FF: Never Be The Same (Part 10-END)


Warning : Don’t Copas Without My Permission. Tuhan melihatnya.
Assalamualaikum, hai semua! Maaf buat harkosnya. Aku janji buat publish februari tapi ternyata banyak hal-hal tak teduga yang terjadi. Intinya minta maaf ya, dan happy reading! Semoga kalian suka.

Author (Owner) : gluu

Genre : Family, Hurt/Comfort, Drama, Romance

Rating : PG 17

Length : Chaptered

Cast :

–       Kang Hyu Won (OC)

–       Cho Kyu Hyun of Super Junior

–       Park Jung Soo a.k.a Lee Teuk of Super Junior

Ten Years Ago…

Kyu Hyun berdiri dan menatap Hyu Won dengan marah. Dia tak menyangka menemukan Hyu Won berada di dalam satu kamar bersama Min Seo. Tadinya dia tak ingin mempercayai ucapan Na Mi tapi faktanya Hyu Won memang bersama dengan Min Seo.

“Oppa–”

“Aku ingin percaya padamu tapi kau selalu mempermainkan kepercayaanku. Kubilang untuk menjauhi Min Seo tapi kau terus-menerus mendekatinya. Terserah apa yang ingin kau lakukan sekarang, aku tak akan peduli lagi. Ayo kita pergi Na Mi-ah.” Ucap Kyu Hyun lalu meraih tangan Na Mi.

Hyu Won membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, Kyu Hyun pergi meninggalkan dirinya. Bibirnya bergetar menahan emosi, kemudian disusul air mata yang mengalir. Tangannya bergerak menghapus air matanya.

“OPPA!” Hyu Won berteriak memanggil Kyu Hyun tetapi pria itu tak berbalik sama sekali. Pria itu pergi dengan Na Mi meninggalkan Hyu Won di dalam kamar hotel bersama Min Seo.

Min Seo tersenyum menyeringai melihat Hyu Won yang menangis tersedu-sedu, ada kepuasan tersendiri melihat Hyu Won dan Kyu Hyun bertengkar. Pria itu berjalan pelan mendekati Hyu Won yang masih menangis. Tangannya bergerak memeluk tubuh Hyu Won.

“APA YANG KAU LAKUKAN?” teriak Hyu Won terkejut, ia menjauhi Min Seo tetapi pria itu dengan santai berjalan mendekati Hyu Won. Ia menarik tubuh mungil Hyu Won lalu mendorongnya hingga terbanting ke dinding. Hyu Won meringis kesakitan merasakan punggungnya terantuk dinding.

“Tch! Dari pada menangisi pria seperti Cho Kyu Hyun, lebih baik kau bersenang-senang denganku.” Ucap Min Seo dengan gelagat mencurigakan, Hyu Won hendak berlari menuju pintu namun Min Seo kembali menahan gadis itu lalu benar-benar mendorong Hyu Won hingga terjerembab ke lantai.

“Min Seo! Apa yang kau inginkan!?”

“Kau tentu saja.”

“Apa yang sebenarnya kau dan Na Mi rencanakan?” teriak Hyu Won marah. Tubuhnya masih terjerembab tak bisa berdiri, Min Seo kemudian berjalan santai dan pria itu dengan kejam menginjak tangan Hyu Won dengan keras. Ia berusaha menahan gadis itu agar tak berdiri.

“Akh! Appo…” ringis Hyu Won tapi Min Seo sama sekali tak memedulikan ringisan gadis itu.

“Kau seharusnya tak pernah mengikuti kami, dasar bodoh. Kim Na Mi, ia sudah menjualmu padaku. Aku sudah membelimu dengan sangat mahal jadi kau jangan pernah bertindak semaumu lagi. Kau itu sekarang milikku!”

DEG!

Hyu Won menatap Min Seo dengan tidak percaya, ia tak peduli lagi dengan nyeri yang mulai muncul di pergelangan tangannya. Hatinya sakit sekali mendengar ucapan Min Seo. Bagaimana bisa Kim Na Mi menjualnya?

“Kau pembohong!” ucap Hyu Won lalu memukul kaki Min Seo dengan keras. Pria itu meringis kesakitan lalu tanpa sadar mengangkat kakinya yang semula menginjak tangan Hyu Won. Melihat kesempatan itu membuat Hyu Won segera berdiri. Ia berlari menuju pintu namun Min Seo sekali lagi bergerak dengan cepat untuk menahan gadis itu. Kali ini ia menarik rambut Hyu Won. Hyu Won berteriak kesakitan hingga suaranya rasanya seperti akan habis. Min Seo berjalan menuju dinding hendak membanting gadis itu lagi namun Hyu Won dengan cepat berkelit. Naas, tubuhnya limbung hingga ia terjatuh tepat di bawah kusen jendela.

“Dasar bodoh!” ucap Min Seo lalu berjalan menuju Hyu Won. Pria itu tanpa sengaja menatap ke luar jendela. Bibirnya menyeringai jahat saat melihat Kyu Hyun dan Na Mi yang sedang berjalan menuju gerbang hotel. Dengan tak berperasaan ia menarik Hyu Won hingga gadis itu berdiri, ia lantas mencondongkan kepala gadis itu hingga sebagian tubuhnya berada di luar jendela.

“Lihat! Dua orang yang kau sayangi pergi bergitu saja setelah mendapat uangku. Lihat!” teriak Min Seo puas.

“OPPA! EONNIE!”

“Berteriaklah…” ucap Min Seo dengan tawa mengejek.

“Kyu Hyun oppa! Na Mi eonnie! Jangan tinggalkan aku!” isak Hyu Won saat melihat dua orang yang ia sayangi berjalan meninggalkan hotel dengan tergesa-gesa. Hyu Won kembali berteriak dengan kencang, ia terus berteriak tak peduli jarak antara lantai dua hotel dengan Kyu Hyun dan Na Mi begitu jauh. Gadis itu berteriak hingga suaranya rasanya seperti akan habis namun kedua orang tersebut tak berbalik sama sekali.

“Dasar bodoh! Mereka tak akan mendengarmu!” ucap Min Seo lalu menarik tubuh Hyu Won dari jendela, ia lantas menutup jendela. Pria itu masih mencengkram kasar rambut dan lengan Hyu Won.

“Lepaskan aku! Kau bajingan!”

PLAKK PLAKK

Tangan Min Seo mendarat kencang di pipi gadis itu tanpa belas kasih. Hyu Won terjatuh sekali lagi hingga kepalanya terasa begitu pusing, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Hyu Won meringis pelan. Ia berusaha mengabaikan denyutan tak nyaman di kedua pipinya. Belum pernah dalam hidup dia diperlakukan seperti ini. Hyu Won berisaha menjaga kesadarannya. Ia tak boleh jatuh pingsan sebelum keluar dari kamar hotel ini.

“Kenapa kau dan Na Mi melakukan ini padaku?” tanya Hyu Won lirih.

Min Seo berdiri dengan angkuhnya, ia menatap Hyu Won dengan sorot mata tajam. Rasa iba menghampirinya tapi segera diganti dengan kemarahan dan kekesalan. Pria itu berjongkok lalu dengan santai meraih dagu Hyu Won hingga gadis itu mendongakan kepalanya. Min Seo bisa menatap tatapan kebencian di mata Hyu Won untuknya.

“Kau tanya mengapa aku melakukan ini semua? Kau adalah gadis yang paling sombong yang pernah aku temui. Mengapa gadis kecil sepertimu berani sekali menolakku? Aku bisa memberikan apa pun yang kau inginkan, Kang Hyu Won. Dibandingkan dengan Cho Kyu Hyun-mu itu, aku memiliki segalanya. Banyak gadis-gadis yang ingin bersamaku. Tapi kau, kau bahkan tak pernah menatapku. Bagimu aku ini sampah, kan? Kau hanya menatap Kyu Hyun oppa-mu itu. Menjengkelkan sekali.” Ucap Min Seo dengan dingin.

“Aku tak suka pria sepertimu. Kau pembuat onar dan pengganggu gadis-gadis. Walaupun kau memiliki dunia di tanganmu, aku tak akan berlari kepadamu. Benar, kau itu sampah.” Ucap Hyu Won dengan tenang.

“Sialan!” umpat Min Seo lalu dengan kejam menarik Hyu Won bangun dari lantai. Pria itu menyeret Hyu Won lalu membanting gadis itu ke atas ranjang.

Hyu Won segera bangkit namun Min Seo lebih dulu naik dan menindih gadis itu. “Kau masih punya nyali yang besar juga, Kang Hyu Won. Itulah mengapa aku sangat ingin memilikimu.”

“Lepaskan aku Min Seo!” Ucap Hyu Won. Ia menelan ludahnya dengan gugup, ia menatap pintu berharap Kyu Hyun kembali dan menolongnya. Ia tak ingin berada dalam situasi seperti ini.

“Jangan berharap. Aku sudah membayar mahal untuk dirimu, kau milikku sekarang!”

“Aku bukan milikmu!” ucap Hyu Won lalu dengan gerakan cepat ia menendang selangkangan Min Seo dengan lututnya. Min Seo seketika itu merintih kesakitan dan bangkit dari tubuh Hyu Won. Hyu Won segera berlari.

Melihat Hyu Won yang berlari ke arah pintu membuat Min Seo geram. Tanpa memedulikan rasa nyeri di selangkangannya, ia segera menghampiri Hyu Won.

“Mau ke mana kau, gadis sialan! Jangan harap kau bisa kabur!” ucap Min Seo degan geraman. Hyu Won semakin panik, langkahnya semakin mendekati pintu namun pintu justru terbuka sebelum ia membukanya.

CEKLEK!

Hyu Won terkejut saat melihat Jang Hyuk berdiri di depan pintu, Jang Hyuk adalah teman Min Seo. Keduanya adalah senior Hyu Won di sekolah. Jang Hyuk dan Kyu Hyun serta Na Mi adalah teman sekelas.

“Ah Jang Hyuk-ah! Kau datang?”

“Whoaa! Ada apa ini? Aku melewatkan sesuatu?” suara Jang Hyuk terdengar begitu mengerikan. Hyu Won memundurkan langkahnya ketakutan, ia tahu ia tak akan selamat kali ini.

Kyu Hyun oppa, tolong aku. Ucap Hyu Won dalam hati. Matanya berkaca-kaca, ia benar-benar ketakutan sekarang.

“Pegang dia!” perintah Min Seo.

“Shirreo!” ucap Hyu Won lalu berlari dari Jang Hyuk, Jang Hyuk menyeringai. Ia memindahkan rokok yang tadi ia pegang kembali ke bibir. Dengan kesenangan yang tidak normal ia mengejar Hyu Won yang berlari memutari kamar hotel. Gadis itu berlari hingga sudut kamar, ia tak bisa ke mana-mana. Jang Hyuk hanya berada beberapa meter di depannya, sementara Min Seo masih berdiri di dekat pintu. Mati sudah!

“Menyerahlah, kau tak akan ke mana-mana. Jangan suka bermain seperti kucing, gadis bodoh.” Ucap Jang Hyuk.

“Shirreo sunbae… shirreo…” ucap Hyu Won memohon.

“Jangan pasang wajah memelas seperti itu, di mana Hyu Won yang tangguh dan pemberani?” tanya Jang Hyuk.

Jang Hyuk menatap Hyu Won, lalu tangannya bergerak melepas rokok di bibirnya, ia mengembuskan asap rokok hingga aromanya memenuhi ruangan. Kakinya bergerak perlahan mendekati Hyu Won, Hyu Won menggelengkan kepalanya memohon namun terlambat. Jang Hyuk telah menangkapnya.

“Andwaeee!” teriak Hyu Won meronta. Gadis itu meronta sekuat tenaga, merasa kesal dengan rontaan Hyu Won, Jang Hyuk dengan kejam menyundutkan rokok yang ia hisap ke tangan Hyu Won.

“Appo!” ringis Hyu Won saat merasakan tangannya terbakar, ia menatap bekas sundutan rokok di tangannya dengan ngeri. Rasanya perih sekali. Belum pernah dalam hidupnya dia diperlakukan seperti ini. Ini meninggalkan ketakutan yang sangat besar dalam hatinya.

“Jangan banyak bertingkah, dasar pelacur kecil!” ucap Jang Hyuk lalu mendorong tubuh Hyu Won ke atas ranjang.

“Shirreo…” ucap Hyu Won memohon dengan tangis keras. Dia ketakutan setengah mati.

Min Seo menatap Hyu Won dengan bengis. “Gadis ini mungkin harus diberi pelajaran agar dia tahu siapa aku.” Ucap Min Seo pada Hyu Won.

Seolah dibutakan oleh emosi, Min Seo tak memedulikan tangis Hyu Won. Pria itu justru terus melancarkan aksi kejamnya. Dia memukul, menendang, dan meyiksa Hyu Won sampai dia puas. Tak dipedulikannya raungan kesakitan Hyu Won memenuhi kamar hotel. Dia benar-benar sudah dibutakan oleh emosinya. Hyu Won tak bisa bergerak sama sekali. Tubuhnya nyeri di mana-mana, dia tahu mungkin beberapa tulang rusuknya sudah patah.

 “Keluar dari sini Jang Hyuk-ah!” perintah Min Seo.

Hyu Won mengerutkan dahinya bingung mendengar perintah Min Seo. Apakah pria itu sudah berhenti menyiksanya? Hyu Won mengalihkan tatapannya pada Min Seo. Matanya membulat seketika saat melihat tangan pria itu bergerak membuka ikat pinggang celananya.

“Apa yang akan kau lakukan!?” tanya Hyu Won ngeri.

Min Seo hanya menyeringai membalas pertanyaan Hyu Won. “Aku akan membuatmu menjadi milikku, Kang Hyu Won.” Ucap Min Seo.

“SHIRREOHHH!”teriak Hyu Won.

Hyu Won terus berteriak keras dan meronta sekuat tenaga. Tapi apa yang dia lakukan sia-sia. Malam itu Min Seo melampiaskan nafsu binatangnya pada gadis itu. Hyu Won tak tahu apa yang akan Min Seo lakukan padanya setelah ini tetapi yang ia tahu pasti hidupnya tak akan sama lagi setelah malam ini. Tubuhnya luka dan memar di mana-mana, jiwanya terguncang. Min Seo mengambil semuanya dan tak menyisakan apa-apa kecuali rasa takut dalam dirinya.

****

Uhm’s Family Home

11.30 PM

Kyu Hyun mengeratkan pelukannya pada tubuh Hyu Won. Beberapa kali dia mengusap kepala gadis itu dengan lembut lalu melayangkan kecupan-kecupan kecil di sana. Pria itu menempelkan dagunya di atas kepala Hyu Won lalu menarik gadis itu semakin dalam ke pelukannya. Ketika Hyu Won bergerak dalam tidurnya, Kyu Hyun akan langsung mengusap lengan gadis itu agar gadis itu kembali tidur nyenyak. Kyu Hyun seperti seorang ibu yang sedang meninabobokan anaknya.

“Ngghh…” lenguh Hyu Won.

“Ssst~” ucap Kyu Hyun menenangkan gadis itu.

Kyu Hyun menatap Hyu Won yang sudah terlelap sejak tadi setelah menangis penuh emosi. Dia tahu gadis itu lelah, bukan hanya lelah fisik yang Hyu Won rasakan tetapi batinnya juga terguncang.

Saranghae. Saranghae. Saranghae.” Ucap Kyu Hyun berkali-kali lalu lagi-lagi mengecup kepala gadis itu.

Kyu Hyun menatap karpet bulu di atas lantai kamarnya. Dua jam yang lalu dia dan Hyu Won saling menumpahkan emosi dan kesedihan di atas sana. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana Hyu Won menceritakan semua detil kejadian yang menimpa dirinya di malam naas sepuluh tahun lalu. Gadis itu mencurahkan semuanya dengan tubuh bergetar hebat. Kyu Hyun berusaha menghentikan gadis itu karena tak sanggup melihat Hyu Won tersiksa tetapi Hyu Won terus berbicara tanpa henti.

Melihat Hyu Won yang terlelap membuat Kyu Hyun tersenyum simpul. Rasa kantuk melandanya tetapi ia tak bisa tidur, ia masih terus terjaga. Kyu Hyun yakin sekali dia tak akan bisa tidur hingga besok pagi. Pikirannya masih berkecamuk seperti kabel kusut. Dia masih mencerna dan menelisik apa yang sudah ia lewatkan selama bertahun-tahun tanpa Hyu Won. Hyu Won tidak melewati hari-harinya dengan mudah. Gadis itu mungkin melewati setiap harinya dengan penderitaan yang tak bisa dideskripisikan dengan kata-kata. Kyu Hyun sekarang paham mengapa Hyu Won sangat tertutup pada siapa pun. Gadis itu mengalami trauma yang mendalam.

****

Sementara itu di luar Kamar…

Ji Won dan Jae Ho masih duduk menyender pada dinding di samping pintu kamar Kyu Hyun. Keduanya enggan pergi ke mana-mana walaupun tubuh mulai terasa lelah dan rasa kantuk mulai menghampiri. Masih jelas dalam ingatan mereka bagaimana Hyu Won menangis di dalam sana menumpahkan semua penderitaannya selama ini. Niat awal mencari tahu bagaimana perkembangan hubungan putri mereka justru berakhir ironi.

Ji Won mengusap air matanya yang terus mengalir. Dia merasa menjadi seorang ibu yang tak berguna untuk putri semata wayangnya. Seharusnya dia ada di samping Hyu Won dan memeluk gadis itu ketika gadis itu melewati masa-masa kelamnya. Dia justru hidup seperti orang normal di saat putrinya menderita di luar sana. Dua puluh lima tahunnya terlewati begitu saja tanpa berada di sisi gadis itu. Apa yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki semua itu?

Yeobbo, ayo kita ke kamar. Di sini dingin, nanti kau sakit.” Ucap Jae Ho dengan suara seraknya.

“Aku sangat ingin memeluknya,” ucap Ji Won dengan suara bergetar. “Sangat ingin.”

“Aku tahu… aku tahu.” Ucap Jae Ho.

“Kita bukan orang tua yang baik untuk dirinya.” Ucap Ji Won lagi, kali ini semakin terisak. Wanita itu berusaha meredam tangisnya hingga yang terasa adalah rasa sesak luar biasa di dalam dada.

“Maafkan aku.” Ucap Jae Ho. Dia meminta maaf untuk segalanya. Sebagai kepala keluarga seharusnya dia tak menjadi pengecut dengan meninggalkan putrinya dulu demi sebuah restu. Kalau dia berani mengambil risiko, maka mungkin Hyu Won tidak akan pernah mengalami semua penderitaan ini. Mereka bisa menjadi sebuah keluarga kecil yang bahagia.

“Aku tahu sekarang mengapa dia begitu takut menggunakan pakaian terbuka, aku tahu sekarang mengapa dia begitu terkejut begitu aku menyetuh tubuhnya, aku… aku tahu sekarang mengapa di tubuhnya banyak luka seperti itu.” Ucap Ji Won lalu menangis di dalam pelukan Jae Ho. Hati ibu mana yang tidak teriris melihat putrinya diperlakukan dengan kejam seperti itu.

Aku akan menebus semua dosaku, aku akan menjagamu putriku. Ucap Jae Ho di dalam hati. Pria itu mengecup kepala istrinya lalu mengangkat tubuh ringkih istrinya. Mereka harus pindah ke kamar kalau tidak mau sakit keesokan harinya.

****

A Morning…

Hyu Won bergerak dalam tidurnya sebelum akhirnya dia mengerjapkan matanya lalu membukanya. Dia merasakan pelukan hangat di sekitar tubuhnya, ia lantas mendongakan kepalanya dan mendapati Kyu Hyun-lah pemilik lengan kokoh yang sajak tadi memeluknya. Gadis itu mengalihkan tatapannya pada jarum jam di dinding. Sudah pukul sembilan dan Kyu Hyun masih saja tidur. Pria itu tidak akan bekerja?

“Kyu Hyun oppa?” panggil Hyu Won lembut.

Oppa, bangun.” Ucap Hyu Won.

Oppa?” panggilnya lagi tetapi dia tak mendapat jawaban. Napas Kyu Hyun terasa begitu teratur. Hyu Won jadi tidak tega membangunkan pria itu. Dengan perlahan dia berusaha melepaskan pelukan pelukan Kyu Hyun tetapi pria itu justru terbangun.

“Kau mau ke mana?” tanya Kyu Hyun serak. Pria itu menatap jarum jam, dia baru tertidur satu jam. Sejak semalam hingga pukul delapan tadi dia tak bisa memejamkan matanya, baru satu jam yang lalu matanya akhirnya bisa terpejam.

“Aku mau mandi. Oppa, tidak bekerja?” tanya Hyu Won.

“Nanti pukul sepuluh.” Ucap Kyu Hyun. Dia sepertinya butuh tidur satu jam lagi. Dia baru merasakan kantuknya sekarang.

“Kau baik-baik saja?” tanya Hyu Won.

“Seharsunya aku yang bertanya, matamu sembab sekali. Kepalamu pasti pusing.” Ucap Kyu Hyun dengan kekehan.

Hyu Won lantas reflek mengusap matanya lalu membenarkan ucapan Kyu Hyun dalam hati. Pria itu benar, kepalanya pusing sekali tetapi ia ingin cepat mandi dan membantu Ji Won di luar. Wanita itu mungkin sudah selesai memasak. Dia juga berhutang rasa terima kasih karena Ji Won-lah yang menyemangatinya untuk berbicara dengan Kyu Hyun. Mengingat itu, membuat Hyu Won tiba-tiba berubah murung, dan perubahan itu tak luput dari pandangan Kyu Hyun.

“Ada apa?” tanya Kyu Hyun.

“Mengenai semalam–”

“Sudah Kang Hyu Won, aku sudah mengetahui semuanya dan tidak ada yang berubah di dalam hatiku. Perasaanku padamu, rasa cintaku padamu, rasa sayangku padamu, kerinduanku padamu, semua masih sama. Kau tetap gadis yang kuimpikan sejak masa remajaku. Kau gadis yang membuat hatiku berdebar-debar setiap saat.” Ucap Kyu Hyun lembut.

Hyu Won menundukan kepalanya dalam. Pernyataan Kyu Hyun menyentuh hatinya, perasaannya menghangat seketika. Tiba-tiba semua kekhawatiran di dalam hatinya menghilang seketika. Namun kembali bergejolak ketika membayangkan bagaimana masa depan yang akan mereka lewati nanti. Apakah semua akan berjalan dengan mudah?

“Hyu Won?” panggil Kyu Hyun.

“Aku tidak sempurna, oppa. Sekarang kau mungkin bisa menerima semuanya tetapi beberapa tahun lagi saat kau merasa muak kau akan menyesali apa yang sudah terjadi.” Ucap Hyu Won.

Kyu Hyun memejamkan matanya sekilas. Dia tahu harga diri rendah yang Hyu Won rasakan tak akan bisa dihilangkan begitu saja tetapi dia ingin gadis itu sekali saja tak perlu mengkhawatirkan apa yang belum tentu terjadi. Dan dia pastikan tidak akan pernah terjadi.

“Kalau ada yang harus aku sesali maka itu adalah membiarkanmu pergi dari hidupku. Aku tak akan melepaskanmu lagi, Kang Hyu Won.” Ucap Kyu Hyun.

Kyu Hyun menyibakan selimut yang melilit tubuh mereka lalu membalikan posisinya hingga kini Hyu Won berada di atas tubuhnya. Direngkuhnya kedua pipi Hyu Won lalu diusapnya dengan lebut pipi Hyu Won yang merona. Gadis itu menatap Kyu Hyun tepat di manik mata pria itu.

“Hidupku akan hancur tanpa dirimu. Aku sudah pernah merasakannya, dan percayalah aku tak ingin mengulang semua itu lagi.” Ucap Kyu Hyun berubah serius.

“Kau bisa mendapatkan yang lebih dari diriku.” Ucap Hyu Won.

“Aku tidak butuh seseorang yang lebih dari dirimu. Kau sudah cukup. Mungkin ini terdengar klise tapi hatiku tak pernah bergetar melihat gadis mana pun selain dirimu.” Ucap Kyu Hyun.

“Aku rusak.” Ucap Hyu Won singkat namun membuat Kyu Hyun sekali lagi merasa terpukul. “Luar dan dalam.” Tambah Hyu Won.

“Percaya atau tidak tapi aku bisa memperbaiki semua kerusakan itu.” Ucap Kyu Hyun.

“Bagaimana caranya?” tanya Hyu Won pasrah.

“Menikahlah denganku, lahirkan anak-anakku, menua bersamaku dan kita bisa melihat bagaimana anak-anak kita menggendong cucu-cucu kita.” Ucap Kyu Hyun tenang dengan tatapan yang mengarah pada Hyu Won sepenuhnya.

“Oh Tuhan…” Hyu Won menangis mendengar ucapan Kyu Hyun. Gadis itu terharu setengah mati. Tak ingin terlihat begitu kacau, Hyu Won memeluk Kyu Hyun dengan erat. Gadis itu melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu dan menenggelamkan kepalanya di lekuk leher pria itu, lalu sekali lagi Hyu Won menangis tersedu-sedu.

“Aku mencintaimu, Kang Hyu Won.” Ucap Kyu Hyun tulus. Dan kalimat yang baru saja Kyu Hyun katakan menghancurkan semua keraguan yang Hyu Won rasakan.

****

Setelah drama singkat pagi ini di kamar Kyu Hyun, Hyu Won kembali ke kamarnya lalu mandi dan membersihkan diri. Setelah mandi dia keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan. Di sana dilihatnya Jae Ho sedang duduk sambil mengaduk secangkir kopi di hadapannya. Pria itu tampak melamun. Jae Ho masih memakai pakaian rumahnya. Hyu Won mengerutkan dahinya bingung, mengapa pagi ini Kyu Hyun dan ayahnya tidak pergi ke kantor?

“Selamat pagi?” sapa Hyu Won membuyarkan lamunan Jae Ho.

“Oh… selamat pagi, Hyu Won.” Sapa Jae Ho dengan senyum khasnya, Hyu Won selalu suka dengan senyum pria paruh baya itu.

“Nyonya di mana?” tanya Hyu Won.

“Istriku sedang tidak enak badan. Dia masih tidur.” Jawab Jae Ho. Ji Won tiba-tiba demam subuh tadi tetapi demamnya sudah turun tadi pagi.

“Nyonya sakit?” tanya Hyu Won. Ada nada khawatir di sana dan Jae Ho sangat menyukainya, kalau Ji Won melihat putrinya khawatir seperti ini, ia mungkin akan sangat bahagia.

“Iya, dia demam tadi subuh.” Jawab Jae Ho.

“Apakah aku boleh naik ke atas melihat nonya?” tanya Hyu Won.

“Tentu saja.” Jawab Jae Ho cepat nyaris tanpa berpikir.

Hyu Won menganggukan kepalanya. Tiba-tiba terlintas di dalam benaknya untuk membuatkan sesuatu yang hangat untuk Ji Won. Dia juga ingin berterima kasih sekaligus meminta maaf karena dia sudah merusak acara lamaran Kyu Hyun semalam. Ah, Kyu Hyun. Mengingat pria itu membuat Hyu Won menjadi bahagia. Dia merasa lega karena sudah mencurahkan apa yang selama ini ia simpan sendiri untuk dirinya.

“Aku akan membuatkan nyonya sup ayam. Biasanya nyonya yang membuatkannya untukku, sekarang aku yang akan membuatkannya.” Ucap Hyu Won dengan ceria.

“Boleh, dia akan sangat senang sekali.” Ucap Jae Ho.

“Kenapa tuan belum pergi ke kantor?” tanya Hyu Won.

Jae Ho tersenyum mendengar pertanyaan Hyu Won. Sejujurnya dia sangat ingin mendengar Hyu Won memanggilnya dengan sebutan ayah.

“Sebentar lagi, ada yang harus aku urus terlebih dahulu. Kyu Hyun sudah berangkat?” tanya Jae Ho.

“Kyu Hyun oppa sudah berangkat tadi. Hmm… mengenai semalam, aku ingin minta maaf karena menyakiti hati putra kalian.” Ucap Hyu Won dengan wajah menyesal.

Jae Ho menganggukan kepalanya. Dia lebih mengkhawatirkan Hyu Won sejujurnya. “Gwaenchanna, Kyu Hyun pasti bisa mengatasi perasaannya. Kau sendiri, apakah kau baik-baik saja? Istriku bilang kau dan Kyu Hyun berbicara semalam.” Ucap Jae Ho. Jauh di dalam hatinya dia ingin sekali tahu bagaimana perasaan Hyu Won saat ini. Bagaimana keadaan putrinya yang sesungguhnya.

“Aku… baik-baik saja. Masalah kami sudah selesai.” Ucap Hyu Won dengan senyum simpul.

“Baguslah.” Ucap Jae Ho. Pria itu meremas gagang cangkirnya, ingin sekali dia menarik Hyu Won lalu memberikan putrinya itu sebuah pelukan seperti yang biasanya dilakukan seorang ayah pada putri mereka. Akan seperti apa rasanya memeluk gadis itu lalu ikut berbagi kesedihan dan penderitaan yang selama ini ia tanggung?

“Tuan tampak lelah? Apakah tuan baik-baik saja?” tanya Hyu Won.

Gwaenchanna, aku hanya kurang tidur.” Ucap Jae Ho.

“Apa ingin kubuatkan sesuatu?” tanya Hyu Won.

“Tidak perlu, buatkan saja sup untuk istriku nanti aku cicipi sedikit.” Ucap Jae Ho dengan kekehan. Bagaimana rasa makanan buatan putrinya ini, pasti sangat menyenangkan bisa merasakan makanan buatan putrimu sendiri.

“Oke.” Angguk Hyu Won lalu bersiap akan pergi namun Jae Ho menahannya.

“Hyu Won-ah…”

Ne?”

“Apa kau pernah bertemu dengan ayahmu?” tanya Jae Ho.

Hyu Won diam sebentar. Lalu gadis itu mulai bicara. “Tidak pernah. Sejak lahir aku sudah di panti asuhan tanpa orang tua.” Ucap Hyu Won tenang, tidak ada kesedihan di sana seolah dia sudah berdamai dengan rasa penasaran mengenai orang tuanya.

“Apakah bila ayahmu muncul dan menemuimu, kau akan menemuinya?” tanya Jae Ho.

“Sejujurnya aku pun tidak tahu dengan keinginanku untuk bertemu dengan ayah atau ibuku. Dulu sekali aku sangat ingin tahu siapa mereka lalu mengapa mereka meninggalkanku di panti asuhan tetapi waktu berlalu dan aku mulai terbiasa tanpa mereka, aku mulai terbiasa untuk tidak bertanya-tanya siapa mereka dan mengapa mereka meninggalkanku. Kalau sekarang mereka muncul, aku mungkin akan kembali bingung dan bertanya-tanya mengapa mereka muncul sekarang, lalu mengapa mereka ingin bertemu dengan diriku.” Ucap Hyu Won.

“Mungkin mereka rindu ingin bertemu dengamu. Mungkin mereka juga ingin mengatakan alasan sebenernya mereka meninggalkanmu. Apakah kau akan menemui mereka bila mereka muncul?” tanya Jae Ho sekali lagi. Jantungnya berdebar menunggu jawaban gadis itu.

“Entahlah, tuan. Walaupun keinginanku untuk bertemu mereka sudah tidak ada tetapi percayalah bahwa aku tidak pernah membenci mereka. Kalau Tuhan mengatur kita harus bertemu maka aku tak akan menampik semua itu. Aku pun penasaran seperti apa rupa kedua orang tuaku. Apakah ibuku cantik seperti nyonya Ji Won atau ayahku baik dan hangat sepertimu.” Ucap Hyu Won dengan senyum simpul.

Jae Ho merasa seperti baru saja tertimpa beban yang sangat berat. Dadanya terasa sesak dan nyeri. Ya Tuhan, mendengar sendiri putrinya berkata seperti itu rasa-rasanya dia sangat ingin mengaku sekarang juga tetapi dia takut bila Hyu Won akan langsung berubah sikap begitu tahu siapa orang tua kandungnya.

“Orang tuamu pasti sangat ingin bertemu dengan dirimu, mereka akan sangat senang dan bangga mempunyai putri sepertimu.” Ucap Jae Ho.

Gomawo, tuan.” Ucap Hyu Won. “Aku akan membuat sup ayam sekarang, tidak apa-apa aku meninggalkanmu?” tanya Hyu Won.

Ne, memasaklah.” Ucap Jae Ho.

Hyu Won menganggukan kepalanya lalu berjalan menuju dapur, dia sudah tidak sabar ingin membuatkan sup ayam hangat untuk Ji Won. Mungkin Ji Won sakit karena seharian kemarin pergi berbelanja dan membawanya ke salon. Sekarang dia akan menebus semuanya. Dia akan merawat Ji Won dan berterima kasih pada wanita itu.

****

Hyu Won mengetuk pintu kamar Ji Won tetapi tak ada balasan dari dalam. Dia menggigit bibir bawahnya bingung. Apakah Ji Won sedang tidur? Tetapi ini sudah hampir siang dan sepertinya wanita itu belum makan. Dengan mengabaikan kebingungannya, Hyu Won membuka pintu kamar wanita itu.

“Nyonya?” panggil Hyu Won tetapi masih tak ada balasan. Hyu Won memberanikan diri untuk masuk. Ditatapnya Ji Won yang kini tertidur lelap di atas ranjang. Gadis itu tersenyum saat melihat wajah Ji Won. Entah mengapa setiap kali ia menatap wajah Ji Won, dia selalu merasa rindu pada wanita itu. Dia merasa seperti sudah lama mengenal wanita itu.

Hyu Won berjalan menuju meja kecil di samping ranjang Ji Won lalu meletakan nampan berisi sup ayam buatannya di atasnya. Gadis itu lantas duduk pada tepi ranjang dan sekali lagi menatap wajah lelap Ji Won. Seulas senyum mencuat dari bibir Hyu Won lalu kemudian berganti dengan kekhawatiran saat ia melihat Ji Won gelisah dalam tidurnyanya.

“Ji Hyun… Ji Hyun… Mianhae….” rintih Ji Won dalam tidurnya dengan pilu.

Hati Hyu Won bergetar mendengar rintihan Ji Won seolah ia ikut merasakan kesedihan wanita itu.

Mianhae…” kali ini Ji Won bahkan menangis dalam tidurnya.

Hyu Won menjadi cemas. Tangan gadis itu bergerak mengusap bulir keringat di dahi Ji Won lalu kemudian bergerak mengusap air mata yang mengalir di sudut mata wanita itu. Hyu Won tahu bagaimana rasanya mengalami apa yang dirasakan Ji Won saat ini. Ketika dirasakan Ji Won mulai tenang, Hyu Won segera bernajak. Namun baru saja gadis itu berdiri, Ji Won bangun dari tidurnya.

“Ji Hyun-ah?” panggil Ji Won lemah.

Nde?” bingung Hyu Won. Gadis itu lalu kembali duduk di tepi ranjang. “Ini saya Hyu Won, nyonya.” Ucap Hyu Won pelan.

Ji Won menganggukan kepalanya. Dia berusaha mengembalikan orientasinya. Wanita itu menatap Hyu Won dengan sendu. Dengan perlahan dia mencoba bangun dan duduk. Ditolehkan kepalanya ke meja di samping ranjangnya.

“Kau membuat sup ayam untukku?” tanya Ji Won dengan lembut. Ada seulas senyum simpul di sana.

Hyu Won menganggukan kepalanya senang. “Iya, nyonya. Selama ini nyonya selalu membuatkan saya makanan kalau saya sakit, sekali saja saya juga ingin membuatkan sesuatu untuk nyonya.” Ucap Hyu Won.

Ji Won tersenyum mendengar ucapan Ji Won. “Aku lapar sekali.” Ucap Ji Won. Benar, tiba-tiba perutnya lapar sekali.

Hyu Won dengan semangat mengangkat mangkuk berisi sup ayam buatannya, dia lalu menatap Ji Won. “Bolehkan aku menyuapimu?” tanya Hyu Won.

Air mata Ji Won sekali lagi akan mengalir tetapi dia menahannya. “Ya, tentu saja.” Ucapnya parau.

Hyu Won lalu mulai menyuapi Ji Won pelan-pelan. Ditatapnya setiap perubahan di wajah Ji Won, takut kalau rasa sup buatannya tidak enak. Tetapi senyumnya lagi-lagi mencuat saat melihat raut santai di wajah Ji Won.

“Sup buatanku enak, nyonya?” tanya Hyu Won.

“Iya, ini persis seperti buatanku.” Ucap Ji Won.

“Sewaktu kecil aku dan Kyu Hyun adalah anak paling tua di panti asuhan. Kami harus bisa menjaga adik-adik kami dan membantu meringankan beban eomma. Aku belajar memasak sendiri dengan melihat eomma memasak. Lalu Kyu Hyun harus bisa membetulkan genting kalau bocor, dia juga harus bisa mengurus kebun sayur di belakang panti asuhan kami.” Ucap Hyu Won.

Eomma?” ucap Ji Won bingung. Rasanya dia ingin sekali mendengar Hyu Won memanggilnya dengan sebutan itu.

“Oh, eomma kami di panti asuhan. Dia sudah seperti orang tua kandung kami.” Ucap Hyu Won lalu menyuapi Ji Won.

Ji Won menelan sup di dalam mulutnya lalu menatap Hyu Won dengan sayang. “Apakah eomma-mu baik?” tanya Ji Won pelan.

“Ya, dia sangat baik walaupun harus mengurus kami yang jumlahnya tidak sedikit.” Balas Hyu Won.

“Lalu apa lagi? Ceritakan masa kecilmu.” Ucap Ji Won tampak begitu bersemangat.

“Tidak ada yang menarik dari masa kecilku, nyonya. Kami hanya hidup saling membantu untuk menjaga satu sama lain. Panti asuhan kami dulu tidak memiliki donatur tetap sehingga kami mengalami kesulitan ekonomi. Aku dan Kyu Hyun kadang bekerja paruh waktu secara diam-diam tanpa sepengetahuan eomma.” Ucap Hyu Won dengan senyum dibibirnya. Dia sedang mengenang masa kecilnya.

Mwo?” ucap Ji Won terkejut, matanya mulai berkaca-kaca.

“Itu tidak seseram apa yang nyonya bayangkan. Kami senang bekerja paruh waktu di kedai makanan Pak Lee, pekerjaan kami hanya mencuci piring dan melayani pembeli tetapi dia membayar kami dengan sangat besar. Selain itu kami boleh makan makanan di kedai makanan itu.” Ucap Hyu Won dengan senyum merekah.

“Tetapi anak-anak seharusnya hidup seperti anak-anak. Kalian seharusnya bermain dan belajar.” Ucap Ji Won dengan sedih.

“Tapi kami anak-anak yang istimewa, nyonya.” Ucap Hyu Won mencoba bercanda.

Ji Won tak sanggup lagi menahan kesedihannya, wanita itu meneteskan air matanya tanpa bisa ia tahan lagi. Hyu Won yang mleihat itu berubah menjadi cemas. Dia lalu meletakan mangkuk sup ayamnya di atas meja.

“Nyonya, gwaenchanna?” tanya Hyu Won.

Gwaenchanna, aku hanya merasa sedih.” Ucap Ji Won. “Aku sudah kenyang, Hyu Won-ah,” ucap Ji Won lagi seolah mengusir gadis itu dengan halus.

“Nyonya, maafkan aku kalau ceritaku membuatmu sedih.” Ucap Hyu Won tulus.

Anniya, aku memang sedang sensitif saja.” Ucap Ji Won. Dia kembali membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. “Terima kasih untuk sup-nya, aku ingin kembali berisitirahat.” Ucap Ji Won.

Ji Won memiringkan tubuhnya membelakangi Hyu Won. Air matanya kembali mengalir, rasa sesak di dadanya tak bisa ia redam. Tangisnya semakin deras mengingat bagaimana perjuangan Hyu Won kecil. Kalau dia dan suaminya tidak egois dan takut pada ayahnya, Hyu Won tidak akan hidup menderita seperti itu. Dia bahkan merasa tak sanggup menatap Hyu Won, masih pantaskah dia berdiri dan mengatakan semua kebenarannya pada Hyu Won? Apakah Hyu Won akan menerimanya sebagai orang tua, apakah gadis itu akan memaafkannya?

“Nyonya, sekali lagi saya minta maaf. Saya akan keluar.” Ucap Hyu Won pelan.

Ji Won menarik napasnya lalu sedikit menolehkan kepalanya pada Hyu Won. Sebelum gadis itu beranjak, Ji Won menanyakan apa yang sejak tadi ada di dalam kepalanya.

“Apa kau membenci kedua orang tuamu?” tanya Ji Won.

Hyu Won menarik napasnya. “Tidak, nyonya, saya tidak membenci mereka.” Ucap Hyu Won.

“Apakah… apakah kau ingin bertemu dengan mereka?” tanya Ji Won lagi. Dia ingat dulu ketika mereka di dapur, Hyu Won mengatakan dia tak ingin bertemu dengan orang tuanya.

“Entahlah, nyonya. Dulu ketika saya masih kecil, saya sangat ingin bertemu mereka tetapi sekarang rasa-rasanya saya sudah tidak terlalu berharap untuk bisa melihat mereka.” Ucap Hyu Won tenang. Gadis itu menatap Ji Won dengan bingung, mengapa pagi ini Jae Ho dan Ji Won menanyakan hal yang sama seperti ini. Ah, mungkin mereka hanya kasihan saja padanya pikir gadis itu.

Ji Won memejamkan matanya dan air matanya mengalir deras. Wanita itu menggigit bibir bawahnya dengan keras berusaha menahan isak tangisnya. Rasanya sakit sekali mendengar ucapan Hyu Won.

“Saya permisi, nyonya.” Ucap Hyu Won ketika tak mendapat respon apa-apa dari Ji Won, gadis itu lalu keluar dari kamar Ji Won.

****

Kantor Kepolisian Seoul

Kyu Hyun berdiri di depan sebuah pintu menunggu petugas di depannya membuka pintu tersebut. Tatapan matanya menghunus tajam seolah bisa melukai siapa saja yang mengusiknya. Kedua tangannya yang tersembunyi di dalam saku celananya sejak tadi mengepal menahan emosi di dalam kepalanya.

“Silahkan masuk, tuan Cho.” Ucap petugas tersebut.

Kyu Hyun menganggukan kepalanya lalu berjalan masuk ke dalam ruangan kecil di mana hanya ada sebuah meja dan dua buah kursi serta satu orang manusia yang sejak tadi ingin sekali ia bunuh.

Kyu Hyun melangkah tenang menuju tengah ruangan. Ditatapnya Min Seo yang kini duduk menatapnya dengan malas. Dandanan pria itu terlihat begitu berantakan. Wajahnya dipenuhi bulu-bulu tipis yang mungkin tak sempat dicukur. Pria itu menatapnya dengan jenaka seolah ia memang sudah memprediksikan kehadiran Kyu Hyun.

“Kau pasti sangat ingin membunuhku, kan?” ucap Min Seo memecah kesunyian.

Kyu Hyun duduk di kursi yang berseberangan dengan Min Seo. Pria itu menatap Min Seo dengan tajam, ia sedang berusaha untuk tak memedulikan ucapan pria itu.

“Bagaimana keadaan adik tercintamu? Ah…bukan adik, kekasih ya?” ucap Min Seo lalu tertawa ringan.

“Min Seo.” Ucap Kyu Hyun tenang. Rasanya ada yang mengganjal di mulutnya saat ia menyebut nama pria itu. Sudah bertahun-tahun sejak terkahir kali ia melihat pria itu di malam ia meninggalkan Hyu Won bersamanya. Saat itu mereka masih pemuda belasan tahun.

“Lama tidak bertemu. Kau sekarang berubah begitu banyak, bukan lagi pemuda miskin penunggu panti asuhan.” Ucap Min Seo dengan seringai.

“Malam itu, apa yang kau lakukan padanya?” tanya Kyu Hyun dingin mengabaikan ucapan Min Seo. Suasana seketika berubah menjadi begitu senyap.

Min Seo mengetuk jari-jarinya dengan lambat di atas meja seolah pria itu sedang menimbang apa yang akan ia katakan pada Kyu Hyun. Ia melirik kamera di sudut ruangan. Ruangan ini diawasi.

“Tidak ada.”

BRAK!

Seketika meja di hadapan Kyu Hyun terguling akibat tendangan pria itu. Min Seo yang duduk di seberang Kyu Hyun terjungkal dari kursinya. Tanpa menyisakan waktu agar Min Seo bisa kembali bangkit, Kyu Hyun sudah lebih dulu merengsek maju dan menindih Min Seo. Pria itu mencengkram kerah kemeja Min Seo dengan erat, tubuhnya berubah menjadi begitu panas, wajahnya memerah menahan emosi di dalam hatinya.

“Kau mengambil segalanya dan tidak menyisakan apapun untuknya, yang kau tinggalkan hanya rasa sakit dan takut di dalam dirinya. Jangan jadi pria pengecut, brengsek!” ucap Kyu Hyun dengan penuh penekanan.

“Ruangan ini diawasi Cho Kyu Hyun,” ucap Min Seo.

“Kau pikir aku peduli?” ucap Kyu Hyun.

“Ya, kau memang lebih peduli pada gadis bodoh itu.”

BUGH! BUGH! BUGH!

Kyu Hyun menghantam wajah Min Seo dengan keras berkali-kali. Emosinya sudah tak bisa ia tahan lagi. Seharusnya sepuluh tahun lalu dia melakukan ini pada Min Seo. Pukulannya belum sebanding dengan penderitaan yang pria itu buat untuk Hyu Won.

“Ayo, mengapa berhenti? Kau sudah puas memukulku?” tantang Min Seo.

Ketika Kyu Hyun akan melayangkan satu pukulan lagi, pintu ruangan terbuka. Petugas polisi berjalan masuk lalu melerai Kyu Hyun dan Min Seo. Kyu Hyun bangun dari posisinya lalu membetulkan letak jasnya.

“Tuan Cho anda bisa dikenakan hukuman karena menyerang tahanan.” Ucap salah seorang petugas.

Kyu Hyun tidak memedulikan ucapan petugas polisi tersebut. Pria itu menatap Min Seo untuk terakhir kalinya, dia bersumpah Min Seo akan membayar semuanya.

“Kau tidak akan ke mana-mana, Kim Min Seo. Kau akan mempertanggungjawabkan semuanya.” Ucap Kyu Hyun lalu berjalan meninggalkan ruangan.

Kyu Hyun berjalan dengan emosi yang belum mereda. Dia butuh pengalihan dari semua ini. Melihat Min Seo membuatnya teringat dengan semua penderitaan Hyu Won. Ketika dia akan berbelok di ujung koridor, langkahnya terhenti karena sosok ayahnya yang tengah berbelok juga.

Appa?”

“Cho Kyu Hyun,” panggil Jae Ho datar.

“Apa yang appa lakukan di sini?” tanya Kyu Hyun.

“Aku ingin melihat sendiri pria yang sudah menghancurkan hidup putriku.” Ucap Jae Ho dengan dingin. Kyu Hyun bahkan bisa menangkap adanya kemarahan di dalam nada suara pria paruh baya itu.

“Apa yang akan appa lakukan–”

“Aku sudah mendengar semuanya semalam, Cho Kyu Hyun. Dia memperkosa Hyu Won. Kau pikir apa yang bisa aku lakukan lagi selain membuatnya mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya?” ucap Jae Ho.

Kyu Hyun memandang terkejut ayahnya untuk sepersekian detik, kalau Jae Ho tahu maka Ji Won juga sudah pasti tahu.

Eomma tahu?” tanya Kyu Hyun.

“Pulanglah, eomma-mu sakit.” Ucap Jae Ho berubah lembut ketika menyebut nama istrinya.

Nde…” Kyu Hyun menganggukan kepalanya lalu memberikan hormat sebelum berjalan meninggalkan Jae Ho.

Keduanya kembali berjalan menuju tujuan masing-masing. Di tengah langkahnya, Kyu Hyun membalikan tubuhnya dan menatap sosok Jae Ho yang sudah berjalan jauh. Dia bisa menangkap adanya kemarahan di mata pria itu. Ada tatapan terluka di mata pria paruh baya itu. Setelah bertahun-tahun kehilangan Hyu Won, pria itu akhirnya menemukan putri semata wayangnya namun dalam kondisi yang begitu memilukan.

“Maafkan aku appa, aku tidak bisa menjaganya dengan baik.” Ucap Kyu Hyun.

****

Uhm’s Famili Home

Kyu Hyun berjalan masuk ke dalam rumahnya, dia sangat ingin melihat wajah Hyu Won, rasanya dia begitu merindukan gadis itu. Kyu Hyun menatap keadaan rumah yang kosong seolah tak berpenghuni. Ke  mana semua orang pergi? Apakah ibunya dan Hyu Won sedang mengurus tanaman di belakang seperti biasanya?

Kyu Hyun berjalan menuju taman belakang rumahnya namun ia hanya menemukan Hyu Won yang sedang menyiram bunga. Pria itu tersenyum menatap Hyu Won yang terlihat begitu berkonsentrasi mneyiram bunga. Apakah bunga-bunga itu lebih menarik daripada kehadirannya.

“Aku terkadang sangat iri dengan bunga-bunga itu.” Ucap Kyu Hyun dengan santai.

Hyu Won menolehkan kepalanya dan menatap Kyu Hyun dengan senyum manisnya. Dia sudah merasakan kehadiran seseorang tetapi dia enggan untuk menolehkan kepalanya, dia tahu yang datang pasti Kyu Hyun.

“Kau sudah pulang?” tanya Hyu Won.

“Yeah.” Balas Kyu Hyun lalu berjalan menuju Hyu Won. Pria itu lantas menarik sebuah kursi lalu duduk di sana, Hyu Won kembali melanjutkan aktivitasnya.

Eomma-mu sakit,” ucap Hyu Won berubah sedih. “Aku rasa bukan fisiknya yang sakit. Eomma-mu terlihat begitu aneh, dia seolah memendam kesedihan yang mendalam.” Ucap Hyu Won masih dengan aktivitasnya menyiram tanaman.

Kyu Hyun hanya diam mendengar ucapan Kyu Hyun. Pria itu sibuk memandangi Hyu Won, dia tak sadar lamunan telah menenggelamkannya hingga ia tak mendengar ucapan Hyu Won.

“Kau tidak ingin melihatnya dulu?” tanya Hyu Won.

“…”

Hyu Won menolehkan kepalanya dan mendapati Kyu Hyun tengah melamun, gadis itu lantas menyipratkan sedikit air ke arah Kyu Hyun.

“Aishh! Kau ini,” ucap Kyu Hyun terkejut.

“Habisnya aku sedang bicara tapi kau tidak mendengarkanku. Eomma-mu sakit, sebaiknya kau lihat dulu keadaannya.” Ucap Hyu Won dengan kesal.

“Baik, aku akan melihat eomma.” Ucap Kyu Hyun lalu berdiri namun belum juga ia berjalan, Hyu Won sudah lebih dulu menahan pria itu.

“Ada apa dengan tanganmu?” tanya Hyu Won berubah khawatir. Gadis itu segera mematikan selang airnya lalu memfokuskan perhatiannya pada Kyu Hyun.

Kyu Hyun menurunkan pandangannya ke arah punggung tangannya yang tampak memar. Ia mengerutkan dahinya saat melihat punggung tangannya, dia tak sadar sama sekali pukulannya pada Min Seo meninggalkan bekas. Dia pikir hanya wajah Min Seo yang babak belur, punggung tangannya juga ternyata mengalami lebam.

“Terbentur meja.” Ucap Kyu Hyun sedatar mungkin.

Hyu Won menaikan pandangannya ke arah Kyu Hyun lalu menatap pria itu tepat di manik matanya. “Jangan berbohong. Jung Soo oppa dan Donghae oppa juga sering mengalami lebam seperti ini, dan aku seratus persen yakin ini bukan karena terbentur. Apakah kau berkelahi?” tanya Hyu Won lembut. Hyu Won tahu bagaimana bersikap bila sudah seperti ini. Dia pernah hidup bersama dua pria dewasa yang bertingkah kekanak-kanakan karena masih suka berkelahi. Seringnya mereka tidak suka menghadapi tuduhan dan kekhawatiran yang berlebihan.

“Hmm?” tanya Hyu Won lagi, dia berusaha menginspeksi wajah Kyu Hyun dan dia bisa bernapas lega karena ia tak menemukan bekas lebam di wajah pria itu.

“Tidak, Hyu Won, aku tidak berkelahi. Aku hanya memukul seseorang. Sudah ya, jangan bertanya lagi.” Ucap Kyu Hyun.

Hyu Won berpikir sejenak. “Oke.” Angguk Hyu Won berusaha menahan rasa penasarannya. Dilihat dari tatapan Kyu Hyun, pria itu sedang tak ingin didesak. Dia akan bertanya nanti kalau keadaan Kyu Hyun sudah sedikit santai. “Baiklah, ayo kita obati lukamu dulu, setelah itu kita lihat keadaan eomma-mu.” Ucap Hyu Won.

“Hmm…” angguk Kyu Hyun.

****

A Night

Uhm’s Family Home

Hyu Won menata makanan di atas meja makan. Gadis itu yang memasak semua makanan yang terhidang di atas meja makan itu sendiri. Dia sudah biasa memasak untuk banyak orang sejak masih di panti asuhan.

Kyu Hyun berjalan menuju meja makan dan menghampiri Hyu Won. Pria itu menatap hidangan yang tersaji di meja dengan tatapan lapar. Sudah lama dia tak makan makanan buatan Hyu Won. Terakhir kali dia makan makanan buatan gadis itu adalah sepuluh tahun lalu sebelum gadis itu menghilang.

“Hmm, kau pasti yang memasak semua ini sendiri, kan?” tanya Kyu Hyun.

“Tentu saja.” Balas Hyu Won. “Bagaimana keadaan eomma-mu, apakah dia masih tak mau turun untuk makan?” tanya Hyu Won.

“Dia masih enggan turun. Appa sudah berbicara tetapi dia masih enggan turun.” Balas Kyu Hyun. Tadi siang dia sudah melihat keadaan ibunya, wanita itu sudah tahu apa yang menimpa Hyu Won sepuluh tahun lalu. Dia merasa bersalah dan sangat bersedih sehingga dampaknya lari pada kesehatannya.

“Jadi malam ini kita Cuma makan berdua? saja” tanya Hyu Won sedih.

“Kita akan makan malam bertiga.” Seru seseorang dari belakang Kyu Hyun.

Hyu Won memiringkan kepalanya dan menatap Jae Ho yang berjalan menuju meja makan. Pria itu terlihat begitu lelah. Hyu Won bisa menangkap tatapan sendu di mata pria paruh baya itu. Apa yang sebenarnya telah terjadi di antara ibu dan ayah Kyu Hyun? Mereka berdua terlihat begitu sedih.

“Setelah makan, aku akan membawa makanan untuk istriku. Dia menolak makan lagi.” Ucap Jae Ho.

“Nyonya baik-baik saja?” tanya Hyu Won.

“Ya, dia baik-baik saja.” Ucap Jae Ho.

“Aku sangat khawatir.” Ucap Hyu Won tanpa ia sadari.

Kyu Hyun dan Jae saling berpandangan satu sama lain. Seolah keduanya memiliki satu pemikiran yang sama bahwa Hyu Won mengkhawatirkan ibunya.

Cha! Mari kita makan.” Ucap Kyu Hyun.

****

Setelah membereskan bekas makan malam, Hyu Won segera pergi ke dapur. Hyu Won ingin membuatkan ginseng hangat untuk Ji Won. Dia ingat dulu ketika di panti asuhan, ibu angkatnya di sana sering membuatkannya ginseng hangat bila ia sakit. Dia berharap ginseng hangat buatannya bisa mengembalikan kesehatan Ji Won seperti semula.

“Apa yang sedang kau buat?” tanya Kyu Hyun.

Tanpa menolehkan kepalanya Hyu Won menjawab pertanyaan pria itu. “Aku sedang membuat ginseng hangat untuk eomma-mu. Semoga ini membantu memulihkan kesehatannya.” Ucap Hyu Won.

“Sepertinya kau sangat sayang pada eomma-ku.” Ucap Kyu Hyun yang kini berjalan menuju Hyu Won. Pria itu berdiri tepat di belakang Hyu Won, ia mengamati gerakan cekatan tangan Hyu Won yang sedang meracik ginseng untuk ibunya.

“Memangnya kau tidak sayang padanya?” tanya Hyu Won pada Kyu Hyun.

“Tentu saja aku sayang padanya.” Ucap Kyu Hyun. Pria itu lantas meletakan dagunya pada bahu Hyu Won, tangannya lantas bergerak merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

Tubuh Hyu Won menegang beberapa detik lalu kemudian berubah santai. Dia kembali mengaduk ginseng hangat buatannya. Kyu Hyun tersenyum simpul mendapati tak ada penolakan dari gadis itu. Itu artinya Hyu Won sudah lebih percaya padanya.

“Hari ini aku menemui Min Seo.” Ucap Kyu Hyun singkat.

Hyu Won menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk ginseng di dalam cangkir. Kyu Hyun menyadari perubahan sikap gadis itu. Dia lantas menuntun tangan gadis itu untuk kembali mengaduk ginseng di dalam cangkir.

Wae?” tanya Hyu Won.

“Aku ingin tahu bagaimana reaksiku ketika melihatnya.” Ucap Kyu Hyun.

“Lalu bagaimana?”

“Aku sangat ingin membunuhnya.” Ucap Kyu Hyun singkat.

Hyu Won membalikan tubuhnya dan menatap Kyu Hyun dengan dalam. “Jangan, jangan berhubungan dengan pria itu lagi.” Ucap Hyu Won dengan gelengan kepala. Ada tatapan ketakutan di matanya tapi lebih dari itu Kyu Hyun tahu bahwa Hyu Won khawatir pada dirinya.

“Dia akan membayar semuanya, Hyu Won-ah. Aku berjanji padamu.” Ucap Kyu Hyun.

Hyu Won menundukan kepalanya dan memejamkan matanya. Sejujurnya dia sudah lelah dan tak ingin menuntut apapun dari Min Seo. Dia hanya ingin hidupnya berjalan sebagaimana mestinya. “Aku tidak ingin melanjutkan apapun yang berhubungan dengan  Min Seo. Aku hanya ingin hidup normal seperti orang lain.” Ucap Hyu Won.

“Hidupmu akan baik-baik saja, Hyu Won-ah.” Ucap Kyu Hyun.

Hyu Won menganggukan kepalanya lalu membalikan tubuhnya kembali. Dia lantas menaruh ginseng hangat buatannya di atas nampan. Kyu Hyun melepas pelukannya dan memberi ruangan pada gadis itu.

“Aku akan mengantarkan ginseng hangat ini dulu pada eomma-mu.” Ucap Hyu Won.

“Hmm…” angguk Kyu Hyun.

****

Hyu Won berjalan membawa nampan berisi ginseng hangat buatannya menuju kamar Ji Won. Gadis itu menatap ginseng hangat buatannya dengan senyum merekah, dia benar-benar berharap ginseng ini dapat membantu memulihkan kesehatan wanita itu. Dia ingin melihat wanita itu beraktivitas penuh semangat seperti biasanya.

Saat akan mengetuk pintu kamar, Hyu Won mengerutkan dahinya saat dilihatnya pintu yang tak tertutup sepenuhnya. Ada celah kecil dari pintu yang membuatnya bisa melihat ke dalam ruang kamar Ji Won. Dia mengedikan bahunya lalu hendak mengetuk pintu namun tangannya berhenti begitu saja di udara saat dia mendengar suara Jae Ho dan Ji Won yang tampak sedang berbicara serius.

“Jangan siksa dirimu seperti ini. Semua orang khawatir, sayang.” Ucap Jae Ho.

Hyu Won masih berdiri di depan pintu. Dia sebenarnya tak ingin dengan sengaja mendengar pembicaraan kedua orang tersebut tetapi pembicaraan mereka terdengar begitu saja.

“Aku baik-baik saja.” Ucap Ji Won lemah.

“Kau membuat Kyu Hyun dan Hyu Won khawatir.” Ucap Jae Ho. Hyu Won membernarkan ucapan Jae Ho dalam hati.

“Hyu Won khawatir padaku?” tanya Ji Won, suara wnaita itu terdengar begitu antusias.

“Ya, dia khawatir padamu, sayang.” Ucap Jae Ho lembut.

“Aku sangat ingin melihat dirinya tetapi aku tak sanggup.” Ucap Ji Won.

Hyu Won mengerutkan dahinya mendengar ucapan Ji Won. Mengapa juga wanita itu tak sanggup melihat wajahnya? Hyu Won ingin pergi tetapi kakinya seolah tak bisa bergerak. Hati dan pikirannya penasaran mengenai pembicaraan dua pasang suami istri itu.

“Sikapmu ini jutsru akan membuatnya curiga.”

“Biarkan saja dia curiga. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin dia tahu aku ini ibunya, yeobbo!” Ucap Ji Won.

DEG!

Hyu Won memundurkan langkahnya seketika saat mendengar ucapan Ji Won. Kepala gadis itu mendadak pusing seolah ruangan di sekelilingnya berputar-putar. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba mencerna keadaan ini.

“Ya, kita akan memberitahukan semuanya padanya tetapi tidak sekarang. Tunggu sampai kesehatanmu membaik dan kondisi fisik Hyu Won membaik.” Ucap Jae Ho.

“Kapan? Aku takut bila semakin lama dia akan pergi dan melupakan kita. Aku sangat ingin memeluknya sebagai seorang ibu bukan sebagai orang lain. Kau tidak tahu betapa bahagianya aku bisa pergi berbelanja bersamanya kemarin. Aku ingin dia tahu bahwa dia tidak sendiri, aku ingin dia tahu bahwa kita selalu mencarinya selama ini, aku ingin dia tahu bahwa kita sangat mencintai dirinya…” ucap Ji Won dengan suara meninggi.

“Iya, aku mengerti, sayang. Bersabarlah…” ucap Jae Ho.

Andwae….” bisik Hyu Won lemah.

Hyu Won berdiri dengan tubuh gemetar, dia sudah tak mendengar lagi sisa percakapan antara Jae Ho dan Ji Won. Pikirannya benar-benar kosong seolah ia tak memiliki jiwa saat ini. Dia sangat ingin berbalik dan meninggalkan kamar Ji Won tetapi ia tak bisa bergerak sama sekali. Ginseng di atas nampan tampak memunculkan riak air karena tubuh gemetar Hyu Won.

Hyu Won akhirnya memutuskan untuk pergi, namun belum juga dia berbalik, pintu kamar Ji Won terbuka tiba-tiba dan menampakan sosok Jae Ho yang berdiri terkejut di sana.

“Tuan–”

“Hyu Won?”

Hyu Won menggigit bibir bawahnya gugup, matanya mulai berkaca-kaca. Rasanya aneh sekali melihat sosok yang kini berdiri di hadapannya. Pria yang ia kenal sebagai orang tua dari Kyu Hyun, beberapa detik lalu mengatakan bahwa ia adalah orang tuanya. Benarkah Jae Ho adalah ayahnya dan Ji Won adalah ibunya? Dia ingin sekali menyetuh pria paruh baya itu untuk memastikan sosok itu nyata tetapi dia menahannya mati-matian.

“Sejak kapan kau berdiri di sini?” tanya Jae Ho berubah gugup.

“Maaf karena mendengar pembicaraan kalian. Apakah benar semua yang kalian katakan tadi?” tanya Hyu Won dengan suara bergetar.

“Hyu Won-ah, dengar–”

Yeobbo, wae– Hyu Won?” suara Ji Won terdengar begitu tercekat.

“Apakah selama ini kalian sudah tahu aku anak kalian, tetapi kalian merahasiankanya dariku?” tanya Hyu Won dengan suara sedikit meninggi.

“Dengarkan dulu penjelasan kami, Nak.” Ucap Jae Ho mencoba meredam emosi Hyu Won.

Hyu Won memejamkan matanya saat ia mendengar sabuatan Jae Ho untuk dirinya, rasanya hidupnya seperti dijungkirbalikan. Dadanya sesak sekali. Dia punya orang tua. Selama ini dia tinggal bersama orang tuanya? Kepalanya semakin bertambah pusing. Dia ingin sekali menanyakan semuanya tetapi dia tak memiliki tenaga lagi. Diletakannya nampan berisi ginseng hangat untuk Ji Won di meja dekat kamar Ji Won.

“Ini membuatku bingung,” ucap Hyu Won lalu membalikan tubuhnya.

Ketika membalikan tubuhnya, Hyu Won menatap sosok Kyu Hyun yang entah sejak kapan berdiri di sana. Kyu Hyun hanya bisa menatap Hyu Won dengan sendu. Dia merasa memang sudah waktunya Hyu Won tahu semuanya. Cepat atau lambat gadis itu harus tahu semuanya.

“A-aku ingin pulang.” Ucap Hyu Won dengan suara parau. Gadis itu menangis. Dia lantas berjalan melewati Kyu Hyun begitu saja.

“HYU WON!” teriak Ji Won keras.

Kyu Hyun membalikan tubuhnya lalu berjalan mengejar Hyu Won. Ditariknya tangan mungil gadis itu hingga membuat gadis itu berhenti. Ia lantas membalikan tubuh Hyu Won sehingga ia bisa melihat wajah gadis itu. Air mata sudah mengalir deras di pipinya.

“Ini rumahmu, ke mana lagi kau akan pulang?” tanya Kyu Hyun.

“….” Hyu Won hanya diam tak menjawab pertanyaan Kyu Hyun.

“Kang Hyu Won, aku bukan rumahmu? Benar mereka orang tuamu. Ayah dan ibumu bukan rumahmu?” tanya Kyu Hyun lembut namun penuh dengan kesedihan. Dia tahu jiwa Hyu Won pasti terguncang hebat sekarang.

Hyu Won menggelengkan kepalanya. “Kau juga tahu, kan?” tanya Hyu Won.

“Ya, aku yang menemukan mereka untukmu.” Balas Kyu Hyun.

“Kau memang selalu menjadi pahlawan untuk siapa pun.” Ucap Hyu Won lalu menyentak tangan Kyu Hyun.

“Katakan kau ingin pergi ke mana, aku akan mengantarmu.” Ucap Kyu Hyun. Dia tahu tak ada gunanya menahan Hyu Won karena gadis itu sejujurnya memang butuh waktu untuk mecerna semua ini.

Dengan menahan tangisnya, Hyu Won berbicara dengan suara bergetar. “Aku ingin ke panti asuhan.” Ucap Hyu Won.

Kyu Hyun menganggukan kepalanya. Jujur dia sedikit lega karena gadis itu memilih panti asuhan bukannya rumah Jung Soo. Dia tak akan sanggup meninggalkan gadis itu di sana.

“Tunggu aku di mobil. Aku akan mengambil kunci mobil di kamar.” Ucap Kyu Hyun lalu berlari cepat menuju kamarnya.

Hyu Won lalu berjalan menuju pintu keluar namun langkahnya terhenti saat suara lembut Ji Won menyerukan namanya.

“Hyu Won?” panggil Ji Won dengan suara serak.

Hyu Won menolehkan kepalanya dan menatap ji won dengan sedih. Tidak ada kebencian untuk kedua orang tuanya, dia hanya hanya terkejut dan bingung dengan semua situasi ini.

“Jangan pergi, nak. Maafkan eomma.” Ucap Ji Won dengan suara bergetar. Wanita itu menangis menatap Hyu Won.

Hyu Won menarik napas dalam lalu mengembuskannya. “Maaf, aku butuh waktu untuk mencerna semua ini.” Ucap Hyu Won dengan kikuk. Rasanya aneh sekali berbicara dengan Ji Won setelah tahu status antara dirinya dan wanita itu.

“Kau akan pulang lagi, kan?” tanya Ji Won penuh harap.

Hyu Won hanya tersenyum lalu berjalan menuju pintu keluar.

Yeobbo… tahan dia. Aku tidak mau dia pergi lagi. Cukup sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya, yeobbo-ah…. jebal. Aku tidak mau kehilangan putriku lagi.” Ucap Ji Won meraung-raung di dalam pelukan suaminya. Rasanya sakit sekali melihat Hyu Won berjalan menuju pintu keluar seperti itu.

Eomma…” panggil Kyu Hyun yang telah kembali dari kamar. Dia menatap kedua orang tuanya dengan sedih.

“Kyu Hyun, tolong tahan Hyu Won.” Ucap Ji Won dengan suara tangisan.

Eomma tenanglah. Aku akan membawanya kembali untuk kalian. Aku janji.” Ucap Kyu Hyun.

****

On a Road

Kyu Hyun membawa mobil dengan kecepatan lambat. Dia beberapa kali menolehkan kepalanya untuk melihat Hyu Won, gadis itu masih menangis dalam diam. Dia tak menunjukan emosi yang meledak-ledak, dia hanya menangis tanpa suara. Hal itu justru membuat Kyu Hyun semakin cemas. Kyu Hyun akhirnya memutuskan untuk menepikan mobilnya di sisi jalan.

“Hyu Won,” panggil Kyu Hyun sambil mengusap kepala gadis itu. Hyu Won hanya diam tak menjawab panggilan Kyu Hyun.

“Hyu Won, kau mendengarkan aku?” tanya Kyu Hyun.

“…”

“Hyu Won–”

“Aku bingung.” Ucap Hyu Won parau.

“Ya, itu pasti.”

“Aku hanya masih terkejut saja bahwa selama ini aku hidup bersama orang tuaku.” Ucap Hyu Won, Kyu Hyun tahu itu jenis ucapan yang ditujukan pada dirinya sendiri, Hyu Won tidak sedang berbicara dua arah.

“Kau butuh tidur.” Ucap Kyu Hyun.

“Ya, aku ingin tidur tanpa memikirkan semua ini.” Ucap Hyu Won lalu ada jeda sebentar sebelum akhirnya gadis itu kembali menundukan kepalanya dan menangis tersedu-sedu. Kyu Hyun mencondongkan tubuhnya lalu meraih gadis itu ke dalam pelukannya.

“Ssst~ tenanglah…”

“Rasanya menyesakan sekali bahwa selama ini aku diam-diam berharap memiliki seorang ibu seperti dirinya dan ternyata dia adalah ibu kandungku sendiri,” ucap Hyu Won dengan senyum miris. “Dia lembut, penyayang, penuh perhatian, dan sosok seorang ibu yang selalu aku bayangkan. Dan dia… dia adalah ibu kandungku?” ucap Hyu Won dalam pelukan Kyu Hyun.

“Kau menyesal mengetahui semua fakta ini?” tanya Kyu Hyun.

“Tidak… tidak tahu. Aku tidak tahu apakah aku senang atau sedih atau aku peduli atau tidak setelah mengetahui mereka adalah orang tua kandungku.” Ucap Hyu Won.

“Kau peduli, kalau kau tidak peduli kau tak akan seemosional ini, Hyu Won-ah.” Ucap Kyu Hyun.

“Kenapa mereka meninggalkanku?” tanya Hyu Won.

“Mereka tidak pernah meninggalkanmu.” Ucap Kyu Hyun. Hyu Won melepas pelukannya lalu menatap Kyu Hyun dengan ragu. “Percayalah, mereka tidak pernah meninggalkanmu.” Ucap Kyu Hyun, tatapan pria itu mengunci tatapan Hyu Won.

Hyu Won mengusap air mata di wajahnya lalu kembali duduk menyandar pada kursinya. “Ayo, ini sudah larut. Aku ingin kita beristirahat.” Ucap Hyu Won.

Kyu Hyun tersenyum lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya. Dia tahu hari esok tidak akan mudah untuk dilewati. Untuk sekarang dia benar-benar butuh tidur. Dia sedang tidak mau memikirkan bagaimana hari esok dimulai.

****

A Morning

At Mother’s Love

Hyu Won membuka matanya dan seketika kejadian semalam berkelebat dalam pikirannya. Dia menarik napas dalam lalu menyadari bahwa masih ada hal yang harus diluruskan. Sesungguhnya dia tak ingin menghindar, dia hanya butuh waktu untuk mencerna semua yang sudah terjadi.

Tok…tok…tok…

Hyu Won tersentak dari lamunannya. Ditolehkan kepalanya ke arah pintu seolah ia sedang melihat siapa yang mengetuk pintu.

“Sayang?”

Ne.” Jawab Hyu Won. Itu suara ibu angkatnya.

“Apa kau sudah bangun. Eomma sudah membuatkan sarapan untuk kita semua.” Ucap wanita paruh baya tersebut.

“Aku sudah bangun, eomma. Aku akan keluar sebentar lagi.” Balas Hyu Won.

“Kami menunggumu.”

Hyu Won lalu mendengar langkah kaki menjauh dari pintu kamarnya, dia segera bangkit dari ranjang. Dia tak akan membuat orang lain khawatir lagi. Dia harus keluar dan bergabung dengan semua orang. Lagi pula dia butuh keramaian untuk mengalihkan pikirannya.

Hyu Won segera bergegas keluar kamar dan berjalan menuju kamar mandi. Dia akan mandi dengan cepat secepat yang dia bisa lakukan, dia tak mau membuat penghuni panti asuhan menunda sarapan mereka hanya karena dirinya. Setelah mandi kurang lebih lima belas menit, Hyu Won berjalan menuju meja makan. Ketika sampai di meja makan, dirinya tercekat saat didapati tak ada penghuni panti asuhan seperti apa yang ia harapkan. Yang ada hanya ibu panti asuhan, Kyu Hyun, dan dua orang yang semalam mengatakan bahwa mereka adalah orang tua kandungnya.

“Selamat pagi.” Ucap Hyu Won mengalihkan fokus orang-orang yang sedang berbicara di meja makan.

Semua menolehkan kepala menatap Hyu Won tak terkecuali Kyu Hyun, pria itu memasang senyum paling tenang yang pernah Hyu Won lihat.

“Selamat pagi, sayang.” Ucap Ji Won dengan lembut. Wanita itu lalu tersenyum ke arah Hyu Won. Masih ada gurat kesedihan di wajah wanita itu.

Perasaan Hyu Won tiba-tiba berubah menghangat. Apakah dia sudah pernah bilang bahwa senyum Ji Won adalah jenis senyuman yang membuat perasaan menjadi tenang. Dia membalas senyum hangat Ji Won sekilas lalu berjalan menuju meja makan.

“Ayo kita makan, aku sudah lapar!” ucap Kyu Hyun dengan lantang. Semua orang seolah dibuat sadar bahwa tujuan utama mereka berada di meja makan adalah untuk sarapan.

“Benar, aku sangat lapar.” Ucap Jae Ho.

Hyu Won menundukan kepalanya lalu menatap piringnya dengan gamang. Semua orang bersikap seolah-olah tak ada sesuatu yang terjadi tetapi faktanya mereka sedang berpura-pura melupakan apa yang sudah terjadi semalam. Dia tersenyum miris.

****

Hyu Won meletakan piring terakhir yang sudah ia cuci, dia lantas menatap ke arah halaman belakang panti asuhan yang ramai dengan anak-anak panti asuhan yang sedang bermain bola. Senyumnya merekah menikmati pemandangan di hadapannya, dia jadi teringat dengan masa kecilnya dulu. Dulu bermain bersama sudah bisa membuat hati bahagia, dia berharap anak-anak panti asuhan juga begitu, dia tak ingin mereka menghabiskan masa kecil mereka dengan bekerja seperti apa yang ia dan Kyu Hyun lakukan dulu.

“Sedang bernostalgia?”

Hyu Won sedikit terkejut, ia menolehkan kepalanya dan menatap Kyu Hyun yang kini juga sedang menatap ke arah halaman belakang.

“Aku senang melihat mereka bermain gembira seperti itu. Dulu kita juga sama seperti mereka, kan?” ucap Hyu Won.

“Hmm, dulu kita juga sama seperti mereka.” Ucap Kyu Hyun.

“Orang tuamu–” Hyu Won menghentikan ucapannya sejenak lalu menatap Kyu Hyun dengan bingung. “Rasanya aneh menyebut mereka dengan sebutan apapun. Apakah mereka masih di sini?” tanya Hyu Won.

“Mereka sedang berbicara dengan eomma.” Ucap Kyu Hyun.

“Begitu.” Balas Hyu Won singkat.

“Mau melihat taman di samping panti asuhan? Dulu itu tempatmu dan anak-anak perempuan bermain, sekarang aku sudah merubahnya menjadi taman kecil.” Ucap Kyu Hyun.

“Apakah ayunannya masih ada?” tanya Hyu Won antusias.

“Ya, aku tidak merubah semuanya, itu masih tempat bermain yang menyenangkan. Aku hanya menambah beberapa tanaman dan bunga untuk mengisi beberapa tempat yang kosong, selebihnya itu masih taman bermain kalian yang dulu, rumput hijaunya masih ada dan ayunan kalian juga masih ada, hanya saja bertambah lebih kuat dan kokoh.” Jawab Kyu Hyun.

Kajja!” ucap Hyu Won dengan mata berbinar.

Kyu Hyun dan Hyu Won lantas berjalan menuju pintu keluar dapur. Mereka melangkahkan kaki mereka ke taman samping panti asuhan. Hyu Won benar-benar sudah tidak mengenali jalan setapak menuju tempat bermainnya dulu, namun ketika mereka sampai di bibir taman, matanya berbinar saat ia merasakan hawa yang sama seperti dulu ketika ia masih kecil.

“Aku rasa tidak ada yang berubah! Ini hanya bertambah semakin indah. Ayunan itu rasa-rasanya masih sama, Oppa.” Ucap Hyu Won dengan pandangan berbinar-binar. Tanpa sadar dia berlari menuju ayunan tersebut.

Kyu Hyun menatap Hyu Won dengan senyum jenaka. Tubuh gadis itu sudah menjelma menjadi gadis dewasa tetapi jiwanya seolah masih seperti kanak-kanak. Dengan tangan yang bersembunyi di balik celanan bahannya, dia berjalan santai menuju ayunan di mana Hyu Won tengah duduk.

“Aku seperti melihat Hyu Won kecil.” Ucap Kyu Hyun.

“Hatiku berdebar-debar sekali, rasanya aku begitu rindu dengan tempat ini.” Ucap Hyu Won.

“Aku selalu ke mari kalau aku merindukanmu.” Ucap Kyu Hyun berubah sendu.

Hyu Won menatap Kyu Hyun dengan haru. Dia tahu bagaimana rasanya menahan rindu. Dia bisa membayangkan apa yang Kyu Hyun rasakan, karena apa yang Kyu Hyun rasakan pasti sama persis seperti apa yang ia rasakan.

“Kau masih bisa ke mari kalau kau merindukanku, tetapi aku? Aku hanya bisa mengingat-ingat memori kecil kita.” Ucap Hyu Won dengan senyum miris.

“Sekarang aku atau kau tidak perlu menahan rindu lagi, bukan?” tanya Kyu Hyun.

“Benar,” balas Hyu Won.

Kyu Hyun lantas berjalan menuju belakang tubuh Hyu Won. Dia meletakan tangannya pada bahu gadis itu lalu mengayunkan tubuh gadis itu perlahan.

“Kau ingat kita sering membuat impian di taman ini?”

“Hmm.” Angguk Hyu Won sambil memejamkan matanya, dia sedang menikmati tubuhnya yang berayun pelan.

“Kau ingat kau pernah membuat impian bahwa bila kau dan aku sudah besar nanti kau ingin kita mencari orang tua kita?” tanya Kyu Hyun.

“Hmm.” Angguk Hyu Won lagi, kali ini ia membuka matanya. Sekelebat ingatannya kembali pada masa kecilnya, dia pernah begitu menggebu-gebu ingin menemukan orang tuanya.

“Sekarang mereka ada di sini.” Ucap Kyu Hyun.

“Ya.” Balas Hyu Won pelan.

“Kau tahu apa harapanku ketika kita masih kecil dulu?” tanya Kyu Hyun.

“Mewujudkan impian kita?” tanya Hyu Won.

“Ya, harapanku adalah mewujudkan impian kita –impianmu. Sejak kau menghilang, beberapa harapan dan impianku terwujud tetapi itu semua tak membuatku bahagia. Aku sadar bahwa aku hanya ingin menemukanmu dan bersama-sama mewujudkan impian kita –impianmu. Dan aku rasa harapanku sudah terwujud.” Ucap Kyu Hyun.

“Menemukan orang tuaku.” Ucap Hyu Won mengambang.

“Aku rasa semua ini adalah takdir yang Tuhan atur untuk kita. Dia menuntunku dan orang tuamu untuk bertemu. Bicaralah dengan orang tuamu, Hyu Won-ah.” Ucap Kyu Hyun lalu menghentikan dorongannya pada ayunan.

Hyu Won menolehkan kepalanya ke belakang dan dia bisa melihat dua orang paruh baya yang berdiri di belakang Kyu Hyun, mereka menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan. Dia lalu berdiri dari ayunan dan sepenuhnya membalikan tubuhnya untuk bisa melihat dua orang paruh baya itu.

Hyu Won menundukan kepalanya dan air matanya jatuh tanpa ia sadari. Ternyata dia juga merindukan kedua orang tersebut. Kyu Hyun menatap Hyu Won dengan sendu, tangannya bergerak mengusap kepala gadis itu seolah memberikan gadis itu kekuatan. Dia lantas membalikan tubuhnya dan menatap Ji Won dan Jae Ho. Dia lalu menolehkan kepalanya ke arah Hyu Won yang masih menundukan kepalanya, pria itu lantas berjalan meninggalkan ketiga orang tersebut.

Hyu Won mengangkat kepalanya dan tatapannya terkunci pada Ji Won dan Jae Ho. Ji Won tersenyum lebar meskipun air mata mengalir deras di wajahnya. Tak berbeda jauh dengan Ji Won, Jae Ho justru tak bisa menahan emosinya sejak tadi. Pria bertubuh tegap itu bergetar menahan isak tangisnya.

Hyu Won melangkahkan kakinya berjalan menuju Ji Won dan Jae Ho, lututnya terasa begitu lemas. Ji Won dan Jae Ho juga berjalan menuju Hyu Won.

Eomma… appa…” ucap Hyu Won dengan suara bergetar. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia mengucapkan dua kata sakral itu.

Dan isak tangis itu tak bisa ditahan lagi. Hati Ji Won dan Jae Ho begetar mendengar kata yang keluar dari bibir Hyu Won. Keduanya tak bisa menahan emosi yang selama dua puluh lima tahun ini mereka tahan. Kerinduan itu membuncah dan meledak seperti kembang api. Dengan tubuh bergetar Ji Won dan Jae Ho menarik tubuh Hyu Won ke dalam pelukan mereka. Dipeluknya tubuh Hyu Won dengan erat seolah gadis itu akan menghilang begitu pelukan mereka mengendur.

“Putriku…” Isak Jae Ho dengan pilu. Direngkuhnya tubuh istri dan putri semata wayangnya dengan erat.

Eomma… appa…” Hyu Won berkali-kali menyebut dua kata itu seolah itu adalah kata yang begitu asing baginya, isak tangis tak bisa dibendung lagi. Gadis itu menangis tersedu-sedu di dalam pelukan ayah dan ibunya.

“Ini eomma, sayang… ini eomma…” ucap Ji Won.

“Kalian hangat sekali.” Ucap Hyu Won. Benar, dia merasa begitu nyaman dalam pelukan Ji Won dan Jae Ho.

“Maafkan kami, maaf, maaf….” ucap Jae Ho berulang-ulang kali.

“Maaf membuatmu hidup sendirian dan menghadapi semuanya sendirian. Maaf tak berada di sampingmu di saat tersulit dalam hidupmu.” Ucap Ji Won yang menangis sesenggukan. Seumur hidup dia tak akan pernah bisa melepaskan penyesalan ini. Wanita itu menangis sampai dadanya terasa begitu sesak.

Hyu Won melepaskan pelukannya dan dia menatap wajah kedua orang tuanya. Dia bahagia karena mereka adalah orang tua kandungnya. Dia merasa seolah dia baru saja kembali dari suatu tempat yang kelam menuju tempat yang penuh dengan cahaya.

Jae Ho menggiring istri dan putrinya menuju kursi taman. Di sana ketiganya duduk dan saling menggenggam tangan satu sama lain. Ji Won menatap perangai manis Hyu Won dengan tatapan tak percaya, dia akhirnya bisa menatap gadis itu sebagaimana mestinya.

“Pasti sangat berat menjalani semuanya sendirian.” Ucap Ji Won dengan suara bergetar, wanita itu menyentuh wajah Hyu Won seolah masih tak percaya bahwa yang berada di hadapannya adalah putrinya yang selama ini ia rindukan.

“Aku kehilangan bertahun-tahun kesempatan untuk menjagamu sebagaimana seorang ayah menjaga putrinya.” Ucap Jae Ho.

“Aku pikir aku tak akan pernah bertemu dengan kalian, aku bahkan sudah menghapus semua harapanku untuk bertemu kalian.” Ucap Hyu Won.

Ji Won kembali memeluk Hyu Won dan menepuk-nepuk punggung gadis itu seolah menenangkan gadis itu. Hyu Won memejamkan matanya menikmati pelukan Ji Won. Rasanya seperti tidak ada yang perlu ia takutkan lagi esok hari. Belum pernah dia merasa senyaman ini.

Ji Won menatap wajah Hyu Won lalu dikecupnya dahi gadis itu, air matanya masih terus mengalir. Jae Ho merengkuh tubuh dua wanita tercinta di hidupnya itu ke dalam pelukannya.

“Sekarang kau tidak perlu takut lagi, ada eomma dan appa di sampingmu.” Ucap Ji Won parau. Rasanya lega sakali akhirnya bisa memberikan perlindungan secara nyata untuk putrinya.

“Aku akan menjaga kalian.” Ucap Jae Ho dengan suara beratnya.

****

Three Days Later…

At Garden

Hyu Won mendudukan tubuhnya di atas sebuah ayunan. Gadis itu menggenggam tali ayunan lalu ia mendorong kakinya perlahan ke tanah, tubuhnya berayun-ayun mengikuti semilir angin. Ia memejamkan matanya menikmati embusan angin yang menerpa wajahnya. Senyumnya tersungging, rasanya hatinya bahagia sekali. Beberapa hari ini dia seperti melalui episode baru dalam hidupnya. Tidak pernah ia bayangkan akan merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya, ah belum lagi semua orang yang ia cintai berkumpul dan ada bersamanya.

“Kau pasti sangat bahagia sekali, kan?” ujar sebuah suara dari belakang Hyu Won. Hyu Won membuka matanya tanpa menolehkan kepalanya, dia sudah tahu siapa yang berbicara.

“Aku belum pernah sebahagia ini.” Ucap Hyu Won lirih.

“Kau akan terus bahagia setiap hari, Hyu Won-ah.” Ucap Kyu Hyun.

“Aku berharap begitu. Semoga semua orang di sekitarku juga merasakan apa yang kurasakan.” Ucap Hyu Won.

Kyu Hyun tersenyum mendengar ucapan gadis itu. Dia lantas melangkahkan kakinya mendekati Hyu Won. Tangannya bergerak menggenggam tangan Hyu Won. “Masih ingat rasanya melambung tinggi dengan ayunan?”

Hyu Won berpikir sejenak. Dia ingat dulu ketika mereka masih kecil, mereka sering bermain ayunan di taman ini.

“Sedikit. Kau sering mendorong ayunan ini sampai melambung tinggi.” Ucap Hyu Won.

“Mau mencobanya lagi?” tanya Kyu Hyun.

“Tidak, terima kasih.” Ucap Hyu Won menolak dengan tawa ringan.

Kyu Hyun tak mengindahkan ucapan gadis itu. Dia justru menaiki ayunan itu dan berdiri di belakang Hyu Won. Tubuh mereka sedikit terombang-ambing nyaris jatuh.

“Yak!” jerit Hyu Won. “Apa yang kau lakukan?”

“Bermain ayunan, apa lagi?” ucap Kyu Hyun santai. Kyu Hyun lalu melengkungkan tubuhnya kemudian menegakannya kembali, ia melakukan sebuah usaha untuk membuat ayunan berayun.

“Kita akan jatuh!” jerit Hyu Won ketakutan tetapi tak bisa menyembunyikan kesenangan dari suaranya.

“Tidak apa-apa. Kita akan jatuh bersama-sama. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh sendiri.” Ucap Kyu Hyun dengan ringan tetapi Hyu Won bisa menangkap sebuah makna dari ucapan pria itu.

“Akan lebih baik kalau kita tidak jatuh.” Ucap Hyu Won.

“Hanya terjatuh dari sebuah ayunan, Kang Hyu Won. Kita bisa berdiri kembali.” Ucap Kyu Hyun. Mereka pernah jatuh terjerembab hingga sulit untuk berdiri, sekali lagi jatuh dari sebuah ayunan tak akan membuat mereka kesulitan untuk berdiri.

Hyu Won mendongakan kepalanya lalu menatap Kyu Hyun, tatapannya mengunci tatapan pria itu. Ia lantas tersenyum lembut pada Kyu Hyun. Dalam hati ia ia berikrar bahwa mulai detik ini ia tak akan pernah berusaha untuk pergi dari Kyu Hyun lagi, mulai detik ini dia akan mempercayai semua hal pada pria itu.

KRIEETT

OMMO!” jerit Hyu Won terkejut saat ia mendengar bunyi seperti tali yang akan putus.

“Kita akan jatuh!” ucap Kyu Hyun dengan jenaka. Hyu Won sangat ingin menjitak kepala pria itu.

“Turun! Turun!” teriak Hyu Won, ia baru saja hendak melompat dari ayunan namun sayang sekali tali ayunan sudah lebih dulu putus sehingga tubuh mereka limbung ke belakang.

BRUUKKK

Tubuh Kyu Hyun yang pertama kali menyentuh tanah lalu kemudian disusul tubuh Hyu Won yang juga terjungkal ke belakang. Tubuh gadis itu menimpa Kyu Hyun.

“Ya ampun! Kau bilang ayunan ini semakin kokoh tapi nyatanya tidak!” jerit Hyu Won bersungut-sungut. Kyu Hyun sudah tertawa keras sejak mereka jatuh tadi. Pria itu benar-benar tak bisa menahan tawanya. Hyu Won dengan cepat bangun dan memeriksa tubuh pria itu tetapi dia tak menemukan luka yang berarti selain lecet-lecet kecil pada lengan pria itu.

Baboya...” ucap Hyu Won lalu memukul lengan Kyu Hyun.

Kyu Hyun segara bangun lalu menghentikan tawanya dan menatap Hyu Won dengan tatapan jahil. “Lihat, tidak apa-apa. Kita tidak terjatuh di jurang, Kang Hyu Won.” Ucap Kyu Hyun.

“Kau ini seperti anak kecil saja.” Dengus Hyu Won.

Kyu Hyun lalu mencubit pipi gadis itu lembut, jari-jarinya bergerak mengusap pipi gadis itu. Rasanya dia rindu sekali bersenda gurau dengan gadis itu. Dulu di taman ini, di atas rumput hijau, di bawah ayunan ini mereka sering bermain dan mengutarakan mimpi-mimpi kecil mereka. Kyu Hyun tak pernah menyangka dia bisa melakukan semua itu lagi dengan gadis yang sama.

“Jadi bagaimana?” tanya Kyu Hyun. Suara pria itu berubah menjadi berat dan serius.

“Apa?” tanya Hyu Won bingung.

“Menikah denganku.” Ucap Kyu Hyun penuh keseriusan. Ada binar penuh asa di manik mata pria itu.

Hyu Won mengiggit bibir bawahnya, kepalanya tertunduk perlahan. Raut wajahnya berubah menjadi sedih. “Kyu Hyun…”

“Iya?”

“Kau harus tahu aku punya hal-hal buruk di dalam diriku, yang aku sendiri pun tak bisa menanganinya. Sekarang kau mungkin bisa menerimanya dengan sabar tetapi suatu hari nanti kau akan muak dengan semuanya.” Ucap Hyu Won. “Aku bukan pilihan yang baik untukmu.” Tambah Hyu Won.

“Bagaimana kau bisa tahu ketika kita belum mencoba menjalaninya?” tanya Kyu Hyun dengan lembut.

“Kau tahu aku punya banyak ketakutan dalam diriku.” Ucap Hyu Won.

“Aku pun memiliki banyak ketakutan dalam diriku. Aku sangat takut menjalani hidupku tanpa dirimu. Bertahun-tahun lalu aku selalu takut bangun di pagi hari karena aku tahu kau tak ada di sisiku tetapi sekarang pagi hari adalah hal yang paling kunantikan, Kang Hyu Won.” Ucap Kyu Hyun.

Hyu Won tersenyum simpul mendengar ucapan pria itu. “Kau sedikit puitis pagi ini.” Ucap Hyu Won.

“Kau tahu bahwa sekuat apa pun kau menolakku, maka aku juga akan berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkanmu.” Ucap Kyu Hyun.

“Ya, aku tahu itu.” Ucap Hyu Won.

“Jadi?” tanya Kyu Hyun.

“Jadi?” Balas Hyu Won.

“Bagaimana kalau kita menjalaninya? Mencari tahu apa kita bisa mengalahkan semua ketakutanmu dan mencegah semua ketakutanku terjadi.” Ucap Kyu Hyun.

Hyu Won mengangkat kepalanya dan menatap Kyu Hyun dengan dalam.  “Ya.” Balasnya singkat. Dia sudah bilang kan bahwa mulai detik ini ia akan menyerahkan segalanya pada pria itu.

Kyu Hyun merengkuh gadis itu lalu mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu sehingga dahi keduanya saling menempel satu sama lain. “Ya apa, Kang Hyu Won?” tanya Kyu Hyun.

“Aku mau mencoba menjalaninya.” Ucap Hyu Won dengan penuh keyakinan.

Kyu Hyun semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Hyu Won. Dia menyisakan jarak yang begitu tipis. Jemarinya meraih wajah Hyu Won. “Kau tahu, aku sangat penasaran bagaimana melewati hari-hariku bersamamu hingga nanti kita menua.” Ucap Kyu Hyun dengan senyum di bibirnya. Dia tak bisa menyembunyikan kebahagiaan dari wajahnya.

Kemudian dengan perlahan dan lembut, Kyu Hyun mengecup bibir mungil Hyu Won. Membiarkan gadis itu merasakan senyum kebahagiaan di bibirnya.

“Aku belum pernah melihatmu sebahagia ini, oppa.” Bisik Hyu Won di sela-sela kontak fisik mereka.

Kyu Hyun tersenyum jenaka. “Mungkin aku pria yang sangat bahagia hari ini di dunia.” Ucap Kyu Hyun lalu kembali membungkam gadis itu. Hyu Won tersenyum simpul mendengar ucapan Kyu Hyun.

Hari itu, masih bersama orang yang sama dua puluh tahun lalu, di atas rumput hijau, di bawah ayunan kayu dan disinari hangatnya mentari pagi, Kyu Hyun dan Hyu Won kembali menyusun asa dan merangkai mimpi baru, mereka akan mewujudkan impian-impian kecil mereka yang sempat tertunda.

THE END

Akhirnya ya, tamat jugaaa setelah dua tahun ga beres-beres. Makasih buat yang selalu setia baca cerita ini, semoga ini bisa bikin kalian puas. Sudah ya sedih-sedihnya sama Kyu Hyun-Hyu Won. Mereka lagi mewujudkan mimpi-mimpi yang sempat tertunda. Pokoknya makasih banyak yang udah baca komen, like, share, dan support aku. Aku sayang kalian semuaaaa:*

 

Advertisements

60 thoughts on “FF: Never Be The Same (Part 10-END)

  1. Pas baca flashback 10tahun lalu ngerasa marah & benci banget ma kyu,tega banget ninggalin hyuwon. Tapi itu juga bikan sepenunnya kesalahan kyu, dia juga korban yg dijebak naami. Akhirnya hjappy ending y,,,leganya….

  2. Wahhhh finallyy selesee jugaa ceritanyaa. Rasanya legaaa campur sedih cz it means that i’ve to say goodbye to this couple. Aslii pemilihan kata2nya dalem bgtt, entah gw yg terlalu melow apa gimana, tp bahasanya selalu berhasil bikin gw mewekkk. Pokoknya ini kerennn galuhh. Suksesss teruss ya buat kamuu 😍😍😍

  3. Finally happy ending….
    Emang udah saatnya hyu won bahagia dan menghadapi ketakutannya melepas semua beban masa lalunya
    Walau masih teringat miris dan tragis dengan perlakuan min seo tuh orang emanh pantas dihukum berat
    Makasih ya saengi akhirnya sampai part ending biar lama updatenya tapi selalu konsisten dan gk ngegantung 😁😁😁
    Ditunggu karya”mu selanjutnya ya semangat

  4. Finally!!!☺️😃 ini ff yang kutunggu2 dari kemaren. Setiap hari pasti kerjaannya cek email siapa tau di post 😂
    Alhamdulillah happy ending sesuai ekspektasi. Suka banget sama ff nya…. Ditunggu ff berikutnya kak! 😂😃😊

  5. Gak kerasa kalau ff ini sampw 2 tahun untuk menuju end ..
    Dan ahirnya gak ada lagi kyuhyun dan hyuwon yg nangis2 karena benci eengan masa lalu mereka ..
    Sekarang mereka mau nikah …

  6. haa hyuwon yang udah kumpul sama orang tuanya kenapa aku yang nangis.. akhirnya happy ending…..kyuhyun hyuwon selalu bahagia ….ya ampun kak bagus bnget ff nya sumpah aku seneng lihatnya

  7. Yuhuuuuuuuuuu
    Ngikutin dari awal sampe akhir kisahnya mereka berdua. Dari kezell banget sama kyuhyun sampe cinta banget sama si kyuhyun. Nangis di beberapa part yang menguras emosi. Dan akhirnya jadi juga mereka. Syenenggg lihat hyu won bahagia lagi.
    Makasih udah buat cerita yang menguras air mata dan emosi ya eon. Semoga bisa nulis cerita baru lagi yaa. Loveeeeee

  8. Ya ampuunn akhirnya kisah merrka berakhir juga :’ sumpah beban hidup hyuwon berat banget, minseo bener bener jahanam bgt.

    Pokoknya ini ff kereeeen bgt, bikin yg baca ikut ngerasain Apaa yg hyuwon rasa.

    Di tunggu ya karna selanjutnyaa

  9. Setelah menunggu dgn kesabaran…akhirnya dilanjutkan juga.
    Awalnya benci banget ama kyu…sekrg malah sebaliknya…..
    G bisa bayangin seandainya diposisi hyuwon waktu dihotel itu…..oh kyu jaga baik” gadismu jgn membuatnya terluka lagi…..
    Makasih thor sudah dilanjut ceritanya….

    Jujur penasaran sama kehidupan pernikahn mereka hhhhh

  10. Senangnya akhirnya Kyu dan Hyu won menemukan kebahagiaan nya. Apalagi akhirnya Hyu won bertemu dengan orang tua kandung nya. Akhirnya hidup Hyu Won dan kyu berakhir dengan happy ending.

  11. Aaahh Alhamdulillah ketemu Kyuhyun-HyuWon lagi. Senangnyaaa hehee
    Btw terharu banget baca part ini, senang mereka bisa bersatu. Alhamdulillah
    Terimakasih Eonni. Semangat selalu berkarya…

  12. kayahaaaaaa….. akhirnyaaa mrekaa fix mauu nikahh jugaaa..
    setidaknyaa mrekaa berakhir bahagaiaa.. smuaa… hihi..
    yipppiiii

  13. Ga nyangka udah baca sampai end. endingnya sesuai harapan banget. kyuhyun dan hyuwon bersama. pasangan yang serasi. pokoknya seneng banget.

  14. finally happy ending huahhhhhh kyuwon bikin gue terharu cieeeeee hyu won pasti dia sekarang bahagia bgt syukurlah seq dong eon klo bisa ya

  15. finally happy ending huahhhhhh kyuwon bikin gue terharu cieeeeee hyu won pasti dia sekarang bahagia bgt syukurlah seq dong eon kalo bisa ya

  16. akhirnya happy ending juga…saling menerima kekurangan pasangan masing2,,,bahagia bersama hehehe…good job semua penderitaan hyuwon akhirnya terjawab semua…

    thx thor^^

  17. Menurutku ini part paling emosional dari semua part..
    Sampai2 dari awal ke akhir gak berhenti2 nangis..
    Hikzzz..
    Akhirnya setelah mreka melalui semua hal berat ini mreka bisa kembali bersama juga..
    Terimakasih untuk karya indahnya..
    Ditunggu karya2 selanjutnya yaa

  18. Woaaaah…. Akhirnya kisah
    kehidupan berakhir bahagia.
    Hyu won bisa bersama keluarganya serta bisa menikah dgn kyuhyun.
    Berharap sih sampai mereka melangsungkan pernikahan dan mempunya anak sih, tapi gak apalah, yang penting hyu won bisa bahagia dgn kyuhyun.

  19. Huffff lega… smua ny berakhir bhgia. Ikut snang jd ny. Aplgi hyuwon udh bs trsenyum lg stlh ap yg d lalui ny slma ini. Trlebih skrg hyuwon jg udh bs nerima kdua org tua ny 😊😊.
    Hahaha q kok jd pngen ngakak ngbyangin kyu n hyuwon jatuh dr ayunan. Itu persis kyk q wkt kecil jatuh dr ayunan hahaha.

  20. part paling emosional, aku sampai nangis sesegukan bacanya ㅠㅠ .. duh Hyuwon memang pantas untuk berbahagia. kuharap minseo dihukum berat kalau bisa dihukum seumur hidup habis jahat banget ikhhhh. apakah ada epilogue?? walau gitu suka banget ff series ini dari awal hingga akhir ^^

  21. keut.. finally hyuwon and kyuhyun get their happy ending. makasih author kece yang tulisannya bisa berasa banget feel nya ini. beneran sampe berkaca-kaca loh ini, hiks. gomawo author buat ceritanya 😀
    semoga bisa menghasilkan karya lainnya yang makin cetar ya thor 🙂

  22. Alhamdulillah yah hyun won nya akhirnya mau jg heheheheh, wah penantian pjg kyu dan saya terbayarkan. Hehhehehe.

  23. Huaaa udah lama ya ga baca ff kyuhyun.
    Btw, pas aku baca nama OC nya aku kaget.. kirain aku Kang HyungGu aka Kino pentagon, soalnya dia cast di ff aku juga.. ehhh taunya bukan jadi malu deh 😂😆😁ㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

    Keren kereeennnnn 👏
    Oiya aku numpang promote juga ya own/author heheee

    aku punya projek ff baru sebagai comeback aku sebagai penulis ff setelah 5 tahun hiatus ㅋㅋㅋㅋ

    bercerita tentang seorang gadis bernama Kim NaRa yang tidak bisa menerima keadaan hidupnya karena semua orang yang dia sayang direnggut darinya dan meninggalkannya seorang diri.
    Dari situlah dia memulai kisah kehidupan sebenarnya dan bertemu dengan orang-orang yang akan menjadi takdirnya di masa depan.

    Casts : Kim NaRa (OC), Park JinWoo/Jinjin (ASTRO), Kang HyungGu/Kino (Pentagon).
    Genre : Drama, Romance, Family, Medical

    Ayoo penggemar ASTRO dan PENTAGON mari merapat~~~~ 😊😊

    http://nalsallaya.wordpresss.com/

    Timaaciw owner…. 💕

  24. Akhir yang bahagia. Seneng bgt deh kyuhyun dn hyuwon kmbli brsma stlah bnyak.y masalah yg mnimpa mreka, trus juga hyuwon tau siapa org tuanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s