FF: My Fiance


Warning : Don’t Copas Without My Permission. Tuhan melihatnya.

Happy Reading all! Mohon doanya semoga kita semua lulus UN. Amin 🙂

Author (Owner) : Galuh Tyas Wijiastuti ^^

Genre : Romance, Comedy.

Rating : PG 17

Length : Oneshot

Cast :

–       Kang Ji Kyung

–       Lee Donghae of Super Junior

–       Cho Kyu Hyun of Super Junior

–       Lee Donghwa

–       Park Sung Rin

 

Principal’s Office,

Shinchung Senior High School

01.00 PM

“Songsaenim, can i go home now?”

“No..”

Ji Kyung menghembuskan nafasnya kesal setelah mendengar jawaban dari pria dengan wajah tampan di balik meja kerjanya.

“Oppa, aku lelah. Seharian ini aku belajar dan kau masih tega menahanku di sini? Aku pulang duluan ya?” tanya Ji Kyung lagi. Kali ini ia memohon dengan wajah imutnya.

Donghae tersenyum lalu mengangkat kepalanya dan menatap gadis 18 tahun yang kini tengah duduk di sebuah sofa yang tak jauh dari meja kerjanya.

“Sebentar lagi Kyung-ah, 30 menit lagi dan kita akan pulang. Pekerjaanku tinggal sedikit lagi.”

Gadis itu hanya merenggut menatap pria yang menjadi Kepala Sekolah sekaligus tunangannya itu. Ji Kyung menaikan kedua kakinya ke atas sofa lalu meluruskannya, mungkin tidur sebentar akan mengusir rasa bosannya. Ia membuka mata lalu menatap Donghae sebentar, mengagumi wajah tampan tunangannya. Kemudian ia tenggelam dalam alam mimpinya, tubuhnya terlalu lelah bila harus duduk dan menunggu Donghae menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya ia bisa saja pulang duluan, tapi pria itu menahannya dan meminta mereka untuk pulang bersama.

Donghae mengangkat kepalanya lalu menatap gadis yang kini tengah tertidur di atas sofa.

“Kau tidur?” tanya Donghae namun ia hanya bisa mendengar suara denting jam yang berbunyi. Gadis itu memang sudah terlelap. Dan bila ia sudah terlelap, ia akan sulit dibangunkan.

Donghae berdiri dan merenggangkan kedua tangannya membiarkan otot-otot tangannya berelaksasi sebentar. Ia melepas kacamata bacanya lalu berjalan menuju sofa dimana Ji Kyung terlelap.

Donghae berdiri tepat di samping Ji Kyung, pria itu melipat kedua tangannya di depan dada lalu menatap Ji Kyung dari atas kepala hingga kaki. Bibirnya berdecak kagum menatap kecantikan tunangannya itu. Walaupun Ji Kyung masih begitu muda, tak membuat Donghae melirik gadis dewasa lainnya. Hatinya sudah tertanam terlalu dalam pada gadis itu. Sejak kecil mereka selalu bersama. Bermain, tidur, makan, mandi dan melakukan segala hal bersama. Walaupun umur mereka terpaut jauh, Donghae tetap menyukai gadis itu dengan segala alasan yang ada.

Rasa cinta pria itu semakin bertambah besar bila mengingat kejadian naas yang menimpa kedua orang tua Ji Kyung. Gadis itu harus kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan yang terjadi saat dirinya masih berusia 4 tahun. Keluarga Donghae adalah orang yang pertama kali dihubungi oleh pihak kepolisian. Donghae masih ingat saat keluarganya tiba di tempat kejadian, Ji Kyung hanya duduk diam di tepi jalan dengan pandangan kosong menatap jalanan. Gadis itu tampak begitu kacau, wajahnya tak seceria biasanya hanya raut kesedihan dan kehancuran yang Donghae lihat dari wajah mungilnya. Ji Kyung tak memiliki keluarga yang tersisa lagi di Korea. Sebenarnya ia masih mempunyai kakek dan nenek namun keduanya menetap di California. Keluarga Lee memutuskan untuk merawat Ji Kyung seperti putri mereka sendiri. Sejak saat itu Donghae bertekad untuk selalu menjaga gadis itu apapun yang terjadi.

“Yeppuda..” gumam Donghae lalu melepas jasnya dan menutupi tubuh Ji Kyung yang kini meringkuk seperti anak kucing di atas sofa.

Donghae berjalan menuju mejanya lalu kembali berkutat dengan kertas-kertas yang ia sendiri tak tahu kapan akan terselesaikan.

***

“Nghhh…” lenguh Ji Kyung saat matanya terbuka. Ia mengerjapkan matanya berulang kali. Mencoba membiasakan retina matanya dengan cahaya di sekitarnya.

“Kau sudah bangun?” tanya Donghae tanpa menolehkan kepalanya pada Ji Kyung.

“Hmm, aku tertidur berapa lama?” tanya Ji Kyung.

“30 Menit kurasa, kajja! Urusanku sudah selesai,” ucap Donghae. Sebenarnya urusannya sudah selesai sejak tadi tapi karena menunggu Ji Kyung bangun, ia terus mengerjakan pekerjaan lainnya. Ia tak mau mengganggu waktu tidur gadis itu.

“Ahhh, akhirnya! Perkiraanku benar, kalau aku tidur maka tak akan terlalu lama..” ucap gadis itu senang. Donghae hanya tersenyum.

“Eoh? Aigoo! Donghae Songsaenim kau yang menyelimutiku dengan jasmu?” tanya Ji Kyung saat menyadari ada sebuah jas di atas tubuhnya. Gadis itu berbicara dengan nada yang dibuat-buat.

“Hmm, siapa lagi? Rokmu terangkat kemana-mana, kau mau menggodaku ya?” tanya Donghae menjahili gadis itu. Seketika itu juga pipi Ji Kyung merona merah.

“Kurasa Songsaenim tak akan tergoda dengan gadis ingusan sepertiku,” balas Ji Kyung asal.

“Aku tetap seorang laku-laki normal Kyung-ah. Dan kau tak lagi kecil, jadi berhati-hatilah bila melakukan apapun..” ucap Donghae lalu berdiri setelah memasukan semua kertas-kertasnya ke dalam tas.

“Cih, Songsaenim tak akan melakukan hal buruk di lingkungan sekolah..” ucap Ji Kyung mencibir.

“Siapa bilang, aku bebas melakukan apapun di ruanganku. Dan satu lagi, berhenti memanggilku Songsaenim, aku ini tunanganmu.” Ucap Donghae.

“Arra araa! Donghae-oppa..” ucap Ji Kyung dengan penekanan di akhir kalimat.

“Kajja!” ucap Donghae lalu berjalan menuju pintu.

“Ya! Jangan terlalu cepat, aku masih mengantuk..”

“Lanjutkan tidurmu di mobil..” ucap Donghae acuh lalu berjalan meninggalkan Ji Kyung di belakang.

***

Lee’s Family Home, South Korea

02.30 PM

Ji Kyung beralari memasuki pintu dengan tergesa-gesa, perutnya benar-benar sudah tak bisa diajak berkompromi lagi.

“Kami pulanggggg!” teriak Ji Kyung keras.

“Aigoo! Kalian sudah pulang?” ucap Hyang Sook –Donghae eomma- dari arah pintu ruang makan.

“Eomma aku lapar, aku makan duluan ya..” ucap Ji Kyung lalu berlari menuju ruang makan tanpa menunggu Donghae.

“Ya! Cuci tanganmu!” teriak Donghae.

“Ok! Sirr…”

Hyang Sook hanya mendengus kecil melihat putri sekaligus tunangan putranya bertingkah seperti itu.

“Kapan gadis itu dewasa?” ucap Hyang Sook dengan kepala yang menggeleng kecil.

“Saat ia menikah denganku nanti,” ucap Donghae lalu terkekeh.

“Kau akan membuatnya dewasa dalam konteks yang berbeda Lee Donghae..” cibir Hyang Sook. Ia tahu benar apa yang ada di dalam pikiran mesum anaknya itu.

“Kau selalu tahu pikiran anakmu eomma..” ucap Donghae lalu duduk di sofa ruang tamu, Hyang Sook juga ikut duduk di sana.

“Sore ini aku, Donghwa dan appamu akan ke Meokpo,” ucap Hyang Sook.

“Untuk apa?”

“Nenekmu meminta kami ke sana, kau di sini saja, jaga Ji Kyung,” ucap Hyang Sook.

“Hmmm, lagipula besok ia masih sekolah. Kenapa kalian tak pergi hari libur saja?” tanya Donghae.

“Nenekmu meminta cepat..” Donghae hanya mengangguk lalu membuka dasinya, baru saja ia akan membuka kancing bajunya, Ji Kyung berdiri dengan berkacak pinggang lalu berteriak ke arahnya.

“Ya! Oppa kau lama sekali! Aku sudah lapar, aku menunggumu dan kau malah duduk di sana!” teriak Ji Kyung dengan wajah kesalnya.

“Eoh? Kau belum makan? Kupikir sudah,” ucap Donghae.

Hyang Sook menatap Ji Kyung lalu menatap Donghae.

“Sejak kapan gadis itu bisa makan tanpamu?” ucap Hyang Sook lalu membuka sebuah majalah. Donghae tersenyum mendengar ucapan eommanya. Fakta bahwa gadis itu selalu bergantung padanya membuatnya begitu bahagia. Gadis itu sudah semakin terikat dengan dirinya.

***

At Night

07.00 PM

Ceklek

Tanpa mau sibuk melihat siapa yang membuka pintu, Donghae tahu siapa yang ada di sana.

“Oppa..” sebuah kepala tampak menyembul dari celah pintu yang terbuka kecil.

“Ya! Jangan berdiri seperti pencuri kecil di situ, cepat masuk..” ucap Donghae.

Ji Kyung tersenyum lalu mulai masuk ke dalam ruangan kerja Donghae. Ia sangat suka suasana di dalam ruang kerja Donghae. Di sana banyak buku yang bisa ia baca. Semua favoritnya. Ia paling suka membaca buku-buku Paulo Coelho, seorang penulis yang terkenal dengan buku karangannya yang berjudul “The Alchemist”.

“Ada apa?”

“Anni, aku hanya sedang bosan saja..” balas Ji Kyung lalu mulai duduk di depan Donghae, mereka terpisah antara meja kerja Donghae.

“Kau tak mengerjakan pekerjaan rumahmu?” tanya Donghae.

“Sudah,” balasnya singkat.

“Lalu kenapa tidak tidur?” tanya Donghae.

“Sudah kubilang aku bosan,” balas Ji Kyung lalu menatap wajah Donghae. Ia suka menatap setiap lekuk wajah Donghae. Mata pria itu begitu teduh, bibir tipis pria itu selalu tersenyum manis ke arahnya dan suara pria itu begitu menenangkan.

“Wae? Mengapa menatap wajahku terus? Kau merindukanku?” tanya Donghae. Ia merasa risih dipandangi terus seperti itu, bukan risih tak suka melainkan ia takut tak bisa menahan gejolak gila karena tergoda oleh gadis di depannya.

“Cih, setiap waktu aku selalu melihatmu, bagaimana bisa aku merindukanmu?” cibir Ji Kyung.

“Bisa saja..”

Keduanya terdiam menikmati denting jam yang berbunyi. Donghae sibuk dengan kertas di depannya sementara Ji Kyung terus menatap wajah pria itu.

“Oppa terkadang aku berpikir mengapa pria dengan usia 27 tahun sepertimu mau menjadi Kepala Sekolah?” tanya Ji Kyung tiba-tiba.

“Karena ada tunanganku yang bersekolah di sana,” jawab Donghae. Ji Kyung hanya mencibir atas sikap gombal pria itu. Tapi tidak dengan Donghae. Pria itu memang mengatakan hal yang sesungguhnya. Pria itu sengaja memasukan gadis itu ke dalam Sekolah milik keluarganya, apa lagi kalau bukan karena ingin terus bersama gadis itu?

“Mengapa kau tak jadi model saja? Kau tampan,” ucap Ji Kyung lagi.

“Aku tak suka sorot lampu kamera, dan kau mau tubuh tunanganmu selalu diraba model cantik?” balas Donghae.

“Memangnya kau pikir kau jadi model apa? Model majalah dewasa, hah?” Tanya Ji Kyung setengah kesal. Bukan menjadi model seperti itu yang ada di dalam pikiran Ji kyung.

“Mungkin saja,”

“Mengapa kau tak mengurusi perusahaan saja seperti Donghwa oppa?” tanya Ji Kyung lagi.

“Aku akan mengurusi perusahaan setelah kau keluar dari Sekolah,” ucap Donghae seolah tak tertarik dengan Sekolah bila gadis itu tak ada di sana.

“Mwo? Jangan-jangan kau menjadi Kepala Sekolah karena ada diriku?” tanya Ji Kyung.

“Apa lagi? Tadi sudah kubilang, kan? Kau pikir kenapa aku mau jadi Kepala Sekolah?” balas Donghae balik bertanya.

“Jangan-jangan nanti saat aku berkuliah, kau juga akan melamar menjadi dosenku?” terka Ji Kyung.

“Bisa saja, sayanganya appa mungkin tak akan mengijinkanku..” balas Donghae. Gadis itu sempat terkejut dengan ucapan pria itu. Apakah pria itu benar-benar ingin menjaga dirinya? Tapi tak perlu seperti itu, bukan?

“Baguslah, setidaknya aku tidak terus terikat denganmu. Aku juga mau mencari pria tampan lainnya untuk hiburan..” balas Ji Kyung.

“Bukankah aku juga tampan?” tanya Donghae.

“Aigoo! Tuan Lee kenapa kau ini terlalu percaya diri?”

“Bukankah kau sendiri yang bilang aku tampan?”

Ji Kyung memutar bola matanya seolah ia tak akan pernah menang bila beradu mulut dengan pria itu.

“Oppa temanku bilang sekolah akan kedatangan guru baru, benarkah?” tanya Ji Kyung.

“Hmm,”

“Laki-laki atau perempuan?” tanya Ji Kyung.

“Perempuan…”

“Mwo? Dia cantik?” tanya Ji Kyung antusias.

“Molla..”

“Kau pasti senang ada guru baru, apalagi seorang wanita..” balas Ji Kyung setengah mencibir.

“Kau bahkan belum bertemu dengannya dan kau sudah berkata seperti itu? Aku tak akan tertarik dengan gadis lain..” ucap Donghae acuh.

“Jinjja? Bagaimana bila kau tertarik dengannya?”

Donghae melepaskan bolpoinnya lalu menatap Ji Kyung sekilas, mengapa gadis itu bisa menanyakan hal bodoh seperti itu? “Aku akan membatalkan pertunangan kita mungkin,” balas Donghae asal lalu kembali menatap kertas-kertas di depannya.

Deg!

Ji Kyung menelan ludahnya gugup, ucapan Donghae begitu menakutkan. Bagaimana bisa pria itu berkata semudah itu? Jantungnya tiba-tiba bergemuruh, ia takut bila apa yang dikatakan Donghae akan terjadi.

“Aku mau ke kamar..” balas Ji Kyung lemah. Donghae mengangkat kepalanya dan menatap Ji Kyung yang berjalan gontai menuju pintu. Dahi pria itu berkerut, ia bingung dengan perubahan sikap gadis itu.

“Jaljja!” ucap Donghae.

***

Principal’s Office,

Shinchung Senior High School

09.00 AM

Tok Tok Tok

“Masuklah..” ucap Donghae.

“Annyeong Haseyo.” Sapa seorang wanita dari arah pintu.

Donghae mengangkat kepalanya dan menatap pintu. Ia sepertinya mengenal betul suara ini.

“Lee Donghae?” ucap wanita di depan pintu.

Dahi Donghae berkerut setelah menatap ke arah pintu dimana seorang wanita berdiri, ia mencoba mengingat siapa wanita di depan pintu tersebut. “Park Sung Rin?” ucap Donghae lalu berdiri setelah ingatannya satu-persatu tentang wanita itu muncul.

“Bolehkah saya masuk?” tanya wanita bernama Sung Rin itu formal, biar bagaimana pun Donghae adalah atasannya.

“Ahh, masuklah..” ucap Donghae. Sung Rin berjalan menuju meja Donghae. Ia lalu duduk pada kursi di depan meja kerja Donghae.

“Lama tak bertemu Sung Rin-ah, jangan bilang kalau kau adalah guru baru di Sekolahku?” ucap Donghae antusias.

Sung Rin terkekeh pelan, “Sepertinya memang benar aku guru baru di sini..”

“Aigoo! Dunia begitu sempit, eoh? Aku tak menyangka kita bisa bertemu kembali..”

Keduanya tertawa lalu mulai mengobrol, Donghae dan Sung Rin berteman saat mereka dibangku Kuliah. Donghae dan Sung Rin bisa dikatakan begitu akrab, pertemuan kembali ini membuat mereka kembali mengingat memori dulu saat mereka masih bersekolah.

“Tak kusangka kau kepala sekolah di sini..”

“Ini sekolah appaku jadi aku bisa menjadi Kepala Sekolah di sini..” balas Donghae.

“Kau sudah menikah?” tanya Sung Rin.

Donghae menggeleng lalu tersenyum, “Belum, tapi aku sudah bertunangan..” balas Donghae.

“Dengan siapa? Hye Rin?” tanya Sung Rin antusias.

“Hye Rin? Aigoo! Kami hanya berteman, bagaimana bisa kau termakan gosip murahan seperti itu..” balas Donghae. Pria itu sering dijodoh-jodohkan dengan Hye Rin temannya saat masih di bangku kuliah.

“Lalu dengan siapa? Aku tak pernah mendengar kau dekat dengan gadis manapun selain aku dan Hye Rin..” ucap Sung Rin penasaran.

“Ada satu, teman kecilku..” balas Donghae lalu tersenyum saat menyebut teman kecilku, Ji Kyung muncul dalam pikirannya.

“Jinjja? Aku penasaran siapa gadis itu…” balas Sung Rin.

“Kau akan sering bertemu dengannya kelak,” balas Donghae lalu tertawa pelan.

“Dia guru di sini juga??”

“Anni..”

Sung Rin mengerutkan dahinya, “Murid?” tanya Sung Rin sedikit ragu.

Donghae menganggukan kepalanya lalu tertawa kecil, “Hmmm, salah satu murid di sini..” balas Donghae.

“Aigoo! Dunia benar-benar sudah tidak beres, kau ini pedofil, hah?” tanya Sung Rin.

“Kami hanya berbeda 9 tahun..”

“Kau bilang hanya?”  balas Sung Rin masih tak percaya.

“Lagipula wajahku juga tak terlalu tua..” balas Donghae lagi.

“Tunjukan padaku..” ucap Sung Rin.

“Namanya Kang Ji Kyung, kau cari saja sendiri…”

“Aigoo! Nama yang manis. Ahhh, ngomong-ngomong aku memanggilmu apa? Pak Kepala Sekolah atau Lee Donghae..?” tanya Sung Rin dengan candaan.

“Terserah,” balas Donghae asal.

***

At Canteen, Shinchung Senior High School

10.00 AM

Ji Kyung tengah menunggu pesanannya datang, ia sibuk memainkan ponselnya. Saat tengah fokus pada ponselnya, samar-samar ia mendengar beberapa siswi di belakangnya tampak membicarakan tunangannya.

“Aigoo! Guru baru itu begitu beruntung, baru masuk ia sudah bisa dekat dengan Kepala Sekolah..”

Ji Kyung menolehkan kepalanya dengan cepat saat mendengar kalimat yang diucapkan seorang siswi di belakangnya. Matanya menyipit dan telinganya dipasang sebaik mungkin untuk menguping pembicaraan siswi di belakangnya.

“Hmmm, bagaimana bisa ia dan Kepala Sekolah minum bersama seperti itu..” Ji Kyung bergerak dengan gusar. Kepalanya ia tolehkan ke kanan dan kiri mencoba mencari dimana Donghae duduk.

“Aigoo! Kurasa mereka akan menjalin hubungan lebih, aigoo! Pupus sudah harapan kita bisa bersama Donghae Songsaenim..”

Ji Kyung masih mencari Donghae hingga matanya terpaku pada sudut kantin. Di sana Donghae tengah duduk dan berbincang dengan seorang wanita.

“Oh jadi itu guru baru di sekolah ini..” gumam Ji Kyung pelan.

“Jinjja? Bagaimana bila kau tertarik dengannya?”

“Aku akan membatalkan pertunangan kita mungkin,”

‘Anni,’ ucap Ji Kyung dalam hati. Ia menggelengkan kepalanya mencoba menghalau semua ingatannya tentang ucapan Donghae semalam. Ia menarik nafasnya dalam lalu mulai menghembuskannya lagi.

“Donghae oppa hanya mencintaiku, kami saling mencintai, aku tunangannya, eomma menyayangiku..” ucap Ji Kyung berusaha menenangkan dirinya.

“Aku akan membatalkan pertunangan kita mungkin,”

“Aishhhhh…” kesal Ji Kyung lalu mengacak rambutnya kasar, lagi-lagi ucapan Donghae kembali terngiang di kepalanya.

“Yak!! Kau gila? Mengapa mengacak rambutmu seperti itu?” suara seseorang mengagetkan Ji Kyung.

Ji Kyung menolehkan kepalanya dan menatap sahabatnya yang kini berdiri di belakangnya. “Eoh? Kyu Hyun-ah? Kau darimana seminggu ini tak terlihat di sekolah?”

“Aku dari Australia..” balas Kyu Hyun dengan aksen sombong. Ji Kyung hanya mencibir.

“Wow? Untuk apa? Mana olehh-oleh untukku?” tanya Ji Kyung lalu menengadahkan tangannya di depan dada Kyu Hyun.

“Wait, aku akan membawakannya untukmu besok. Aku ke Australia untuk mengunjungi noonaku,” balas Kyu Hyun.

“Baiklah, aku tunggu oleh-olehku besok..” Kyu Hyun hanya mencibir mendengar ucapan sahabatnya itu.

“Ngomong-ngomong kau sedang apa di sini?” tanya Kyu Hyun.

“Aku sedang makan tentu saja, apa lagi?” balas Ji Kyung kesal, bukan karena pertanyaan Kyu Hyun melainkan apa yang baru saja ia lihat sebelum Kyu Hyun kemari.

“Eoh? Itu Donghae Songsaenim dengan siapa?” ucap Kyu Hyun saat matanya tidak sengaja melihat Donghae yang berjalan keluar dari kantin dengan Sung Rin.

“Ah itu guru baru sekolah ini..”

“Ah neomu yeoppo..” ucap Kyu Hyun berdecak kagum.

“Kau juga tertarik padanya?” tanya Ji Kyung kesal.

“Hmm, wae? Lihat dadanya besar, tubuhnya seksi dan yang paling penting wajahnya sangat dewasa..” ucap Kyu Hyun. Dasar mesum!

“Yakkk!! Kalian pria sama saja, selalu suka dengan gadis-gadis seksi..” teriak Ji Kyung lalu berdiri dari kursinya. Ia sudah tak lapar lagi.

Ji Kyung berjalan menuju pintu kantin dan meninggalkan Kyu Hyun. Pria itu dilanda rasa bingung, mengapa Ji Kyung harus berteriak seperti itu?

“Ya!! Aku pria normal yang akan tertarik dengan gadis seseksi itu, kau tak bisa marah padaku Kang Ji Kyung!!!!” teriak Kyu Hyun kesal.

***

At Night, Ji Kyung Room’s

07.00 PM

Ji Kyung memeluk lututnya lalu menenggelamkan kepala disela-sela pahanya. Moodnya sedang buruk, Donghae meninggalkan dirinya saat pulang tadi. Ia menarik nafasnya dengan perlahan. Tiba-tiba ia begitu merindukan kedua orang tuanya. Ia benar-benar merindukan eomma dan appanya. Air matanya mengalir saat ingatannya kembali berputar pada hari dimana kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Ia ingat saat eommanya berteriak memintanya untuk keluar dari mobil dan berlari menjauhi mobil. Semua ingatan berputar seperti roll film di kepalanya.

“Kyung-ah lari, menjauhlah dari mobil. Jebal chagi!!!”

“Eomma kau berdarah..”

“Cepat keluar Kyung-ah…” ucap appa Ji Kyung lemah.

“Anni, aku mau di sini dengan eomma…”

“Kalau kau tak keluar, eomma tak akan memaafkanmu. Eomma tak akan menyayangimu Kyung-ah…”

“Andwae…” Ji Kyung menggelengkan kepalanya lalu ia mulai membuka seat belt.

“Haruskan aku berlari eomma?” tanya Ji Kyung kecil dengan takut. Ia tak mau eommanya benar-benar tak menyayanginya lagi.

“Hmmm, larilah sejauh kau bisa. Jangan mendekati mobil..”

Ji Kyung menganggukan kepalanya, “Aku akan menolong eomma dan appa..” ucapnya lalu berlari keluar setelah membuka pintu. Gadis itu terus berlari, sementara eomma dan appanya tersenyum seolah begitu bahagia karena bisa menyelamatkan anak semata wayang mereka. Ji Kyung terlalu polos untuk mengerti maksud kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya tahu mobil akan segera meledak.

“Dia anak pintar yeobo…”

DUAAARRRRRR

Ji Kyung menghentikan langkahnya saat ia mendengar bunyi ledakan yang begitu besar di belakangnya, dengan cepat ia membalikan tubuhnya.

“Eommaaa!!! Appaaa!!!” Ji Kyung kecil berteriak dengan keras. Tubuhnya bergetar hebat. Gadis itu menangis histeris, suasana jalanan begitu sepi dan kosong.

Ia hanya terus menangis di tepi jalan tanpa seorang pun yang datang menolong.

Berjam-jam menangis dan ia hanya bisa melihat mobil kedua orang tuanya hangus tanpa adanya pertolongan sedikitpun. Air matanya bahkan tak bisa lagi mengalir. Gadis itu hanya menatap puing-puing mobil yang mulai menghitam. Pandangannya begitu kosong menatap jalanan.

“Eomma, appa boggosipoyeo..” ucap Ji Kyung lirih. Air matanya mengalir lagi padahal ia ingat betul janjinya pada Donghae dan Donghwa. Ia tak akan menangisi lagi kepergian orang tuanya.

Ceklek

“Kyung-ah sem..” ucapan Donghae terhenti saat ia melihat bahu Ji Kyung bergetar pelan. Kepala gadis itu masih berada disela-sela pahanya.

Donghae berjalan mendekati Ji Kyung, tampaknya gadis itu tak sadar Donghae ada di kamarnya. Donghae menarik nafasnya sesak, ia tak suka Ji Kyung terlihat rapuh seperti itu.

“Kyung-ah..” ucap Donghae saat dirinya sudah berada di samping Ji Kyung. Ji Kyung mengangkat kepalanya dan menatap Donghae dengan shock. Ia tak sempat menghapus air matanya.

“Oppa..” ucapnya lirih nyaris tak bersuara.

“Wae? Kau merindukan eomma dan appa?” tanya Donghae. Ia tahu betul alasan apa yang bisa membuat Ji Kyung menangis.

Ji Kyung menganggukan kepalanya pelan, tangannya bergerak menghapus air matanya. Ia tahu Donghae tak akan suka melihatnya bersedih seperti ini.

“Wae? Ada sesuatu yang mengganggumu sampai kau teringat eomma dan appa?” tanya Donghae lalu mulai duduk di samping Ji Kyung. Tangan pria itu bergerak menghapus bekas air mata Ji Kyung.

“Anni oppa, hanya tiba-tiba saja aku teringat pada eomma dan appa..” balas Ji Kyung serak.

Donghae menarik Ji Kyung lalu memeluknya, berusaha menenangkan gadis itu. Tangan Donghae bergerak pelan mengusap punggung Ji Kyung. Sesekali pria itu mengusap kepalanya juga. Ji Kyung kembali menangis, emosinya kembali keluar. Air matanya bahkan membasahi kemeja putih Donghae.

“Gweanchanna, mungkin eomma dan appa sedang merindukanmu juga..” ucap Donghae. Ji Kyung hanya sesenggukan di dada Donghae.

“Hkk..hkk..”

“Kau tak sendirian Kyung-ah. Ada aku, Donghwa hyung, eomma dan appa..” ucap Donghae.

“Ne..” balas Ji Kyung pelan.

“Kalau kau bersedih maka kau harus datang padaku, jangan menyimpannya sendirian. Kau akan merasa sesak bila menyimpannya sendirian..” ucap Donghae lagi.

Ji Kyung memejamkan matanya, ia mulai tenang. Detak jantung Donghae seolah menjadi irama yang begitu menenangkan dirinya. Ia ingat betul pria ini yang berlari pertama kali dan memeluk dirinya di hari kecelakaan maut itu.

“Kyungieeee!” kepala Ji Kyung menoleh saat mendengar suara seorang wanita memanggilnya, itu Hyang Sook.

“Kyung-ah…” sekarang seorang pria yang lebih tua beberapa tahun diatasnya memeluk dirinya dengan sayang. Ia tahu itu Donghae, pria yang sering bermain dengannya bila dirinya mengunjungi rumah pria itu.

“Donghae oppa..” ucap Ji Kyung lirih. Gadis itu merasa lega sekarang, ia pikir tak akan ada yang menemaninya lagi setelah kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.

“Oppa di sini, tenanglah..” ucap Donghae kecil lalu mengusap lembut kepala Ji Kyung.

“Donghwa, Donghae bawa Ji Kyung ke mobil. Eomma dan appa akan mengurusi jenazah Kang ahjussi dan ahjumma..” ucap seorang wanita memerintah.

“Ne eomma..” sahut Donghae. Ia melepas pelukannya lalu berjongkok di hadapan Ji Kyung.

“Naiklah..” ucap Donghae memerintah Ji Kyung untuk naik ke punggungnya. Gadis itu naik lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Donghae. Donghwa berlari ke mobil dan membuka pintu mobil.

Donghae berjalan dengan Ji Kyung di punggungnya. “Kau tak menangis?” tanya Donghae pelan. Gadis itu sudah berhenti menangis sejak tadi. Anni, ia tak bisa menangis lagi.

“Eomma dan appa meninggalkanku?” tanya Ji Kyung. Donghae hanya diam dan terus berjalan menuju mobil.

Keduanya tiba di samping mobil, Donghwa sudah membuka pintu mobil, Donghae menurunkan Ji Kyung dan keduanya masuk ke dalam mobil. Donghwa berlari ke sisi kanan mobil untuk masuk juga.

Brakkk

Suara pintu mobil yang tertutup membuat suasana di dalam mobil menjadi begitu menyedihkan.

“Minumlah Ji Kyung-ah..” ucap Donghwa lalu memberikan sebotol air mineral pada Ji Kyung. Gadis itu meraihnya lalu meneguknya hingga tandas.

Donghae mengusap dahi Ji Kyung yang penuh dengan peluh, gadis itu hanya diam. Matanya terus menatap ke arah luar jendela dimana orang-orang tengah sibuk mengurusi jenazah orang tuanya.

“Eomma dan appa meninggalkanku oppa..” ucap Ji Kyung lirih.

“Anniya, ada kami di sini..” balas Donghwa prihatin. Ia tak bisa membayangkan bagaimana bisa gadis sekecil itu harus mengalami kejadian seperti ini.

“Kau tak sendiri Kyung-ah. Ada aku, Donghwa hyung, eomma dan appa. Jangan bersedih..” ucap Donghae.

Ji Kyung sudah tertidur, ingatannya yang perlahan memudar membuatnya memejamkan mata lebih cepat, lagipula tenaganya sudah habis hanya untuk menangis sejak tadi.

“Kau sudah tidur?” tanya Donghae saat ia merasa nafas Ji Kyung mulai teratur di dadanya.

Donghae melepas pelukannya lalu merebahkan tubuh Ji Kyung di atas ranjang besar gadis itu. Tangan pria itu bergerak menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Ji Kyung. Dengan pelan-pelan ia menarik selimut hingga menutupi tubuh Ji Kyung sebatas leher.

Donghae membungkukan tubuhnya,  ia mendekatkan wajahnya ke arah Ji Kyung. Ia tahu gadis itu pasti sangat terpukul bila mengingat kejadian naas itu. Bibirnya tanpa ia perintah bergerak menyentuh bibir mungil Ji Kyung.

“Saranghae..”

***

A Road, Seoul, South Korea

06.00 AM

Donghae memalingkan wajahnya ke arah Ji Kyung, gadis itu tampak begitu serius dengan pekerjaan rumahnya. Terlalu sibuk bersedih semalaman membuatnya lupa mengerjakan pekerjaan rumahnya.

“Pekerjaan rumah apa?” tanya Donghae.

“Kimia..”

“Sudah lebih baik?” tanya Donghae. Ji Kyung hanya bergumam lalu menganggukan kepalanya. Ia terlalu sibuk mengerjakan pekerjaan rumahnya.

“Biloks Oksigen dalam Air?” gumam Ji Kyung pada dirinya sendiri.

“-2” balas Donghae. Ji Kyung tersenyum saat Donghae menjawab.

Gadis itu kembali berkutat dengan soal Kimianya dan Donghae sibuk dengan jalanan, sesekali kepalanya menoleh melihat Ji Kyung yang begitu fokus pada soal di depannya.

“Alkali tanah bereaksi dengan air menghasilkan..” gumam gadis itu seolah berusaha mengingat materi pelajarannya. Donghae mendengus pelan.

“Logam basa dan hidrogen,” ucap Donghae.

“Ah benar, aku lupa..” ucap Ji Kyung.

“Dasar bodoh, yang begitu saja lupa..” cibir Donghae. Ji Kyung hanya mendengus malas. Ia sedang tidak mau berbicara banyak, pekerjaan rumahnya begitu banyak.

“Blitz pada kamera dari Magnesium yang berwarna putih menyilaukan..” ucap Ji Kyung mengetuk-ngetukan pinsil pada dagunya seolah sedang mengingat materi. “Titik didihnya itu…” gadis itu memiringkan kepalanya lagi, ia berusa mengingat titik didih magnesium.

“1090 dan merupakan titik didih terendah pada logam alkali tanah..” ucap Donghae lagi.

“YAK!!! Oppa! Bagaimana aku bisa pintar kalau kau terus menjawab pertanyaanku? Aku tahu kau sangat pintar, tapi haruskah kau menyombongkannya padaku?” ucap Ji Kyung kesal, ia buru-buru menutup bukunya lalu memasukannya ke dalam tas.

“Yak! Kenapa berhenti mengerjakan? Lagipula aku juga membantumu agar pekerjaan rumahmu bisa selesai dengan cepat. Kau tahu Nana Songsaenim itu sangat kejam, kan? Aku tak perlu menceritakan sifat guru kimiamu itu, kan?” balas Donghae sengit.

“Aku tak akan bertanya padamu lagi!”

Ji Kyung mendengus kesal, semua ucapan Donghae benar. Dengan cepat ia membuka lagi buku tugasnya dan mulai mengerjakan tugasnya. Suasana menjadi hening. Ji Kyung tak akan bertanya pada Donghae lagi.

“Ya! Oppa kau kamarin menjadi topik pembicaraan di Sekolah, bagaimana perasaanmu?” tanya Ji Kyung tiba-tiba, matanya masih menatap soal-soal di hadapannya.

“Topik apa?”

“Aigoo! Kau tak tahu?” balas Ji Kyung sengit.

“Hmm? Aku terlalu sibuk untuk urusan seperti itu.”

“Ah benar, kau pasti sangat sibuk dengan guru baru itu, kan? Tampaknya kalian akan jadi couple baru di Sekolah, siswi-siswi begitu menderita saat membicarakanmu seolah hidup mereka akan berakhir saat itu juga..” ucap Ji Kyung setengah kesal.

“Mereka justru akan benar-benar berakhir bila tahu kau tunanganku,” balas Donghae. Ji Kyung hanya tersenyum sekilas, setidaknya ia merasa statusnya sebagai tunangan Donghae membuatnya bisa bernafas lega.

“Hmmm, kalian begitu akrab oppa. Apa kalian punya hubungan lain??” tanya Ji Kyung tiba-tiba. Donghae tersenyum mendengar pertanyaan Ji Kyung.

Pria itu menyipitkan matanya dan menatap Ji Kyung jahil, gadis itu membalas tatapan Donghae.

“Mwo?” Tanya Ji Kyung.

“Heiii, lihat siapa yang sedang cemburu di sini?”

“Mwo? Ya!!! Kau menyebalkan oppa..”

***

Shinchung Senior High School

01.00 PM

Ji Kyung berdiri dengan sebal di lapangan sekolahnya, sesekali ia mengibaskan rambutnya ke belakang karena terpaan angin.

“Aishh bisa-bisanya ia menyuruhku pulang sendirian, dasar namja sialan. Dan aku mencintai namja itu..” gerutu Ji Kyung sambil melihat layar ponselnya. Donghae baru saja mengirimi gadis itu pesan singkat. Pria itu tak akan pulang bersama gadis itu karena sedang ada urusan kecil bersama Sung Rin Songsaenim.

“Kuacungkan jempol untuk kejujuranmu pergi bersama siapa oppa, tapi semakin lama waktumu jadi hanya untuk gadis itu. Sebenarnya ada hubungan apa mereka itu?” gumam Ji Kyung lagi. Gadis itu memutuskan untuk melangkahkan kakiknya berjalan menuju gerbang sekolah. Ia tak bisa terus mengutuk tingkah Donghae yang meninggalkannya sendirian di Sekolah.

Gadis itu berdiri masih dengan wajah tertekuk, ia sedang menunggu taksi.

Pippppp

Sebuah Trail merah berhenti tepat di depan Ji Kyung, gadis itu menyipitkan matanya mencoba mencaritahu siapa pengandara motor balap tersebut. Kepala pengendara itu tertutup helm.

“Annyeong…” ucap si pengedara setelah membuka helmnya.

Ji Kyung mendengus malas, “Hahhhh, kau Cho Kyun Hyun?”

“Sedang menunggu kendaraan? Mau pulang denganku?” tawar Kyu Hyun.

“Anni, aku akan mati bila naik motor balapmu itu..” cibir Ji Kyung.

“Aku akan membawanya pelan-pelan Kyungie..” ucap Kyu Hyun lalu mengetuk tanki motornya seolah mengatakan pada gadis itu untuk tidak perlu khawatir.

Ji Kyung berpikri sebentar, “Baiklah sebagai sahabat yang baik, kau tak akan membiarkan kita kecelakaan, kan? Jadi bawa dengan benar dan jangan mengebut..” ucap Ji Kyung lalu mulai berjalan menuju kursi belakang motor.

“Oke!!”

***

Lee’s Family Home, South Korea

05.30 PM

Donghae berdiri dengan tangan yang ia simpan di dalam saku celananya. Pria itu kini tengah gusar, Ji Kyung belum juga pulang. Berkali-kali ia melihat jam tangannya lalu kembali menghubungi Ji Kyung tapi lagi-lagi sambungannya tidak pernah diangkat.

“Kemana kau Kyung-ah?” pria itu masih berdiri di balkon kamar Ji Kyung dan terus memantau ke arah gerbang rumah, berharap ia menemukan gadis itu di depan gerbang rumahnya.

Berkali-kali Donghae berjalan mengitari balkon kamar gadis itu, menenangkan dirinya. Pikirannya sedikit berkecamuk, kalau sudah begini ia menyesal telah meninggalkan gadis itu tadi di sekolah.

Brummm Brummm

Kepala Donghae menoleh dengan cepat saat ia mendengar bunyi motor seperti di gas dengan kencang. Mata pria itu menangkap sosok yang sejak tadi membuatnya gelisah. Ji Kyung berdiri di depan gerbang dengan seorang pria yang berada di atas sebuah motor Trail.

“Nuguya?” gumam Donghae.

Belum sempat rasa penasaran Donghae terjawab, mata pria itu kini terbelalak lebar melihat tangan pria yang berada di atas motor tersebut mengacak rambut Ji Kyung. Tangan Donghae mengepal di dalam saku celananya, rahangnya mengeras.

“Kau tersenyum Kyung-ah? Pada pria itu?” ucap Donghae masih dengan rahang yang mengeras.

***

Ceklek

Ji Kyung memasuki kamarnya dengan senyum yang masih merekah, ia ingin cepat bertemu Donghae dan menceritakan pengalamannya pergi bersama Kyu Hyun.

Ji Kyung berjalan menuju meja belajarnya dan meletakan barang-barang yang ia beli di Myeongdong dengan rapi. Gadis itu baru saja akan membuka bajunya saat matanya menangkap sosok yang begitu ia kenal sedang berada di balkonnya.

“Eoh? Oppa kau sedang apa di kamarku?” tanya Ji Kyung saat ia melihat Donghae ada di balkon kamarnya. Gadis itu sedikit bingung.

Donghae membalikan tubuhnya dan berjalan santai menuju Ji Kyung, “Kau darimana saja Kyung-ah?” tanya Donghae.

“Ahh, aku pergi dengan Kyu Hyun ke Myeongdong. Kupikir akan cepat ternyata aku lama sekali di sana,” balas Ji Kyung.

“Kyu Hyun?” tanya Donghae.

“Dia temanku,” balas Ji Kyung lalu membalikan tubuhnya dan kembali berkutat dengan kantung belanjaannya di atas meja.

“Kau tampaknya senang sekali..” ucap Donghae lalu duduk di tepi ranjang gadis itu, memerhatikan gadis itu yang sibuk dengan kantung-kantung putih di atas meja.

“Hmmm, tadi aku membelikan ini untukmu oppa..” ucap Ji Kyung sambil mengacungkan sebuah kotak. Gadis itu berjalan menuju ranjang dimana Donghae duduk. Ia mulai membuka kotak yang ada di tangannya.

“Itu apa?”

“Mochi isi ice cream, semoga belum mencair. Aku mau memberikannya padamu nanti malam tapi ternyata kau ada di kamarku jadi sekarang saja..” ucap Ji Kyung yang masih sibuk membuka kotak berisi mochi.

“Kenapa tidak langsung pulang?” tanya Donghae.

“Kyu Hyun memaksa menemaninya jalan-jalan..” balas Ji Kyung lalu bersiap menyuapi Donghae.

“Memaksa?”

“Aaaaa~” ucap Ji Kyung lalu menyuapi Donghae.

Donghae membuka mulutnya dan mulai memakan mochi pemberian Ji Kyung, “Eotte?” tanya Ji Kyung.

“Mashita..” balas Donghae. Ji Kyung tersenyum puas lalu mulai memakan mochinya sendiri.

“Lain kali kita harus pergi bersama oppa, kita tak pernah jalan-jalan bersama. Saat tadi bersama Kyu Hyun, aku ingat padamu terus. Aku ingin makan ramen bersamamu, makan mochi bersamamu, main game bersamamu, ma…”

“Eihhhhh, bibirmu..” potong Donghae lalu mengusap bibir Ji Kyung yang terdapat banyak bubuk putih dari mochi yang ia makan.

“Aaaa~” ucap Ji Kyung lagi lalu menyuapi Donghae. Donghae tersenyum saat mendengar harapan Ji Kyung. Rasa marahnya perlahan menghilang, gadis itu tak sepenuhnya bahagia saat bersama Kyu Hyun. Gadis itu masih mengingat dirinya.

“Eotte? Kita pergi bersama?” tanya Ji Kyung.

“Hmmm..” angguk Donghae.

“Kalau begitu sekarang oppa keluar, aku mau mengganti baju..” ucap Ji Kyung.

Donghae berdiri lalu menatap Ji Kyung sekilas, Ji Kyung sedikit bingung. “Wae?” tanya gadis itu.

“Anni. Eomma, appa dan Donghwa hyung akan pulang nanti malam..” ucap Donghae.

“Jinjja? Aku rindu sekali pada eomma..” ucap Ji Kyung. Donghae tersenyum lalu berjalan menuju pintu.

Donghae menghentikan langkahnya lalu menatap Ji Kyung, “Ah Ji Kyung-ah, bagaimana kalau malam ini kita makan di luar. Aku belum memasak apapun untuk kita..” ucap Donghae.

“Eoh? Ne…” balas Ji Kyung girang.

***

Shim Shim Ramen

07.00 PM

Ji Kyung membalikan lembaran menu, ia bingung harus memesan kuah apa. Ia begitu menginginkan ramyun tapi ia juga menginginkan kare.

“Ramyun sepertinya enak, aigoo! Kare juga..” ucap Ji Kyung. Donghae terkekeh pelan melihat bibir Ji Kyung yang tampak mengerucut karena sibuk menimbang akan memakan yang mana.

“Mau kuah apa oppa?” tanya Ji Kyung saat ia sedang menulis pesanan mereka berdua.

“Kare..” balas Donghae.

“Baiklah, 2 kare,” Ji Kyung menundukan kepalanya lalu mulai menulis pesanan mereka berdua. Gadis itu membaca lagi dari atas hingga bawah, semuanya sudah sesuai.

Donghae lagi-lagi tertawa kecil, bahkan untuk memutuskan kuah saja, gadis itu mengikuti apa yang Donghae pesan.

“Ahjussi!!” panggil Ji Kyung dengan tangan yang mengacung ke atas. Ahjussi itu datang dan mengambil pesana Ji Kyung. Gadis itu tersenyum setelah memberikan pesanannya.

“Oppa, tadi kau pergi kemana?” tanya Ji Kyung.

“Aku pergi ke Universitasku dulu, ada reuni kecil,” jawab Donghae.

“Dengan Sung Rin Songsaenim?” tanya Ji Kyung berusaha tak terlihat ingin tahu.

“Ya. Kau sudah tahu mau mendaftar kemana?” tanya Donghae.

“Sepertinya aku mau medaftar di Kyunghee University, dan kau tahu? Kyu Hyun juga mau mendaftar ke sana..” ucap Ji Kyung dengan senyum mengembang. Donghae tersenyum lalu detik berikutnya berubah menjadi senyumm kecut.

“Kyu Hyun,” gumam Donghae pelan. Mendadak satu nama itu menjadi sesuatu yang begitu mengganggu seorang Lee Donghae.

“Nona ini pesanannya..” seorang ahjussi datang dengan nampan berisi ramen yang kuahnya tampak begitu mendidih, asap ramen tersebut bahkan mengepul. Lidah Ji Kyung seolah sudah terangsang untuk mencicipi ramen pesanannya.

“Aigoo! Kau tampaknya lapar sekali Kyung-ah..” ucap Donghae mencibir ke arah Ji Kyung. Gadis itu hanya mendengus tak perduli.

“Gomawo ahjussi..” ucap Ji Kyung saat ahjussi tersebut selesai menata pesanan mereka.

“Saatnya makan!!” teriak Donghae. Ji Kyung yang sekarang mencibir ke arah pria itu. Sebenarnya siapa yang lapar di sini?

Ji Kyung baru saja akan memakan ramennya saat teriakan nyaring seseorang di belakangnya membuat kegiatannya terhenti.

“Donghae-ahhhh!!”

Donghae mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah belakang Ji Kyung, “Eoh? Sung Rin-ah?”

Gadis yang ternyata Sung Rin itu ikut bergabung dengan Donghae dan Ji Kyung. Donghae memang tidak terganggu tapi lain halnya dengan Ji Kyung. Gadis itu sedikit kesal, bagaimana tidak? Dirinya harus rela bergeser agak jauh ke samping kiri karena tempat duduk tadi kini diduduki Sung Rin.

“Eoh, kalian sedang makan ya?” tanya Sung Rin.

‘Tentu saja, apa lagi bodoh?’ cibir Ji Kyung dalam hati.

“Hmmm, Ji Kyung tak bisa memasak jadi kami makan di luar..” balas Donghae mengejek. Sung Rin tertawa dan Ji Kyung juga, tawa yang begitu hambar.

“Aigoo! Tampaknya kau begitu canggung denganku Ji Kyung-ssi. Gweanchanna, anggap aku bukan gurumu..” ucap Sung Rin lalu tersenyum lagi.

Ji Kyung hanya tersenyum lalu kembali menyantap ramennya, Donghae menyingkirkan ramennya lalu lebih fokus untuk mengobrol dengan Sung Rin. Donghae tak bisa makan sambil mengobrol kecuali itu dengan Ji Kyung.

Ji Kyung memakan ramennya dengan kesal, makanan yang seharsunya nikmat kini menjadi begitu membuatnya mual. Apalagi saat ia melihat ramen Donghae tak tersentuh sama sekali. Ia merasa sedikit kecewa, bukankah mereka akan makan bersama tapi sekarang terlihat ia yang makan sendiri.

‘Ok! Silahkan mengobrol dan abaikan aku! Aku akan menikmati ramenku dengan bahagia..’ ucap Ji Kyung dalam hati.

“Aku sangat terkejut saat Sungmin oppa membawa anaknya, aigoo! Itu lucu sekali..” Sung Rin terus mengobrol dan Donghae menanggapi dengan antusias. Mereka membicarakan acara reuni singkat tadi siang.

“Dan kau tahu, saat Soo Jin datang, ia terlihat begitu gemuk..” timpal Donghae.

“Ahh, benar…”

Ji Kyung meletakan sumpirnya di samping mangkuk ramen miliknya, ia sudah selesai makan. Gadis itu menatap Donghae dan Sung Rin yang mengobrol dengan asiknya. Ia seperti lalat di sini.

Hampir 30 menit dan keduanya mengobrol begitu asik, sebenarnya apa keperluan Sung Rin di sini? Mengapa ia hanya mengobrol dengan Donghae. Ji Kyung mulai bosan.

Drrrt Drrt

Ponsel Ji Kyung bergetar, dengan cepat gadis itu membuka ponselnya.

From: Donghwa oppa

Saengie, kami sudah pulang. Kalian dimana?

Ji Kyung membalas pesan tersebut lalu kembali menatap dua orang yang mengobrol tak ada habisnya. Berulang kali gadis itu mendengus bosan. Tangannya ia gunakan untuk menopang dagunya dan mendengar pembicaraan kedua orang tersebut.

Drrt Drrt

Sung Rin tampak merogoh sesuatu di dalam tasnya. Ponselnya baru saja bergetar.

“Ah, Donghae-ah sepertinya aku harus segera pergi sekarang, kami tak jadi bertemu di sini…” ucap Sung Rin pada Donghae setelah membaca pesan singkat di ponselnya. Sejak tadi gadis itu sedang menunggu temannya.

“Ah, begitu ya, hati-hat Sung Rin-ah..” ucap Donghae saat Sung Rin berdiri dan mulai bergegas keluar. Gadis itu bahkan tak berpamitan dengan Ji Kyung.

‘Tampaknya dia guru tapi mengapa ia bersikap begitu tak sopan? Sudah menggagu waktuku dan Donghae oppa, sekarang pergi pun tak berpamitan dengan baik..’ dengus Ji Kyung dalam hati. Gadis itu terus menatap Donghae tanpa berpaling sedikitpun. Ia kesal sekali dengan Donghae.

Donghae berpaling menatap Ji Kyung, pria itu tersenyum tanpa dosa. Sebenarnya ia tahu gadis itu pasti sangat kesal tapi ia tak mau memicu pertengkaran kecil lagi dengan Ji Kyung.

“Kyung-ah, ayo kita pulang. Sudah malam..”

“Hmm, kupikir juga begitu lagipula eomma dan appa sudah di rumah…” balas Ji Kyung lalu mulai berdiri.

“Mengapa tak bilang padaku?”

Ji Kyung menatap Donghae sebal, “Kau asik mengobrol bagaimana aku bisa memberitahukannya padamu?” jawab Ji Kyung ketus dan berlalu dari hadapan Donghae.

“Ia tampaknya kesal sekali..” ucap Donghae saat melihat Ji Kyung yang telah menjauh dari mejanya.

Donghae berdiri dan berjalan menuju kasir, ia merogoh dompetnya.

“Ahjussi aku ingin membayar, meja di ujung sana berapa?” tanya Donghae.

Ahjussi penjaga kasir tampak diam sebentar, ia melihat meja yang ditunjuk Donghae. “Gadis itu sudah membayar semuanya tuan..” ucap ahjussi tersebut lalu menunjuk ke arah luar kedai. Donghae mengikuti arah telunjuk ahjussi tersebut.

“Ji Kyung?”

“Entahlah, tapi gadis itu sudah membayar semuanya..” jawab ahjussi itu lagi.

“Ah nde, gomawo..” ucap Donghae lalu mulai berjalan keluar.

***

At Canteen, Shinchung Senior High School

10.00 AM

Ji Kyung menatap ruang kepala sekolah yang terlihat dari kantin tempatnya duduk, sebenarnya hanya terlihat kaca jendela saja tapi tetap saja membuatnya penasaran dengan apa yang sedang dilakukan pemilik ruangan itu. Tadi pagi Donghae pergi tanpa menunggunya, ia akhirnya pergi ke sekolah dengan Donghwa. Terjadi pertengkaran kecil saat keduanya dalam perjalanan pulang dari kedai ramen semalam. Mungkinkah Donghae marah? Tapi itu bukan sikap seorang Lee Donghae.

Ji Kyung menatap sahabatnya yang kini tengah memainkan PSP dengan serius. “Kyu Hyun-ah, aku mau bertanya padamu..” ucap Ji Kyung pelan.

“Hmm, tanyakan saja..”

“Begini aku membaca sebuah novel, dalam novel itu menceritakan dua pasangan yang sudah bersama sejak mereka kecil, selalu bersama. Melakukan apapun bersama. Bahkan mereka sudah bertunangan sejak gadis itu berumur 16 tahun kurasa. Tapi mereka berbeda 9 tahun.”  Ucap Ji Kyung, gadis itu sedang membicarakan kisah hidupnya sebenarnya.

“Ya! Kau mendengarkanku tidak?” tanya Ji Kyung sebal saat melihat Kyu Hyun hanya sibuk dengan PSP-nya.

“Aku mendengarkanmu Kyungie..” balas Kyu Hyun masih fokus pada PSP-nya.

“Mereka sangat dekat, si gadis sangat mencintai si pria tapi aku ragu dengan pria. Tapi aku percaya si pria mencintai si gadis juga, hubungan mereka masih baik-baik saja sampai suatu hari datang seorang wanita di antara mereka..”

“Lalu? Si pria selalu bersama si wanita?” tanya Kyu Hyun asal.

“Hmm, bagaimana kau bisa tahu?” tanya Ji Kyung antusisa.

“Aishhh, itu namanya orang ketiga..” balas Kyu Hyun. Ji Kyung mengaggukan kepalanya menyetujui ucapan Kyu Hyun.

“Oh iya kulanjutkan, lalu si pria mulai melupakan tunangannya kurasa. Ia jadi jarang pulang bersama, pergi bersama dan si pria mulai mengacuhkan tunangannya. Ia justru sering bersama dengan orang ketiga ini. Menurutmu apa yang terjadi sebenarnya?”

“Si pria mulai bosan dan butuh sedikit refreshing dengan mainan barunya, atau bisa jadi mereka terlalu sering bersama sehingga mereka tak bisa membedakan itu perasaan cinta atau perasaan terbiasa bersama. Kurasa keduanya harus berbicara lagi dari hati ke hati..”

“Benarkah?” ucap Ji Kyung mengambang. Wajahnya pucat seketika. Benarkah perasaanya pada Donghae atau sebaliknya hanya karena mereka sering bersama?

“Kalau aku jadi si pria, aku akan tetap memilih tunanganku karena kami sudah memulai dari awal bersama. Tapi kusarankan keduanya untuk berbicara serius, mungkin salah satu ada yang merasa tertekan dengan hubungan mereka selama ini. Kau tak bisa bermain-main dengan kehidupan cintamu..” ucap Kyu Hyun.

***

 

At Night, Ji Kyung Room’s

09.00 PM

Ji Kyung bergerak gusar di atas ranjangnya. Sesekali ia berguling ke kiri, kanan lalu mulai terlonjak dan mangacak rambutnya gusar.

“Donghae oppa tertekan dengan pertunangan ini?”

Ji Kyung menarik selimut hingga selimut menutupi seluruh tubuhnya, ia berguling dan terlonjak kembali.

“Si pria mulai bosan dan butuh sedikit refreshing dengan mainan barunya, atau bisa jadi mereka terlalu sering bersama sehingga mereka tak bisa membedakan itu perasaan cinta atau perasaan terbiasa bersama. Kurasa keduanya harus berbicara lagi dari hati ke hati..”

“Aishhhh Cho Kyu Hyun apakah yang kau katakan itu semuanya benar?”

Ji Kyung menatap jarinya yang ia angkat ke atas, sebenarnya bukan jari melainkan cincin pertunangannya dengan Donghae. Permata pada cincin itu berkilau indah, ingatannya kembali berputar saat ulang tahunnya yang ke 16 tahun.

“Ji Kyung-ah, maukah kau mengabulkan permintaan eomma?” tanya Donghae eomma pada Ji Kyung. Semua keluarga tengah berkumpul di meja makan.

“Permintaan apa eomma?”

“Maukah kau bertunangan dengan Donghae?”

“MWO?”

Ji Kyung menolehkan kepalanya ke arah Donghae, pria itu menatapnya dengan dingin. Ji Kyung tak tahu jenis tatapan apa itu. Mungkinkah pria itu tak suka dengan permintaan eommanya atau pria itu tak suka mendengar respon Ji Kyung.

“Jebal Kyung-ah, eomma sangat menginginkanmu menjadi bagian dari keluarga ini,” ucap Hyang Sook.

Ji Kyung diam sebentar, sebenarnya ia sangat menyetujui keinginan eomma Donghae. Gadis itu mencintai Donghae sejak ia pertama kali datang dan tinggal di rumah pria itu.

“Eotte?”

“Tapi eomma, Donghae oppa. Bagaimana dengan dirinya? Kau tak bisa hanya memintaku menjadi tunangannya bukan? Kau juga harus mendengar keingannya, dan apakah tidak cukup diriku menjadi bagian dari keluarga walaupun hanya anak angkat?” tanya Ji Kyung pelan lalu mulai menundukan kepalanya. Matanya sesekali menatap Donghae dan pria itu hanya terfokus pada makanannya.

“Bukan begitu Kyung-ah, kami mengingkanmu menjadi bagian dari keluarga ini seutuhnya. Kalau kau menikah dengan orang lain, kau akan menjauh dari kami. Jadi kupikir sebaiknya kau menikah dengan salah satu putraku. Lagipula kurasa kau dan Donghae benar-benar serasi..” ucap Hyang Sook.

“Geundae..”

“Aku setuju..” ucap Donghae pelan.

“MWO?” pekik Ji Kyung.

“Aku setuju,” ucap pria itu lantang.

Ji Kyung membulatkan matanya, pria yang ia cintai menyetujuinya. Aigoo! Sekarang Ji Kyung bingung, ia harus berteriak gembira atau bertanya apa alasan pria itu menyetujui pertunangan mereka. Tak penting, yang paling penting sekarang adalah dirinya tak perlu khawatir pria itu akan pergi dari sisinya. Ia ingin bersikap sedikit egois, ia sudah kehilangan kedua orang tuanya. Salahkah bila ia mengharapakan Donghae?

“Aigoo! Ji Kyung-ah, Donghae menyetujuinya. Kau juga menyetujuinya, ne?” goda Donghwa pada Ji Kyung. Ji Kyung hanya diam dan terus berpikir jawaban apa yang harus dikeluarkan, sebenarnya ia hanya harus mengatakan kata “iya”.

“Eotte? Lagipula aku yakin, kalau kalian akan saling mencintai. Kalian sudah bersama sejak kecil..” ucap Hyang Sook. Ji Kyung memejamkan matanya sebentar.

Ji Kyung menimbang-nimbang apa yang akan ia jawab. Ia mencintai pria itu tapi apakah pria itu juga mencintai dirinya? 

“Ne eomma aku setuju..” balas Ji Kyung pelan. Mungkin ini bakti ia berbakti pada keluarga Lee yang sudah merawatnya sejak kecil.

“Whoooaaaaa!! Aigoo! Kalian lucu sekali..” ucap Donghwa. Pipi Ji Kyung merona merah sekarang. Ia mencuri pandang ke arah Donghae. Pria itu tersenyum sekilas lalu mengedipkan matanya ke arah Ji Kyung secara tiba-tiba. Gadis itu buru-buru menundukan kepalanya, ia tak tahu apa maksud kedipan mata pria itu.

***

Donghae Office,

Lee’s Family Home

10.00 PM

Ceklek

Ji Kyung menyembulkan kepalanya melalui celah pintu yang terbuka. Gadis itu menatap ke dalam ruangan.

“Oppa..” panggil Ji Kyung pelan. Donghae mengangkat kepalanya dan menatap Ji Kyung lalu mengisyaratkan gadis itu untuk masuk.

“Ada apa Kyung-ah?” tanya Donghae.

Ji Kyung berjalan mendekati meja pria itu. Ia berdiri tepat di depan Donghae. Mereka terpisah antara meja kerja Donghae.

“Wae? Mengapa tak duduk? Ada yang ingin kau katakan?” tanya Donghae lalu meletakan bolpoinnya di atas meja. Pria itu merasa ada sesuatu yang ingin di sampaikan Ji Kyung.

“Aku berdiri saja, sedang tak ingin duduk..” balas Ji Kyung.

Donghae menatap gadis itu lama lalu kembali berkutat dengan kertas-kertasnya.

“Sudah berapa lama aku tinggal di rumah ini oppa?” tanya Ji Kyung. Sebenarnya ia hanya bergumam pada dirinya sendiri.

“Entahlah, kurasa 14 tahun..” balas Donghae acuh. Ji Kyung membalikan tubuhnya dan kini ia memunggungi Donghae. Gadis itu bersandar pada sisi meja, ia melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kalau begitu kita sudah bersama selama itu. Dan kau mengenalku juga selama itu..” ucap Ji Kyung.

Donghae mengangkat kepalanya lalu sedikit menghitung kira-kira sudah berapa tahun ia mengenal gadis itu.

“Anni, aku mengenalmu sejak kau masih bayi. Eommamu pernah membawamu ke rumahku saat usiamu 2 bulan, lalu saat usiamu 3 tahun kau juga sering datang ke rumahku, kau tak ingat?” balas Donghae lalu kembali berkutat dengan kertas-kertas di atas meja.

Ji Kyung menarik nafasnya dengan perlahan, ia ingat ia pernah bertemu pria itu sebelum ia tinggal di rumah ini.

“Mari hentikan semuanya oppa..” ucap Ji Kyung tiba-tiba. Donghae mengangkat kepalanya dan menatap punggung Ji Kyung. Ia tak mengerti ucapan gadis itu.

“Menghentikan apa?” tanya Donghae.

“Pertunangan kita..”

Deg!

Donghae mencoba tak menghiraukan ucapan Ji Kyung. Pria itu berusaha tenang menghadapi permintaan Ji Kyung.

“Jangan berbicara sembarangan, kau punya kekasih di luar sana?” tanya Donghae mencoba bercanda.

Ji Kyung terkekeh pelan, seharusnya ia yang berkata seperti itu bukan?

“Anniya. Oppa, kurasa hubungan kita ini bukan karena cinta melainkan terlalu sering bersama, kita jadi tidak bisa membedakan ini cinta atau terbiasa saling bersama. Kau dan aku saling mengenal 14 tahun lamanya, kurasa kita terlalu sering bersama..” ucap Ji Kyung lagi.

Donghae beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju jasnya yang tergantung di samping lemari dekat meja kerjanya. Ia melewati Ji Kyung yang berdiri menyandar pada meja kerjanya.

“Aku tak mau oppa menyetujui pertunangan ini dan menjalani semua karena merasa tak enak dengan eomma dan appa serta kedua orang tuaku. Dulu saat menyetujui pertunangan ini, aku masih terlalu kecil, kurasa aku hanya tak paham dengan perasaanku. Aku terlalu sering bersama denganmu oppa..” balas Ji Kyung pelan. Ia menghianati hati kecilnya, ia mencintai pria itu. Perasaan takutnya bila Donghae tertekan dengan pertunangan inilah yang membuatnya rela mengorbankan rasa cintanya pada pria itu. Pria itu sudah terlalu baik padanya.

“Baiklah, kalau begitu aku menganggapmu masih kecil saat membatalkan pertunangan kita..” balas Donghae acuh.

“Setiap saat aku berpikir, apakah oppa mencintaiku? Bagaimana bila ada gadis lain yang berhasil membuatmu berpaling dariku? Aku sadar keluargamu sudah terlalu baik padaku, aku tak bisa lebih egois lagi dengan mempertahankanmu di sisiku. Aku tak mau kau tertekan dengan semua ini..” ucap Ji Kyung.

Donghae mendengus malas, baginya gadis itu sedang mengigau sekarang.

“Aku berjanji pada diriku, saat kau menemukan gadis yang bisa membuatmu berpaling dariku, maka saat itu juga aku akan melepaskanmu. Aku tak mau menjadi penghancur hidupmu oppa, jadi mari hentikan semuanya sebelum semuanya menjadi semakain sulit..” ucap Ji Kyung pelan. Ia tak rela saat berkata seperti itu sebenarnya.

Donghae berjalan dan berdiri tepat di hadapan Ji Kyung, pria itu menatap Ji Kyung tajam.

“Dasar pembohong, kau berbicara tidak sesuai dengan hatimu. Dan lagi gadis mana yang kau maksud berhasil membuatku berpaling darimu?” tanya Donghae dengan tatapannya yang begitu mengintimidasi.

Ji Kyung menegakkan tubuhnya lalu menarik nafasnya dalam, “Jangan buat semuanya sulit oppa, jangan terus berkorban..”

Donghae memotong ucapan Ji Kyung. “Siapa yang membuat sulit keadaan, kurasa otakmu baru saja terbentur sesuatu hingga berbicara sekacau ini..”

“Anniya oppa..” balas Ji Kyung.

“Keluar dari ruangan ini,” perintah Donghae datar.

“Tidak, sebelum semuanya terselesaikan,” ucap Ji Kyung.

“KELUAR!!” teriak Donghae membentak gadis itu. Ji Kyung sedikit terkejut tapi ia berusaha tak gentar sama sekali.

“Kurasa aku hanya pantas menjadi dongsaengmu saja. Jadi kumohon oppa kita hentikan semua ini. Aku akan membatalkan pertunangan kita..” ucap Ji Kyung lalu hendak keluar namun Donghae mendorong tubuh gadis itu.

Braakkkk

“Akhh..” pekik Ji Kyung tertarahan saat Donghae mendorong tubuhnya di atas meja kerjanya. Belum sempat Ji Kyung memprotes tindakan Donghae, pria itu sudah lebih dulu mengunci tubuh Ji Kyung dengan menekan kedua tangan Ji Kyung  di kanan dan kiri kepalanya. Ji Kyung menatap wajah Donghae, rahang pria itu mengeras seolah menahan emosi yang sebentar lagi akan keluar. Bola matanya menatap Ji Kyung tajam, sejujunya Ji Kyung takut dengan sikap pria itu. Apakah ia baru saja memancing emosinya?

“Oppa..” ucap Ji Kyung gugup. Donghae memajukan kepalanya seolah akan mencium gadis itu, secara reflek Ji Kyung memalingkan wajahnya, nafas Donghae memburu menggelitik di sekitar leher Ji Kyung. Demi tuhan Ji Kyung tak berani menatap wajah Donghaea, pria itu bertingkah begitu menyeramkan. Untuk setiap detiknya, ruangan ini terasa begitu mencekam.

“Oppa..” ucap Ji Kyung lagi lalu mencoba bangkit, namun sia-sia. Ia menekan tubuh Ji Kyung terlalu keras, jangankan bangkit untuk bergerak saja gadis itu tidak bisa.

Ji Kyung berharap ada yang masuk dan menyelamatkan dirinya, tapi dalam posisi menindihnya seperti itu, siapapun yang masuk pasti akan berpikir yang tidak-tidak. Tangan Ji Kyung bahkan mulai terasa perih, apakah Donghae tak bisa lihat wajah ketakutan gadis itu?

“Kau..” ucap Donghae penuh penekanan. Kepala Ji Kyung masih enggan menatap wajah Donghae, gadis itu menatap langit-langit ruang kerja Donghae. Sekali lagi ia tak berani menatap wajah pria itu.

Ceklek

Kepala Ji Kyung bergerak menatap pintu yang terbuka, sedikit rasa lega sekaligus malu menghapirinya. Donghwa berdiri dengan wajah terkejut melihat mereka. Ia sudah pasti terkejut apalagi dengan posisi seperti itu –Donghae menindih tubuh Ji Kyung-

“Hyung..” ucap Donghae tak terkejut sama sekali, Ji Kyung pikir pria itu akan melepasnya karena terkejut dengan kehadiran Donghwa, tapi ternyata tidak. Justru pria itu semakin menekan tubuh mungil Ji Kyung.

“Apa yang terjadi?” tanya Donghwa bingung.

“Lain kali kalau kau masuk ruanganku, ketuk pintu dulu..” ucap Donghae tak memperdulikan pertanyaan hyungnya. Ji Kyung berusaha memprotes sikap pria itu, tapi pria itu seolah tak megindahkan semua protes Ji Kyung.

“Ah mian, tadi kudengar kau berteriak-teriak jadi aku segera kemari..” balas Donghwa kikuk. Ia tahu nada suara adiknya tak begitu bagus.

“Sekarang kau bisa keluar? Kau mengganggukku hyung..” ucap Donghae datar.

“Oppa..!” ucap Ji Kyung menegur Donghae, tapi ia lagi-lagi tak mengindahkan protes dirinya. Lama-lama Ji Kyung jadi semakin kesal dengan pria ini. Mengapa bersikap begitu tak sopan pada hyungnya sendiri?

“Ah baiklah, maafkan aku. Selesaikan urusanmu dengan Kyungie..” ucap Donghwa.

Dengan cepat Ji Kyung memalingkan wajahnya menatap Donghwa dengan memohon.  Gadis itu tak mau Donghwa pergi dan membiarkannya menjadi amukan Donghae. Seolah mengerti dengan tatapan Ji Kyung, donghwa oppa mulai berbicara.

“Donghae-ya aku tak tahu urusan apa yang akan kau selesaikan tapi sekedar mengingatkan, Ji Kyung masih kecil jangan bertindak terlalu jauh…”

“Mwo?” lirih Ji Kyung. Apa yang dipikirkan Donghwa?

Donghae mendengus menatap Ji Kyung lalu menatap Donghwa. “Keluarlah hyung, ini tak seperti yang kau pikirkan..” ucap Donghae.

“Hmmm..”

Brakkkk

Pintu tertutup dan Donghae kembali menatap Ji Kyung. Ji Kyung menelan ludahnya dengan gugup, ia pikir Donghae akan segera melepaskannya tapi nyatanya ia tak melepaskan gadis itu sedikitpun. Ji Kyung menatap mata Donghae dengan sayu, apa yang Donghae pikirkan sebenarnya? Mengapa ia menatap Ji Kyung seolah ia begitu membenci gadis itu?

“Dengar..” ucap Donghae lalu memajukan kepalanya mendekati kepala Ji Kyung, dengan reflek Ji Kyung memalingkan wajahnya lagi. Lag-lagi nafas Donghae yang memburu terasa menggelitik di leher gadis itu.

“Kau tak berhak membatalkan pertunangan kita, kau pikir kau siapa hah?” ucap Donghae dengan gigi yang bergemeretakan. Ji Kyung masih tak berani menatapnya, ia berbicara begitu dekat dnegan telinga gadis itu. Rasanya seperti ia sedang menempelkan bibirnya pada telinga Ji Kyung.

“Oppa, hentikan. Lepaskan aku, aku  mau ke kamar..” ucap Ji Kyung mencoba memohon pada Donghae. Sejujurnya gadis itu takut dengan sikap Donghae yang seperti ini.

“Wae? Kau takut padaku? Mencoba menghindariku dan pergi ke kamar? Tak pernah melihatku semarah ini?” tanya Donghae masih dengan gigi bergemeretakan.

Ji Kyung menghirup udara dengan diam-diam, rasa gugupnya benar-benar tak tertolong lagi. Anni, ini adalah rasa takut.

“Aku tak akan semarah ini kalau kau tak merendahkan perasaanku Ji Kyung-ah,” Donghae berkata lagi, kali ini ia mulai melunak. Tak ada tatapan intimidasi dan gigi yang bergemertakan seolah menahan emosi.

“Oppa, aku..”

“Kau pikir aku menganggap pertunangan kita sebuh permainan? Kau pikir aku bertahan hingga sekarang dengan pertunangan kita hanya karena baktiku pada orang tua? Atau rasa sungkanku pada keluargamu? Kau salah.” Ucap Donghae dengan penekanan. Ji Kyung terperangah mendengar semua ucapan pria itu. Dengan berani Ji Kyung mencoba menatap wajah pria itu, apakah ia berbicara jujur? Sejujunya perkataan Donghae  tadi terdengar begitu perih, seolah ia begitu sakit dengan semua anggapan Ji Kyung tentang dirinya.

“Kalau aku mau, aku sudah membatalkan pertunangan ini sejak dulu, aku tak takut untuk mengutarakan apa yang tidak kusukai. Tapi aku bertahan dan tak pernah sedikitpun berpikir untuk membatalkan semua ini karena aku memang mengingkan pertunangan ini,” ucap Donghae. Ia menarik nafasnya seolah begitu emosi dengan keadaan seperti ini.

Ji Kyung menatap wajah Donghae lebih dalam lagi. Cukup, rasanya mata gadis mulai memanas mendengar semua penuturan pria itu.

“Dan karena aku begitu menginginkan dirimu Kyung-ah,” ucap Donghae kemudian, suaranya terdengar begitu lelah.

Kali ini air mata Ji Kyung seolah tak bisa ditahan lagi, mendengar Donghae berkata seperti itu, Ji Kyung merasa Donghae menganggapnya gadis yang begitu berharga.

‘Mengapa aku begitu bodoh dengan merendahkan perasaan tulusnya padaku. Ia memang mencintaiku.’ Gumam Ji Kyung dalam hati.

“Mianhae oppa..” ucap Ji Kyung dengan isakan sekarang. Rasanya ingin sekali meledak.

Donghae tak suka melihat air mata gadis itu.

“Sudahlah, kembali ke kamar lalu beristirahatlah, besok kau ada ujian..” ucap Donghae lalu menegakan tubuhnya. Dengan cepat Ji Kyung menarik kerah baju pria itu hingga ia kembali menindih tubuh Ji Kyung. Ji Kyung tak rela mendengar Donghae berkata seperti tadi. Ia memang tak berkata dengan gigi yang bergemeretakan tapi ia berkata dengan dingin. Ini jauh lebih menyakitkan.

“Oppa aku benar-benar..”

“Besok kau ujian Ji Kyung-ah, cepat tidur dan buang semua pikiran bodohmu tadi karena aku tak berniat sedikitpin membatalkan pertunangan kita..” ucap Donghae seolah tak membiarkan ji kyung berbicara sedikitpun.

Ji Kyung melepas cengkraman tangannya di kerah baju Donghae, rasanya lega mendengar pria itu berkata seperti tadi.

“Good night,” ucap Donghae lalu mengecup pipi Ji Kyung dan menegakan tubuhnya. Ji Kyung memejamkan matanya membiarkan air matanya mengalir di pipinya.

Brakkk

Ji Kyung menoleh ke arah pintu. Donghae keluar meninggalkannya sendirian di ruang kerja pria itu.

“Kau bodoh Kang Ji Kyung, mianhae Donghae oppa..” ucap gadis itu terisak.

***

Donghae Room’s

11.00 AM

Donghae duduk pada ranjangnya dengan kepala tertunduk menatap lantai. Ia terus memikirkan ucapan Ji Kyung saat keduanya berkelahi di ruang kerjanya tadi. Dada pria itu begitu sesak mendengar semua permintaan gadis itu. Seharusnya gadis itu tahu bahwa Donghae tak akan bisa melepaskannya apapun yang terjadi. Gadis itu adalah hidupnya.

“Kau ingin membatalkan pertunangan ini Kyung-ah? Kau bahagia dengan pria lain? Lalu bagaimana denganku? Apakah aku melepasmu saja demi kebahagiaanmu?? Anni! Aku bukan tokoh-tokoh bodoh dalam roman picisan yang bahagia dengan jalan seperti itu. Bagiku aku bahagia dengan dirimu di sisiku.” Ucap Donghae dengan mata yang masih menatap lantai.

Pria itu membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar, wajah Ji Kyung selalu muncul saat ia mengedipkan mata. Gadis itu sudah seperti candu baginya, mengapa gadis itu bisa berpikir serendah itu?

“Aku tertekan dengan pertunangan ini? Kau bodoh? Apakah kebahagiaanku tak terlihat jelas olehmu Kyung-ah?”

“Kurasa aku hanya pantas menjadi dongsaengmu saja. Jadi kumohon oppa kita hentikan semua ini. Aku akan membatalkan pertunangan kita..”

“Tidak, kau gadisku, kau wanitaku..” gumam Donghae lirih. Pria itu memejamkan matanya mencoba tertidur, tapi ia benar-benar tak bisa tertidur sama sekali.

Donghae berdiri lalu berjalan menuju lemari pakaiannya, pria itu membuka pintu lemari dan mulai mengambil box biru yang terletak di bagian bawah lemarinya. Bibirnya tersungging menatap box itu. Dibukanya perlahan penutup box tersebut. Ia kembali mengiring langkahnya menuju ranjanganya.

Donghae duduk di tepi ranjang dan mulai melihat isi dari box tersebut. Bibirnya lagi-lagi tersenyum saat melihat selembar foto saat dirinya memasuki usia 18 tahun.

“Ji Kyung manis sekali..” ucap Donghae saat melihat bocah kecil 9 tahun dengan rambut yang dikepang ke samping pada lembar foto berikutnya.

“Ini acara ulang tahunku..” gumam Donghae saat melihat Ji Kyung berdiri di sampingnya. Gadis itu menggunakan gaun merah muda selutut.

“Oppa kau mirip dengan Aiden..” ucap Ji Kyung di samping Donghae yang sedang berdiri melihat tamu undangan. Mereka sedang merayakan hari ulang tahun Donghae. Gadis 9 tahun itu sedikit berjinjit demi menyamakan tingginya dengan Donghae.

“Aiden? Nugu?” tanya Donghae lalu membungkukan dirinya sedikit, menyamakan tingginya dengan tinggi Ji Kyung.

“Aiden itu seorang pangeran yang tampan..” ucap Ji Kyung lalu tersenyum. Donghae tersenyum sekilas menanggapi ucapan bocah kecil itu.

“Berarti aku setampan Aiden?” tanya Donghae.

“Anni!”

“Wae? Kau bilang aku mirip dengannya, berarti aku setampan dia, kan?” balas Donghae.

“Anniya, kau lebih tampan darinya..” ucap Ji Kyung. Donghae terkekeh pelan mendengar ucapan gadis itu.

“Jinjja? Aigoo! Kau sengaja memujiku, pasti ada sesuatu. Katakan apa yang mau kau minta?” tanya Donghae. Gadis itu menggeleng pelan membuat rambutnya yang dikuncir kuda bergerak lincah dan begitu manis.

“Oppa kemari..” ucap Ji Kyung memanggil Donghae, jari telunjuknya bergerak mengisyaratkan pria itu untuk mendekat.

“Mwo?” tanya Donghae lalu mendekatkan wajah ke arah Ji Kyung.

Chu~

Deg!

Mata Donghae membulat saat gadis kecil itu mengecup bibirnya, hanya kecupan sebenarnya. Mereka juga sudah sering melakukannya sejak gadis itu pertama kali datang ke rumahnya, ya seperti ciuman oppa dan dongsaeng. Tapi kali ini ada yang berbeda dengan Donghae, jantung pria itu berdetak tak tentu. Nyawanya seolah terbang meninggalkan raganya. Tak mungkin ia mencintai dongsaengnya sendiri, bukan?

“Oppa, wajahmu memerah! Happy Birthday Donghae oppa! Saranghae!!!” ucap Ji Kyung keras, ia sudah berlari meninggalkan pria itu yang masih terdiam membeku karena efek kecupan gadis kecil itu.

“YA! Siapa yang mengajarimu menggodaku seperti itu? Seorang gadis tak boleh mencium namja lebih dulu!” kesal Donghae dengan berteriak tapi Ji Kyung hanya berlalu meninggalkan pria itu.

Donghae membalikan tubuhnya dan memegang bibirnya, “Aneh, rasanya aneh. Jantungku terasa aneh..” ucap Donghae pelan. Tangannya bergerak mengejar tengkuk lehernya, rasa gugupnya semakin besar. Ia berusaha menyangkal rasa yang baru saja ia dapatkan tadi.

“Sial, apakah aku baru saja jatuh cinta padanya?” ucap Donghae lalu tersenyum kecut. Hanya karena ulah gadis kecil dan jantungnya seolah tak bisa diajak berkompromi.

“Itu pertama kali aku jatuh cinta padamu Kyung-ah..”

***

At Morning

06.00 AM

Semua orang sudah berkumpul hanya Ji Kyung yang belum turun. Donghwa baru saja akan memanggil gadis itu, saat Ji Kyung muncul dan duduk di samping eommanya sehingga ia tak jadi memanggil gadis itu.

“Tidurmu nyenyak Kyungie?” tanya Donghwa dengan tangan yang sibuk mengoles selai pada roti tawarnya.

“Hmm,” balas Ji Kyung. Gadis itu menimba nasi dan mulai mengambil lauk-pauk di meja. Ia benar-benar harus makan banyak, hari ini ujian universitas jadi ia tak boleh kelelahan atau kelaparan.

“Kau sudah siap dengan ujianmu?” tanya Hyang Sook.

“Ne eomma, doakan aku..” ucap Ji Kyung lalu mulai menyantap makanannya.

“Sudah pasti Kyungie, kau harus mengerjakannya dengan teliti jangan terburu-buru..” ucap Hyang Sook lagi.

Ji Kyung hanya mengangguk lalu mulai memakan sarapannya, gadis itu mengangkat kepalanya lalu mencuri pandang ke arah Donghae. Saat Donghae mengangkat kepalanya, Ji Kyung segera menundukan kepalanya. Ia melakukanya terus-menerus, hingga yang keempat kalinya, pria itu sengaja tak menunduk. Donghae tahu ia sedang ditatap. Ji Kyung hendak melakukannya lagi, tapi ia tertangkap basah oleh Donghae. Gadis itu segera menundukan kepalanya lalu meringis pelan, merutuki sikap bodohnya.

“Semuanya ada yang ingin kubicarakan..” ucap Donghae tiba-tiba.

Semua orang meletakan sendok mereka kecuali Ji Kyung, gadis itu sibuk menyantap makanannya.

“Ya! Ji Kyung-ah, ada yang mau dibicarakan Donghae..” ucap Donghwa sebal.

“Eoh? Mianhae..” ucap gadis itu lalu meletakan sendok dan garpunya menghentikan aktivitasnya yang sedang makan.

“Katakan Donghae-ah..” ucap Hyang Sook.

Donghae menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan pelan, pria itu menatap Ji Kyung dalam, merasa ditatap, Ji Kyung menggeliat gusar. Ia merasa ada yang tak beres di sini.

“Aku ingin menikahi Ji Kyung setelah kelulusannya..” ucap Donghae singkat tapi mampu membuat semua yanga da di meja makan terkejut tak terkecuali Ji Kyung.

“Uhhuukk.. Uhuukkk..” Ji Kyung terbatuk-batuk, ia masih mengunyah sisa makananya saat Donghae berkata seperti itu.

“Ya! Ya! Gweanchanna?” ucap Donghwa lalu memberikan segelas air putih pada Ji Kyung.

Ji Kyung meneguk air itu hingga tandas, “Gomawo oppa..” ucapnya setelah meletakan gelas tersebut di atas meja.

Ji Kyung tak menyangka pria itu akan berkata seperti itu, bukankah semalam mereka bertengkar? Tapi tak dipungkiri hati kecilnya bersorak gembira walaupun ada sedikit rasa ragu dan takut menggelayutinya.

“Jinjja? Geundae, bukankah ini terlalu dini bagi Ji Kyung? Ia baru akan memasuki bangku kuliah Hae-ah?” ucap Hyang Sook.

“Hmm, kurasa benar. Ji Kyung masih terlalu kecil untuk menikah..” ucap appa Donghae sedikit mengangguk.

Ji Kyung masih sibuk mengatur nafasnya, Donghwa membantu dengan mengusap punggung gadis itu.

“Aku juga berpikir seperti itu, tapi setelah kami bicarakan berdua..”

“Mwo?” ucap Ji Kyung terkejut. Berbicara berdua? Sejak kapan? Donghae tak menghiraukan protes gadis itu. Ia kembali meneruskan ucapnnya.

“Setelah kami bicarakan berdua, kurasa tak masalah. Ji Kyung tetap bisa menjalani kuliahnya setelah kami menikah.” Ucap Donghae lalu meneguk air putih di depannya. Ia merasa puas sekarang, gadis itu pasti tak bisa melakukan apapun lagi sekarang.

Hyang Sook tampak berpikir sebentar, lalu detik berikutnya bibirnya tersungging. “Geurae, kurasa itu ide bagus. Ji Kyung tetap berkuliah dan kalian menikah, dengan begitu aku tenang melepas anak gadisku pada putraku sendiri, eotte yeobo-ah?” tanya Hyang Sook pada suaminya.

“Hmmm, kurasa tak buruk. Kalian juga bisa memberikan kami keturunan untuk meneruskan Lee Corporation, hyungmu sampai sekarang belum menunjukan ketertarikannya pada wanita. Jadi kurasa kau yang akan memberikan kami cucu lebih awal, tak masalah..” balas Donghae appa. Donghwa sedikit kesal mendengar dirinya disindir seperti itu.

“Aku tak punya kekasih juga karena siapa? Karena kalian terus membuatku sibuk mengurusi perusahaan..” cibir Donghwa.

“Chankkaman..” ucap Ji Kyung mencoba protes. Ji Kyung merasa ia harus menghentikan ini semua, kesalahpahaman ini tak boleh terus berlanjut.

Donghae menatap Ji Kyung dengan tatapan yang begitu mengintimidasi, seolah berkata pada gadis itu untuk tidak mengacaukan rencananya.

“Wae? Maafkan aku mengatakan semuanya sekarang Kyung-ah, ini kabar bahagia. Tak apa, kan? Kupikir memberitahukan sekarang dan nanti akan sama saja, pada akhirnya kita akan menikah, bukan?” tanya Donghae pada Ji Kyung. Ia tak ingin Ji Kyung menolak semua keputusannya.

“Benar Kyungie, ini kabar gembira. Aku senang akhirnya kalian membicarakan pernikahan kalian, bagaimana kalau pernikahan diadakan setelah hari kelulusanmu? 1 atau 2 bulan setelahnya, eotte?” tanya Hyang Sook pada Ji Kyung.

“Nde?” tanya Ji Kyung. Ia bingung harus menjawab apa. Ia menatap Donghae dan pria itu seolah tak mau membantu sama sekali.

“Ah, kurasa 1 bulan saja. Aku sudah tak sabar ingin mengadakan pernikahan kalian, eotte Kyungie?” tanya Hyang Sook lagi.

Ji Kyung menelan ludahnya lalu menatap Hyang Sook dengan dalam, “Ne, eomma..” balasnya pelan.

Donghae menyeringai menatap Ji Kyung. Pandangan keduanya saling bertabrakan. Pria itu tersenyum, sebenarnya lebih terlihat seperti seringai.

‘Kau tak akan bisa pergi dari sisiku Kyung-ah..’ gumam Donghae dalam hati.

***

A Road

06.35 AM

Ji Kyung meremas roknya dengan gugup sebenarnya ia ingin bertanya perihal ucapan pria itu tadi saat di meja makan tapi nyali gadis itu bahkan tak bisa diajak berkompromi. Ia seolah sadar bahwa dirinya pantas mendapatkan hal seperti tadi –morning shock- karena dirinya yang lancang merendahkan perasaan pria itu.

Donghae melirik sekilas ke arah tangan gadis itu yang masih sibuk meremas roknya. Pria itu hanya terus menatap jalanan Seoul tanpa mau sibuk mengajak gadis itu untuk berbicara seperti biasanya.

“Oppa..” ucap Ji Kyung memanggil pria itu. Ia tak tahu mengapa bibirnya bisa memanggil pria itu.

“Hmmm…”

“Mengapa kau melakukan hal tadi? Kau mau menghukumku? Kau sedang mengerjaiku, ya? Kau marah padaku?” tanya Ji Kyung, gadis itu masih menunduk menatap roknya.

“Entahlah, kurasa aku menyukai hal tadi..” jawab Donghae asal. Pria itu kesal karena Ji Kyung masih tak bisa lihat kesungguhannya saat mengatakan ingin menikahi gadis itu. Menghukum? Mengerjai? Terserah apa yang ada dalam pikiran gadis itu.

Donghae membanting setirnya dan menepikan mobilnya.

“Turunlah, sudah sampai..” ucap Donghae dingin. Ji Kyung menatap gedung Kyunghee University lalu mulai membuka sabuk pengamannya.

“Gomawo..” ucap Ji Kyung pelan lalu membuka pintu mobilnya. Gadis itu baru saja akan menurunkan kaki kanannya saat Donghae mencegahnya dengan memegang bahunya hingga ia kembali duduk dan menatap Donghae. Hatinya sedikit gembira, setidaknya pria itu tak membiarkan dirinya keluar begitu saja.

“Kau harus lulus. Jangan kecewakan eomma, appa, Donghwa hyung dan AKU..” ucap Donghae penuh penekanan saat diakhir kalimat. Ia tahu gadis itu tak akan bersemangat mengerjakan soal karena efek kejadian semalam dan tadi pagi. Jadi pria itu mmeberikan sedikit tekanan pada gadis itu.

“Ne,”

“Kalau kau tidak lulus, kau akan tahu akibatnya..” ucap Donghae datar. Nada pria itu seolah meremehkan kemampuan gadis itu, tapi jauh di dalam hatinya, ia sedang membakar semangat gadis itu.

Gadis itu mendengus kesal, “Ne, aku pasti lulus! Dan oppa mengapa kau berkata seolah aku ini begitu bodoh? Aku pastikan aku lulus!” ucap Ji Kyung lalu keluar dari mobil dengan sebal. Pria itu tersenyum mendengar ucapan Ji Kyung.

“Mudah sekali memana-manasimu Kyung-ah, aku tahu sekarang gadis mana yang membuatmu begitu kesal padaku..”

***

One Month Later…

Ji Kyung Room’s

06.00 AM

Ji Kyung menatap pantulan dirinya di depan cermin, rambutnya terikat rapi. Hari ini adalah hari kelulusannya, sejak tadi bibirnya merekah terus-menerus.

“Kau sudah cantik Kyungie..”

“Aigoo! Eomma sejak kapan kau ada di sana?” tanya Ji Kyung terkejut saat melihat Hyang Sook berdiri memandangnya dari pintu.

“Sejak tadi, kau terus berdadan..” ucap wanita itu lalu masuk ke dalam kamar Ji Kyung, ia berjalan mendekati putrinya yang kini tengah berdiri di depan cermin.

“Apakah aku cantik?” tanya Ji Kyung lagi.

Hyang Sook memandang Ji Kyung lalu mengusap kepala gadis itu sayang, “Geurae, putriku cantik sekali..” ucap wanita itu.

Ji Kyung menatap Hyang Sook,“Gomawo eomma, aku tak akan tumbuh sebaik ini kalau bukan karena dirimu..” ucap Ji Kyung pelan. Suasana menjadi haru.

“Aishhh bicara apa kau ini? Sejak dulu aku ingin sekali punya putri tapi selalu tak berhasil, dan kau lihat? Yang lahir justru 2 bocah menyebalkan itu..” ucap wanita itu lagi.

“Eomma dan appa di surga pasti senang melihatku sekarang,”

“Hmm, eomma dan appamu pasti senang sekarang. Tak terasa waktu terus berlalu, kau tumbuh menjadi begitu manis dan pandai. Tak terasa aku akan melepaskanmu sebentar lagi…” ucap Hyang Sook lalu memeluk Ji Kyung.

Ji Kyung balas memeluk wanita itu, ia paham betul ucapan wanita itu. Sebentar lagi Donghae akan memperistri dirinya. Itu artinya ia akan segera berumah tangga dan hidup menjauhi eomma dan appa angkatnya ini.

“Donghae sangat mencintaimu percayalah, aku percaya ia bisa menjagamu. Kau juga bisa menjaga Donghae. Aku percaya..” ucap Hyang Sook.

Ji Kyung mencelos mendengar ucapan Hyang Sook, sudah sebulan ini dan hubungannya dengan Donghae tak begitu baik. Pria itu terlalu sibuk atau memang sengaja menyibukan dirinya, entahlah. Ji Kyung bahkan bisa menghitung intensitas pertemuan mereka selama seminggu. Lama-kelamaan gadis itu mulai merindukan sosok Lee Donghae yang dulu. Ia merasa pria itu sengaja menjauhi dirinya semenjak pagi dimana Donghae mengutarakan keingannya untuk menikahi gadis itu. Ji Kyung pikir Donghae akan bersikap semakin manis dan perhatian padanya karena mereka akan menikah kurang lebih satu bulan lagi, tapi nyatanya hubungan keduanya terlihat begitu tak harmonis. Bahkan untuk bertegur sapa saja Ji Kyung yang harus selalu memulai semuanya duluan.

***

Shinchung Senior High School

08.00 AM

Donghae duduk di jajaran paling depan untuk menyaksikan pelpasan murid-muridnya. Ia merasa dirinya begitu tua di sini. Ia terus menatap ke atas podium, sebenarnya menatap seorang gadis di atas sana. Matanya tak pernah lepas dari sosok mungil itu. Sudah sebulan lebih ia dan gadis itu menjalani drama yang begitu membosanakan. Jarang bertegur sapa dan tak pernah seharmonis dulu.

“Aigoo! Gadis nakal itu menjadi pembicara, apa yang akan dibicarakan nanti. Firasatku buruk sekali..” seorang wanita paruh baya tampak mencibir ke arah podium. Donghae tahu siapa yang menjadi subjek dari cibiran wanita itu.

“Gweanchanna Nana Songsaenim, yang paling penting ia itu salah satu murid pandai di sini..” ucap Donghae setengah berbisik.

“Terus saja bela tunanganmu Lee Donghae,” ucap wanita itu dan sukses membuat Donghae terkekeh pelan. Di antara semua guru, hanya beberapa yang mengetahui Ji Kyung adalah tunangannya.

“Aku akan menikahinya bulan depan, bagaimana menurutmu?” tanya Donghae pada wanita paruh baya tersebut.

“Tch~ yang benar saja? Gadis itu bahkan masih muda..” cibir wanita itu lagi.

“Dan aku sudah tua, tak apa kan kalau aku mengikatnya sejak dini?” balas Donghae.

“Jangan merusaknya Lee Donghae, biarkan ia meraih cita-citanya..” balas wanita itu lagi.

“Aku tak akan membatasi impiannya, ia hanya harus ingat bahwa ia memilikiku di sampingnya yang akan terus mendukungnya disegala hal..” balas Donghae.

“Tch~ mengapa kau tak buat novel tentang kisah cinta kepala sekolah dan muridnya?” ucap wanita itu masih mencibir.

“Sepertinya itu ide yang bagus..” sambung Donghae.

Donghae menatap ke depan podium, ia melihat Ji Kyung tampak sedang membetulkan Mc, mungkin gadis itu akan segera menyampaikan beberapa kalimat sebagai perwakilan dari siswi kelas tiga. Terlalu asik mengobrol membuat Donghae tak tahu bagian gadis itu berbicara akan segera dimulai.

“Cha! Lihat-lihat tunanganku akan berbicara..” ucap Donghae pada wanita paruh baya tadi. Wanita paruh baya itu hanya mendengus sebal. Sejujunya ia begitu menyukai kisah cinta muridnya itu.

“Test Test..”

“Annyeong Haseyo, joneun Kang Ji Kyung imnida. Aku berdiri di sini untuk mewakili teman-temanku menyampaikan salam perpisahan, pertama-tama aku berterima kasih karena terpilih menjadi pembicara di sini. Yang kuhormati kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru-guru serta teman-teman yang kucintai. Tak terasa sudah tiga tahun ini kami bersekolah di sini, banyak kenangan yang mungkin akan sulit dilupakan. Terkadang aku berpikir bahwa apakah kami bisa meninggalkan sekolah tercinta kami ini? Terkadang kami sama sekali tak mau untuk meninggalkan sekolah ini, tapi setelah melewati banyak pelajaran di sini. Kami sadar bahwa hidup kami masih harus terus berlanjut, bahwa impian kami masih harus terus kami capai dan membahagian orang tua serta guru-guru adalah sebuah tujuan yang harus benar-benar tercapai. Kami berterima kasih karena para guru di sini sudah begitu kuat menghadapi kenakalan kami, kami akan sangat merindukan kalian nantinya..”

“Lihat ia berbicara begitu lantang, kau yang mengajarinya?” tanya Nana Songsaenim mengagetkan Donghae.

“Anniya, aku bahkan tak tahu gadis itu menjadi pembicara..”

“Dan untuk semua kenangan yang sulit dilupakan, mungkin para siswi akan sangat merindukan sosok kepala sekolah yang begitu tampan dan muda…” ucap Ji Kyung lalu berhenti sejenak karena sorakan teman-temannya. Ia terkekeh pelan.

“Whoooo!!!” banyak siswa-siwi bersorak karena ucapan Ji Kyung. Bagi kaum wanita semuanya benar, tapi tidak dengan pria. Mereka merutuki ucapan Ji Kyung.

“Lihat ia masih sempat memujimu, cih!” cibir Nana songsaenim dan Donghae hanya mengulum senyumannnya.

“Kami mungkin tak akan menemukan kepala sekolah setampan Donghae Songsaenim di sekolah lain. Dan untuk Nana Songsaenim..” ucap Ji Kyung menggantung, ia menarik nafasnya sebentar.

“Mwo??” pekik Nana songsaenim terkejut.

“Ia juga membicarakanmu..” sindir Donghae.

“Kurasa kau yang paling menyebalkan, bisakah kau lebih manis lagi pada angkatan setelahku. Jangan terlalu kejam, kurasa mereka akan mati muda karena dirimu. Tapi untuk semua hukumanmu, kami mencintaimu..” ucap Ji Kyung lalu tertawa pelan. “Dan kami sangat mencintai semua guru di sini, kami tak akan pernah melupakan jasa kalain terhadap hidup kami. Kamsahamnida..” ucap Ji Kyung mengakhir pidato singkatnya.

“Kurasa hanya gadis itu yang berani mengomentari dirimu Songsaenim,” ucap Donghae setengah berbisik.

“Dan sahabat dekatnya Cho Kyu Hyun, namja brandalan yang selalu meggodaku tapi menyebalkannya ia sangat pintar sama seperti Ji Kyung..” balas Nana songsaenim pelan. Donghae hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan guru senior itu.

***

Donghae Room’s

10.00 PM

Donghae duduk pada sofa di kamarnya dengan segelas Wine di tangan, pria itu baru saja mandi. Tubuhnya begitu lengket, mungkin karena memasuki musim panas ia jadi mudah berkeringat. Mandi adalah keputusan yang baik walaupun malam hampir larut.

Ia masih mengenakan kimono mandinya, tak berniat sedikitpun untuk mengganti baju. Mencoba merileksakan pikirannya yang sedang tak baik.

Tak seperti biasanya pria itu menghabiskan malamnya dengan bertingkah seperti itu. Ingatannya kembali berputar pada kejadian siang tadi saat Ji Kyung dan Kyu Hyun pergi bersama meninggalkan sekolah –meninggalkan dirinya juga-

“Cih, padahal aku baru saja menyusun pesta kecil untukmu Kyung-ah..” ucap pria itu dengan kekehan kecil. Ia tak pernah merasa menyedihkan seperti ini, apalagi ini semua karena ulah gadis kecil yang berstatus tunangannya.

Donghae menundukan kepalanya dan menatap lantai dengan frustrasi. Pria itu selalu memikirkan gadis itu, apakah gadis itu juga memikirkannya? Ia selalu menanyakan pertanyaan seperti itu di dalam kepalanya. Ia merasa seolah hanya dirinyalah yang berusaha keras dengan hubungan mereka.

Ceklek

Donghae mengangkat kepalanya lalu menatap gagang pintu, dahinya sedikit berkerut tapi detik berikutnya dahinya kembali seperti semula, ia tahu siapa yang datang malam-malam begini.

Donghae menatap pintu tanpa mau mengalihkan pandangannya sama sekali. Kepala seorang gadis menyembul dari sana. Donghae menatap dengan malas, selalu dengan cara seperti itu bila gadis itu masuk ke dalam ruangannya. Mata gadis itu menyapu ruangannya seperti sedang mencari sesuatu, mata gadis itu lalu terhenti saat bertabrakan dengan mata sayu milik Donghae.

“Ada apa kemari Kyung-ah?” tanya Donghae. Gadis itu tak segera menjawab namun ia justru masuk dan menutup rapat pintu kamar.

Ji Kyung berjalan cepat lalu berdiri tepat di hadapan Donghae.

“Kau baru selesai mandi?” tanya Ji Kyung saat ia mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh pria itu.

Donghae tak menjawab, is lalu meletakan Winenya pada nakas di samping sofa. Ji Kyung mengernyit saat melihat gelas dengan air yang berwarna sedikit keemasan.

“Ommo! Oppa kau minum alkohol?” tanya Ji Kyung sedikit berteriak. Ia tak menyangka pria yang selama ini dikenalnya bisa minum juga, ia tak pernah melihat Donghae meminum minuman seperti itu.

Donghae merutuki kobodohannya yang tak mewaspadai gadis itu, ia tak ingin Ji Kyung melihatnya meminum minuman seperti itu. Itu tak bagus untuk pikrian gadis itu.

“Wae? Mengapa kau datang ke kamarku malam-malam begini…?” tanya Donghae berusaha mengabaikan pertanyaan Ji Kyung tadi.

Ji Kyung menggaruk tengkuknya gugup, ia tak menyangka pria itu masih bersikap dingin padanya. Ia pikir pria itu akan bersikap seperti biasanya. Ramah dan perhatian.

“Ada yang ingin kubicarakan oppa..” ucap Ji Kyung.

“Aku lelah, besok saja..” balas Donghae lalu berjalan menuju ranjangnya. Ji Kyung menarik nafasnya lalu menarik tangan Donghae, mencegah pria itu untuk pergi dari hadapannya.

“Oppa, kau masih marah padaku?” tanya Ji Kyung lemah. Donghae menghempaskan tangan Ji Kyung lalu berjalan menuju ranjangnya.

“Tidak, sekarang keluarlah Kyung-ah, aku sangat lelah..” ucap Donghae lalu melempar tubuhnya ke atas ranjang.

Ji Kyung berdiri dan menatap Donghae yang mulai menutup matanya, gadis itu merasa kesepian sekarang. Ia tak tahu bahwa diabaikan secara langsung seperti ini benar-benar menyakitkan, ini seperti kau sudah tak dibutuhkan lagi karena sudah tak berguna.

“Kau masih di situ Kyung-ah? Kau mau menggangu waktu tidurku?” tanya Donghae masih dengan mata terpejam.

“Aku akan tetap di sini sampai oppa tak mengacuhkanku lagi..” ujar Ji Kyung pelan. Gadis itu masih berdiri menatap Donghae. Pria itu tampak terkekeh pelan. Ji Kyung sedikit bingung melihat tingkah pria itu.

“Kau keras kepala sekali Kyung-ah..” ucap Donghae lagi.

“Makanya oppa jangan mengabaikanku lagi!” seru Ji Kyung kesal.

Donghae membuka matanya dan menatap Ji Kyung dengan tajam, “Kau minta aku tak mengabaikanmu, tapi kau bisa bebas mengabaikanku? Kemana kau seharian ini? Aku menelponmu tapi kau tak mengangkat sama sekali..?” tanya Donghae dengan suaranya yang terdengar sedikit membentak.

“Aku..aku pergi dengan Kyu Hyun, oppa..” jawab Ji Kyung pelan. Ia merasa bersalah sekarang. Donghae bahkan menghubunginya tapi ia tak tahu sama sekali.

“Ah Kyu Hyun kekasihmu? Kalian pergi menghabiskan waktu seharian untuk merayakan kelulusan kalian?” tanya Donghae sedikit menyindir.

“Anniya, Kyu Hyun bukan kekasihku..” ucap Ji Kyung memprotes.

“Kau tak tahu kan? Eomma bahkan sudah menyiapkan pesta kecil untukmu tapi kau? Dengan tidak tahu diri kau pergi dengan pria lain tanpa memberi kabar sedikitpun, kau lupa kalau kau sudah bertunangan, hah?” tanya Donghae sedikit menyentak.

Ji Kyung terkejut dan merasa sangat bersalah, air matanya sudah mendesak untuk keluar. Entah mengapa malam ini, ia jadi mudah mengeluarkan air matanya.

“Aku tak tahu eomma akan merayakan kelulusanku oppa..” ucap Ji Kyung pelan nyaris berbisik tapi Donghae bisa mendengarnya.

“Kau membuat kami kecewa,” ucap Donghae lalu menarik selimut dan memejamkan matanya.

“Oppa, mianhae..” ucap Ji Kyung. Kali ini ia terisak pelan, perkataan Donghae benar-benar membuatnya merasa bersalah. Ia tak bisa membayangkan dirinya baru saja membuat Hyang Sook kecewa padanya.

“Berhentilah menangis Kyung-ah, kau mengganggu tidurku..” ucap Donghae datar.

Ji Kyung menghapus air matanya lalu berjalan menuju ranjang Donghae. Gadis itu menaikinya hingga membuat ranjang berderit. Donghae membuka matanya dan mendapati Ji Kyung kini di sampingnya.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” tanya Donghae.

Ji Kyung hanya diam dan ikut berbaring di samping Donghae. Pria itu membalikan tubuhnya hingga ia membelakangi Ji Kyung. Ia benar-benar tak bisa tenang sekarang, gadis itu tidur di samping dirinya. Gadis yang beberapa minggu terakhir ini begitu ia rindukan. Bagaimana bila ia tak tahan dan berbalik menyerang gadis itu? Apalagi efek Wine tadi benar-benar membuatnya harus bisa menahan dirinya.

Keduanya terdiam begitu lama, Ji Kyung berusaha memantapkan apa yang akan ia sampaikan pada Donghae malam ini. Sementara Donghae, pria itu menunggu apa yang akan dilakukan gadis di belakangnya itu.

“Oppa..” ucap Ji Kyung lalu menyelipkan tangannya memeluk pinggang pria itu. Gadis itu memeluk Donghae dari belakang. Donghae hanya diam tanpa tahu apa yang harus ia lakukan.

“Oppa, kau masih marah padaku karena permintaanku untuk membatalkan pertunangan kita? Aku tak akan meminta hal seperti itu lagi, aku menyesal..” ucap Ji Kyung lirih. Wajahnya ia tenggelamkan pada punggung Donghae.

Dongha tersenyum. Satu hal yang ia sukai dari Ji Kyung adalah gadis itu tak pernah malu atau gengsi untuk mengakui kebodohan dan kesalahannya. Ia bukan tipe gadis yang begitu menjaga imagenya. Kalau ia salah maka ia akan meminta maaf.

Donghae menarik nafasnya lalu mulai mengatur emosinya, gadis itu mampu meluluhkannya.

“Sudahlah Kyung-ah, aku sudah tak marah lagi..” ucap Donghae mulai melunak. Ia tak pernah bisa marah lebih lama lagi pada gadis itu.

Ji Kyung menempelkan wajahnya pada punggung pria itu. Mencoba merasakan kehangatan di sana. Ia suka wangi tubuh pria itu, wanginya sama seperti wangi tubuh appanya.

“Jangan mengabaikanku lagi oppa, rasanya sangat menyakitkan. Rasanya sangat menyedihkan saat kau tak tersenyum padaku, tak menyapaku, tak seperhatian dulu. Aku tak suka, AKU TAK SUKA..” ucap Ji Kyung masih dengan posisi seperti tadi, air matanya mengalir deras sekarang. Donghae menggengam tangan Ji Kyung yang berada di perutnya lalu mengusapnya sayang.

“Mianhae, tak seharusnya aku mel..”

“Saranghae…” potong Ji Kyung cepat.

Lidah Donghae kelu seketika, ia tak bisa melanjutkan apa-apa lagi. Gadis itu baru berkata mencintai dirinya, bukan? Jantungnya berdetak tak seirama. Donghae membalikan tubuhnya dengan cepat dan menatap wajah Ji Kyung yang penuh dengan air mata, gadis itu tak membual dan semacamnya. Donghae tak percaya, apa yang selama ini ia tunggu akhirnya bisa ia dengar juga.

Donghae menangkupkan kedua tangannya pada wajah Ji Kyung, pria itu menatap Ji Kyung dengan tidak percaya.

“Aku mencintaimu oppa, rasanya kacau sekali saat kau tak ada bersamaku. Kurasa aku benar-benar tak bisa lepas darimu oppa, jadi jangan marah dan mengabaikanku lagi…” ucap Ji Kyung. Ia memejamkan matanya dan membiarkan air matanya mengalir. Donghae meraih tubuh Ji Kyung dan memeluk gadis itu erat. Sesekali Donghae mengecup puncak kepala gadis itu. Ia tak ingin melepaskan pelukannya untuk saat ini.

“Kau sudah tahu sekarang perasaanmu padaku? Ini bukan hubungan karena sering terbiasa bersama, ini bukan hubungan antara oppa dan dongsaeng. Ini hubungan antara kau dan aku, antara wanita dewasa dan pria dewasa..” ucap Donghae dengan senyum yang mengembang. Ia tak bisa menutupi kebahagiaannya lagi. Ji Kyung mengangguk dalam pelukan Donghae.

Gadis itu merasa semua bebannya selama ini hilang, ia tak harus merasa sendirian saat dirinya merenungi hubungannya yang buruk dengan Donghae. Ia tak harus merasa takut kehilangan pria itu lagi. Sekarang apa yang ia inginkan benar-benar sudah ada di dalam genggamannya.

“Jadi kau sudah tak marah padaku lagi?” tanya Ji Kyung lalu mengangakat kepalanya dan menatap wajah Donghae.

Donghae mendengus sebal. Bukankah sudah jelas bahwa pria itu tak marah lagi?

“Aku tak akan pernah bisa marah lebih lama lagi padamu Kyung-ah..” balas Donghae. Ji Kyung tersenyum lalu dengan cepat mengecup bibir pria itu. Donghae mengerjapkan matanya terkejut. Ji Kyung justru tertawa pelan.

“Kau melakukan kesalahan besar Kyung-ah..” ucap Donghae lalu menyeringai.

“Yakkk!!!” pekik Ji Kyung saat Donghae melakukan pergerakan yang begitu tiba-tiba. Pria itu sekarang memposisikan dirinya menindih tubuh mungil Ji Kyung.

“Kau tahu peraturan penting antara yeoja dan namja Kyung-ah?” tanya Donghae, pria itu mengunci pergerakan tubuh Ji Kyung dengan menekan kedua tangan Ji Kyung pada sisi kiri dan kanan kepala gadis itu.

“Molla..” jawab Ji Kyung gugup.

“Yeoja tak boleh sembarangan masuk ke dalam kamar namja, yeoja tak boleh memeluk namja dengan tiba-tiba dan yeoja tak boleh mengambil inisiatif dengan mengecup bibir seorang namja duluan. Itu akan terlihat seolah kau menyerahkan dirimu untuk jadi santapan mereka..” ucap Donghae dengan seringai.

“Geundae, aku bukan santapanmu..” ucap Ji Kyung berusaha tak terprovokasi ucapan Donghae.

“Siapa bilang, bulan depan kita akan menikah. Ah anni, kurasa 2 minggu lagi. Jadi tak masalah bila aku menyentuhmu lebih cepat..”

“MWO?” pekik Ji Kyung. Ia benar-benar salah datang ke kamar Donghae malam-malam seperti ini.

“Pelankan suaramu Kyung-ah, atau eomma akan kemari dan memarahi kita..” ucap Donghae.

“Ya! Oppa kau menyeramkan sekali, lepaskan aku. Aku ingin tidur di kamarku..” rengek Ji Kyung. Ia benar-benar panik sekarang, apalagi melihat tatapan Donghae yang terlihat begitu bernafsu.

“Hahahahha…” tawa Donghae meledak sesaat setelah melihat wajah panik Ji Kyung.

Donghae menghentikan tawanya lalu mulai menyingkir dari tubuh Ji Kyung, ia merasa senang bisa melihat kepanaikan di wajah Ji Kyung. Lagipula ia bukan iblis jahat yang akan menyambar mangsa tak berdaya seperti Ji Kyung, menjaga gadis itu hingga mereka benar-benar terikat oleh ikatan suci jauh lebih memuaskan daripada harus terjerumus ke dalam kenikmatan sesaat.

“Kajja! Kita tidur bersama, kau tidur di kamarku saja, ne?” ucap Donghae lalu menarik selimut dan menutupi tubuh keduanya.

“Hmm, asalkan kau tak melakukan apapun padaku..” ucap Ji Kyung.

“Eomma dan appamu melihat kita, aku tak akan menyentuhmu sebelum kita benar-benar terikat Kyung-ah. Mereka akan marah padaku bila aku menidurimu…” ucap Donghae lalu mengecup pipi Ji Kyung. Gadis itu hanya tersenyum bahagia, perkataan pria itu begitu menenangkannya.

“Jaljja oppa..”

***

 

Five Years Later…

Donghae & Ji Kyung Home

08.00 PM

Ji Kyung tengah menata baju di lemari, sesekali gadis itu bersenandung. Ia tersenyum saat melihat tumpakan baju di depannya. Bajunya dan baju Donghae menyatu. Tak seperti dulu saat ia masih berstatus tunangan pria itu, dulu semua isi lemari adalah miliknya.

Grepp

Ji Kyung tampak menegang saat ia merasa ada yang memeluknya dari belakang, detik berikutnya ia kembali seperti semula. Tak ada yang memiliki aroma tubuh seperti ini, ini sudah pasti suaminya.

“Kau mengagetkanku oppa, kapan kau pulang? Aku tak mendengar suara mobil..” ucap Ji Kyung dengan tangan yang masih sibuk menata isi lemari.

“Baru saja, kau sedang apa..?” tanya Donghae lalu meletakan dagunya pada bahu kiri Ji Kyung.

Gadis itu mendesah kesal, “Bukankah kau bisa lihat apa yang kukerjakan?”

Donghae tertawa kecil, “Apakah ini efek kehamilanmu? Kau jadi sering bersikap ketus padaku?” ucap Donghae.

“Molla..” balas Ji Kyung pelan. Ia sedikit tertegun mendengar ucapan suaminya itu, apakah ia sering bersikap ketus? Ia tak menyadarinya.

“Apakah anakku menjahilimu lagi?”

“Anakku? Ini juga anakku oppa..” ucap Ji Kyung.

“Ah, baiklah. Anak kita, apakah ia menjahilimu lagi?” tanya Donghae lalu terkekeh pelan.

“Hmmm, sedikit menjahiliku.” Ucap Ji Kyung lalu tertawa, rasanya lucu sekali membicarakan bayi pertama mereka. Ji Kyung baru saja memasuki bulan keempat dikehamilannya ini. Ia sering mual-mual di pagi hari, dan mereka menyebut ini ulah jahil janin yang ada di dalam perutnya.

“Aigoo! Baby-ya jangan menjahili eommamu, kasihan ia harus lemas setiap pagi karena harus memuntahkan makanannya..” ucap Donghae lalu mengusap lembut perut Ji Kyung.

“Micheo? Aku menikmati semuanya oppa, apapun yang di lakukan baby kita..” ucap Ji Kyung sedikit kesal. Bagaimana bisa pria itu menyalahkan anak mereka.

“Aigoo! Menikmati katamu? Kau tahu? Setiap pagi aku harus khawatir melihatmu berlarian menuju kamar mandi, setelah itu kau kembali dengan wajah pucatmu, kupikir itu tak bisa dikatakan menikmati Kyung-ah. Andai aku bisa, lebih baik aku saja yang merasakannya…” ucap Donghae lembut.

“Hmm, andai kau bisa..” ucap Ji Kyung lalu melepas tangan Donghae yang berada di sekitar perutnya, Donghae reflek bergerak mundur saat Ji Kyung mundur ke belakang. Gadis itu lalu menutup pintu lemari.

“Kau bahagia?” tanya Donghae setelah ia kembali memeluk perut gadis itu. Ji Kyung membalikan tubuhnya dan menatap Donghae.

Ji Kyung menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan perlahan, gadis itu mengalungkan tangannya pada leher Donghae, “Bagian mana? Kehamilanku? Menikah denganmu? Hidup bersamamu?” tanya Ji Kyung.

“Semuanya..” balas Donghae.

“Sangat..” balas Ji Kyung singkat.

Donghae memeluk tubuh gadis itu dan membenamkan kepalanya pada lekukan leher gadis itu. “Gomawo. Aku bahagia bisa mengenalmu. Aku bahagia karena akulah yang pada akhirnya kau pilih..” ucap Donghae lalu menarik nafasnya menghirup feromon yang menguar dari tubuh istrinya. Rasanya begitu menenangkan.

“Kau tak pernah ada di antara pilihan manapun. Sejak awal aku hanya melihatmu, sejak awal kau yang selalu ada bersamaku, sejak awal aku sudah menyerahkan masa depanku padamu oppa..” ucap Ji Kyung lembut.

Donghae melepas pelukannya lalu menatap wajah Ji Kyung dalam. Gadis itu adalah hidupnya, gadis itu adalah semua hal yang ia inginkan, gadis itu adalah rumahnya, gadis itu adalah gadis yang ia cintai dengan dengan semua alasan yang ada.

Ji Kyung menjinjitkan kakinya berusaha menyamakan tingginya dengan Donghae. Bibir gadis itu bergerak mengejar bibir Donghae. Donghae tak hanya diam, pria itu menekan leher gadis itu lalu mulai membalas kecupan manis dari bibir istrinya. Lidah Donghae bergerak menyusuri permukaan bibir Ji Kyung, tak ada kesal terburu-buru. Seolah mereka benar-benar menikmati setiap detiknya tanpa harus khawatir akan terpisah. Ji Kyung melingkarkan tangannya pada leher Donghae, sesekali ia meremas rambut pria itu. Melampiaskan rasa aneh yang menerpa dirinya akibat sentuhan pria itu.

“Nghhh..” lenguh Ji Kyung saat pria itu membelit lidahnya dengan kuat, gadis itu merasa dirinya tak bisa berdiri dengan baik sekarang. Donghae pandai membawanya terbang ke langit.

Donghae melepas pagutannya, ia tahu mereka butuh oksigen sekarang. Pria itu menatap wajah Ji Kyung yang merona, masih sama seperti dulu. Gadis itu selalu merona padahal ini bukan ciuman pertama mereka.

“Rasanya aku melihat Ji Kyung kecilku lagi, kau masih merona seolah ini ciuman pertama kita Kyung-ah..” ucap Donghae mengejek istrinya. Ji Kyung hanya mendengus sebal.

“Kau menyebalkan..” desis Ji Kyung. Donghae menatap bibir Ji Kyung, ia kembali tertarik untuk menyentuh permukaan bibir gadis itu.

“Kau tahu Kyung-ah, kau melakukan kesalahan lagi,” ucap Donghae lalu dengan perlahan ia menggiring tubuh gadis itu menuju ranjang mereka. Ji Kyung mengerutkan dahinya bingung.

“Tak seharusnya seorang yeoja mencium namja duluan, dari dulu aku sudah mengatakannya, bukan? Itu akan berbahaya untuk dirimu..” ucap Donghae lalu mendorong tubuh Ji Kyung pelan ke atas ranjang mereka.

“Wae? Aku melakukannya hanya padamu oppa, jadi aku tak perlu khawatir..” balas Ji Kyung polos. Lalu detik berikutnya ia menyadari satu hal dari ucapan pria itu, pria itu mengingkan sesuatu.

“Ngomong-ngomong sudah 4 bulan ini aku menahan hasratku untuk menyentuhmu, sebenarnya aku masih ingin menahannya tapi tadi kau memancingnya keluar, jadi bisakah aku memintanya sekarang?” tanya Donghae dengan wajah mesum.

“Mwo? Shirreo! Aku sedang mengandung oppa..” ucap Ji Kyung berusaha menolak.

“Aku akan pelan-pelan, lagi pula apa kau tega membiarkanku bercinta dengan kamar mandi rumah..?” ucap Donghae. Ji Kyung memekik tak percaya mendengar ucapan suaminya, mengapa ia menjadi semesum itu? Tapi jauh di dalam hatinya ia sedikit merasa bersalah pada Donghae. Bukankah ini tugasnya sebagai istri?

“Eotte?” tanya Donghae lagi.

“Shirreo!” tegas Ji Kyung.

“Kau tak bisa menolak yeobo…” ucap Donghae lengkap dengan seringainya

“Yakkkk!! Andwae!!!” teriak Ji Kyung saat Donghae melakukan pergerakan tiba-tiba. Pria itu bergerak menindih tubuh Ji Kyung, tidak benar-benar menindih sebenarnya. Pria itu menjadikan kedua lututnya sebagai tumpuan. Sudah tahu kemana arah permainan ini selanjutanya, Ji Kyung hanya bisa pasrah.

The End

Catatan Kaki:

Oppa: Kakak laki-laki bagi perempuan

Ya!: Hei!

Andwae: Tidak

Molla: Tidak tahu

Ommo: Ya ampun

Ne: Iya

Anni: Tidak

Mwo: Apa

Wae: Kenapa

Annyeong: Hallo

Kajja: Ayo

Jaljja: Selamat Tidur

Saranghae: Aku mencintaimu

Micheo: Gila

Nuguya: Siapa

Geunda: Tapi

Geurae: Iya

Noona: Kakak perempuan bagi laki-laki

Shirreo: Tidak mau

Andwae: Tidak!

Yeobo: Sapaan bagi suami istri (Honey)

Yeopo: Cantik

Aigoo: Aduh

Songsaenim: Guru

Arra: Mengerti

Jeongmal: Sungguh

Jinjja: Benarkah

 

Gimana? Gimana? Geje? Oke sippp. Komen-komen ^.^

Gak tau ini apaan, mau bikin romance tapi gak tau jadi gak tau gak.

Makasih udah mampir+baca+komen+apapun..

I Love You All! Enjoy It!

Salam SS5 🙂

Advertisements

102 thoughts on “FF: My Fiance

  1. okesip kece!! woahhh xD daebaaakkkk
    setelah UN berakhir sepertinya ide2 mesum pada keluar ya eon? xDpokonya ditunggu update ff nya ;3

  2. Yeah, ff baru
    Ceritax bagus n sweet, suka bgt dgn karakter hae yg diam2 tp posesif…alurx jg teratur n kata2x jg mudah dimengerti, keren deh pokokx….
    Oh ya saeng, klo sempat buat ff yg maincastx lee sungmin donk, lg suka bgt sm tuh org…

    • Yeyeyey syukur kalo alurnya udah mending, makasih koreksiannya eon. Sering-sering main ke blog aku eon wkwkwk…

      Pelan-pelan, sekarang lagi mau masukin cast hae sama yesung dulu di blog *siapa yg nanya?

      Enjoy it!

  3. Satu kata,, meleleh..
    Romantisnya parahhhh..
    Senyum2 sendiri pas baca,, sampe gigi kering begini..
    Aaaaaahhhhhh,, so sweet bgt..
    Aku tunggu cerita2 romantis donghae jikyung berikutnya.. 🙂

  4. salam SS5~~
    huooo donghae oppa mau nyaingin yuni sarah sm eaffu ahmad,,, kekeeke
    untuk donghae oppa awet muda jd ak masih bisa ngebayanginny
    ni ff romantis, keren dehh

  5. Envyyyyyyyy,. Andaikan kepala sekolahku dulu setampan donghae oppa#plakk*ngayal

    Akh,. So sweet,. Pada akhirnya cinta selalu mengikat mereka untuk saling bersama#abaikan#

    • Kepala sekolah aku solanya ganteng banget eon!! AKu bikin ff ini juga karna kepsek aku ganteng banget!! Kalo naik ke podium pasti pada jerit-jerit cewenya, suer gak boong! Tapi udah lulus jadi gak bisa liat lagi deh, mana jadi kepseknya pas aku keluar pula.

      Iyahh jadi curhat! Btw thanks eon 🙂

  6. annyeong..
    sweet bener yak ceritanya..
    jadi ngiri..
    pengen punya sahabat yang kaya gitu juga..
    bisa jadi suami akhirnya, tapi sahabatnya yang sekering donghae atau kalau bisa sih kyuhyun..
    ngarep banget euy..
    beda 9 taon, wow..
    hae fedofil..
    wkwkwkwk..

    • Iya hae pedofil tapi mukanya masih kayak baby jadi gak masalah. Iya andai bisa punya sahabat kayak kyuhae sayang ini cuma fiction wkwkw. Jadi selamat berkhayal ajaa hahahha…
      Thanks, enjoy with my blog!

  7. Ihhh bagus banget T_T padahal aku biasa aja loh sama hae. Dan nemu ff ini juga kebetulan, tapi ini bagus banget XD

    Jadi nantinya kyu sama nana? Whoa bisa tuh(?)

    Ada niat bikin sekuel ga author? XD

    • Makasihhh huwaaaa :’)) *lebayasli

      Nana itu guru guru guruuu, tua lagi kasian kyu wkwkwk… (buat informasi Nana tuh nama wali kelas aku, jadi pas aku baca kyu sama nana aku ngakak!! Kepala sekolah aku juga ganteng banget sayang aku udah keluar dari sana jadi pembalasan ke ff donghae) #siapa yang nanya?

      Gak kayaknya hhe, mereka udah happy ending.
      Sekali lagi makasih udah baca ^.^

  8. Yaaa
    Keren bangett eon!!!
    aku reader baru di blog eonni.
    Maaf aku gak bisa tinggalin jejak di setiap ff karena media ku terbatas.
    Mianhae,tapi aku usahakan buat ninggal coment.
    daebak eon!!

  9. Annyeong!
    Daebak! FF nya keren banget, beneran deh.
    Terharu waktu akhirnya Ji Kyung sadar kalo dia cinta sama donghae,
    ak suka bgt sama karakter Ji Kyung.
    Keep writing!

  10. Hahahh..seandai’a suami saya kaya donghae *berandai* … Knpa khdpn manis itu hnya ad d crta2 ..nyempil dkit d hdp ku kek -_-

  11. wihhhh daebak 😀
    Kirain guru baru itu yang bakalan jd org ke 3 wkwkwkwkwk
    Enak ya jd mereka 😦
    Sudah terikat dan jatuh cinta dr kecil ;’)

  12. Annyeong ^^
    aku reader baru, salam kenal.
    Feelnya dpt, dan diksinya jg bgus, alurnya menurutku jg udah pas.
    Oke deh, aku izin baca yg lain ya?
    Keep writting!

  13. yaampun hae udah tau istrinya hamil,masih juga tetap mesum
    seperti biasa eonni selalu bikin ff yang menarik,dan gak pernah bosan dibuat dibaca
    fighting ya eon buat ff yang menarik lagi

  14. yaampun hae udah tau
    istrinya hamil,masih
    juga tetap mesum
    seperti biasa eonni
    selalu bikin ff yang
    menarik,dan gak
    pernah bosan dibuat
    dibaca
    fighting ya eon buat ff
    yang menarik lagi

  15. kyaaaa,,, seandainya di sekolahku kepala sekolah nya setampan donghae oppa, pasti gak bosan deh pergi ke sekolah,, 🙂 sayang kepala sekolahnya udah tua + kumisan

    aku suka karakter donghae oppa disini, dia terlihat begitu dewasa dan sayang banget sma tunangannya,, 🙂

    • FF ini aku buat pas lulus SMA tahun lalu. Nah, pas aku keluar kepseknya ganti dan ganteng bukan mainnn. Wibawa gimana gitu, setiap naik podium pasti disorakin, jadi aja sedikit banyak inspirasi dari beliau wkwkw. Donghae emang dibikin dewasa di sini, syukur deh kalo maksdunya nyampe hhe…

  16. aahh so sweet banget :3 speechless gak tau mw koment apa xD tpi emang iyah donghae kek phedofil hihi ska ama anak” dbwah umur wkwk tapi ttep kren ff nya gak brlbhan dan bsa ditrima logika krna jrak umur mrka yg jauh banget, tapi Great job buat authornim! 😀

  17. Annyeong! ^^
    saya nyasar kemari, dan beruntungnya bisa baca Nice ff kaya begini.

    Suka banget sama karakter donghae, endingnya juga bagus.

    It’s a good job ^^
    ditunggu karya-karyanya tentang Suju! ^^

  18. Beda 9 tahun yaaaa…… hm gpp sih kalo buat dongek aku relaaaa #loh hahaha mau banget lah punya pacar/tunangan/suami yang dewasa kayak gitu. Ga kuat aku ngebayangin ini epep so sweet parah :”””) Ditunggu karya selanjutnya ya thor 😉

    • 9 tahun gak jaug amat kalo menurut aku, kita harus cari sosok dewasa *apasih* tergantung masing-masing juga sih ya. Syukur kalo so sweet, ya selamat menunggu wkwk 😀

  19. part galau ny taste bingit deh,,,keren akut
    daebbak,,,baca ff ini wlw genre romance tp suka dg feel ny yg roller coaster dr sng lsg galau dg hadir ny org k3 bagi msg2*kyuhyun ama sung rin*
    baca ini rasa ny diabetes deh saking manis bgt,,,
    ah pokony indah romantis,,,tis,,,tis,,,bgt
    daebbak deh ff ny,,,ff mu tsaji dg apik luh

  20. Woaaa kereennnn.. long longshoot… akhirnya mrka sma2 jg.. cuma masih penasaran sih sama hae sama sungrin… knp gk sampe anak nya lahir eonni??? Ada sequel gk ini?

  21. bgus chigu XD plg ska sm cerita begini crtanya bikin yang baca senyam senyum sndiri krna sikap dua couple ini hahaha XD pkoknya i like it… Trus smgat dlm berkarya ya chigu fighting 😀

  22. Annyeong new reader! Ceritanya sweet bngt dah thor^^, aigoo… Aku sempat terharu sama cerita orangtua jikyung ngorbanin nyawa mereka..

  23. Akhrny mrka nikah jg.. Mn jikyung skrg lg hamil tuh, so sweet bgt deh ah.
    Hae oppa maen ny pelan2 y.. Ingt istrimu lg tek dung :p ,,

  24. donghae cinta bnget sama jikyung smpek rela jd kepsek disekolah demi jikyung huhuhu kasihan jikyung ditinggal ortu dr kecil

  25. donghae cinta bnget sama jikyung smpek rela jd kepsek disekolah demi jikyung huhuhu kasihan jikyung ditinggal ortu dr kecil…..

  26. ehm! ehm!
    Nana saem galak?!
    kanaapa?
    pasti bu Nana guru yg disayang ya,,, walopun galak? 😀
    donge nya manis banget…klepek2 dah kalo jadi jikyung 🙂

  27. kalo kepala sekolahnya kayak donghae udah pasti muridnya nggak akan ada yang bolos deh ..rajin ke sekolah semua pasti 😀

    hmm jikyung agak cemburu sama sungrin ya ?sampe mau batalin pertunangannya sama donghae ..untung ditolak mentah2 sama donghae ..jadilah mereka keluarga bahagia, lagi nunggu lahirnya anak pertama pula ..hampir sempurna ..:D

  28. Manis bgt 😂😂 konfliknya ga terlalu ribet tapi ngena cuma itu tuh si kyukyu malah ngasih saran yg bikin jikyung hampir putus sama donge. Wahhh, gmn tuh itu ckckck untung si donge nolak mentah-mentah kalo ga PHO/? tuh kyuhyun

    Oke dehh, ditunggu fanfict donghae lainnya #eeehh

  29. Maaf ya kak aku baca ceritanya, soalnya cerita ini bener-bener manis dan bikin baper sihh 😂😂😂
    Suka banget sama sikap Donghae disini, keren keren 👍👍👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s