikan tubuhnya dan menatap Kyu Hyun yang kini berdiri menatapnya dengan tajam.

“Beraninya!” ucap Kyu Hyun sedikit meninggi.

“Kembalikan ponsel itu!” teriak Hyu Won marah, ini satu-satunya kesempatan yang ia miliki. Rasanya ia ingin meledak saat ini juga.

“Kau ingin ponsel ini?” tanya Kyu Hyun dingin. Hyu Won terengah-engah karena emosinya mulai sedikit meningkat. Ia menatap Kyu Hyun dengan sinis.

“Ambil.” Ucap Kyu Hyun santai setelah dirinya memasukan ponsel ke dalam saku celananya, ia kembali menatap Hyu Won dengan marah. Hyu Won menatap Kyu Hyun dengan shock, mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang Kyu Hyun lakukan.

Neo! Kau brengsek!” teriak Hyu Won keras. Mendengar Hyu Won mengatakan kalimat sekasar itu padanya, membuat Kyu Hyun tak suka. Tak pernah ada orang yang mengatakan kalimat seperti itu padanya. Pria itu dengan kasar meletakan kedua tangannya pada daun pintu sehingga membuat Hyu Won kesulitan untuk bergerak. Gadis itu terkejut dengan sikap Kyu Hyun yang seperti itu.

“Dengar!” teriak Kyu Hyun.

“Minggir!” Hyu Won berusaha mendorong Kyu Hyun. Pria itu menangkap kedua tangan Hyu Won lalu menekannya dengan keras pada daun pintu. Tubuh tegapnya semakin memerangkap tubuh mungil Hyu Won. Nafas keduanya saling menabrak wajah satu sama lain.

“Jangan membuatku marah, Hyu Won. Kutinggalkan sebentar dan kau berulah seperti itu. Hanya menurutiku dan tetap tinggal di sini, apakah itu sulit?” tanya Kyu Hyun penuh penekanan.

“Apa maumu sebenarnya, Oppa?” tanya Hyu Won mulai frustrasi dengan sikap Kyu Hyun. Jelas sekali pria itu ingin mengontrol dirinya.

“Ka-…”

“Kau muncul tiba-tiba, bersikap baik di awal lalu berubah setelah kau meniduriku. Ah… Anni, kau memperkosaku! Kau menyuruhku untuk tak menemuimu, kulakukan. Bahkan aku tak menganggu hidupmu. Lalu kau muncul dengan tiba-tiba dan membawaku ke rumah ini, rumah sialan ini!” ucap Hyu Won dingin. Kyu Hyun menegang seketika, ia menelan ludahnya dengan susah payah.

Mereka terdiam cukup lama hingga akhirnya Kyu Hyun memutuskan untuk membalas ucapan Hyu Won.

“Aku hanya ingin merawat dan menjagamu di sini. Kalau kau tak lupa, aku-lah penyebab semua kehancuran dalam hidupmu. Jadi biarkan aku menebus semuanya.” Ucap Kyu Hyun tulus, meskipun begitu ia merasa bersalah karena menyembunyikan kebenaran yang sebenarnya.

Hyu Won hanya terdiam mendengar perkataan Kyu Hyun, ia berusaha membaca raut wajah pria itu. Kyu Hyun memang menatap kedua matanya dengan dalam dan tulus. Tapi Hyu Won justru merasa seolah Kyu Hyun menyembunyikan hal lain yang tak ia ketahui. Gadis itu mengalihkan pandangannya lalu melepas tangannya ketika ia merasa cengkraman Kyu Hyun mulai mengendur.

Arraseo. Mungkin sekarang kau sedang menebus kesalahanmu. Tapi tidak dengan cara begini kau menebus semua ini. Kau bukan membuatku tinggal di sini, kau menahanku seperti tawanan. Aku merasa… seolah kau begitu “ketakutkan”, oppa.” Ucap Hyu Won pelan lalu berjalan menuju ranjang meninggalkan Kyu Hyun yang hanya diam membeku.

Hyu Won naik ke atas ranjang lalu memeluk bantal guling dengan erat, kepalanya ia tenggelamkan ke dalam bantal. Sejak tadi ia sangat ingin menangis tetapi ia tak mau menangis di depan Kyu Hyun. Perkataan Kyu Hyun terus terngiang-ngiang di kepalanya. Kyu Hyun mengatakan hanya ingin merawatnya dan bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan. Bukankah ini yang seharusnya pria itu lakukan sejak awal? Secara tida sadar dulu Hyu Won juga ingin pria itu bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat. Sekarang Kyu Hyun sudah bertanggung jawab walaupun dengan cara yang tak disukai Hyu Won. Bukankah gadis itu hanya harus menerima semua yang Kyu Hyun lakukan? Tetapi ia justru merasa pria itu akan menahan dirinya untuk selamanya di rumah ini. Hyu Won merasa benar-benar ketakutan dan bingung. Ia menggigit bantal untuk meredam tangisannya, rasanya seperti anak kecil yang dilarang bermain di luar bersama teman-temannya. Tapi faktanya ini bukan hanya tentang bermain tetapi tentang hidupnya. Kyu Hyun yang ia kenal sekarang berbeda dengan yang ia kenal dulu. Pria itu benar-benar menakutkan baginya. Hyu Won benci dirinya yang selalu menangis seperti ini. Mengapa ia begitu lemah dan tak memiliki keberanian untuk melawan pria itu?

Kyu Hyun menatap Hyu Won yang kini berbaring membelakangi dirinya, melihat bahu gadis itu yang bergetar membuat Kyu Hyun meringis pedih di dalam hati. Sekali lihat saja, ia yakin Hyu Won sedang menangis tetapi gadis itu menahan tangisannya. Nafas Kyu Hyun berubah menjadi berat, ia terus menatap Hyu Won. Tubuhnya ia sandarkan pada daun pintu, ia lantas mendongakan kepalanya menatap langit-langit. Mengapa ia selalu membuat gadis itu bersedih? Ia ingin membayar semua kekacauan yang ia lakukan tapi ia tak sadar ia justru membuat gadis itu begitu tertekan.

Kyu Hyun memejamkan matanya sekilas lalu membukanya. Ia kembali menatap Hyu Won. Mungkin ini memang hukuman untuknya karena rasa bersalah yang ia rasakan semakin hari semakin meningkat. Belum lagi rasa cemas yang ia rasakan bila Hyu Won nantinya tahu semua kebenaran yang ia sembunyikan. Tangan Kyu Hyun bergerak mengusap tengkuknya, ia butuh waktu untuk meredakan kecemasannya. Ia menatap Hyu Won sebentar, gadis itu sudah tak menangis lagi. Nafasnya mulai beraturan, gadis itu mungkin sudah tidur. Kyu Hyun lantas membuka pintu dan keluar dari kamarnya.

****

One Week later…

Kim’s Family Home

Seoul, South Korea

09.00 AM

Ji Hoon menekan bel rumah dengan tidak sabaran. Ia berdiri dengan wajah datarnya menatap pintu gerbang rumahnya, matanya menatap papan nama bertuliskan Kim Jin Ho –Ayah angkatnya. Menatap marga Kim di depan nama Jin Ho membuat Ji Hoon selalu merasa bersalah pada kedua orang tua kandungnya. Hanya Hyu Won yang masih memakai marga milik keluarga mereka. Sejak awal keluarga Kim tak pernah ingin mengadopsi Hyu Won, mereka hanya ingin satu anak laki-laki namun Ji Hoon menolak untuk diadopsi bila harus berpisah dengan Hyu Won. Sedangkan, keluarga Kim benar-benar ingin Ji Hoon menjadi anak mereka. Hyu Won satu-satunya keluarga yang Ji Hoon miliki di dunia ini. Sebagai gantinya, gadis itu tetap ikut bersama keluarga Kim tetapi mereka tak memasukan Hyu Won ke dalam daftar keluarga. Jadi hanya ada nama Ji Hoon yang diakui sebagai anak dalam keluarga Kim. Hyu Won tak mempermasalahkan diakui atau tidak sama sekali, yang terpenting ia tak dipisahkan dengan Ji Hoon. Gadis itu selalu tersenyum dan bersikap seolah semua baik-baik saja tapi Ji Hoon tahu Hyu Won tak sekuat itu. Ia sudah berjanji akan menebus semua itu suatu saat nanti, ia akan membayar semua kesedihan Hyu Won.

Ji Hoon kembali menekan bel berulang kali namun pintu belum juga terbuka. Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu Hyu Won. Setelah sepekan lalu ia menerima paket berisi foto dan video di mana Hyu Won tampak tak berbusana, Ji Hoon benar-benar ingin secepatnya kembali ke Seoul tapi pekerjaan dan waktu yang tidak tepat membuatnya tak bisa kembali ke Seoul. Ia merasa menjadi kakak yang tidak berguna saat itu. Bagaimana pun adiknya pasti dalam keadaan yang sulit. Tak mendapat kabar apapun setelah menerima paket tersebut mmebuat Ji Hoon semakin khawatir. Ia mengasumsikan In Hye dan Jin Ho tak mengetahui perihal video dan foto tersebut. Kalau mereka tahu, mereka seharusnya menghubungi dirinya dengan cepat. Ia tak ingin Hyu Won mendapat masalah dengan bertanya tentang video dan foto tersebut pada In Hye ataupun Jin Ho.

Ji Hoon sudah mencoba menghubungi Hyu Won namun tidak pernah tersambung. Menghubungi Sungmin pun bahkan sudah ia lakukan namun sama seperti Hyu Won, Sungmin juga tidak bisa dihubungi. Satu-satunya orang yang menjadi harapan terakhirnya adalah In Hye. Namun, setiap kali Ji Hoon menghubungi dan menanyakan keadaan Hyu Won, wanita paruh baya itu selalu menjawab Hyu Won sudah tidur atau sedang pergi. Apapun yang ia lakukan untuk menghubungi adiknya itu tak pernah berhasil. Ia marasa begitu frustrasi, marah, dan kecewa seminggu lebih memikirkan Hyu Won. Belum lagi pesan singkat di dalam paket tersebut membuatnya semakin meradang dan emosi. Di sana tertulis bahwa apapun yang Ji Hoon lakukan di masa lalu kini berimbas pada adiknya. Apa yang sudah ia lakukan sehingga Hyu Won yang terkena imbasnya? Gadis itu pasti menjadi korban kejahatan orang tak bermoral. Tidak mungkin Hyu Won bisa melakukan hal seperti itu. Ji Hoon tak akan percaya bila orang mengatakan adiknya terjebak dalam pergaulan bebas. Hyu Won adalah gadis yang manis dan penurut. Ya, ia percaya itu. Satu hal yang masih menganjil di dalam kepala Ji Hoon adalah mengapa isi pesan di dalam paket seolah menargetkan semua kepadanya. Seolah Hyu Won benar-benar dijadikan alat untuk menyakiti dirinya. Apakah ia pernah berbuat kesalahan kepada orang? Itu adalah pertanyaan yang selalu mengganggunya setiap waktu.

Greeet

Suara gerbang yang di dorong membuat Ji Hoon menegakan tubuhnya, seorang wanita paruh baya yang sudah hampir setengah tahun tak dilihatnya kini berdiri dengan mulut menganga menatapnya.

OMMO! Ji Hoon-ah?!” suara In Hye terdengar melengking terkejut melihat putranya kini berdiri dengan gagah di depan rumahnya.

Eomma…” sapa Ji Hoon tenang. Ia menatap ke belakang. “Mengapa eomma yang membuka pintu? Di mana Han ahjumma?” tanya Ji Hoon.

“Dia sedang ke swalayan. Mari kita masuk dulu.” Ucap In Hye dengan wajah yang masih berbinar-binar. Ia tak menyangka putranya ada di Seoul saat ini, ia berpikir mungkin Ji Hoon akan kembali di akhir tahun nanti.

In Hye dan Ji Hoon berjalan memasuki rumah. “Di mana Hyu Won?” tanya Ji Hoon berusaha mengontrol nada suaranya. Sebenarnya ia kembali ke Seoul hanya untuk melihat dan mengetahui bagaimana keadaan Hyu Won. Ia benar-benar harus melihat adiknya itu.

“Dia kuliah.” Jawab In Hye datar. Ia berbohong tentu saja, ia bahkan tak mau pusing mencaritahu bagaiamana keadaan gadis itu setelah mengusirnya dengan kasar sepekan lalu. Bagi In Hye apa yang ia lakukan sudah tepat. Mengapa ia harus menampung gadis seperti Hyu Won?

“Aku merindukannya.” Ucap Ji Hoon sendu walaupun diselipi dengan tawa kecil.

“Kau selalu merindukan dongsaeng-mu, kau tak merindukan eomma.” Ucap In Hye dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat cemburu.

Aigoo! Aniyo, aku juga merindukan eomma dan appa.” Ucap Ji Hoon lalu merangkul In Hye dengan hangat. Wanita itu tertawa pelan namun hatinya seketika berubah gamang memikirkan Hyu Won yang tak ada di rumah. Apa yang harus ia katakan pada Ji Hoon nanti?

****

A Night

Kim’s Home

Seoul, South Korea

07.00 PM

Ji Hoon membuka pintu kamar Hyu Won. Sudah sejak pagi ia menunggu gadis itu pulang namun Hyu Won tak juga pulang ke rumah. Sebenarnya ia benar-benar sudah tak sabar untuk bertemu dengan Hyu Won. Tadi siang saat ia memutuskan untuk menemui gadis itu di Kyunghee University, In Hye melarangnya. Wanita itu mengatakan akan lebih baik bila menunggu saja di rumah. Ji Hoon berpikir apa yang dikatakan In Hye mungkin ada benarnya, lagipula ia tak ingin membuat Hyu Won tertekan dengan pertanyaan yang akan ia ajukan nanti.

Ji Hoon mengernyitkan dahinya saat dirinya menatap kamar Hyu Won yang terasa begitu dingin dan tak hidup. Ia merasa seolah Hyu Won tak pernah ada di kamar ini. Kakinya bergerak pelan memasuki kamar gadis itu lebih dalam lagi, ia menutup pintu kamar dengan pelan. Pandangannya menyapu seisi ruangan. Rasa rindunya pada Hyu Won semakin meningkat. Dulu ia dan Hyu Won sering menghabiskan masa kecil mereka di kamar ini. Ia akan membantu gadis itu mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, atau mereka akan bermain seharian di sini. Ji Hoon selalu menjadi kakak yang baik untuk Hyu Won. Sejak kecil ia selalu bertekad membuat adiknya itu bahagia. Ia selalu menjadi sosok ayah atau ibu sekaligus kakak untuk Hyu Won. Menjaga dan melindungi Hyu Won adalah tugasnya. Saat memutuskan untuk pergi ke London, Ji Hoon berpikir Hyu Won mungkin akan baik-baik saja tanpanya tetapi setelah menerima paket terkutut tersebut, Ji Hoon merasa tak seharusnya ia meninggalkan adiknya itu sendiri. Seseorang pasti telah melukai adiknya dengan sangat kejam.

Ji Hoon duduk di atas ranjang Hyu Won, perasaan dingin dan sepi seolah menyelimutinya. Ia merasakan perasaannya berubah menjadi tak enak dan tak nyaman. Tangannya bergerak meraih pigura foto di atas nakas. Mata Ji Hoon membulat saat dirinya menatap pigura yang berdebu. Ia mencolek lapisan debu tersebut, seketika perasaan ngeri menyelimutinya. Hyu Won tidak akan membiarkan barang-barangnya kotor tak terurus seperti ini. Terlebih itu adalah pigura foto mereka. Ji Hoon menolehkan kepalanya dan menatap ranjang dengan gusar. Ranjang terasa seperti tak pernah ditiduri sama sekali. Ia baru menyadarinya mengapa ranjang terasa begitu keras.

Tubuh Ji Hoon terlonjak seketika. Ia tahu Hyu Won tak tidur di kamar ini. Ia menatap pintu kamar mandi lalu beralih pada lemari besar milik Hyu Won. Mungkinkah gadis itu pergi dan menginap di rumah temannya? Tapi In Hye tak mengatakan apapun tentang menginap, wanita itu hanya mengatakan Hyu Won sedang pergi kuliah. Pria itu lantas berjalan dengan cepat menuju lemari Hyu Won, dengan kasar ia membuka pintu lemari. Mata Ji Hoon membulat saat menatap lemari yang tampak kosong. Tumpukan pakaian tampak tak beraturan seolah ditarik dengan paksa.

Ji Hoon segera membalikan tubuhnya dan berjalan menuju pintu kamar. Ia baru saja membuka pintu kamar saat dirinya melihat In Hye berdiri di depan pintu kamarnya. Pintu kamar Ji Hoon dan Hyu Won berhadap-hadapan.

Eomma?” panggil Ji Hoon tak bisa mengontrol nada suaranya. Ia seolah tengah menyentak wanita itu.

Ommo! Kau mengangetkan eomma,” ucap In Hye sambil mengusap dadanya. Mata wanita paruh baya itu membulat seketika saat menyadari di mana Ji Hoon berdiri. “Apa yang kau lakukan di kamar Hyu Won?” tanya In Hye berubah gugup.

“Di mana Hyu Won?” suara Ji Hoon berubah sangat dingin, ia tahu In Hye menyembunyikan sesuatu darinya. Wajah In Hye menampakan kepanikan.

“Dia kuliah tentu saja.” Balas In Hye terbata-bata dengan senyum yang memaksa.

“Jangan membohongiku eomma, Hyu Won tak akan membiarkan barang-barangnya berdebu tak terurus. Dan lemarinya bahkan terlihat hampir kosong. Di mana dongsaeng-ku?” tanya Ji Hoon berubah tajam, ia benar-benar membuat suaranya terdengar seolah ia tak ingin kebohongan lagi.

In Hye mengangkat dagunya seolah menguatkan dirinya sendiri, ia tahu Ji Hoon akan marah mendengar jawabannya nanti. “Gadis itu sudah tak tinggal di sini lagi.”

MWO?” mata Ji Hoon terbelalak lebar. “Apa maksudmu, eomma?” tanya Ji Hoon sedikit meninggi.

“Aku dan appa-mu mengusirnya.” Ucap In Hye dingin.

“Astaga!” ucap Ji Hoon tercekat. Seketika perasaannya berubah sakit sekali, bagaimana bisa mereka mengusir adiknya saat dirinya di London. “WAE?” bentak Ji Hoon tak bisa menahan emosinya.

“Kau akan setuju dengan apa yang kulakukan untuk dongsaeng-mu yang kurang ajar itu bila kau mendengar alasanku.” Ucap In Hye mencoba meredakan ketakutannya, ia benar-benar takut dibentak seperti itu oleh Ji Hoon.

“Alasan? Tuhan! Eomma, bagaimana kau tega mengusirnya? Apa yang ia lakukan sampai kalian bisa berbuat seperti itu? Aku bekerja dengan susah payah dan menahan rasa rinduku pada Hyu Won, aku berharap eomma bisa menjaganya.” Ucap Ji Hoon, tangan pria itu mengepal di samping tubuhnya. Kalau itu bukan wanita yang ia hormati, ia mungkin sudah menerjang wanita itu.

Dongsaeng-mu yang kurang ajar itu hamil!” Ucap In Hye dengan wajah menjijikan seolah ia tak suka bila kembali membicarakan aib yang Hyu Won lakukan.

DEG!

Mwo?” ucap Ji Hoon berbisik tak percaya. Tubuh Ji Hoon seolah tak memiliki tulang sama sekali. Rasanya lemas sekali. Wajah pria itu memucat seolah aliran darah telah berhenti mengalir di sekujur tubuhnya. Adiknya yang ia sayangi kini tengah hamil? Tuhan… apa yang sebenarnya terjadi? Bayangan tentang paket yang ia terima muncul dalam pikirannya. Apakah perbuatan bejat itu-lah yang menyebabkan Hyu Won hamil? Ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan In Hye. Dan bagaimana keadaan Hyu Won sekarang?!

“Aku tak menyangka membesarkan gadis kecil murahan seperti dongsaeng-mu. Bekerja hingga larut malam dan menghasilkan bayi dalam perutnya. Menjijikan sekali, Ji Hoon-ah.” Ucap In Hye tak berperasaan.

Kepala Ji Hoon terangkat ketika mendengar ucapan kasar In Hye. Tubuhnya yang lemas seolah mendapat energi tiba-tiba. “Mengapa eomma tak memberitahuku!” teriak Ji Hoon semakin keras. Amarahnya semakin meningkat saat mendengar hinaan dari bibir In Hye tentang Hyu Won. Ia mengenal Hyu Won, tak mungkin adik tersayangnya berlaku seperti apa yang dikatakan In Hye.

“Kalau aku memberitahumu kau akan kembali dan menelantarkan pekerjaan di London.” Ucap In Hye.

“Demi Tuhan dia dongsaeng-ku!” bentak Ji Hoon, bagaimana bisa ada orang seegois In Hye. Ia merasa bodoh dan tak berguna karena tak mengetahui keadaan Hyu Won yang sebenarnya. Rasa marahnya meningkat berkali-kali lipat.

“Mengapa kau membentak eomma, Ji Hoon-ah? Kau tak pernah membentak eomma sejak kau kecil!” marah In Hye. Wanita itu berubah sedih.

Ji Hoon tak memperdulikan teriakan In Hye. Yang ada di kepalanya sekarang adalah mencari Hyu Won. Ia merasa gagal sebagai seorang kakak karena tak tahu apa yang sudah menimpa Hyu Won. Pria itu hendak pergi meninggalkan In Hye namun dengan cepat wanita paruh baya itu mencegat Ji Hoon.

“Kau mau ke mana?”

“Aku akan mencari dongsaeng-ku.” Balas Ji Hoon dingin, ia menatap tajam tangan In Hye di lengannya seolah meminta wanita itu melepas cengkramannya.

“Kau akan menyesal karena bersikap seperti ini pada eomma.” Ucap In Hye dengan sedih.

“Aku akan lebih menyesal bila membiarkan dongsaeng-ku sendirian di luar sana. Maafkan aku, eomma. Dan eomma, aku benar-benar sangat kecewa karena kau memperlakukan dongsaeng-ku seperti ini. Aku tahu kalian tak pernah menyukai dirinya tapi dia juga manusia, tidak seharusnya kalian memperlakukannya seperti itu.” Ucap Ji Hoon lalu melepas cengkraman In Hye. Ucapan Ji Hoon seperti tamparan yang keras bagi In Hye. Jelas sekali ia sudah menyakiti perasaan Ji Hoon.

Ji Hoon bergegas pergi untuk mencari Hyu Won. Seharusnya ia kembali sejak seminggu lalu, seharusnya ia tahu lebih cepat masalah Hyu Won, seharusnya ia orang pertama yang ada untuk Hyu Won. Kini ia merasa begitu menyesal. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada adik tersayangnya itu? Itu adalah pertanyaan yang terus berputar di dalam kepalanya.

****

Sungmin’s Apartement

Seoul, South Korea

08.00 PM

Ji Hoon menekan bel pintu apartement Sungmin. Sungmin adalah orang pertama yang ia datangi karena pria itu sudah seperti saudara bagi Ji Hoon dan Hyu Won. Sungmin adalah orang yang Ji Hoon percaya untuk menjaga Hyu Won selama ia berada di London. Jadi besar kemungkinan pria itu mungkin tahu keadaan Hyu Won. Mungkin juga Hyu Won berada di apartement pria itu. Ia berharap sekali Hyu Won berada di sini.

CEKLEK!

Ji Hoon menatap Sungmin yang muncul dari balik daun pintu. Pria itu terlihat tidak baik sama sekali. Kantung mata di bawah matanya menunjukan pria itu tak memiliki waktu tidur yang berkualitas.

“Sungmin-ah!” sapa Ji Hoon tak sabaran.

“Ji Hoon-ah? Kau di Seoul?” tanya Sungmin terkejut, pria itu menatap Ji Hoon seolah ia tak percaya sahabatnya itu ada di Seoul.

Ne, aku di sini. Sungmin-ah, bisakah kau bertanya tentang keadaanku nanti saja? Aku ke mari untuk menanyakan tentang dongsaeng-ku. Apa dia di sini?” Ucap Ji Hoon berubah serius. Sungmin menatap Ji Hoon dengan perasaan bersalah, ia tak tahu bagaimana menjelaskan semua yang sudah terjadi.

“Mari masuk dulu.” Ucap Sungmin pelan, ia merasa sangat bersalah dan menyesal sekali karena tak bisa menjaga Hyu Won.

Wajah Ji Hoon mengeras seketika, sesuatu yang buruk pasti sudah terjadi. Melihat wajah Sungmin, Ji Hoon tahu Hyu Won tak ada di sini. Keduanya berjalan dengan perasan yang berkecamuk. Sungmin mempersilahkan Ji Hoon untuk duduk. Ji Hoon lantas duduk pada sofa milik Sungmin. Sungmin memilih untuk berdiri.

“Mau minum?” tanya Sungmin berbasa-basi. Ia tahu Ji Hoon sudah pasti akan menolak.

“Tidak, terima kasih. Aku ingin tahu, apakah kau tahu di mana Hyu Won berada?” tanya Ji Hoon langsung. “Apakah di sini?” tanya Ji Hoon masih berharap, mungkin adiknya berada di sini.

Sungmin menelan ludahnya dengan susah payah. “Maafkan aku, Ji Hoon-ah. Seminggu lalu ia tinggal di apartementku setelah eomma kalian mengusirnya, tapi…” ucapan Sungmin terhenti. Ia benar-benar tak bisa melanjutkan lagi.

“Tapi apa?” tanya Ji Hoon sedikit tak sabar.

“Sudah sepekan Hyu Won menghilang, Eun Hyuk bilang seorang pria membawanya dengan paksa. Mereka tampak berkelahi kecil setelah itu ia dibawa begitu saja. Aku sudah melapor pada polisi tapi sampai sekarang Hyu Won belum juga ditemukan.” Ucap Sungmin pelan, ia tak bisa hidup dengan tenang sejak sepekan lalu. Waktu makan dan istirahatnya terganggu. Semua waktu kosong setelah kuliah ia gunakan untuk mencari Hyu Won.

“Mwo!” Ji Hoon berdiri dan menatap Sungmin dengan emosi. Bagaimana bisa ia membiarkan adiknya menghilang begitu saja? Sungmin sudah siap bila Ji Hoon akan memukulnya sebentar lagi. Tapi Sungmin mengernyit bingung saat melihat Ji Hoon justru jatuh dengan lemas kembali ke sofa. Ji Hoon tampak begitu terpuruk sekali, Sungmin bisa melihat mata Ji Hoon mulai berubah memerah seolah menahan air matanya agar tak keluar. Sungguh menyedihkan melihat Ji Hoon seperti itu. Kalau ia berada di posisi Ji Hoon, ia mungkin tak akan bisa hidup dengan tenang.

“Ya Tuhan…” Desah Ji Hoon tak bertenaga. Ia tak bisa mengutamakan emosinya, ia tahu tidak semuanya adalah kesalahan Sungmin.

Ji Hoon marah pada dirinya sendiri. Ia merasa tak becus menjaga adiknya. Ia memikirkan kedua orang tuanya yang mungkin akan bersedih dan kecewa sekali melihat ia tak bisa menjaga Hyu Won. Ia bahkan tak tahu bagaimana keadaan adiknya itu.

“Ji Hoon-ah?” panggil Sungmin pelan, Ji Hoon mengangkat kepalanya lalu menatap Sungmin. Mata pria itu semakin merah karena menahan air mata. Adik satu-satunya yang ia miliki kini berada entah di mana.

“Apa?” balas Ji Hoon pelan.

“Kau harus tahu, dongsaeng-mu kini tengah mengandung dari pria bajingan yang tak bertanggung jawab.” Ucap Sungmin dengan emosi. Mata Ji Hoon terbelalak lebar, ia tahu Hyu Won hamil tapi ia tak bisa menerima fakta bila adiknya diperlakukan dengan buruk.

Dongsaeng-ku pasti sangat menderita sekarang.” Ucap Ji Hoon sendu. Hatinya terasa perih sekali.

“Tenanglah, kita akan mencari cara untuk menemukannya.” Ucap Sungmin berusaha menenangkan Ji Hoon.

“Seseorang mengirimiku paket berisi video dan foto Hyu Won tanpa busana.” Ucap Ji Hoon kemudian. Mata Sungmin yang sekarang terbelalak lebar.

“MWO?” pekik Sungmin. “Brengsek sekali, bagaimana bisa!” ucap Sungmin lagi.

“Apakah Hyu Won memberitahumu siapa yang melakukan hal brengsek itu padanya?” tanya Ji Hoon.

Sungmin menggelengkan kepalanya. “Hyu Won tak mau memberitahuku, kurasa ia diancam atau semacamnya. Ia benar-benar tak ingin membicarakan pria itu. Aku curiga orang yang membawa Hyu Won dan orang yang menghamilinya adalah satu orang yang sama.” Ucap Sungmin.

Ji Hoon masih duduk termenung. Tangannya terkepal gelisah memikirkan keadaan Hyu Won. Saat ini ia ingin sekali memukul orang, ia ingin mencaci maki In Hye yang dengan teganya mengusir Hyu Won dari rumah mereka. Tapi Ji Hoon memilih menahan emosinya, ia harus berpikir dengan tenang. Ia mungkin akan menyewa detektif swasta untuk mencari adiknya itu.

“Kenapa kalian sulit sekali dihubungi?” tanya Ji Hoon tiba-tiba. Rasa marahnya selama di London kembali muncul. Mereka tak tahu bagaimana frustrasinya ia selama di London memikirkan Hyu Won.

“Ponselku hilang.” Ucap Sungmin.

“Mengapa kau tak memberitahuku Hyu Won hamil?” tanya Ji Hoon lagi.

“Aku mau melakukannya tapi Hyu Won melarangku. Dia tak ingin kau tahu. Dia tak mau membuatmu khawatir padanya, ia tahu kau mungkin akan kembali dari London bila tahu keadaanya.” Balas Sungmin.

“Dasar bodoh!” desis Ji Hoon mengatai Hyu Won.

“Ya. Dia terlalu memikirkan perasaan orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri. Maafkan aku karena tak bisa menjaga Hyu Won. Aku selalu berusaha mencarinya.” Ucap Sungmin pelan, ia selalu berusaha setiap hari untuk mencari Hyu Won.

“Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Hyu Won, aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri.” Ucap Ji Hoon pelan menyumpahi dirinya sendiri.

“Ji Hoon-ah?”

“Hmm?”

“Menurutmu mengapa orang itu melakukan semua ini pada Hyu Won? Ia mengirimimu video dan foto Hyu Won, kurasa ini semua memang ditujukan padamu. Apa kau memiliki musuh?” tanya Sungmin menyelidik. Pikirannya sedikit terganggu ketika mendengar ucapan Ji Hoon tentang paket yang ia terima.

“Entahlah. Ini yang selalu kupikirkan, kurasa semua ini memang ditujukan untukku tapi mengapa ia harus menhancurkan hidup dongsaeng-ku? Ini benar-benar menyakitkan untukku dan Hyu Won. Kalau aku memang melakukan sesuatu yang salah seharusnya ia langsung saja berhadapan denganku. Hyu Won hanya gadis kecil yang tak tahu apa-apa. Oh Tuhan… betapa malang nasibnya. Mengapa selalu Hyu Won yang harus menderita?” Ucap Ji Hoon mengutuk dirinya sendiri. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Hyu Won. “Aku bahkan tak tahu apa yang sedang terjadi pada Hyu Won sekarang.” Ucap Ji Hoon pelan nyaris berbisik.

“Kita hanya harus berdoa dan berusaha. Kita tunggu hasil pencarian polisi.” Ucap Sungmin tak tahu harus berkata apa lagi.

“Hyu Won pasti sangat ketakutan. Di mana pun ia berada, aku harap ia baik-baik saja.” Ucap Ji Hoon pelan. Kepalanya tertunduk menyesali semua kelalaiannya karena tak becus menjaga adiknya.

****

A Morning

Kyu Hyun’s Home

Seoul, South Korea

06.00 AM

Hyu Won bergegas keluar menuju pintu kamar setelah ia mandi dan berdandan tipis. Ini hari sabtu tetapi ia tak melihat Kyu Hyun di sampingnya saat ia terbangun tadi, mungkin Kyu Hyun sudah pergi bekerja tapi pria itu pernah mengatakan ia libur di hari sabtu dan minggu.

Sudah sepekan Hyu Won berada di rumah Kyu Hyun dan terkurung seperti seorang putri di dalam istana. Sejauh ini Kyu Hyun tak melakukan hal-hal buruk padanya, Kyu Hyun memperlakukan Hyu Won seperti tuan putri. Semua hal yang Hyu Won inginkan dan tidak ia inginkan pun selalu tersedia untuknya. Ia selalu dikelilingi beberapa pelayan yang siap bila ia meminta segala sesuatu. Tetapi hal itu tak membuatnya bahagia, ia tak suka diperlakukan seperti itu. Ia ingin bebas seperti dulu. Ia tak suka dilayani, mungkin sebagian orang mengingkannya tapi tidak dengan dirinya. Ia ingin pulang dan menjalankan kehidupan seperti semula meskipun penuh penderitaan. Kyu Hyun terlalu menyeramkan, pria itu tak pernah berbicara padanya seperti dulu. Sikap dingin pria itu semakin menjadi-jadi, seolah ia memang menghindari kontak dengan Hyu Won. Hyu Won tak mengerti mengapa pria itu bersikap seperti itu. Setiap malam pria itu selalu tidur di sampingnya tetapi mereka seperti memiliki sebuah tembok besar yang membatasi. Hyu Won merasa hidupnya mulai terasa konyol, tidur di samping pria yang menghamilinya tetapi mereka seperti dua orang yang tidak saling kenal satu sama lain. Ia tak bisa mengusir pria itu dari kamar karena kamar itu adalah milik Kyu Hyun. Ia tak punya nyali hanya untuk mengatakan ia tak suka mereka tidur bersama dalam satu ruangan. Perasaannya selalu tak tenang dan diliputi ketakutan. Biar bagaimanapun ini pertama kali dalam hidupnya ia tinggal dan tidur bersama pria dewasa seperti Cho Kyu Hyun. Pria yang menyakitinya tanpa alasan yang jelas. Pria yang tak punya status yang jelas dengan dirinya. Sebenarnya apa hubungan yang sedang mereka jalani ini?

Hyu Won membuka pintu kamar, ia selalu bersyukur setiap kali membuka pintu kamar. Kyu Hyun tak lagi mengurungnya seperti sepakan lalu. Setelah pertengkaran malam itu, pria itu memberikan kebebasan tetapi ia tak boleh lepas dari penjagaan. Selalu ada dua bodyguard di sekitarnya. Ia bisa bebas keluar rumah tetapi tak boleh pergi menemui Sungmin. Bagi Hyu Won itu sangat konyol tetapi itu aturan yang Kyu Hyun buat untuknya. Ia bahkan tak boleh memegang alat komunikasi. Hyu Won tahu Kyu Hyun tak ingin ia pergi dari rumahnya. Ia sudah bosan berdebat dengan Kyu Hyun karena hasilnya selalu ia yang kalah. Pria itu tak pernah menyetujui keinginan Hyu Won bila itu tidak sesuai dengan keinginannya. Lambat laun Hyu Won mulai menikmati keadaannya sekarang meskipun keinginan untuk menjalani hidup seperti dulu terus mengusiknya. Ia merasa seolah dirinya benar-benar meninggalkan kehidupan lamanya. Seolah ia dipaksa untuk melupakan Sungmin dan Ji Hoon kakaknya. Ia tak pernah lagi menghubungi Ji Hoon. Dan itu benar-benar membuatnya begitu merindukan Ji Hoon setengah mati.

“Kau sudah bangun?” suara berat Kyu Hyun mengagetkan Hyu Won, pria itu entah sejak kapan berdiri di depan pintu kamar mereka. Hyu Won hanya menganggukan kepalanya.

Hyu Won berdiri menatap beberapa pelayan yang berlalu-lalang di hadapannya. Beberapa sedang mengelap meja lalu beberapa lagi sedang mengelap railing tangga. Tanpa ia sadari, Kyu Hyun terus menatap dirinya sejak tadi. Tubuh gadis itu sedikit mulai berisi, perutnya bahkan mulai terlihat sedikit membuncit. Senyum tak pernah hilang dari bibir Hyu Won, gadis itu adalah simbol kecantikan alami yang tak dimiliki gadis-gadis pada umumnya. Kyu Hyun menatap baju terusan panjang yang Hyu Won kenakan, baju itu jatuh ke bawah hingga menggantung di bawah lutut. Hyu Won semakin terlihat manis, Kyu Hyun menelan ludahnya dengan susah payah setelah menyadari apa yang baru saja terlintas di kepalanya. Ia terpesona dengan gadis itu.

“Ayo kita sarapan, mereka sudah menyiapkan makanan untuk kita.” Ucap Kyu Hyun berusaha tak menunjukan ekspresi sama sekali. Hyu Won menganggukan kepalanya lagi.

Kyu Hyun berjalan lebih dulu, Hyu Won mengikuti dari belakang. Gadis itu menatap tubuh Kyu Hyun yang menjulang tinggi di depannya. Kyu Hyun menggunakan sweater abu-abu dengan kemeja kotak-kota di dalamnya. Celana hitam panjangnya memberikan kesan tegas. Pria itu baru memangkas rambutnya beberapa hari yang lalu sehingga wajahnya terlihat begitu segar. Hyu Won merona merah saat memikirkan ketampanan Kyu Hyun. Sejak kapan ia lancang memikirkan pria itu? Dulu saat Kyu Hyun masih menjadi pelanggannya di kafe, ia tak pernah berpikir seperti ini tetapi sekarang ia selalu berpikir tentang pria itu. Pernah satu waktu ia sangat ingin menyentuh wajah Kyu Hyun tetapi ia menahannya mati-matian, ia tahu mereka punya batasan yang sangat tinggi. Ia selalu berpikir mungkin ini adalah ulah janin di dalam kandungannya. Orang bilang ibu hamil mungkin akan selalu rindu dan ingin bersama suami mereka, tetapi bagi Hyu Won hal seperti itu tak mungkin bisa ia lakukan. Kyu Hyun bukan suaminya, pria itu adalah… apa? Hyu Won bahkan tak bisa memberikan status yang tepat untuk Kyu Hyun. Mungkin bila ada yang bertanya ia akan menjawab Kyu Hyun adalah pelanggan yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri sekaligus pria yang menghamilinya.

“Kau terus melamun, apa kau sakit?” tanya Kyu Hyun ketika mereka telah duduk di kursi makan.

Ne?” Hyu Won menjawab dengan reflek. Ia tersadar dari lamunannya. “Aniyo,” balasnya lagi, Hyu Won menarik kursi agar lebih dekat dengan meja makan. Ia menatap meja makan yang terisi penuh makanan, ia bersyukur rasa mual di pagi hari mulai sedikit berkurang. Ia hanya mual pada beberapa jenis makanan saja.

“Apakah kau mual?” tanya Kyu Hyun lagi, ia menyadari Hyu Won sedikit diam sejak tadi. Gadis itu tak banyak bicara seperti biasanya, biasanya bila mulai berbicara mereka akan berakhir dengan pertengakaran.

Aniyo.” Balas Hyu Won singkat dengan gelengan, ia hanya merasa sedikit kenyang melihat banyak makanan yang tersaji di depannya. Kyu Hyun mengerutkan dahinya mendengar jawaban singkat gadis itu daritadi. Mengapa ia tak seekspresif biasanya?

“Kau banyak diam, tak seperti biasanya. Seperti anjingku ketika sedang sakit. ” Ucap Kyu Hyun tak acuh seolah menyindir Hyu Won, ia lalu menimba nasi ke piringnya. Hyu Won hanya tersenyum malas tanpa mau menanggapi lebih. Ia lebih kalem daripada biasanya.

Kyu Hyun kesal setengah mati dengan respon gadis itu, mengapa ia tak membalas ucapan Kyu Hyun dengan sinis seperti biasanya. Gadis itu selalu membalas setiap ucapannya yang bernada menyindir. Tapi pagi ini Hyu Won terlalu tenang, Kyu Hyun memutar otak untuk menanyakan beberapa hal lagi. Ia ingin memancing gadis itu.

“Aku akan bermain golf di halaman belakang, kau ingin ikut?” tanya Kyu Hyun santai.

“Tidak.” Balas Hyu Won lalu menyendokan makanan ke dalam mulut. Hyu Won mengerutkan dahinya saat memikirkan lapangan golf di belakang rumah Kyu Hyun, ia lupa Kyu Hyun mempunyai rumah sekaligus halaman yang sangat luas. Tentu saja dia memiliki semua itu, ia salah satu pengusaha muda yang sangat kaya di Korea. Apapun bisa ia miliki, termasuk memperlakukan dirinya sesuka hati. Hyu Won menjadi sedikit kesal dan marah bila mengingat ia bisa terjebak bersama pria angkuh seperti Cho Kyu Hyun di sini.

“Apa yang akan kau lakukan hari ini?” tanya Kyu Hyun lagi.

Hyu Won menatap Kyu Hyun yang sibuk mengunyah makanan dengan kesal, pria itu tak menyadarinya sama sekali. Hyu Won adalah orang yang tak suka berbicaraa saat sedang makan. “Tidak ada, mungkin aku akan bersantai saja.” Balas Hyu Won berusaha sabar. Ia sebenarnya ingin memprotes pria itu tetapi ia tak ingin merusak suasana hatinya.

Lagipula apa yang bisa ia lakukan lagi? Ia hanya akan duduk lalu menikmati pelayanan yang diberikan oleh Kyu Hyun. Walupun ia keluar rumah pun, ia tak akan bisa melakukan hal yang ia senangi. Ia merindukan kehidupan di luar rumah besar Kyu Hyun. Ia ingin sekali bertemu dengan Sungmin, ia tahu Sungmin mungkin sangat khawatir sekarang padanya.

“Kau mau aku memanggil orang salon ke mari supaya kau bisa melakukan perawatan tubuh?” tanya Kyu Hyun santai. Ia tahu gadis-gadis menyukai aktivitas yang bisa memanjakan tubuh mereka. Beberapa kekasihnya dulu menyukai hal seperti itu.

Hyu Won meletakan sendok miliknya lalu menatap Kyu Hyun tajam. Kesabarannya telah hilang sekarang. Kyu Hyun terus bertanya ini dan itu yang membuatnya kesal.

“Aku sudah bilang aku akan bersantai saja. Lagipula aku tak suka melakukan hal-hal seperti itu, jangan memperlakukan aku seperti putri di rumah ini. Aku bukan tuan putri!” balas Hyu Won sedikit meninggi. Kyu Hyun terkejut mendengar ucapan gadis itu. Ia senang karena gadis itu akhirnya berbicara seperti biasanya, tapi ia berubah kesal karena Hyu Won tak menghargai perhatian yang ia berikan.

“Mengapa kau harus berbicara sekasar itu padaku? Aku hanya bertanya.” Ucap Kyu Hyun berubah serius.

Hyu Won mendengus, ia menatap ke arah makanannya. Ia tak berani menatap Kyu Hyun. Kyu Hyun sangat menyeramkan bila mulai marah dan kesal. “Kau terus menanyakan hal-hal yang tak penting, kau membuatku jengkel setengah mati!” ucap Hyu Won tak peduli dengan tatapan tajam Kyu Hyun. Ia Berusaha mengabaikan tatapan Kyu Hyun. Ia muak dengan perlakukan Kyu Hyun padanya, ia ingin seperti dulu saja. Hidup seperti ini membuatnya akan gila sebentar lagi.

Kyu Hyun berusaha menekan hasratnya untuk membalas ucapan tajam Hyu Won, ia tahu gadis itu tak ingin diganggu sama sekali.

“Aku mengasumsikan hormon kehamilan yang membuatmu begitu sensisitif.” Ucap Kyu Hyun berusaha menghentikan amarah gadis itu agar tak kembali memuncak.

Hyu Won akhirnya mengangkat kepalanya lalu menatap Kyu Hyun dengan tajam. “Ya, benar. Mungkin aku bisa kuliah dan bekerja seperti biasanya kalau kau tak menghamiliku!” ucap Hyu Won kasar tanpa ia sadari, ia merasa aktivitas Kyu Hyun yang sedang makan seolah terhenti begitu saja. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tahu pria itu sedang menatap tajam ke arahnya. Mengapa ia tiba-tiba menjadi begitu merasa bersalah setelah mengatakan kalimat seperti tadi? Secara tidak langsung ia menyalahkan pria itu untuk semua hal yang sudah terjadi tetapi kalau dipikir-pikir Kyu Hyun memang penyabab semua hal ini terjadi padanya. Ia tak akan diusir dari rumah oleh In Hye kalau ia tak hamil, ia tak akan mengambil cuti kuliah, dan yang terpenting ia tak harus memikirkan perasaan bersalah yang selalu menghinggapinya bila mengingat Ji Hoon. Ji Hoon mungkin akan sangat kecewa padanya.

“Ya, kau benar seharusnya aku tak menjadi pria brengsek dan menghamilimu.” Ucap Kyu Hyun dingin, ia kembali melanjutkan makan. Ada perasaan perih di hatinya. Perkataan Hyu Won seolah menjadi tamparan untuk dirinya, gadis itu secara tak langsung menyalahkan dirinya. Entah mengapa Kyu Hyun merasa tak rela gadis itu berkata seperti itu. Gadis itu bersikap seolah Kyu Hyun adalah pria yang paling brengsek di dunia ini. Kyu Hyun tak ingin dianggap seperti itu. Ia ingin menjalin hubungan seperti dulu lagi dengan Hyu Won tapi faktanya banyak hal yang membuat hubungan mereka tak bisa senyaman dulu. Setiap ingin memperbaiki hubungannya dengan Hyu Won, ia selalu ingat akan kebenaran yang ia tutupi sehingga sikap yang selalu ia tunjukan pada Hyu Won adalah sikap dingin dan acuh tak acuh. Ia selalu ingin berada di samping Hyu Won tetapi ia juga selalu menjadi tak tenang bila mengingat kebenaran yang ia sembunyikan dari gadis itu.

Suasana diam di antara keduanya membuat Hyu Won tak berselera makan lagi. Ia meletakan sendok dan mengelap bibirnya. “Aku sudah selesai.” Ucap Hyu Won hendak berdiri namun Kyu Hyun mencegahnya.

“Kembali duduk dan habiskan makananmu,” ucap Kyu Hyun tak acuh.

“Aku sudah kenyang.” Balas Hyu Won tak mau mengalah.

“Kau hanya memakan beberapa sendok lalu mengatakan sudah kenyang? Duduk kembali dan habiskan makananmu, Kang Hyu Won.” Ucap Kyu Hyun memerintah. Kali ini Hyu Won tahu jenis kalimat seperti apa itu. Pria itu tak mau dibantah. Belum lagi pria itu memanggilnya dengan nama lengkapnya, Hyu Won sedikit banyak mulai mempelajari kebiasaan dan sifat Kyu Hyun selama mereka tinggal bersama. Kyu Hyun akan memanggilnya dengan nama lengkap bila ia mulai marah.

Hyu Won hanya menekuk wajahnya lalu kembali duduk dan menyantap makanannya. Inilah yang tak ia sukai, ia tak suka diatur seperti anak kecil. Dan Kyu Hyun selalu berhasil mengatur dirinya, pria itu akan berubah sangat menyeramkan dan mengintimidasi bila perintahnya tak dilaksanakan. Hyu Won benci dirinya yang selalu tunduk pada Kyu Hyun.

****

Sementara Kyu Hyun sedang bermain golf di halaman belakang, Hyu Won berjalan mengelilingi rumah Kyu Hyun yang sangat luas. Ia tak pernah benar-benar berjalan di rumah ini. Aktivitasnya hanya seputar kamar, ruang tengah, dapur lalu halaman belakang saja. Ia tak pernah berkeliling pada ruangan lain.

“Dia punya minat yang tinggi pada seni sepertinya,” ucap Hyu Won ketika menatap beberapa lukisan yang terpajang.

Hyu Won menatap sebuah pintu besar di depannya, ia tak pernah masuk ke dalam ruangan-ruangan di rumah ini. Tiba-tiba rasa penasarannya meningkat ketika melihat pintu besar itu. Ruangan apa itu? Mungkin ada sesuatu yang menarik di sana. Dengan langkah ringan dan penuh rasa ingin tahu, Hyu Won berjalan dan memasuki ruangan tersebut.

Mata Hyu Won berbinar-binar saat melihat isi ruangan tersebut, ruangan sangat luas dan sangat terang. Ruangan yang hampir sebagian dilapisi dinding kaca membuat Hyu Won takjub. Hyu Won mengasumsikan ini adalah ruang kerja Kyu Hyun. Tiba-tiba ia menjadi sedikit takut, bagaimana bila pria itu tak memperbolehkan orang untuk masuk ke mari? Tapi dengan cepat ia menepisnya, pria itu sedang bermain golf di halaman belakang. Ia mungkin tak akan ketahuan bila keluar dari sini dengan cepat.

Hyu Won berjalan menyusuri ruangan kerja ini, gadis itu menatap lukisan di dinding dan beberapa foto besar di mana terdapat dua orang tua paruh baya, seorang wanita muda yang sangat cantik, lalu wajah Kyu Hyun sendiri.

“Mungkin itu keluarganya.” Ucap Hyu Won bergumam.

Gadis itu berjalan menuju meja kerja lalu menatap ke arah jendela sekaligus dinding yang dilapisi kaca. Ia menatap pemandangan dari atas sini. Bibirnya tersungging senang melihat pemandangan indah di depannya. Gadis itu kembali menatap kursi di balik meja kerja tersebut. Ia tergerak untuk duduk di sana. Dengan cepat gadis itu duduk di sana, bibirnya bersenandung ringan. Tangannya bergerak menyentuh barang-barang di atas meja. Tiba-tiba matanya membulat saat ia mendapat ide di dalam kepalanya. Mengapa ia tak mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menghubungi orang di dalam ruangan ini. Sejak ia lancang menggunakan ponsel Kyu Hyun minggu lalu, ia tak pernah melihat ponsel atau alat komunikasi lainnya lagi disekitarnya. Ia juga tak pernah melihat telepon rumah di sekitar rumah Kyu Hyun. Kyu Hyun bahkan tak membawa ponsel ke dalam kamar lagi. Hyu Won selalu memeriksa jas Kyu Hyun setiap malam ketika mereka sudah tertidur. Tetapi hasilnya selalu nihil. Mungkin saja pria itu menyimpan ponselnya di ruangan ini. Siapa yang tahu?

Tangan gadis itu bergerak cepat memeriksa barang-barang di atas meja, ia mendengus kecewa saat tak menemukan ponsel. Ia menatap laci meja, ia kembali tersenyum. Masih ada harapan. Mungkin saja ponsel itu ada di dalam laci. Hyu Won membuka laci pertama dan mulai mencari-cari. Nihil. Ia lantas membuka laci kedua, hasilnya pun nihil. Di laci ketiga ia benar-benar menaruh harapan. Saat akan menarik, laci tampak tak terbuka. Sial. Dengan keras ia menarik lagi dan ternyata laci terbuka. Ia menyangka laci mungkin terkunci tapi ternyata tidak. Laci ketiga lebih penuh dari laci kedua dan pertama.

Gadis itu mengeluarkan isi laci dan meletakannya di atas meja. Ia mulai meraba mencari ponsel. Ia mendengus frustrasi saat tak menemukan apa yang ia cari. Tangannya dengan lemah meraih map-map yang ia keluarkan dari dalam laci, ia menatanya dengan rapi kembali. Tangannya menyentuh sebuah ampop coklat yang terasa begitu tebal tak seperti amplop dan map lainnya yang tipis dan terasa ringan. Ia meraba dari luar, isi amplop seperti sebuah benda kotak kecil lalu beberapa kertas yang terasa begitu tebal. Rasa penasarannya sedikit muncul untuk mencaritahu apa isi amplop coklat besar itu. Ia merasa gugup karena dengan lancang membuka amplop milik Kyu Hyun. Dengan mengabaikan rasa gugupnya, ia membuka amplok coklat tersebut. Ia memasukan tangannya lalu menarik kertas putih dari dalam amplop tersebut. Ia tahu ini sangat lancang tetapi rasa penasarannya begitu meningkat. Ia pun tak mengerti mengapa ia begitu penasaran. Adrenalinnya sedikit terpacu.

Ige mwoya?” pekik Hyu Won tertahan saat ia membaca namanya tertulis dengan lengkap pada sebuah kertas yang baru saja ia tarik. Ia menarik nafasnya lalu menelan ludahnya yang terasa membatu. Ia membaca satu per satu beberapa tulisan yang isinya adalah biodata dirinya. Tangannya bergerak menutup mulutnya yang menganga tak percaya saat membaca semua detail biodata tentang dirinya. Ia benar-benar tak mengerti mengapa Kyu Hyun memiliki semua data dirinya.

“Astaga… ini tempatku bekerja.” Ucap Hyu Won tak percaya saat membaca nama kafe milik Eun Hyuk. Rasa ngeri tiba-tiba menghinggapinya. Pikirannya mulai berkecamuk. Mengapa rasanya seperti Kyu Hyun telah menguntitnya sejak dulu?

“Jadi ia datang ke kafe bukan suatu kebetulan? Ya Tuhan…” ucap Hyu Won ngeri.

Hyu Won kembali meraba isi di dalam amplop, ia semakin penasaran dengan isi amplop coklat tersebut. Tangannya meraba benda persegi panjang berukuran kecil, ia lantas menariknya keluar. Dahinya berkerut bingung saat menatap sebuah USB di tangannya, ia mengabaikan benda tersebut. Tangannya kembali merogoh isi amplop coklat tersebut.

Ommo!” pekik Hyu Won saat dirinya melihat lembaran-lembaran foto di mana terdapat gambar dirinya.

Tubuh Hyu Won berubah lemas seketika, ia menatap foto-foto di tangannya. Dahinya berkerut, ia tak ingat kapan ia pernah melakukan aktivitas di dalam foto tersebut. Tapi ia tahu itu dirinya. Ada foto yang menunjukan ia sedang bekerja di kafe, sedang berada di Kyunghee University, dan banyak aktivitas yang ia sendiri tak ingat kapan itu terjadi. Ia menutup mulutnya shock. Ia benar-benar dilanda rasa penasaran dan ketakutan secara bersamaan. Mengapa Kyu Hyun bisa memiliki semua foto-foto dirinya?

Hyu Won kembali melihat foto-foto yang begitu tebalnya, hingga matanya membulat saat melihat sebuah gambar dirinya tengah diusir oleh In Hye. Itu belum lama terjadi, Kyu Hyun mengetahui semua aktivitasnya. Apa yang diinginkan pria itu sebenarnya? Rasa takut gadis itu semakin menjadi-jadi, Kyu Hyun bukan seorang pria biasa. Dia mampu melakukan semua ini bahkan melanggar batas privasi dirinya.

Hyu Won menghempaskan foto-foto di tangannya ke atas meja hingga tercecer berantakan, tak disangka ia justru melihat foto yang tak bermoral sama sekali.

“TIDAK!” pekik Hyu Won tertahan saat melihat foto di mana ia tak berbusana sama sekali, lalu disusul dengan foto di mana seorang pria sedang menindih tubuhnya. Itu Kyu Kyu Hyun tentu saja. Nafas Hyu Won berubah sesak, air mata tak bisa ia tahan lagi. Tangannya bergetar tak mampu memegang foto di tangannya. Rasa marah dan malu menghinggapi dirinya. Hyu Won menjatuhkan foto yang tak ingin ia lihat itu, kepalanya berubah menjadi begitu pusing dan nyeri. Ia menangis sesenggukan melihat kumpulan foto yang tercecer seolah sedang menertawakan dirinya. Mengapa Kyu Hyun melakukan semua ini padanya? Untuk apa pria itu mengambil gambar seperti itu setelah menidurinya?

Andwae…” geleng Hyu Won masih tak percaya, tangannya bergerak meremas rambutnya dengan kasar. Ia mengutuk semua yang baru saja ia lihat. Air matanya mengalir semakin deras, ia merasa dirinya baru saja masuk ke dalam sebuah jebakan yang diciptakan Kyu Hyun. Apakah pria itu memang sengaja melakukan hal seperti ini? Tapi untuk apa?

Hyu Won merasa begitu terhina dan bodoh. Apakah ia menjadi bahan permainan pria itu? Hyu Won menundukan kepalanya, pikirannya kembali berputar pada malam di mana Kyu Hyun merenggut kesuciannya. Ia terus mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi.

Hyu Won masih terus berusaha mengingat-ingat hingga samar-samar ia ingat cahaya terang yang menyilaukan wajahnya lalu seorang pria yang tampak berdiri di samping ranjang

“Nu-guya? Kenapa ada kamera?”

Andwae…” desah Hyu Won. Ia ingat Kyu Hyun tak hanya sendiri malam itu namun ia bersama seorang lagi. Hyu Won menggelengkan kepalanya dengan marah, apakah mereka memperkosa dirinya atau hanya Kyu Hyun yang melakukan hal kejam tersebut padanya. Hyu Won berubah kalut seketika.

“Arghh!” teriak Hyu Won berubah seperti orang yang tak terkendali. Ia bergidik ngeri memikirkan hal-hal buruk yang sudah terjadi malam itu. Ia marah karena tak bisa mengingat detail kejadian, kepala Hyu Won berubah begitu nyeri namun ia mengabaikannya. Ia harus menemui Kyu Hyun untuk meminta penjelasan untuk semua ini. Ia baru saja akan berdiri dan keluar dari ruangan saat pintu ruangan tersebut terbuka dengan lebar.

“Apa yang kau lakukan di sini?” suara berat Kyu Hyun terdengar dari arah pintu. Ia terkejut melihat Hyu Won berada di ruang kerjanya. Pria itu memutuskan untuk mengurus beberapa pekerjaan setelah bermain golf namun tak disangka ia justru menemukan Hyu Won berada di ruang kerjanya.

Hyu Won mengangkat kepalanya dan menatap Kyu Hyun dengan tajam. Tak ada tatapan lembut dan sendu seperti biasanya. Kyu Hyun bisa merasakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi sebentar lagi. Wajah gadis itu bahkan terlihat berantakan sekali. Kyu Hyun menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat tatapan Hyu Won yang menghunus tajam ke arahnya.

Hyu Won berdiri dari duduknya, gadis itu menghapus air matanya dengan kasar. Tangannya bergerak memunguti semua foto yang tercecer lalu kertas berisi biodata dirinya termasuk amplop coklat berisi USB. Gadis itu berjalan menuju Kyu Hyun dengan amarah yang berkilat di matanya. Kyu Hyun menatap Hyu Won bingung seolah menunggu apa yang akan dilakukan gadis itu padanya.

PLAK!

Tangan Hyu Won menapar pipi Kyu Hyun dengan keras tiba-tiba hingga meninggalkan bekas merah menyala di pipi kiri pria itu. Wajah Kyu Hyun mengeras seketika, Hyu Won terengah-engah dengan emosi yang tak bisa ia tahan lagi. Air matanya kembali mengalir namun ia segera menghapusnya lagi.

“Apa yang kau lakukan!?” bentak Kyu Hyun tak terima dengan apa yang Hyu Won lakukan padanya. Rasa emosinya meningkat seketika.

“Jelaskan apa maksud dari semua ini!” teriak Hyu Won keras lalu melempar semua foto dan kertas biodata serta amplop coklat ke dada Kyu Hyun. Kyu Hyun menatap benda-benda tersebut jatuh berserakan di lantai. Matanya membulat dan tubuhnya menegang seketika. Sedetik kemudian perasaan takut dan bersalah menghinggapi dirinya. Gadis itu menemukan benda-benda yang seharusnya tak diketahuinya.

Kyu Hyun tahu Hyu Won bukan gadis yang suka menggunakan kekerasan fisik tapi kali ini apa yang ia lakukan sudah membuat gadis itu tak bisa menahan emosinya lagi. Pipi Kyu Hyun terasa semakin berdenyut-denyut tapi itu semua tak sebanding dengan raut terluka di wajah Hyu Won. Lagi-lagi ia kembali menyakiti gadis itu.

Suasana berubah hening, Kyu Hyun masih diam tak menjawab sama sekali pertanyaan Hyu Won. Sedangkan Hyu Won terus menatap Kyu Hyun dengan amarah yang terlihat jelas di matanya. Gadis itu benar-benar menuntut jawab atas pertanyaannya pada Kyu Hyun. Kyu Hyun merasa seolah waktu berhenti begitu saja. Apakah sudah saatnya gadis itu tahu semua kebenarannya? Apakah ia sudah siap bila gadis itu memutuskan untuk pergi meninggalkannya? Seharusnya ia tahu cepat atau lambat hal seperti ini akan terungkap. Ia bersumpah akan melakukan apa saja agar gadis itu mau memaafkannya.

TBC

Gimana? Komentarnya coba? Apa yang diharapkan belum terjadi di chapter ini hehe.  Lagi pingin bikin moment antara Kyu sama Hyu Won dulu jadi maafkan wkwk. Sabar… sabar, yang sabar disayang Tuhan.

Makasih buat yang udah main ke twitter, ke blog, baca FF di sini, follow blog, komen di FF, siders juga. Pokoknya makasih buat semuanya! I love you all ♥

Advertisements

218 thoughts on “FF : For Her Brother [Chapter 3]

  1. Keadaan semakin rumit. Kalau kebenaran terungkap kasihan hyuwon, saat hamil keadaannya akan semakn tertekan, kasihan babynya. #serasa ini beneran dikehidupan nyata.
    Ahra udah balik kerumah ayahnya ya?

  2. Hihi iseng” liat nie wp,eh udah ada lanjutanya,,kyu mau menjaga dan bertanggung jawab ma hyu won ? Apa kyu udah mulai suka ya ? Jadi penasaran,,,tu TBC ngepas banget,,lagi tegang”nya juga. Di tunggu lanjutanya chingu 😀

  3. daebak^^ aku suka ceritanya thor penasaran bangwt ama kelanjutannya!! akhirnya jihoon pulang wkwkwk pengen tau gimana usahanya nemuin adeknya!! gimana ama sungmin, kasian dia mesti pusing nyariin hyuwon!! next yak thor

  4. Huaaa seharusnya kyuhyun ngaku aj dr awal. Malah klo kethuannya skg kan malah jd salah paham smua… Aduh tp klo diperlakukan gtu sih yah emg sih tetap aja past akan terus mencari cra utk kabur dr rmh itu

  5. kyuhyun udah kyk apaan ajh deh , masa hyu woon dikurung kyk gituh ,,,
    sungguh teganya dirimu tuan cho …
    ahh …
    eonnie akhirnya jihoon oppa keluar juga …

  6. Aigooo, hyaaaaak kenapa kau selalu muncul disaat tak tepat #tendangTBC jauh2…

    uwaaaa, pasti hyu won tambah susah maafin kyuhyun… Hmmm… Kasian ji hoon… Dy psti khawatir berat sma hyu won… Kalo dy ktmu kyuhyun, waduh, bakalan heboh t.. Penasaraaaaaaan… Huweee…

    ff yg slalu ditunggu2.. Fighting saeng, love all ur fanfics.. ^^

    • Hahaha moohon maaf buat TBC yang gak pernah ngenakin, itu emang udah jadi sifat dia wkwk *ngomongapasih*

      Kalo ji hoon ketemu Kyu, bakal perang dunia III haha. Makasihh udah nunggu ff aku, love you mwahhh~

  7. Aigooo, hyaaaaak kenapa kau selalu muncul disaat tak tepat #tendangTBC jauh2…

    uwaaaa, pasti hyu won tambah susah maafin kyuhyun… Hmmm… Kasian ji hoon… Dy psti khawatir berat sma hyu won… Kalo dy ktmu kyuhyun, waduh, bakalan heboh t.. Penasaraaaaaaan… Huweee…

    ff yg slalu ditunggu2.. Fighting saeng, love all ur fanfics.. ^_^

  8. pengennya di chapter selanjutnya hyu won tau niatan kyuhyun hihihi tapi juga tau dan ngerti alesan kyuhyun, maksutnya hyu won mau dengerin penjelasan kyuhyun 😀
    terus ntar kyuhyun dipaksa tanggung jawab sama ji hoon, nikahin kyu sama hyu 😀

  9. Tralalaaa..trilililii…. makinnn tegang..aku aja shock apalagi cho kyuhyun…aaahahaha…
    yoweiss kalo hyuwon dah tau kan makin cepet penyelesaian nya… kyu jg ga dosa buat bohong2 terus ke hyuwon..:)

  10. rasain lo kyu -.- kena akibatnya kn
    kyu bkal brani ngaku gk ya

    huft suka bgt karakter jihoon yg jd kakak pnyayang 😦 iriiiii

  11. OMG..!!!! Akihrnya ketawan juga tuh is kyu…!!!
    Penasaran ama kelanjutannya chingu..!!!
    Always wait for next chapt..!!! Spiritttt mmuuaaahhh

  12. akhirnya yg ditunggu tunggu publish juga❤️ tegang banget bacanya, aduh ini ff nya keren banget ih feelnya dapet banget :3 ffnya kak galuh emang selalu bagus deh
    itu kok ahra gaada dirumah kyuhyun? ahra tinggal dimana sih?-_- aku lupa hehehe
    keep writing>< penasaran bgt sama chap.4nya

    • Maafin bikin tegang hehe. Syukur kalo keren sama bagus (terharu), makasih udah bacaa^^ Ahra di part lalu kan ceritanya mau pulang ke rumahnya, jadi dia lagi di rumah ayah mereka. Diusahain cepet 🙂

  13. ahhh makin rumit deh, knp kyuhyun ga ngejelasin aja dari awal trus blg kek klo dy mau tanggung jawab gtu -,- kan akhirnya hyuwon tau sendiri

  14. Ya ampun kyu sumpah gak akan mudah untuk memaafkan dirimu..
    Apalagi kalau sampai hyuwon tahu alasan yg sebenernya…
    Hyu won pasti gak akan pernah terima kenapa dy harus diperlakukan seperti itu padahal dy tidak punya salah apapun..

    Bagaiman kalau nanti jihoon tau siapa yg menyebabkan adiknya menderita dan alasannya??
    Pasti dy juga gak akan terima..
    Bisa jadi jihoon akan membawa hyuwon pergi jauh..

    Kalau itu udah terjadi apa yg akan dilakukan cho kyu??
    Apakah dy akan terpuruk dengan penyesalannya??

    Duhhh gak sabar nunggu part selanjutnya..
    Jangan lama” ya saeng..

  15. disini kurang gereget gimanaa gtu ceritanya.. tapi tetep keren kok, aku mikirin trs itu nanti si kyuhyun ngomong ke hyuwonnya gmn, trs nanti apa reaksinya si hyuwon.. hahaha pokoknya aku tunggu yaa

  16. Bacanya menguras emosi, akhirnya hyuwon mulai tau permasalahannya. Berharap di next chapter hyuwon bisa ketemu jihoon. Ditunggu kelanjutannya

  17. Aduuuuh salah banget sih cara kyuhyun menebus kesalahannya mana ada orang yg mau tanggung jawab kaya gitu tuan cho????? Keliatan banget ya kalau kamu pria yg egois dasar tuan cho … kalau kaya gitu malah bikin hyu won makin tersiksa kasian dia hidup menderita terus 😯

  18. aaaa Nanggung banget itu TT_TT padahal dikit lagi hyu won marah besar 😀
    Kyuhyun egois, pemaksaan..>>> paket komplit dalam kategori menyebalkan :v

  19. anyeong
    woaaaaaaa ,, sedih deh , aaah hyu won akan ninggalin kyuhyun ? kah , lalu kyuhyun seperti mayat hidup,? tidak , ah jangan2 ,ya ampun , nggak tau mau ngomong apa lagi , yang penting ni ff ngubek2(?) perasaan ,, haha

    @_@+ selanjutnya sangat di tunggu , semoga nggak lama,, sudah penasaran tingkat…….

  20. Semakin…….. aaaaaa >.< entah lah aku gak bisa ngomong apa apa lagi masih kebawa sama alur cerita….. Sikap Kyu sama Hyu Won… mau di bilang jahat tapi tujuan dia baik… mau di bilang baik tapi kelakuan dia ke Hyu Won gak bisa dibilang baik juga… Sebenernya mau kyuhyun tu apa? -_-

    • Hahaha ini juga udah ngomong kali Nurul, Nahh ini nih. Bener. Akhirnya ada juga yg ngomong gini hehe. Kyu gak jahat2 amat kok, dia baik cuma caranya aja lebay banget. Salahin yg ngarang cerita ini wkwk.

  21. uwowuwow dag dig dug dag dig dug
    Hayooo hyu won marah, cho kyuhyun jujur aja udah walaupun itu berat.. tapi kalo kyuhyun nunjukin niat tulusnya buat minta maaf dan menubus semua kesalahannya terus tanggung jawab pasti hyu won bakal ngerti walaupun prosesnya gak gampang.. udah dilaporin ke polisi, terus ntar kyuhyun gimana??? uwaaahhh makin penasaran EONNI YA DAEBAK!!! thankyu :*

  22. semuanya ini salah ahra yang udah bikin kyuhyun jadi jahat dan sekarang dia mulai ngerasain rasa bersalah dan ketakutan kan
    ji hoon ma sungmin mungkin bakal ngehabisin kyu kalo tau
    poor hyu won kapan penderitaan dia berakhir udah kondisi hamil sakit hati dan kenyataan baru yang dia ketahui makin bikin dia frustasi pastinya

    • Iya intinya salah paham gara2 Ahra tapi bikin Kyu sama Hyu Won ketemu. Masalah nanti dihajar Ji Hoon Sungmin udah pasti wkwk *jahattt*
      Penderitaan Hyu Won secepatnya bakal berakhir kok 🙂

  23. annyong…
    aq readers baru d sini…, pas lagi nyari2 ff ttg kyu eh nemu deh blog ini…, aq dah baca part 1 mpe part 3 nya.., n mav y thor klo aq baru koment’a dsini…#peace
    aq suka cerita’a walaupun rada kesel ma kyu hyun, knp di ngelakuin tanggung jawab’a kaya gtu coba
    .., kan bikin emosi tingkat akut…, kasian kan hyu won’a…, ok deh thor d tunggu next part’a y…, jangan lama2 ok thor… 🙂

  24. kak sumpah tambaah seru banget ff nya nih deg deg ser nungguin lanjutan ceritannya nih ………
    lanjutannya jangan lama2 di post nya ya kak 🙂

  25. Anyeong aq readers bru… Sbnrx gk sih! Cz aq udah prnh berkunjung di blog km… Py itu udah lama (v) n skrng aq minta ijin buat ngubek” blog km
    Pas xri ff tntang chokyu eh ktemu lg ma blog km! N trxta ad ff baru plus ff bikin nguras air mata-#curcol
    Ag udh bc dr part 1-3 sory bru ngomen disini
    Di tunggu kelanjutanx…

  26. knapa hubungan kyuhyun sama Hyueon jdi kayak gitu sih?? ya ampun Kyu jangan terlalu banyak bikin tekanan ke Hyu won.. dia kan lgi hamil..
    noonanya Kyuhyun udah pindah ya?? kok ga ada dirmah Kyuhyun?
    yeeaayyy… Jihoon pulang..
    smoga masalah cepet beres deh.. and happy ending.. ^^ #hehe

  27. bolak-balik bca bru bs koment, jd penasaran gmn crt selanjutny^^
    muph ya saeng klo komentny lebay^^
    bnrkn hrs panggil saeng?

  28. dag dig dugg baca nya ! aaah i really hate you cho kyuhyun -_- miris bgt sm nasib hyu won ya ampun ada yah orang setega kyu yg udh nghamilin hyuwon dan setega inhye yg udah ngusir hyu won dr rumah ish ! jihoon tlg segera temukan adikmu hyu won menderita bgt ! bner kta hyu won klo kyu ga nghamilin dia dia mngkin masih kuliah dan ga diusir sm inhye hiks kasian bgt nasib mu hyu won-ah 😦

  29. hmm,,hyu won bisa terima kenyataannya dan mampu memaafkan kyu ga ya..setelah tau apa yg dilakukan kyu kepadanya dikarenakan kesalahan dalam membalas dendam??ditunggu next partnya saeng…..

  30. Aaaah ini kapan di lanjut lagi ?????
    Aku gk suka sikap hyu won yg lemaaah…ayo de,bikin hyu won memberontak sama kyu hyun…perjelas lg hubungan mrk,ky nya hbngn mrk msh sekedar pelayan dan pelanggan kan,blm ada penjabaran atas perasaan masing masing…
    Tetap di tunggu next chap nya…

    • Lagi proses kak. Dia emang lemah di ff For Her Brother, cewe lugu yang polosss banget hehe. Semoga di part 4 semua clear dan jelas perasaan mereka hhehe. Sipp pasti dilanjut, aku juga udah gatel pingin publish tapi masih edit sana sini biar enak dibaca 🙂

  31. aku suka alurnya..
    Wk..rasain tuh kyu,makanya jangan asal nyakitin orang. Haha

    Semangat yah eon buat lanjutannya.
    Semoga cepet publish ff ininya 🙂

  32. aku suka alurnya eonnie 🙂
    semangat nulis ffnya ya eon ^_^
    biar cpet pulishnya cuz aku udh gk sabar pengen bca lnjutannyan hehehe 😀

  33. makin seru n menegangkan bgt…..
    kyuhyun memoerlakuin hyu won dgn salah krn cuma gara2 diabtakut hyu won tau yg sebenar y alasan dia berbuat jahat ke hyu won krn balas dendam n ternyata dia salah balas dendam y….
    oppa y hyu won dah balik,,, deg2an gmn nanti klo koppa y tau semua n hmn nasib y kyuhyun….

  34. Hhhaaaaa Ini benar2 keren author-aah ({}) Kasian. Hyu won nasibx benar2 mirissss 😦 ahhh pokokx ini ff keren keren , keren sekali ‘lol campur aduk perasaan aku baca ini ff ~ berharap ini bakalan sad ending , hahaaaa :D. Amazing stories author-ahh

  35. Kasihan hyuwoon …. aku nangis baca pas. Jihoon sangat menyesal kenapa dia tidak bisa menjaga hyuwon… apa yang dilakukan kyu ya setelah semuanya terbongkar

  36. yaa ampun aku bingung harus memihak siapa karna sebenernya maksud kyuhyun baik cuma dia gak tau aja gimana cara yang tepat buat ngehadepin hyu won
    aku sih cuma takut aja ji hoon marah besar sama kyu dan misahin hyu won sama kyu :((

  37. Wehhh kyu jd lbih over protektif y smnjak tw hyu won hamil ank ny. Smpe2 hyu won dlarang keluar kamar. Brasa jd tawanan ny kyu…
    Nah lo ji hoon udh pulang. Dy pzt bkal nyari adikny. It eomma angkatny bner2 pilih kasih y. Jahat bgt.

  38. Huhahhhh kieain tinggal bareng bakalan bisa romantis eh taunya malah enggak sakitttt kak wqwq. Kyuhyun bisa romantis gak? Masa dingin dan tanpa ekspresi sih

  39. Kyuhyun kaya memiliki kepribadian ganda,,dia ga segan melukai hyuwon saat emosi nya memuncak meskipun sedang hamil anaknya..
    Kenapa ga jujur aja si kyupil(?) kalo kamu jatuh cinta&ga mau hyuwon meninggalkan dirimu bang..

  40. Justru aku lebih suka moment kyuhyun sama hyuwon.
    Ahhh semoga kyuhyun di hukum sama hyuwon.
    Tapi satuin mereka plis.
    Ahhh kasin sih sebenernya sama hyuwon, udah hyuwon lg hamil pasti emosinya ga stabil.
    Jangan cape2 yah sama jangan depresi inget lg hamil

  41. makasih thor buat cerita’a 🙂
    cerita’a makiin seru 😀
    kalau aku jadi Hye won, aku nggak bakal cma nampar kyuhyun tapi langsung aku cekek aja tuh si kyuhyun *tapi nggak tega juga siih ngebunuh kyuhyun oppa yang guuanteng hehehe*

  42. arghhhhhttttt tambah seru ajja …
    kyuhyun sedikit gila, maksud aku rasa ketakutan akan kehilangan hyu won lah yang bikin dia jadi salah ..
    coba lah untuk jujur kyu,

  43. Author nya gmna ya ..
    Kyuhyun sbenarnya mau tanggung jwb tpi knapa mlah kya nyandra gtu.

    Ehhh
    Authornya ayo satuin kyuhyun sma hye won lg..

  44. hemm..agak BT sama ahra..arghhh..knapa dia kesannya malah nyalahin kakak hyowon…arghh
    apa mau dikata
    nasi syudah menjadi bubur

  45. Dughh, kyu bukan’a jujur ajah kan klo kyak gini hyewon makin murka!!!

    Ahra jga ckck nyebelin bnget,, dikira beneran di hamilin ma jihoon tpi ternyata dy yg selingkuh!!

  46. ituh Kyu Hyun over protective karna pingin tanggung jawab sama Hyu Won ato karna takut Hyu Won kabur terus kembali ketempatnya Sung Min???
    Ji Hoon udah kembali ke Seoul..tapu Ji Hoon dapet kejutan bertubi2..tau kalo In Hye ngusir Hyu Won karna hamil..nyari Hyu Won tapi ngak ketemu…kasihan kamu Ji Hoon…karna salah paham malah imbasnya ke Hyu won…
    Hyu Won udah tau tentang foto2 yg diambil orang suruhan Kyu Hyun…udah lah Kyu Hyun jujur aja kamu harus jadi lelaki yg bertanggung jawab..berani ambil resiko kalo Hyu won bakal benci sama Kamu…moga aja Ending nya Happy Ending ya…Hyu Won bisa nrima Kyu Hyun.

  47. Akhirnya Hyuwon tau juga. Meskipun dia belum tau alasan sebenarnya tapi setidaknya ia tau apa yg sudah Kyuhyun lakukan selama ini.
    Jihoon pasti kaget banget kalau tau laki-laki yang menghamili adiknya adalah adik dari wanita yg menghianatinya dulu.

  48. hai kak galuh.. aku readers baru.. hehe.. ff’ny ini keren kak..👍👍 aku baru baca yg ini.. keep writing kak ✊👏

  49. hai kak galuh.. readers baru di sini.. hehe..

    baru baca yg ini.. keren banget kak.. 👍 greget banget sama kyu.. lanjut part end’ny.. keep writing kak…..😄😄

  50. kak galuh.. boleh minta pw for her brother part 4nya gak?? kalo boleh tolong kirim di email ku ya kak.. gomawo..☺

  51. Akhirnya ktahuan juga kan, kasihan hyuwon dah jd plampiasan dendam yg salah sasaran. Lanjut baca ah, tp part selanjutnya diprotec, hhhhh….hrs sabar lg nungguin pw

  52. Sepandai-pandainya kau menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga bau nya. So cho kyuhyun selamat atas konsekuen dari apa yg telah kau lakukan😈😂

  53. akhirnya terungkap sudah ….
    kyu kamu ternyata pengecut ya
    ga gentle….

    aduh ga sabar pingin tau end nya….
    saeng … toolllloooong doonggg

  54. Makanya kan Kyu kalo mau bertindak cari tau dulu, jangan ank orang main rusak aja. Makin gregetan sama Kyuhyun. Bakalan gimana ya kelanjutannyaa

  55. Ahh kangen ff inii.. jdi baca ulang lgi deh, kak galuh lgi sibuk bgt ya? Aku tunggu bgt ff never be the same nya. Fighting!!

    Mnta pw part end ya kak 😂

  56. Sakit hati yg dialami hyu won pasti teramat dalam saat liat foto dy dgn kyu g bisa ngebayanginy .. dan kyu semoga dy bisa memperbaiki keadaanny .. Aigoo akhirny ji hoon oppa tw kenapa hyu won kabur??

  57. Daebak… udah lama gk baca ni ff… masih ttep aja baper… nangis bombaaayy.. agak gemes sama kyupil di ff ni.. seenaknya aja bikin anak org tekdung kyak gituuuu… huweeeee… last part… tunggu yee.. aq nanya password dulu ame author yg kece atu ni.. wkwkwk…

  58. komen pertama dipart 3 dulu kak, heheh. suka ceritanya. ini cerita pertama yg dibaca di wp kakak. keren. penasaran gimana endingnya. salam kenal kak.

  59. Keren banget. ..aq suka banget smff ini sedih banget gimana ya endingnya penasaran apakah kyuhyun akhirnya jatuh cinta sama hyuwon

  60. dari kemaren mau komen di ff ini ga bisa terus. akhirnya baru komen deh dan maaf lgsg ke part 3 hihi, mian authornim.
    akhirnya kyu sadar kalo dia salah sm hyu won. jangan sampe hyu won jadi benci sm kyu gara2 kyu ga jujur dari awal. daebak thor

  61. Salam kenal ka…
    Aku reader baru nih ka.
    Di part awal aku ngga komen tapi sekarang aku komen ka.
    Nybelin kyuhyun dia itu suka atau merasa bersalah sihh. Juga dia terlalu gegabah. Jadi pingin njitak kyu deh. Kan kasian hyu wonnya.
    Btw semangat ka nulisnya deh.. Oke ka. Cukup sekian . Pai pai

  62. Kyuhyun kamu mau beetanggung jawab tapi tanggung jawabmu hanya sebatas menjaga dan melundungi gak ada status yg jelas . Wanita mana yg mau di gantung seperti hyuwon sudah hamil pula..
    Maaf langsung baca part 3

  63. Ahirnya hyuwon tau semuanya, hrusnya kyuhyun bilang dri awal, mungkin hyuwon bisa mnrimanya.
    Ksihan hyuwon, dia mrasa terhina saat mlihat fto dia yg ga pke apa2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s